Di tengah beban hidup yang menghimpit, Xiao Han— pemuda 22 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga, berjuang mati-matian menghidupi ibunya yang lumpuh serta membiayai pendidikan adik perempuannya yang baru kelas 1 SMP. Gaji sebagai tukang antar surat tak pernah cukup untuk menutupi biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari.
Dengan putus asa namun tekad kuat, Xiao Han akhirnya membuka jasa panggilan pria, dan mempromosikannya secara diam-diam di media sosial. Awalnya hanya sebagai cara bertahan hidup, layanan ini perlahan membawanya masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: pertemuan-pertemuan rahasia, rahasia klien, dan batasan moral yang terus diuji.
Hingga suatu malam, satu panggilan khusus datang, sebuah pengalaman yang tak terduga, penuh risiko, dan emosi yang mengubah segalanya. Pertemuan itu bukan hanya mengguncang hidupnya saat ini, melainkan juga membuka pintu menuju masa depan yang akan mengubah kehidupannya secara drastis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Sirene polisi berhenti berbunyi saat dua petugas mendekati Xiao Han dan Rina di halaman belakang. Pencuri bertopeng hitam sudah diborgol dan didorong masuk ke mobil patroli oleh dua polisi lain. Xiao Han berdiri dengan napas masih tersengal, bibir bawahnya berdarah tipis, tapi postur tubuhnya tetap tegak. Rina berdiri di sampingnya, kimono sutranya sudah ditutup rapat, wajahnya pucat tapi matanya penuh kekaguman.
Salah satu petugas senior—berpangkat inspektur, nametag-nya bertuliskan “Inspektur Budi”—menepuk bahu Xiao Han pelan.
“Mas, luar biasa. Kami dapat laporan dari Ibu Rina tadi, tapi kalau bukan karena Mas langsung tangkap, pencuri ini bisa kabur bawa barang berharga. Postur Mas atletis, gerakan cepat, dan tenang sekali menghadapi pisau. Kalau boleh tahu, Mas mantan polisi atau tentara?”
Xiao Han menggeleng pelan, mengusap bibirnya dengan punggung tangan.
“Nggak, Pak. Cuma biasa bela diri kecil-kecilan dari kampung dulu. Kebetulan saja.”
Inspektur Budi tertawa kecil, mengacungkan jempol.
“Kebetulan yang hebat. Kami bawa tersangka ke kantor. Nanti besok pagi atau siang, tolong datang ke Polsek Bukit Permata buat keterangan resmi. Ibu Rina juga. Tapi malam ini kalian berdua sudah aman. Terima kasih banyak, Mas. Jarang ada warga sipil yang berani langsung lawan pencuri bersenjata.”
Petugas lain menambahkan, “Kalau Mas mau, kami bisa rekomendasikan ke unit keamanan swasta atau bahkan rekrutmen polisi. Orang seperti Mas dibutuhkan.”
Xiao Han tersenyum tipis, menggeleng lagi.
“Makasih, Pak. Saya cukup dengan kerja saya sekarang.”
Polisi mengangguk hormat, lalu meninggalkan rumah setelah memastikan semuanya aman. Pintu pagar ditutup kembali, sirene menjauh, dan malam kembali sunyi—hanya suara air kolam dan angin malam yang tersisa.
Rina memandang Xiao Han lama sekali. Matanya berkaca-kaca, tapi bukan karena takut—lebih karena rasa syukur dan sesuatu yang lebih dalam.
“Kak Xiao Han… kamu selamatkan aku malam ini. Kalau bukan kamu, aku nggak tahu apa yang bisa terjadi.”
Xiao Han menggeleng pelan.
“Saya cuma melakukan tugas saya, Mbak. Itu yang saya dibayar.”
Rina tersenyum kecil, lalu mengeluarkan ponsel dari saku kimono. Dia mengetik cepat, dan tak lama kemudian notifikasi masuk ke ponsel Xiao Han: transfer 10.000.000 rupiah lagi, dengan catatan “Bonus malam ini. Terima kasih.”
“Kamu sudah dapat 10 juta kontrak bulanan. Ini tambahan 10 juta lagi untuk malam ini. Kamu pantas dapat lebih. Dan… aku ingin kamu tetap di sini sampai pagi. Bukan sebagai penjaga, tapi sebagai tamu. Kita santai di pinggir kolam. Aku buatkan kopi.”
Xiao Han ragu sejenak, tapi melihat wajah Rina yang masih pucat dan mata yang memohon, dia akhirnya mengangguk.
“Baik, Mbak. Tapi saya nggak bisa lama-lama. Pagi harus kerja.”
Rina tersenyum lega, lalu berjalan ke dapur kecil di samping kolam. Dia kembali dengan dua cangkir kopi hitam panas dan sebotol air mineral dingin untuk Xiao Han. Mereka duduk di kursi kayu tepi kolam, kaki hampir menyentuh air. Lampu bawah air masih menyala lembut, membuat permukaan kolam berkilau seperti permata biru.
Rina menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap langit malam.
“Kamu tahu, Kak… aku jarang punya malam seperti ini. Biasanya rumah ini sepi. Suamiku dulu sering pergi bisnis, dan setelah cerai, aku sendirian. Tapi malam ini… ada kamu. Dan kamu selamatkan aku.”
Xiao Han menyeruput kopi pelan, matanya memandang kolam.
“Saya cuma kebetulan ada di sini. Mbak yang pintar, langsung telpon polisi.”
Rina tertawa kecil.
“Kamu selalu merendah. Tapi aku suka itu. Kamu cerita dong, keseharian kamu sebenarnya seperti apa? Selain jadi penjaga malam di rumah aku.”
Xiao Han tersenyum tipis.
“Pagi sampai sore/malam saya supir pribadi bos saya. Pulang subuh dari sini, langsung siap kerja lagi. Sisanya… nemenin keluarga. Ibu lagi sakit, adik masih sekolah. Biasa aja, Mbak.”
Rina memandangnya dengan tatapan hangat.
“Keluarga yang kamu sayang sekali ya. Aku bisa lihat dari cara kamu bicara. Aku juga punya anak… tapi sudah lama nggak deket. Dia tinggal jauh, dan aku… sibuk dengan hidupku sendiri.”
Dia tidak menyebut nama, tidak menyebut Hua Ling’er, tidak menyebut detail apa pun. Xiao Han juga tidak bertanya. Dia hanya mengangguk pelan.
“Mbak pasti punya alasan. Keluarga itu rumit kadang.”
Rina menyeruput kopi, lalu memandang Xiao Han lagi.
“Kamu capek ya? Bibirmu masih berdarah sedikit. Biar aku ambilkan obat.”
Xiao Han menggeleng.
“Nggak apa-apa, Mbak. Sudah kering.”
Mereka diam sejenak, hanya suara air kolam dan hembusan angin. Rina menyandarkan kepalanya ke bahu kursi, matanya menatap Xiao Han dengan lembut.
“Terima kasih malam ini, Kak. Kamu nggak cuma selamatkan rumahku… kamu selamatkan aku dari rasa takut sendirian.”
Xiao Han tersenyum kecil.
“Sama-sama, Mbak. Saya senang bisa bantu.”
Malam berlanjut dengan percakapan santai—tentang kopi favorit, tentang hujan di Golden Core, tentang mimpi kecil yang mereka punya. Tidak ada godaan lagi malam itu. Hanya dua orang yang, untuk sesaat, merasa tidak sendirian di rumah besar yang sunyi.