NovelToon NovelToon
Cariad

Cariad

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:11.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Zion Mateo Lopez adalah definisi dari kesombongan masa muda, tampan, kaya, dan tak terkalahkan. Baginya, Cassie Vorcan hanyalah sebuah target dalam taruhan mahal bersama teman-teman elitnya di SMA Chicago. Namun, apa yang dimulai sebagai permainan kotor berubah menjadi jeratan perasaan yang nyata. Selama dua tahun, Zion jatuh hati sedalam-dalamnya, mencintai Cassie lewat tindakan protektif dan rencana masa depan yang matang di California.
Di sisi lain, Cassie gadis panti asuhan yang pintar dan dingin akhirnya meruntuhkan seluruh benteng pertahanannya demi Zion. Dia percaya telah menemukan rumah, hingga sebuah rahasia di ponsel Zion menghancurkan dunianya: bukti bahwa dia hanyalah "barang taruhan" yang sukses ditaklukkan.
Beberapa Tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di Chicago dalam sebuah proyek besar. Zion kini adalah pria dewasa yang dihantui penyesalan, sementara Cassie telah menjelma menjadi arsitek sukses yang lebih angkuh dan tak tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#12

Pertemuan di ruang rapat hari itu terasa jauh lebih tenang, namun dengan jenis ketenangan yang mematikan. Zion datang dengan mata yang masih sedikit sembab, namun ia berusaha keras memakai topeng profesionalnya. Rapat mengenai struktur fondasi itu berjalan lancar, hingga para staf lain meninggalkan ruangan, menyisakan mereka berdua di tengah keheningan gedung pencakar langit Chicago.

Zion berdehem, ia tampak ragu namun rasa penasarannya yang dipicu oleh alkohol semalam masih tersisa. Ia ingin menyiksa dirinya sendiri dengan bukti kenyataan bahwa Cassie memang sudah hidup bahagia tanpa dirinya.

"Cassie," panggil Zion lirih. "Tentang... anakmu. Apa kau menyimpan foto saat kau hamil? Maksudku, bisakah aku melihatnya? Aku hanya ingin tahu bagaimana rupa wanita yang paling aku cintai saat ia sedang mengandung kehidupan baru."

Cassie menghela napas, ia ingin aktingnya sebagai wanita yang sudah pindah ke lain hati terlihat sempurna. "Kau konyol, Zion. Tapi baiklah, jika itu bisa membuatmu berhenti bertanya-tanya."

Dengan gerakan cepat di ponselnya, Cassie mencari folder tersembunyi. Ia mengirimkan satu foto saat perutnya sudah membuncit, foto yang diambil di sebuah taman di London dan sebuah foto hasil USG bayi. Cassie sangat teliti, ia memotong bagian tanggal, nama rumah sakit, dan detail teknis lainnya. Yang tersisa hanyalah siluet janji suci yang pernah ada di rahimnya.

Zion menatap layar ponselnya. Dadanya sesak melihat Cassie yang tampak cantik dengan perut besar, dan titik kecil di hasil USG itu. "Terima kasih, Cass. Dia benar-benar beruntung, suamimu."

Setelah itu, suasana mendadak berubah. Zion seolah mengganti kepribadiannya menjadi teman lama yang banyak bicara. Ia mulai bercerita tentang proyek lain, tentang Chicago yang semakin macet, dan bagaimana Lionel kini mulai belajar memegang kendali keuangan. Ia bertingkah seolah pembicaraan emosional mereka semalam tidak pernah terjadi.

Namun, justru di saat Zion sedang asyik meracau itulah, pertahanan mental Cassie yang justru goyah. Suara Zion yang mendengung di telinganya tiba-tiba menarik kesadarannya kembali ke sepuluh tahun lalu.

Kilas Balik: Apartemen Zion, Pukul 11 Malam

Cassie teringat malam-malam di apartemen pribadi Zion. Mereka jarang pergi berkencan ke restoran mewah karena status Cassie sebagai anak panti asuhan yang tidak ingin mencolok. Waktu mereka hampir selalu dihabiskan di dalam kamar.

Zion, dengan segala energinya yang meluap, memiliki kebiasaan aneh. Di tengah kepayahan mereka memadu kasih, di saat napas mereka memburu dan Zion sedang menggempurnya dengan penuh gairah, pria itu justru sering bercerita.

"Kau tahu Cass... ugh... Lionel kemarin kalah taruhan lagi padaku," bisik Zion di sela ciumannya. "Dan Mommy... dia mulai cerewet soal aku yang sering pulang malam... ah, Cass, kau sangat sempit..."

