NovelToon NovelToon
MENOPANG LANGIT Di ATAP YANG ASING

MENOPANG LANGIT Di ATAP YANG ASING

Status: tamat
Genre:Slice of Life / Nikahmuda / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Hamil di luar nikah / Berbaikan / Tamat
Popularitas:13.9k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Bagi orang lain, ia adalah definisi kemandirian yang sempurna. Namun, di balik punggungnya yang tegap, tersimpan luka yang tak pernah dipeluk siapa pun.

Ia tumbuh dalam rumah yang penuh, tetapi merasa seperti yatim piatu di tengah hiruk-pikuknya. Sejak kecil, ia dipaksa menelan rindu pada orang tua yang merantau, hanya untuk kembali dan mendapati dirinya sebagai orang asing yang selalu salah. Tanpa pembelaan, tanpa kasih sayang, ia belajar satu hal: satu-satunya orang yang bisa ia andalkan adalah dirinya sendiri.

Namun, sampai kapan seseorang bisa terus menjadi "langit" yang kokoh tanpa pernah runtuh? Ketika semua keinginan harus dipenuhi sendiri dan setiap air mata harus disembunyikan, ia mulai kehilangan jejak akan perasaannya sendiri.


Di rumah yang seharusnya menjadi pelabuhan, ia justru tenggelam dalam kesepian yang paling sunyi. Mampukah ia menemukan jalan pulang ke dirinya sendiri, ataukah ia akan terus menopang langit itu sampai hancur berkeping-keping?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 3

Alana berdiri di ambang pintu ruang tengah. Di sana, Ibu sedang asyik membolak-balik katalog perabotan di ponselnya, sementara Rian merebah di sofa, sibuk dengan game di tangannya. Suara televisi yang menyala keras dan tawa dari ponsel Rian menciptakan kebisingan yang biasanya Alana toleransi, namun malam ini terasa seperti paku yang dipukul masuk ke telinganya.

"Bu, Rian... Alana mau bicara sebentar," suara Alana pelan, namun cukup untuk memutus keriuhan sesaat.

Ibu menoleh, matanya berbinar bukan karena rindu, tapi karena ada sesuatu yang ingin ia tunjukkan. "Nah, pas sekali kamu sudah pulang, Al. Lihat ini, mesin cuci kita sudah sering macet. Ibu pikir mumpung kamu habis bonusan, kita ganti yang baru ya? Tadi Ibu sudah lihat-lihat di toko daring."

Alana menarik napas, dadanya terasa sesak. "Alana ambil cuti, Bu. Mulai besok Alana tidak masuk kantor dulu untuk beberapa waktu."

Hening. Rian menghentikan permainan game-nya. Ibu meletakkan ponselnya dengan dahi berkerut.

"Cuti? Kamu sakit?" tanya Ibu, nadanya lebih ke arah heran daripada khawatir.

"Alana capek, Bu. Alana butuh istirahat sebentar. Mungkin mau pergi ke luar kota beberapa hari," jawab Alana, mencoba tetap tenang meski tangannya terkepal di balik saku blazer.

"Aduh, Al," Ibu mendesah panjang, menyandarkan punggungnya dengan raut wajah kecewa. "Lagi banyak pengeluaran begini kok malah cuti. Kamu tahu kan bulan depan sepupumu mau nikah? Kita butuh uang buat seragam dan sumbangan. Terus mobil itu... kalau kamu cuti, cicilannya bagaimana? Apa nggak sayang sama posisimu di kantor? Nanti kalau dipotong gajinya bagaimana?"

"Cuma 3 hari , Bu. Gajinya tetap jalan," potong Alana cepat. Ia merasakan denyut di pelipisnya semakin kencang.

Rian menyambar dari sofa, "Yah, Kak, terus kalau Kakak cuti dan pergi, aku pakai mobil siapa? Motor aku bannya halus, bahaya. Tadinya aku mau pinjam mobil Kakak buat jalan-jalan sama teman-teman minggu depan. Kan Kakak nggak kerja, mobilnya nganggur."

Alana menatap adiknya, lalu beralih ke Ibunya. Tidak ada satu pun dari mereka yang bertanya, "Kenapa kamu capek?" atau "Apa yang sedang kamu rasakan?" Pertanyaan mereka selalu berkisar pada: Apa yang bisa kamu berikan? Apa yang bisa kami pakai?

"Mobilnya akan Kakak bawa. Kakak butuh ketenangan," ujar Alana tegas, sesuatu yang jarang ia lakukan.

"Kamu ini kenapa sih, Al? Tiba-tiba jadi egois begini," suara Ibu mulai meninggi, nada bicaranya berubah menjadi serangan rasa bersalah yang sudah sangat dikenal Alana. "Ibu nggak pernah minta apa-apa yang aneh. Semua ini kan buat rumah kita juga. Kamu sudah sukses, sudah punya segalanya, masa mau istirahat saja sampai bikin orang rumah susah. Kamu nggak kasihan sama Ibu yang sudah tua?"

Kalimat itu—kamu sudah sukses—terasa seperti ejekan. Sukses bagi mereka adalah menjadi mesin ATM yang tidak boleh rusak.

"Alana bukan egois, Bu. Alana cuma mau bernapas sebentar saja," Alana merasakan matanya memanas, namun ia menolak untuk menangis di depan mereka. "Keputusan Alana sudah bulat. Kuncinya Alana bawa."

Alana berbalik menuju kamarnya tanpa menunggu balasan. Di belakangnya, ia mendengar gumaman Ibu tentang betapa sulitnya mendidik anak yang sudah merasa "pintar", dan gerutuan Rian yang merasa rencananya gagal.

Saat pintu kamar terkunci, Alana bersandar pada daun pintu yang dingin. Ponselnya bergetar di saku. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tidak ia simpan, namun ia tahu siapa pemiliknya.

Pradipta: Jangan memikirkan kantor. Pikirkan dirimu sendiri. Jangan biarkan mereka menarikmu kembali ke air saat kamu baru saja mencoba naik ke daratan.

Alana menatap layar ponsel itu lama. Bagaimana mungkin seorang pria yang hanya ia temui di balik meja kerja bisa lebih memahami retakan jiwanya daripada orang-orang yang berbagi darah dengannya?

1
falea sezi
resain lah oon
falea sezi
jangan betele tele
falea sezi
prett bgt muter doank. g jelas. ne novel. pantes g ada like wong peran utama. oon bkin mual
Lilack Sunrise: pakai lah bahasa Indonesia yang baik dan benar , kamu kayaknya yang oon semua tulisan di kasih titik.gagap loe
total 1 replies
falea sezi
resain pergi jauh dr. dipta yg. plin plan. pengecut dr ortu toxic
falea sezi
Resain aja alana pradipta aja goblok
falea sezi
bodoh di manfaatnya ortunya diem aja pergi lah bego
Desi Santiani
yaa tamat thor
RM
bagus bgt kenapa sepi pembaca y
byyyycaaaa: Terim ma


terimakasih sudah mampir kak🙏🤗
total 1 replies
RM
bagus banget kenpa sepi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!