NovelToon NovelToon
Luminar

Luminar

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:835
Nilai: 5
Nama Author: Nostalgic

Dunia telah retak, bukan hanya di permukaannya, melainkan di benak dan jiwa segala yang bernyawa. Kegelapan Umbra bukan sekadar musuh yang bisa ditusuk pedang, melainkan kabut tebal yang memisahkan hati dari hati, harapan dari kenyataan, dan cahaya dari tempatnya berpijak. Alam semesta kini hanyalah kepingan-kepingan kaca yang pecah, masing-masing memantulkan bayangan kesendirian yang suram, menunggu tangan yang berani menyatukannya kembali.

Di tengah kehampaan itu, hadirlah Luminar. Bukan sebagai benda, bukan pula sebagai sosok yang bisa dipeluk atau dilihat mata telanjang. Luminar adalah bisikan yang melayang di sela-sela angin, adalah denyut nadi yang tak terlihat namun terasa di setiap detak jantung yang masih berharap. Ia adalah entitas misterius yang wujudnya berubah-ubah bagaikan cahaya yang menembus prisma—kadang berupa aurora yang menari di langit malam, kadang berupa kilatan samar yang hanya muncul di sudut mata saat kita merasa paling sepi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nostalgic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Saat Amarah Terpendam Meledak di Depan Mata

Heras terbangun dengan perasaan aneh yang melayang-layang di benaknya. Matanya terbuka perlahan, menatap langit-langit putih yang asing di atasnya. Suasana di sekitarnya sunyi, hanya terdengar suara "bip... bip..." yang berirama dari sebuah mesin di samping tempat tidurnya. Ia merasa linglung, seakan otaknya masih belum sepenuhnya terhubung dengan realitas.

"Di... mana aku?" gumamnya pelan, suaranya terdengar serak dan lemah.

Tepat saat itu, pintu ruangan terbuka. Seorang perawat masuk dengan nampan berisi peralatan medis, namun langkahnya terhenti mendadak saat melihat Heras yang sudah terbangun dan duduk. Mata perawat itu membelalak terkejut, seolah melihat sesuatu yang tak terduga. Tanpa berkata apa-apa, ia berbalik dengan cepat dan bergegas keluar lagi, meninggalkan Heras yang masih bingung di atas ranjang.

Heras mencoba menggerakkan kepalanya, namun rasa pusing langsung menyerang, membuat pandangannya menjadi kabur dan berputar-putar. Ia memijat pelipisnya, berusaha menenangkan rasa sakit itu. Tidak lama kemudian, pintu terbuka kembali. Melalui matanya yang masih samar, Heras melihat perawat itu kembali, namun kali ini ia tidak sendirian. Di sampingnya berdiri seorang pria paruh baya.

Pria itu memiliki wajah yang tegas, dan di pelipis kanannya terdapat bekas luka yang cukup jelas, seolah menjadi tanda perjalanan hidup yang keras yang pernah ia lalui. Ia tidak mengenakan seragam pasukan yang lengkap dan kaku, melainkan hanya sebuah kaos latihan berwarna gelap dengan lambang pasukan di dada—pakaian yang biasa digunakan untuk berlatih, namun tetap memancarkan aura kekuatan dan wibawa.

Perlahan tapi pasti, pandangan Heras mulai jernih, dan wajah pria itu kini terlihat jelas di hadapannya.

"Anak muda," suara pria itu terdengar berat namun tenang, menggema di ruangan yang sempit itu. "Maukah kau bergabung dengan pasukan kami? Kakimu yang lumpuh akan segera kami tangani. Mecha bisa digunakan untuk pengganti kakimu."

Heras menggelengkan kepalanya dengan tegas, meski gerakannya masih terasa berat. "Tidak. Saya menolak."

Mendengar jawaban singkat itu, pria itu tidak marah. Ia hanya mengangkat tangan kanannya sejajar dengan telinga, lalu menggerakkannya sedikit—sebuah isyarat halus yang menyuruh perawat itu untuk meninggalkan tempat itu. Perawat itu mengangguk patuh dan segera keluar, menutup pintu perlahan hingga menyisakan mereka berdua di dalam ruangan.

