NovelToon NovelToon
Academy Of Fallen Marks

Academy Of Fallen Marks

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Akademi Sihir
Popularitas:218
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Di dunia di mana sihir adalah segalanya, kekuatan bukanlah anugerah—melainkan hasil dari latihan dan pengorbanan.
Ia hanyalah seorang siswi Akademi Sihir Arcanova. Tenang. Cerdas. Tak tersentuh. Hingga sebuah simbol tersembunyi muncul di tubuhnya—tanda kutukan dari iblis yang bahkan hanya hidup dalam legenda.
Tak hanya dirinya.
Dua siswa dari sekolah berbeda—termasuk seorang pewaris Akademi Crimson Crest—ternyata memikul kutukan yang sama… namun berasal dari iblis yang berbeda.
Kekuatan mereka luar biasa. Tak terbatas.
Namun setiap kali digunakan, ada harga yang harus dibayar.
Di tengah persaingan dua akademi, pelatihan mematikan di Hutan Abyss, dan rumor tentang iblis berwujud manusia yang belum pernah terlihat…
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling kuat.
Tapi siapa yang akan bertahan ketika kutukan itu mulai mengambil alih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pantangan Kekuatan Terlarang

Kabut di Hutan Abyss semakin tebal, membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa asap hitam dari monster yang baru saja mereka musnahkan. Daefiel masih memegangi pergelangan tangannya yang berdenyut, sementara Vivienne mencoba mengatur napasnya yang memburu. Rasa sakit pasca menggunakan sihir kutukan itu bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh.

Lucien berdiri tegak, menatap ke kegelapan hutan yang seolah terus bergeser bentuknya. “Dengarkan aku,” suaranya memecah kesunyian dengan nada memerintah. “Mulai detik ini, jangan ada lagi yang menyentuh kekuatan dari simbol itu.”

Daefiel mendengus, mencoba mengukir senyum sombong di wajah pucatnya. “Apa kau takut, Lucien? Bukankah kau yang tadi menghancurkan serigala itu dengan sekali hentak?”

“Justru karena itu aku mengatakannya,” balas Lucien dingin, matanya menatap tajam ke arah Daefiel. “Kekuatan itu terlalu liar. Kita baru saja mendapatkan simbol ini, dan tubuh kita belum sanggup menahan beban dari energi iblis tersebut. Jika kau terus menggunakannya, kau akan mati sebelum monster berikutnya muncul.”

Vivienne melipat tangannya, meski jari-jarinya masih gemetar. “Dia benar, Daefiel. Kita harus kembali ke dasar. Gunakan sihir yang kita pelajari di akademi atau teknik yang kita kembangkan sendiri. Kekuatan murni manusia.”

“Tapi sihir biasa tidak akan secepat itu membunuh monster-monster di sini,” protes Daefiel, meski ia tahu Vivienne benar.

“Maka kita harus lebih cerdas,” sahut Vivienne dengan penuh percaya diri. “Aku adalah siswi terbaik Arcanova. Aku tidak butuh bantuan iblis hanya untuk melewati hutan ini. Aku akan menggunakan manipulasi elemen air dan angin yang sudah kukasai.”

Lucien mengangguk pelan. “Aku akan menggunakan teknik pedang sihir dan petir dasar dari Crimson Crest. Itu jauh lebih stabil. Kita harus belajar mengendalikan diri kita sendiri sebelum mencoba mengendalikan kutukan itu.”

Daefiel memutar lidi sihirnya, mencoba mengembalikan suasana hatinya yang jahil. “Baiklah, sang pemimpin. Aku akan menunjukkan pada kalian bahwa sihir api buatanku sendiri jauh lebih indah daripada api hitam yang menyakitkan itu. Tapi jangan salahkan aku jika kita bergerak sedikit lebih lambat.”

“Lebih baik lambat daripada kehilangan kewarasan,” gumam Vivienne.

Baru saja kesepakatan itu dibuat, semak-semak di sekeliling mereka mulai merapat, membentuk labirin berduri yang terus bergerak. Suara gesekan kayu yang patah terdengar dari segala arah, menandakan bahwa hutan ini tidak akan membiarkan mereka beristirahat lama.

