Berlatarkan masa kejayaan Kerajaan Panjalu (Singhasari) di wilayah Pasuruan, sebuah prasasti kuno yang ditemukan oleh Gadis nelayan, Mira, mengungkap rahasia pelabuhan perdagangan rempah-rempah yang hilang selama berabad-abad. Bersama dengan Jaka, seorang budak kerajaan yang ahli membaca naskah kuno, keduanya harus mengurai misteri di balik prasasti tersebut sebelum kekayaan dan sejarah kerajaan jatuh ke tangan yang salah. Di tengah ombak laut dan rahasia yang terpendam, apakah mereka berhasil menyelamatkan warisan leluhur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kristinawati Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: "KEMENANGAN DI ATAS CAHAYA BULAN"
Langit malam di sekitar situs candi Singhasari sudah penuh dengan cahaya bulan purnama yang bersinar terang. Udara dingin menyapu setiap sudut reruntuhan batu besar, membawa aroma tanah basah dan bunga kembang yang tumbuh di antara celah-celah candi. Mira dan Jaka sedang duduk di atas salah satu batu nisan candi yang masih berdiri kokoh, sambil mengamati peta kuno yang telah mereka susun bersama.
“Jaka, lihat ini…” ujar Mira sambil menunjuk ke bagian sudut kanan peta. “Kalau kita hubungin garis dari prasasti dengan lokasi candi Ceto yang pernah kamu sebutkan, pasti ada jalur tersembunyi yang menghubungkannya.”
Jaka mengangguk, matanya fokus pada setiap garis yang ada di peta. “Betul sekali. Tapi kita harus berhati-hati – pengawas milik Raden Wijaya sudah mulai menyebar ke seluruh kawasan situs candi. Mereka pasti tahu kita sedang mencari jalur itu.”
Sementara itu, di bawah reruntuhan candi yang terletak tidak jauh dari sana, Raden Wijaya sedang mengumpulkan pasukannya dengan wajah penuh kemarahan. “Kalian semua harus mencari setiap sudut reruntuhan ini! Prasasti itu sudah memberi tahu kita di mana pelabuhan rahasia berada – di balik tebing batu yang ada di pantai Losari! Kalau tidak menemukan mereka sebelum fajar, aku akan membiarkan kalian semua kehilangan apa yang paling berharga!” teriaknya dengan suara yang menggema.
Kembali ke Mira dan Jaka. Setelah beberapa saat berpikir, mereka memutuskan untuk mencari jalur yang disebutkan dalam prasasti ke arah tebing batu di pantai Losari. Saat mereka sampai di tepi tebing, mata mereka langsung terpaku pada sebuah lorong gelap yang tersembunyi di bawah air terjun kecil yang mengalir dari atas tebing.
“Ini pasti jalur yang benar,” bisik Jaka sambil mengambil lentera yang dibawanya. “Tapi kita harus melewati air terjun itu dulu jika mau masuk.”
Tanpa ragu, Mira mengikuti Jaka ke dalam lorong tersebut. Air dingin menyelimuti tubuh mereka saat mereka melangkah lebih dalam. Setelah beberapa langkah, mereka menemukan sebuah ruangan besar dengan langit-langit tinggi yang dihiasi ukiran kayu dan batu emas. Di tengah ruangan itu, ada sebuah piala perak besar yang penuh dengan mutiara dan permata – tapi di dekatnya juga ada sebuah papan dengan tulisan “Hanya bagi mereka yang sungguh mencintai sejarah”.
“Wah… apa ini semua milik kerajaan Panjalu ya?” bisik Mira dengan mata penuh kagum.
“Betul. Tapi kita tidak bisa membawanya sekarang. Kita harus melindunginya dulu dari orang-orang yang ingin mengambilnya dengan paksa,” ujar Jaka sambil melihat ke arah lorong masuk yang mulai diterangi cahaya dari luar – tandanya pengawas Raden Wijaya sudah dekat.
“Apa yang kita harus lakukan sekarang?” tanya Mira dengan suara sedikit gemetar.