Keheningan sejenak menyelimuti ruangan, sebelum pria itu kembali berbicara, kali ini dengan nada yang lebih tajam dan penuh perhatian.

"Aku melihat dari kejauhan kau bisa melakukan latihan bela diri yang luar biasa. Kau bahkan sampai pingsan hanya untuk berlatih, aku kagum pada semangatmu," katanya pelan, namun setiap kata terasa menembus pertahanan Heras. "Tapi saat aku melihat diagnosa lumpuh pada kakimu oleh pihak rumah sakit... aku jadi ragu. Apakah kau menutupi kelumpuhanmu? Atau ada sesuatu di balik kemampuanmu?"

Pertanyaan itu tepat sasaran, seolah pria itu bisa melihat menembus jiwanya. Heras merinding, dan perasaan takut yang samar mulai merayap di sekujur tulang punggungnya. Ia buru-buru menyangkal, suaranya sedikit meninggi karena gugup.

"Saya hanya terjatuh saat mencari udara segar di taman!" bantahnya. Lalu, seakan ingin meyakinkan pria itu sekaligus meluapkan rasa frustrasi yang terpendam, ia menambahkan dengan nada yang penuh kepahitan, "Lagipula, bagaimana bisa kau berpikir diriku yang lumpuh ini, yang nista ini, yang hina ini! Dapat melakukan hal sehebat itu! Dapat kemampuan yang mengagumkan itu!"

Suara Heras menghilang di udara, digantikan oleh keheningan yang mendadak berat. Di dalam hatinya, ia meratapi nasibnya yang bertemu dengan Luminar—sebuah pertemuan yang seharusnya menjadi anugerah, namun kini justru terasa seperti beban yang rumit. Sepintas, bayangan perlakuan orang-orang di sekitarnya melintas di benaknya: wajah-wajah yang menjijikkan yang siap menyanjung setinggi langit ketika ia berada di atas, namun tak segan-segan menginjaknya ke tanah ketika ia berada di bawah. Rasa tidak adil itu meledak di dalam dadanya.

"Dunia ini... DUNIA INI!!" teriaknya dalam hati, namun suaranya pecah menjadi desisan yang keras. Matanya memerah menahan emosi yang meluap, alisnya mengkerut tajam, dan wajahnya berubah menjadi mengerikan karena amarah yang tertahan. Ia menatap kosong ke depan, seakan melihat sesuatu yang jauh di sana yang tak bisa dilihat oleh orang lain.

Pria di sampingnya itu hanya diam. Matanya terbelalak sedikit, terkejut melihat ledakan emosi yang begitu dahsyat dari pemuda di hadapannya. Ia tidak memberikan tanggapan apa pun, namun tubuhnya sedikit gemetar hanya dengan merasakan gelombang amarah yang dipancarkan oleh Heras—sebuah aura yang begitu kuat dan menekan.

Namun, di balik keterkejutannya, pria itu perlahan menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya. Di dalam hatinya, sebuah tekad bulat terbentuk: "Aku semakin menyukainya. Aku harus mendapatkan dia, apapun yang harus kukorbankan. Untuk kelangsungan hidup manusia di masa depan."

1
Nasipelang
lego euy
Nasipelang
rasa sakit ini, adalah bukti bahwa aku masih hidup
Anonymous
oke
Anonymous
kece
Anonymous
mc nya menderita saya suka
Nasipelang
awalnya ngebosenin, tapi lama-lama seru juga
Anonymous
oke
Anonymous
bujet
Anonymous
baru aja kenalan udah ditinggal ama luminar
Anonymous
uwihh level up coyy
Anonymous
kasihan mc nya jir
Anonymous
mirip nexus yah
Anonymous
kena de javu
Nasipelang: de javu nya apa
total 1 replies
Anonymous
jirr
Arctic General
Sangat bagus... kek ultraman 🗿
Arctic General
up thorr oii🦖
Arctic General
Buset kek ginga🗿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!