NovelToon NovelToon
Milik Sang Penguasa

Milik Sang Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:34k
Nilai: 5
Nama Author: Vaelisse

Arabelle, seorang barista, tak menyangka hidupnya akan berubah ketika Lorenzo Devereaux, pemimpin dunia bawah yang dikenal sebagai Damon, datang menagih utang ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

Pukul delapan lewat tiga puluh dua menit.

Arabelle berbaring diam, menatap langit-langit kamarnya. Sisi kasur di sebelahnya masih hangat dari tubuh Lorenzo yang sudah mulai terjaga, ia bisa merasakan pergerakannya yang lambat, napas yang berbeda dari tidur.

"Selamat pagi," kata Lorenzo dengan suara seraknya.

"Pagi." Arabelle menoleh. Wajahnya dari dekat terlihat lebih tenang dari yang biasanya, rahang yang selalu sedikit tegang, sekarang mengendur. Matanya belum sepenuhnya terbuka.

Kapan persisnya aku bisa menatapnya sepanjang ini tanpa merasa canggung.

Ia bangkit, meregangkan punggungnya. "Jam berapa?"

"Delapan setengah."

"Aku tidak ke Ristorante hari ini," kata Lorenzo, duduk di tepi kasur. "Sudah ada manajer baru yang mengelola. Aku cukup pantau dari jauh."

"Dan aku?"

"Kamu juga tidak masuk."

Arabelle terdiam. "Lorenzo, kalau begini terus akhir bulan aku tidak punya gaji."

"Kamu hampir--" Ia berhenti. Menarik napas. "Setelah semalam, kamu tidak harus memaksakan diri."

Ia tidak salah. Arabelle tahu itu.

"Kamu bisa tinggal di sini hari ini?" tanyanya pelan.

"Ya."

Arabelle mengangguk. "Kalau begitu gosok gigi dulu."

**

Mereka berdiri berdampingan di depan wastafel kamar mandi, Lorenzo dengan sikat gigi baru yang Arabelle ambilkan dari lemari, Arabelle dengan miliknya sendiri. Ada sesuatu yang sangat biasa dari pemandangan ini, dan justru karena itu Arabelle tidak tahu harus memikirkannya seperti apa.

Selesai, ia melepas kunciran rambutnya. Tidur semalam membuat rambutnya bergelombang alami, ikal yang tidak rapi tapi entah kenapa tidak ingin ia luruskan pagi ini. Ia menggulung semuanya ke atas dengan serampangan, membasuh muka, lalu menepuk-nepuk kulit wajahnya dengan handuk kecil.

Lorenzo berdiri di belakangnya, mengamati.

"Sudah," kata Arabelle ke cermin.

"Aku tahu."

Mereka turun ke dapur.

**

Di luar, langit Roma yang tadinya sudah tampak berat akhirnya memutuskan untuk tidak menahan diri lagi. Petir berbunyi satu kali, diikuti hujan yang turun sekaligus, bukan gerimis, tapi deras yang mematikan semua suara lain di sekitarnya.

Arabelle berkeliling menutup jendela satu per satu, lalu menyalakan pemanas ruangan. Lorenzo sudah di dapur, menyeduh kopi dengan cara yang terlihat seperti ia sudah hafal di mana semua peralatan berada.

"Aku buat cokelat panas," kata Arabelle.

Lorenzo tidak mengomentari perbedaan pilihan minuman mereka.

Mereka duduk di sofa besar, Arabelle dengan cangkir coklatnya, Lorenzo dengan kopinya, selimut ditarik dan film dimulai dari pilihan yang tidak ada yang terlalu bersemangat maupun terlalu malas untuk menontonnya.

Hujan memukul jendela dengan ritmis. Di dalam, cahaya hangat, dan aroma kopi dan cokelat bercampur di udara.

Arabelle meletakkan kepalanya di bahu Lorenzo.

Setengah jam berlalu.

Ponsel Lorenzo bergetar.

Ia meraihnya dengan tangan yang tidak sedang memeluk Arabelle, melihat layarnya, lalu bangkit perlahan, menggeser posisi Arabelle dengan hati-hati seolah tidak ingin mengganggu lebih dari perlu.

"Sebentar." Ia melangkah ke sudut ruangan.

Arabelle mendengar percakapannya yang pendek dan satu arah "Ya." "Kapan." "Aku ke sana." lalu ia kembali ke sofa dan mengambil jaketnya dari sandaran.

"Aku harus pergi."

"Sekarang?"