Akar-akar raksasa Hutan Abyss mulai merayap di permukaan tanah, saling melilit dan membentuk dinding berduri yang tinggi, memisahkan mereka dari jalur utama. Vivienne menatap dinding kayu yang bergeser itu dengan saksama. Ia tahu, jika mereka panik dan menggunakan sihir kutukan, rasa sakitnya akan melumpuhkan mereka di saat yang paling krusial.

“Lihat itu,” Vivienne menunjuk ke arah sekumpulan makhluk kecil menyerupai reptil dengan kulit bersisik tajam yang keluar dari celah akar. “Mereka tidak besar, tapi jumlahnya banyak. Daefiel, jangan gunakan api hitammu!”

Daefiel mendengus, meski keringat dingin masih membasahi pelipisnya. “Aku tahu, aku tahu! Kau cerewet sekali, Vivienne. Perhatikan ini, sihir murni dari jenius Arcanova!”

Daefiel mengangkat lidi sihirnya tinggi-tinggi. Bukannya api merah pekat yang keluar, ia merapalkan mantra dasar tingkat tinggi. “Ignis Spira!” Sebuah pusaran api berwarna oranye terang—api murni manusia—meluncur dan menghanguskan barisan depan reptil tersebut. Monster-monster itu menjerit, menghilang perlahan, dan mengeluarkan asap hitam yang dengan cepat sirna tertiup angin buatan Vivienne.

Vivienne tidak tinggal diam. Ia menggerakkan jemarinya dengan anggun, memanggil tekanan udara yang tajam. “Kau terlalu lambat, Daefiel! Ventus Secare!” Bilah-bilah angin transparan menebas reptil yang mencoba melompat ke arah Lucien. Makhluk-makhluk itu hancur, berubah menjadi asap hitam yang menghilang dalam sekejap.

Namun, menggunakan sihir murni di dalam Hutan Abyss ternyata jauh lebih menguras tenaga. Tanpa dukungan energi iblis, tubuh mereka dipaksa bekerja dua kali lipat untuk memanipulasi elemen di lingkungan yang korosif ini.

Lucien bergerak paling efisien. Ia menghunus pedang peraknya, mengalirkan aliran listrik biru muda yang stabil ke bilahnya. Setiap tebasan yang ia berikan membuat monster-monster itu meledak menjadi kabut hitam. “Tetap dalam formasi! Jangan biarkan mereka mengepung kita!”

“Kau tidak perlu mengajariku soal formasi, Lucien!” sahut Vivienne sembari menciptakan dinding angin untuk menghalau serangan dari belakang. “Tapi aku akui... sihir biasa ini terasa jauh lebih berat di sini.”

Daefiel tertawa kecil sembari melepaskan tembakan api lainnya, meski napasnya mulai tersengal. “Berat? Bagiku ini hanya latihan pemanasan. Tapi kau benar, rasanya seperti mengalirkan air di pipa yang tersumbat.”

Tiba-tiba, tanah di bawah mereka berhenti bergetar, dan dinding-dinding akar itu terkunci di posisi mereka, membentuk sebuah arena tertutup. Di ujung arena, sebuah bayangan besar mulai terbentuk dari kumpulan asap hitam yang tidak menghilang. Seekor monster penjaga wilayah—jauh lebih besar dari sebelumnya—mulai menampakkan wujudnya.

“Sepertinya hutan ini tidak suka kita bermain aman,” gumam Lucien sembari mempererat genggaman pada pedangnya.

1
gempi
h
Sean Sensei
/Shame/ Vivienne baru saja kena 'mental' dua kali: pertama karena tanda misterius di tulang selangkangannya, kedua karena disindir soal nilai ujian sama Daefiel. Suka banget sama dinamika karakternya, Daefiel kelihatan tipe cowok yang menyebalkan tapi bikin nagih. Semangat nulisnya!
REY ASMODEUS
aku suka 💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!