“Kita harus menyembunyikan barang berharga itu dulu di tempat yang aman. Aku tahu satu-satunya tempat yang belum pernah ditemukan oleh siapapun – gua di belakang candi Ceto yang sudah ditinggalkan selama berabad-abad,” jawab Jaka dengan tegas.
Mereka segera menyembunyikan sebagian besar harta karun di dalam sebuah kotak kayu yang ditemukan di sudut ruangan, lalu membawa bagian kecil untuk dibuktikan bahwa mereka benar menemukan harta karun kerajaan. Saat mereka mau keluar dari gua, suara kaki berjalan keras terdengar dari arah lorong masuk.
“Mereka sudah datang!” teriak Mira.
“Tenang, aku punya rencana,” ujar Jaka sambil menarik Mira ke arah sebuah lubang kecil di dinding gua. “Masuk saja, aku akan menangani mereka dulu.”
Mira mengangguk dan cepat-cepat masuk ke dalam lubang itu. Jaka keluar dengan wajah penuh tekad, siap menghadapi Raden Wijaya dan pasukannya yang sudah muncul di pintu gua.
“Jaka! Kamu tahu apa yang kamu punya kan?” teriak Raden Wijaya dengan marah. “Serahkan saja semua yang kamu punya sebelum terlambat!”
“Tidak mungkin,” jawab Jaka dengan suara mantap. “Sejarah dan harta karun ini bukan milikmu atau siapapun yang hanya ingin kekayaan semata. Kita harus melindunginya untuk generasi mendatang!”
Saat itu juga, perkelahian antara Jaka dengan pengawal Raden Wijaya mulai terjadi. Batu-batu kecil mulai bergeser akibat gerakan mereka, membuat beberapa bagian gua sedikit goyang. Di dalam lubang kecil, Mira melihat semuanya dengan cemas tapi tetap tenang – dia tahu Jaka bisa menangani mereka, tapi dia juga tidak bisa tinggal diam. Tanpa berpikir panjang, Mira keluar dari lubang dan bergabung dengan Jaka, membawa sebuah batu prasasti kecil yang dia sembunyikan sebagai bukti.
“Kalau kamu mau ambil ini, harus lewat aku dulu!” teriak Mira dengan suara penuh keberanian.
Raden Wijaya melihat batu itu dan matanya berbinar dengan keserakahan. “Bawa itu padaku sekarang juga!”
Tiba-tiba, cahaya bulan yang masuk melalui celah gua mulai memantul ke atas batu prasasti yang ada di tangan Mira. Cahaya itu membuat seluruh ruangan gua terlihat seperti dipenuhi dengan cahaya keemasan yang indah. Pengawal Raden Wijaya yang sedang siap menyerang tiba-tiba berhenti, terpana dengan keindahan yang mereka lihat. Bahkan Raden Wijaya sendiri terpana sejenak, melupakan niat jahatnya sejenak.
“Ini bukan hanya tentang kekayaan,” ujar Mira dengan suara mantap. “Ini tentang sejarah yang harus kita jaga agar tidak hilang selamanya. Kalau kita hanya berpikir tentang diri sendiri, kita akan kehilangan apa yang membuat kita jadi manusia.”
Kata-kata Mira membuat beberapa pengawal Raden Wijaya mulai merenung. Bahkan salah satu dari mereka mengambil langkah mundur, tidak bisa lagi melanjutkan serangannya. Raden Wijaya melihatnya dengan marah, tapi dia juga merasakan sesuatu yang berbeda di dalam dirinya – rasa kagum dan sedikit kebingungan tentang apa yang sebenarnya dia cari.
“Kita lihat nanti saja nasibnya,” ujarnya dengan suara pelan sebelum memerintahkan pasukannya untuk mundur. “Tapi ini belum selesai.”
Setelah mereka pergi, Mira dan Jaka saling menatap dengan senyum lega. Mereka tahu perjalanan panjang masih menanti, tapi mereka juga tahu bahwa mereka tidak sendirian lagi – beberapa pengawal yang melihat semua itu datang mendekat dengan senyum hangat, siap membantu melindungi harta karun kerajaan yang baru saja mereka temukan.
(Akhir Episode 5)