"Ada yang perlu diselesaikan." Ia menyentuh pipinya sebentar. "Malam ini jam delapan. Siapkan dirimu."

"Untuk apa?"

"Kencan."

Arabelle menatapnya. "Kamu bilang kencan dengan ekspresi orang yang mau ke rapat."

"Sama saja." Ia menciumnya sekali di bibir. "Jam delapan."

Pintu tertutup. Suara langkahnya menghilang, dan tidak lama kemudian bunyi mesin mobil terdengar lalu menjauh.

Hujan sudah berhenti.

**

Arabelle menyeduh teh dan mengambil ponsel.

Hailey harus tahu. Bukan lewat pesan, tapi langsung.

"Hai, aku mau cerita sesuatu. Tapi bukan lewat telepon."

"Aku lagi tidak kerja hari ini. Aku ke sana?"

"Boleh."

Sepuluh menit kemudian Hailey mengetuk pintu, rambutnya masih agak basah dari hujan tadi. Arabelle membukakan pintu dan langsung memeluknya, bukan karena dramatis, tapi karena ia butuh itu.

"Ada apa?" tanya Hailey sambil melepas jaketnya.

"Teh dulu."

Mereka duduk di sofa dengan selimut yang sama, teh yang mengepul di masing-masing tangan, dan Arabelle bercerita dari awal.

Hailey diam sampai selesai. Lalu wajahnya berubah, bukan marah, tapi sesuatu yang lebih dalam dari itu.

"Arabelle--"

"Aku baik-baik saja."

"Kamu tidak--"

"Hailey." Arabelle menatapnya. "Aku masih di sini. Lorenzo datang tepat waktu. Aku baik-baik saja."

"Aku tidak tahu dia seperti itu. Aku benar-benar tidak tahu." Suaranya retak di ujung. "Kalau aku tahu--"

"Kamu tidak akan memperkenalkan kami kalau tahu." Arabelle meletakkan tangannya di lengan Hailey. "Ini bukan salahmu."

Air mata di mata Hailey tidak tumpah, tapi dekat. "Aku minta maaf, Belle."

"Aku tahu."

Mereka duduk diam beberapa saat. Di luar, matahari Roma mulai keluar lagi, pelan, seperti tidak yakin apakah sambutan yang akan ia terima.

Ponsel Hailey berbunyi. Ibunya. Ia melirik Arabelle sebelum mengangkat.

"Pergi saja," kata Arabelle.

Mereka berpelukan lama di depan pintu. Arabelle melambaikan tangan pada ibunya Hailey yang menunggu di mobil, dan Hailey melambaikan balik sebelum masuk.

**

Sore berjalan lambat.

Arabelle hampir menghabiskan separuh katalog Netflix, mulai dari serial yang baru ia temukan, lanjut ke film yang sudah ia tonton dua kali, sampai akhirnya ia tertidur di sofa tanpa merencanakan.

19.32

Layar TV masih menyala ketika matanya terbuka. Arabelle duduk, menyipitkan mata ke jam di sudut layar, lalu langsung berdiri.

Setengah jam.

Ia mandi cepat, memilih sweater rajut krem dengan jins biru tua dan ikat pinggang hitam tipis. Rambutnya disisir dan dibiarkan turun, ia menyematkan satu jepit mutiara kecil di sisi kanan. Riasan ringan: blush, maskara, lip gloss. Sepatu boots hitam.

Arabelle berdiri di depan cermin sebentar.

Cukup.

Ia mengambil tas kecilnya, memasukkan ponsel dan uang, mengecek semua jendela, mengunci pintu, dan baru berjalan tiga langkah dari depan rumah ketika klakson berbunyi satu kali dari arah jalan.

Ia masuk ke mobil.

Lorenzo menatapnya dari kursi pengemudi. Tatapannya menelusuri dari atas ke bawah, diam, tapi berkata lebih dari cukup.

"Kamu terlihat sangat baik," katanya.

"Kamu juga," balas Arabelle dan bukan sekadar basa-basi, karena memang begitu adanya.

Lorenzo menciumnya, lebih lama dari yang biasanya ia lakukan sebelum mengemudi, lalu melepaskan dan menjalankan mobil.

"Ke mana?" tanya Arabelle.

"Kamu akan tahu."

Arabelle menyandarkan kepala ke sandaran kursi, menatap kota Roma yang bergerak di luar jendela.

Untuk pertama kalinya sejak semalam, dadanya terasa ringan.

1
Amoyy
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!