Betapa bahagianya Sekar ketika dinikahi oleh dokter yang bernama Ilham Kaniago. Sekar yang bekerja sebagai perawat menyadari jika ia bukan gadis yang cantik. Kulit hitam gelap, wajah berjerawat tidak disangka jika akan dipinang oleh dokter tampan dan kaya raya. Tetapi dalam pernikahan itu, Sekar hanya mendapat nafkah batin malam pertama saja. Ilham selalu dingin dan cuek membuat hari-hari Sekar Ayu bersedih.
"Apa tujuan kamu menikah dengan aku, Mas?"
"Ya, karena ingin menjadikan kamu istri, Sekar."
Usut punya usut, Ilham menikah dengan Sekar karena ada maksud tertentu.
Tetapi walaupun hanya diberi nafkah sekali, Sekar akhirnya mengandung. Namun, sayangnya bayi yang Sekar lahirkan dinyatakan meninggal. Setelah bercerai dengan Ilham, Sekar bekerja kembali di rumah sakit yang berbeda membantu dokter Rayyan. Dari sekian anak yang Sekar tangani ada anak laki-laki yang menginginkan Sekar ikut pulang bersamanya.
Apakah Sekar akan menerima permintaan anak itu? Lalu apa Rahasia Ilham?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Tiga hari kemudian, jam sepuluh pagi, Arka jadwal kontrol ke rumah sakit. Sebenarnya Ilham ingin berangkat bareng bersama Sekar jam tujuh pagi tadi, tapi ia tidak punya nyali untuk berhadapan dengan Luna, yang jelas istrinya itu tidak setuju ia dekat dengan Sekar.
"Kita mau menyusul Mama Kecil, Pa?" Arka tampak berbinar-binar. Padahal baru dua jam Sekar jauh darinya.
"Iya, tapi selesai periksa kita langsung pulang, tidak boleh mengganggu Mama Kecil yang sedang merawat pasien," nasehat Ilham.
"Iya, Papa."
"Kamu ikut kan sayang?" Tanya Ilham kepada Luna yang sedang mengecat kukunya.
"Tidak, Mas. Jam sepuluh nanti bertepatan aku mulai syuting, awas ya, di rumah sakit nanti kamu tidak boleh senyum-senyum sama Suster Sekar," ancam Luna menatap Ilham dengan wajah cemberut.
Ilham melempar tatapan tajam, ia kesal karena Luna lebih mementingkan syuting daripada anak.
"Senyum kok nggak boleh, Mommy," polos Arka. "Kata Mama kecil, Alka halus banyak senyum supaya sehat, iya kan, Pa?" Arka tidak mendapat jawaban dari Luna lalu bertanya kepada Ilham yang sedang mengganti kaos yang ia pakai dengan kemeja.
"Anak pintar," Ilham mengusap pipi putranya.
"Papa kamu itu hanya boleh senyum-senyum sama Mommy, Sayang..." jawab Luna. Tetapi Ilham tidak menjawab lagi, justru menggendong Arka keluar kamar kemudian masuk ke mobil, diikuti Rini.
Mesin mobil mengeluarkan suara yang tenang saat Ilham melaju di jalan raya menuju rumah sakit miliknya sendiri. Di kursi belakang, Arka sedang diajak bicara oleh Rini.
“Rini, sebelum ada Suster Sekar kamu kan setiap hari bersama Arka, kenapa Arka sama sekali tidak mau bersama Mommynya?" Tanya Ilham penuh selidik.
"Sa-saya ti-tidak tahu, Tuan," jawab Rini dengan bibir gemetar, tampak menyimpan ketakutan.
"Saya beri kamu tanggung jawab mengasuh Arka bukan hanya cukup memandikan dan memberi makan saja Rini," Ilham berkata dengan suara keras, entah apa yang ia maksud.
"Saya mengerti, Tuan..." jawab Rini menunduk.
"Papa... Jangan malah-malah melulu, kepala Alka pusyiiiinng..." sela Arka, sembari memegangi kepalanya seperti orang dewasa.
Sepi di dalam mobil, Ilham menatap anaknya dari kaca spion tersenyum, Arka memang cerdas selalu saja mematahkan argumen nya.
Setelah beberapa menit, mobil akhirnya memasuki area rumah sakit. Disambut petugas keamanan yang sudah mengenali kendaraan bos mereka, memberikan salam hormat yang Ilham balas dengan senyum singkat. Ia memarkirkan mobil di area khusus untuk pemilik rumah sakit, para pembesar, dan dokter. Ilham turun setelah menoleh ke belakang memastikan Arka sudah digendong oleh Rini.
"Selamat pagi, Tuan..."
