NovelToon NovelToon
CUMA DIBACA DOANG: Perjalanan Jauh, Endingnya Cuma Centang Biru

CUMA DIBACA DOANG: Perjalanan Jauh, Endingnya Cuma Centang Biru

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Perjalanan 50 KM, Tabungan Sebulan, Berakhir di Centang Biru.

Rafi, siswa SMA dengan uang saku pas-pasan, rela makan nasi garam selama sebulan demi satu proyek besar: mengajak Nisa berkencan ke Irian Kisaran. Menempuh 50 KM demi bioskop 5D dan makan di McD, semuanya tampak sempurna hingga mereka berpisah di terminal.

Di dalam bus pulang yang sunyi menuju Tanjung Balai, Rafi mengirimkan pesan terindahnya. Ia menunggu dalam cemas hingga bus tiba di tujuan, namun harapannya hancur saat layar HP hanya menunjukkan status paling menyakitkan: "Dibaca."

Apakah pengorbanan keringat dan harga diri Rafi hanya dianggap hiburan satu hari bagi Nisa? Di dunia di mana perasaan diukur dari kecepatan membalas chat, Rafi harus belajar bahwa investasi hati tak selamanya berbalas janji.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Upah dari Mengetik Tugas

## Bab 4: Upah dari Mengetik Tugas

Jam di dinding menunjukkan pukul sebelas malam, tetapi kamar Rafi masih terang oleh cahaya kebiruan yang memancar dari layar laptop tua bermerek Axioo. Laptop itu adalah peninggalan kakaknya, dengan engsel yang sudah longgar dan kipas yang berbunyi nyaring seperti mesin parut kelapa.

Rafi mengusap matanya yang terasa perih. Di samping laptopnya, tumpukan buku tulis milik Doni, teman sekelasnya yang paling malas tapi paling kaya, terbuka lebar. Doni menjanjikan lima puluh ribu rupiah jika Rafi bisa menyelesaikan makalah sejarah sebanyak dua puluh halaman sebelum besok pagi.

Bagi orang lain, lima puluh ribu mungkin hanya harga satu gelas kopi di mall. Tapi bagi Rafi, lima puluh ribu adalah penambal lubang di tabungannya yang kemarin terkuras untuk membeli lem sepatu. Lima puluh ribu adalah tiket untuk memastikan ia dan Nisa tidak akan kelaparan di Kisaran nanti.

*Tak... tak... tak...*

Bunyi tuts *keyboard* yang keras memenuhi ruangan. Beberapa huruf sudah tidak terlihat lagi tulisannya, sehingga Rafi harus mengandalkan ingatan otot jemarinya.

Tiba-tiba, layar laptop itu membeku. Kursor tikus tidak bisa digerakkan. Rafi menahan napas. "Jangan sekarang... tolong jangan *hang* sekarang," bisiknya dengan nada memohon.

Ia menunggu sepuluh detik. Dua puluh detik. Layar itu tetap diam, hanya menampilkan kalimat terakhir yang ia ketik: *"...dampak penjajahan terhadap ekonomi masyarakat lokal."*

Sebuah ironi yang tajam. Rafi sedang mengetik tentang ekonomi masyarakat lokal yang menderita, sementara ia sendiri sedang menderita demi mencari tambahan uang jajan. Secara skeptis, ia merasa teori di buku sejarah ini tidak ada apa-apanya dibanding realitas yang ia hadapi di Tanjung Balai.

Laptop itu mengeluarkan bunyi *bip* panjang, lalu layarnya menjadi biru total. *Blue screen.*

"Sial!" Rafi memukul meja kayu kecilnya.

Ia ingin berteriak, tapi ia teringat ibunya yang sudah tertidur di kamar sebelah. Dengan tangan gemetar, ia menekan tombol daya dengan paksa untuk mematikan laptop tersebut. Begitu mesin itu mati, keheningan malam terasa sangat menekan.

Rafi bersandar di kursi plastiknya. Ia menatap langit-langit kamar yang kusam. Pikirannya melayang pada Nisa. Apakah Nisa sedang tidur nyenyak sekarang? Apakah Nisa tahu bahwa ada seorang cowok yang sedang bertaruh dengan laptop rongsokan demi bisa mengajaknya makan burger?

