Sepuluh tahun bersahabat, satu menit untuk jatuh cinta, dan dua belas menit untuk mempertaruhkan segalanya.
Tepat pukul 23:48 di malam pergantian tahun, Arka memiliki satu misi gila: Menyatakan cinta pada Lala, sahabat masa kecilnya, sebelum kembang api pertama meledak. Namun, semesta seolah sedang bercanda. Mulai dari sinyal yang timbul tenggelam, serangan video call grup keluarga yang heboh, hingga baterai ponsel yang tersisa 1%.
Di tengah riuhnya Jakarta, setiap detik adalah pertaruhan. Apakah pesan "Aku suka kamu" akan sampai sebelum jam berubah menjadi 00:00? Ataukah Arka harus menahan rindu dan penyesalan satu tahun lagi?
"Ikuti perjalanan chat paling mendebarkan dalam 12 menit terakhir tahun ini!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Mode Pesawat: Perjudian Terakhir
## **Bab 32: Mode Pesawat: Perjudian Terakhir**
Waktu menunjukkan pukul **23:51:50**.
Secara visual, Bundaran HI kini adalah samudera cahaya yang membutakan, namun di dalam genggamanku, kegelapan digital telah mencapai level absolut. Sinyal **Edge** (Bab 27) akhirnya menyerah pada hukum kepadatan massa. Barisan sinyal di bilah status ponselku kini kosong melompong, menyisakan ruang hampa yang menghina setiap inci usahaku.
Dalam kondisi *rigor* analitis, aku menyadari bahwa mengandalkan pemindaian pasif malam ini adalah sebuah kesia-siaan logis. Aku butuh sebuah tindakan radikal. Aku butuh memaksa perangkat keras ini untuk melakukan *reboot* pada modul radionya.
Secara mekanis, jempolku bergerak menuju menu *Quick Settings*. Aku menarik bilah notifikasi ke bawah dengan gerakan yang kaku. Di sana, di antara deretan ikon biru yang kini terasa tidak berguna, bertengger sebuah siluet pesawat terbang yang dingin.
**Airplane Mode.**
Secara mikroskopis, aku menatap ikon itu. Ini adalah perjudian terakhir. Dalam protokol telekomunikasi, menyalakan Mode Pesawat berarti memutuskan semua hubungan secara paksa—mematikan antena *transceiver*, memutus arus data, dan membuat ponselku menjadi sepotong logam mati yang tidak terdeteksi oleh radar mana pun. Namun, tujuannya adalah efek setelahnya: sebuah harapan bahwa saat dimatikan nanti, ponselku akan melakukan pemindaian ulang yang lebih agresif untuk mencari menara BTS yang paling longgar.
*Tap.*
Ikon pesawat itu berubah warna menjadi biru cerah. Detik itu juga, simbol sinyal yang tadi kosong kini berubah menjadi tanda silang merah yang tegas. **(x)**.
Secara fisiologis, detak jantungku seolah ikut terputus. Aku merasa seperti seorang penyelam yang sengaja memutus tali oksigennya di kedalaman laut, berharap bisa menemukan tangki baru yang lebih penuh. Duniaku kini sunyi secara digital. Tidak ada WhatsApp, tidak ada sinyal seluler, tidak ada WiFi. Hanya aku, keheningan layar, dan Lala yang berdiri di sampingku tanpa tahu bahwa aku baru saja melakukan bunyis diri teknis.
"Satu... dua... tiga..." aku menghitung dalam hati.
Analisis skeptisku memberikan peringatan. Jika aku mematikan Mode Pesawat terlalu cepat, modul radio mungkin tidak akan melakukan *reset* sempurna. Jika terlalu lama, aku akan kehilangan detik-detik berharga menuju menit **23:52**.
Penantian ini terasa seperti lima jam bagi jiwaku yang terdesak. Secara mikroskopis, aku memperhatikan pendar cahaya dari layar ponsel yang memantul di pupil mataku. Aku melihat pantulan wajahku yang tegang—seorang pria yang nasib cintanya kini bergantung pada sebuah algoritma pencarian jaringan.
"Arka? Kamu kok malah bengong pegang HP mati gitu?" Suara Lala memecah keheningan semuku.
Aku tidak menjawab. Fokusku sepenuhnya terserap ke dalam proses internal perangkat di tanganku. Aku sedang menunggu "waktu pemulihan" perangkat keras. Lima detik. Itu adalah durasi yang kuputuskan secara sepihak berdasarkan intuisi semu yang tidak ilmiah.
Empat... lima.
*Tap.*
Aku mematikan Mode Pesawat.
Seketika, simbol pesawat menghilang. Layar menunjukkan tulisan **"Searching..."** di pojok kiri atas.
Ini adalah momen paling kritis. Secara mikroskopis, aku menatap ruang kosong di sebelah tulisan itu. Jantungku berdebar sinkron dengan putaran animasi pencarian jaringan yang tak terlihat. Ayo. Berikan aku satu baris sinyal. Berikan aku jalur untuk mengirim draf "Lala" yang kini terasa seperti beban seberat beton di dalam memori ponselku.
Detik pertama setelah *reset*: Masih kosong.
Detik kedua: Muncul tulisan **"Emergency Calls Only"**. Sebuah penghinaan. Aku tidak butuh polisi atau ambulans; aku butuh server WhatsApp.
Detik ketiga: Tanda silang **(x)** muncul kembali sejenak, membuat perutku mulas karena rasa mual digital.
Aku menahan napas. Secara fisik, aku mengangkat ponsel sedikit lebih tinggi, seolah gerakan itu bisa membantu antena menangkap gelombang yang lewat. Secara skeptis, aku tahu itu tidak membantu, tapi tubuhku menolak untuk diam.
Lalu, di detik kelima, sebuah keajaiban mikro terjadi.
Satu baris sinyal muncul. Diikuti huruf kecil di atasnya: **H**.
Bukan 4G, bukan pula LTE. Hanya HSPA. Namun, bagiku yang baru saja keluar dari kegelapan total, huruf H itu tampak lebih indah daripada berlian mana pun. Secara analitis, aku tahu koneksi ini sangat tidak stabil. Ia bisa hilang kapan saja.
Aku segera beralih kembali ke aplikasi WhatsApp.
Ikon jam pasir pada pesan satu titikku (Bab 28) masih ada, namun kini ia tampak sedikit berkedip. Status di bagian atas aplikasi berubah dari "Searching..." menjadi sebuah kata yang lebih memberikan harapan sekaligus kecemasan baru.
**Connecting...**
Aku menatap kata itu. Sepuluh huruf yang mewakili seluruh perjuanganku malam ini. Aku telah melakukan perjudian terakhir, aku telah memancing sinyal dari ketiadaan, dan kini aku berada di ambang pintu gerbang terakhir.
Namun, apakah "Connecting..." ini akan berakhir dengan "Online", atau justru kembali menjadi "No Service"?
Waktu menunjukkan **23:51:58**.
Dua detik lagi menuju babak final. Aku melihat ke arah Lala. Dia sudah mulai menghitung mundur pelan bersama orang-orang di kejauhan. "Sepuluh... sembilan..."
Tanganku gemetar. Aku menatap layar ponselku, memohon pada setiap bit data agar mau bergerak.
---