"Selamat pagi, Tuan..."
Ucap para pekerja rumah sakit yang sudah tahu bahwa Ilham adalah bos mereka. Tetapi Ilham hanya tersenyum tipis tanpa menjawab.
Tidak melakukan pendaftaran seperti pasien yang lain, mereka masuk ke ruang periksa karena sudah dijadwalkan oleh dokter Rayyan jam berapa seharusnya Arka diperiksa. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan masuk dokter Rayyan dengan senyum ramah, diikuti oleh Suster Sekar yang membawa alat pemeriksaan.
"Mama..." Seru Arka begitu melihat Sekar masuk.
"Anak pintar... Ayo, Mama kompres lukanya," Sekar segera menggendong Arka membawanya ke ranjang pasien.
“Anak ganteng apa kabar?" Rayyan mendekati Sekar lalu memeriksa Arka, setelah basa basi dengan Ilham.
Ilham hanya bisa memperhatikan bagaimana Rayyan dan Sekar bekerja dengan sangat akrab dan kompak. Rayyan akan memberikan isyarat kecil, dan Sekar langsung mengerti apa yang dibutuhkan tanpa perlu banyak bicara. Suara tawa mereka karena celotehan Arka membuat Sekar dan Rayyan sesekali menoleh. Mereka bertiga seperti keluarga ayah ibu dan anak.
Dokter Ilham merasakan sesuatu yang tidak nyaman di dalam dadanya. Ada rasa cemburu yang tiba-tiba datang, tapi berusaha untuk menyembunyikan sekuat tenaga.
Ia tahu Rayyan adalah dokter yang bekerja secara profesional di rumah sakit ini, dan dipercayai sepenuhnya untuk merawat pasien, termasuk keluarganya sendiri. Namun, melihat kedekatannya dengan Sekar, membuat hati Ilham terasa tidak menentu.
Saat Rayyan sedang membuka perban di kepala Arka dan Sekar menuliskan catatan, Ilham secara tidak sengaja mencuri pandang ke arah Sekar. Kepalanya yang di tutup jilbab panjang tampak rapi, wajahnya tetap cantik meskipun mengenakan seragam perawat, dan cara kerjanya yang teliti itu lagi-lagi mengingatkan dirinya kepada sosok Sekar mantan istrinya. Sekar juga tidak sengaja menatap Ilham yang tersenyum kepadanya, tapi tidak membalas, cepat mengalihkan pandangan ke alat yang ia siapkan untuk mengompres luka Arka yang sudah mengering.
“Kondisi Arka cukup baik, Dokter Ilham. Beberapa hari lagi perban akan di lepas permanen," papar Rayyan sambil menulis resep obat, lalu menutup buku catatan.
Ilham mengangguk menghela napas lega.
Bukan Arka jika tidak merengek minta terus bersama Sekar, walaupun sudah dipesan sebelum berangkat tadi.
"Hari ini biar Sekar ikut pulang bersama kami Ray," Ilham ambil keputusan.
"Baik, Dokter," jawab Rayyan yang tidak bisa menolak permintaan bos, tidak ada pilihan lain baginya, segera memanggil Intan untuk pengganti Sekar.
Sekar menggendong Arka diikuti Rini masuk ke mobil lebih dulu, meninggalkan Ilham yang masih ada urusan di dalam sana. Sekar dan Rini pun ngobrol tentang Arka.
"Mbak Rini bekerja di rumah Arka sejak usia Arka berapa hari?" Tanya Sekar menyelidik. Ia tahu jika Rini bekerja sejak Arka masih merah, tapi ingin tahu apakah saat itu Arka lahir dari rahim Luna. Sekar curiga, jika Arka anak Luna kenapa tidak memberi perhatian khusus. Kontrol ke rumah sakit pun tidak ikut mengantar.
"Kalau tidak salah, Arka saat itu baru sebulan, Suster."
"Ibu Luna melahirkan secara normal atau caesar?" Sekar menatap Rini yang tampak mengingat-ingat.
"Saya tidak tahu Sus, menurut cerita bibi, Non Luna melahirkan di luar negeri, ketika pulang sudah membawa bayi," papar Rini.
Sekar beralih menatap Arka yang sedang bermain sembari bersandar di badannya. "Sayang... Kenapa Arka tidak mau dekat sama Mommy?"
"Mommy suka galak, Ma. Matanya gini," Arka memberi contoh mata melotot. "Telus Alka pelnah dicubit," adunya tiba-tiba sedih.
Deg.
Sekar merangkul erat tubuh Arka.
...~Bersambung~...
dia ada di dekat mu tau...bhkn sbntr lgi bikin idup mu jungkir balik Luna.....