Logikanya mulai bekerja lagi. Jika laptop ini rusak total malam ini, ia kehilangan upah lima puluh ribu. Jika upah itu hilang, ia tidak punya dana cadangan. Jika tidak ada dana cadangan, kencan ke Kisaran akan menjadi perjalanan yang penuh kecemasan. Secara analitis, ia tidak boleh gagal di tahap ini.

Ia menyalakan kembali laptopnya. Aroma kabel panas mulai tercium dari lubang ventilasi laptop. Rafi mengambil sebuah buku tebal dan menggunakannya untuk mengganjal bagian bawah laptop agar ada aliran udara. Ia juga menyalakan kipas angin kecil di mejanya, mengarahkannya tepat ke mesin yang malang itu.

Beruntung, sistem operasi kembali berjalan. Rafi segera membuka dokumen tadi. Berkat fitur *auto-save*, hanya satu paragraf terakhir yang hilang. Ia mengembuskan napas panjang, sebuah kelegaan yang terasa seperti memenangkan nyawa tambahan dalam sebuah permainan.

Ia kembali mengetik. Kali ini lebih cepat. Setiap kali jarinya menekan tombol *Enter*, ia membayangkan suara koin jatuh ke dalam celengannya.

Pukul satu dini hari.

Pukul dua dini hari.

Tanjung Balai sudah benar-benar senyap. Hanya suara jangkrik dan sesekali suara ombak dari kejauhan yang terdengar. Punggung Rafi terasa kaku, dan lehernya berdenyut nyeri. Namun, setiap kali rasa kantuk menyerang, ia melirik catatan kecil di samping laptopnya.

*Target: 300.000.*

*Status saat ini: 245.000.*

*Upah Doni: 50.000.*

*Total jika selesai: 295.000.*

"Sedikit lagi," gumamnya. Lima ribu rupiah sisanya bisa ia ambil dari jatah jajan lusa.

Rincian biaya hidup di kota kecil seperti ini memang terlihat receh bagi orang kota besar, namun bagi pelajar seperti Rafi, setiap lembar lima ribuan adalah hasil dari jam-jam tidur yang dikorbankan. Masyarakat saat ini mungkin melihat gadget sebagai alat hiburan, tapi bagi Rafi, laptop tua ini adalah alat produksi—satu-satunya jembatan menuju martabat di depan Nisa.

Halaman ketujuh belas.

Halaman kedelapan belas.

Tangan Rafi mulai kram. Ia meremas jemarinya, mencoba mengalirkan kembali darah ke ujung-ujung syarafnya. Ia teringat Nisa pernah memuji tulisannya saat kerja kelompok tempo hari. Pujian sederhana itu, secara logis, adalah satu-satunya alasan mengapa ia masih sanggup menatap layar yang menyilaukan ini di jam dua pagi.

Pukul tiga lewat lima belas menit, kalimat terakhir berhasil diketik. Rafi segera menyimpan dokumen itu di tiga tempat berbeda: di hardisk laptop, di *flashdisk* murahannya, dan dikirim ke *email*-nya sendiri. Ia tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun.

Ia menutup laptopnya. Suara kipas yang akhirnya berhenti berputar memberikan rasa damai yang aneh. Rafi membereskan buku-buku Doni ke dalam tasnya. Ia merasa seperti seorang buruh yang baru saja menyelesaikan *shift* panjang di pabrik.

Sebelum merebahkan diri ke kasur, Rafi membuka dompetnya. Ia menatap ruang kosong di dalamnya yang besok akan terisi oleh selembar uang biru.

Secara emosional, ia merasa lelah luar biasa. Tapi secara rigoritas, ia merasa puas. Ia telah membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia bisa menciptakan peluang dari keterbatasan. Laptop boleh tua, sistem boleh *hang*, tapi tekadnya memiliki sistem pertahanan yang jauh lebih kuat.

Ia memejamkan mata tepat saat azan subuh mulai berkumandang dari masjid di ujung gang. Hanya ada waktu dua jam sebelum ia harus bangun untuk sekolah. Tapi bagi Rafi, dua jam itu akan menjadi tidur paling nyenyak yang pernah ia rasakan, karena besok, angka di catatannya akan berubah.

Besok, kencan ke Kisaran bukan lagi sekadar mimpi. Angka itu hampir nyata.

"Tinggal lima ribu lagi," bisiknya dalam gelap, sebelum kesadarannya hanyut oleh kelelahan yang berbuah harapan.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!