Zion akan terus bercerita tentang lomba balap mobilnya yang ia menangkan sore tadi, atau tentang betapa menyebalkannya guru sejarah mereka, semuanya ia ceritakan sambil terus bergerak di atas tubuh Cassie. Seolah-olah bercerita adalah caranya untuk tetap terjaga dan menikmati setiap detik kebersamaan mereka yang terbatas.

"Aku akan membelikan mu... sebuah rumah di California... dengan halaman luas... ahh, kau suka bunga apa, sayang?"

Itulah Zion Mateo Lopez. Pria yang tidak bisa diam, pria yang selalu membagi dunianya lewat kata-kata, bahkan di saat paling intim sekalipun.

Masa Sekarang: Ruang Rapat

Zion masih bercerita tentang bagaimana Laxia hampir menabrak tiang listrik kemarin saat mencoba mobil barunya. "Dan kau tahu, Cassie? Mommy sampai pingsan melihat bemper mobilnya..."

Cassie, yang masih terjebak dalam memori panas di apartemen itu, mendadak merasa gerah. Suara Zion yang sekarang dan suara Zion di masa lalu menyatu di kepalanya. Tanpa sadar, sebuah kalimat meluncur begitu saja dari bibirnya dengan nada ketus yang sangat familiar.

"Dasar konyol! Bisakah kau menyelesaikannya dulu tanpa bercerita panjang lebar?!"

Deg.

Dunia seolah berhenti berputar.

Zion terdiam seketika. Matanya membelalak, menatap Cassie dengan tatapan tidak percaya. Jantungnya berdegup kencang. Kalimat itu. Nada itu. Itu adalah kalimat persis yang selalu Cassie ucapkan sepuluh tahun lalu saat mereka sedang berada di puncak gairah dan Zion tidak berhenti mengoceh.

Zion merasa seperti ditarik paksa kembali ke masa lalu. "Cassie... apa maksudmu?"

Cassie tersadar sepenuhnya. Wajahnya yang biasanya pucat kini memerah hebat karena malu dan panik. Ia menyadari kesalahannya, ia baru saja membocorkan bahwa ingatannya tentang malam-malam mereka masih sangat segar.

"Aku... maksudku... laporannya! Selesaikan laporan fondasinya, Zion! Jangan banyak bicara hal yang tidak penting!" Cassie berdiri dengan tergesa-gesa, mencoba menutupi kegugupannya. "Aku akan ke toilet."

Cassie hampir berlari meninggalkan ruangan, meninggalkan Zion yang masih terpaku di kursinya. Zion menyentuh dadanya, merasakan detak jantungnya yang tidak beraturan. Ada percikan harapan yang berbahaya muncul di matanya.

"Dia masih mengingatnya," bisik Zion lirih pada ruangan kosong itu. "Dia masih mengingat cara kami melakukannya."

Zion tidak tahu apakah ia harus senang karena Cassie masih mengingat detail intim mereka, atau sedih karena wanita itu kini melakukan hal yang sama dengan suaminya yang fiktif itu tanpa banyak bicara.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Era Simatupang
aduh GK bisa nebak endingnya gmna, makin seru thor
ros 🍂: coba di tebak dulu kak 🤣🙏
total 1 replies
awesome moment
wkwkkwkwkwk...benang yg mbulet
awesome moment
logan n tll sombong dan...ogah blajar dri pengalaman jd...kalah pintar sm keledai
ros 🍂: mari kita kasih paham si logan Kak🤭🤣
total 1 replies
Manis
good issa👍👍👍
Fadhliyah
part paling menyedihkan. aku sampai jeda membaca Krn ikut nangis. malu ketahuan orang😭😭
ros 🍂: Terharu 😭😭😭🥰
total 1 replies
awesome moment
mmg terbuka soal hati tu g gampang
awesome moment
logan sdh dpt rumah
awesome moment
tu lah knp. menangislah saat berdo'a. krn smua akan mengabur
awesome moment
wkkwkwkwk...mo semarah p pun. sebenci p pun. kn d anak.
awesome moment
biar mrk 😭😭😭darah dlu. biar mrk menghargai org
awesome moment
baiknya mmg bgitu. biar zion...bisa menghargai
awesome moment
bagoosh. biar nyesel bin nyesek dlu
awesome moment
twins tu CCTV yg sgt kompeten
awesome moment
laxia n cerdas jg plus sarkastik
awesome moment
CCTV yg sgt detail. bahkan baca gerak bibir😄😄😄
ros 🍂: haha🤣
total 1 replies
awesome moment
hebat
awesome moment
nikmati penyesalanmu, Zion. hati manusia tu yg jd taruhan
awesome moment
logan sdg membohongi diirnya sndiri
awesome moment
bnr2 absurd
Rahayu Ayu
Baik banget dih keluarga Lopez,
mau menerima Cassie dan Logan dengan tangan terbuka,
tanpa memandang status.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!