NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Insinyur Di Era Tanam Paksa

Reinkarnasi Insinyur Di Era Tanam Paksa

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Time Travel / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Jatmika adalah seorang genius di bidang mekanika dan kimia yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Namun, maut bukan akhir baginya. Ia terbangun di tahun 1853, masa di mana Nusantara sedang dicekik oleh sistem Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang kejam. Hidup sebagai anak nelayan miskin di pesisir Kendal, Jatmika menyaksikan sendiri bagaimana rakyat mati kelaparan sementara gudang-gudang Belanda penuh dengan rempah dan emas. Berbekal ingatan masa depan, Jatmika memulai "perang" yang berbeda. Bukan dengan bambu runcing, melainkan dengan logistik dan ilmu pengetahuan.
Dapatkah Jatmika membawa Nusantara melompati satu abad perkembangan teknologi untuk merdeka lebih awal? Ataukah ilmu pengetahuan yang ia bawa justru menjadi kutukan yang memicu kehancuran lebih besar bagi rakyat yang ingin ia selamatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Cakra Buana Dan Mata Langit

Perjalanan menuju Pesantren Al-Ikhlas dilakukan di bawah perlindungan kegelapan total. Jatmika, ditemani oleh Suro dan Yusuf, menyusuri jalan tikus yang hanya diketahui oleh para pengumpul kayu bakar. Jatmika mengenakan sarung dan peci kumal, menyamar sebagai santri baru untuk menghindari patroli Marsose yang kabarnya sudah mulai menyisir desa-desa sekitar.

Saat mereka tiba di komplek pesantren, suasana terasa tenang namun waspada. Di pendopo utama yang diterangi lampu minyak kelapa, duduk seorang pria sepuh dengan janggut putih panjang dan sorban rapi. Itulah Kyai Hasan.

"Duduklah, Anak Muda," suara Kyai Hasan lembut namun berwibawa. "Yusuf menceritakan banyak hal yang sulit diterima nalar. Tentang air laut yang naik sendiri ke darat dan cahaya yang membutakan mata tanpa api. Apa tujuanmu sebenarnya?"

Jatmika membungkuk hormat. "Kyai, tujuanku sederhana. Aku ingin rakyat kita tidak lagi merangkak di bawah kaki penjajah hanya untuk sesuap nasi. Allah memberikan kita akal, dan aku hanya menggunakan akal itu untuk menyeimbangkan timbangan. Mereka punya bedil, kita punya ilmu. Mereka punya kapal uap, kita punya alam."

Kyai Hasan mengamati wajah Jatmika dengan saksama. "Ilmu itu seperti pisau, Jatmika. Bisa untuk memotong roti, bisa untuk menyembelih manusia. Aku melihat api di matamu, tapi aku juga melihat beban yang sangat berat. Apakah kamu siap memikul dosa dari setiap nyawa yang akan hilang karena penemuanmu?"

Jatmika terdiam sejenak. Pertanyaan itu menghantam nurani modernnya. "Jika aku tidak melakukan apa-apa, ribuan rakyat akan mati perlahan karena kelaparan dan kerja paksa. Aku memilih memikul dosa perang demi menghentikan dosa penindasan yang tak berujung."

Kyai Hasan mengangguk perlahan. "Jawaban yang jujur. Ketahuilah, Belanda telah membawa Balon Udara ke Semarang. Mereka menyebutnya 'Mata Tuhan'. Mereka akan terbang di atas rawa-rawamu besok pagi. Jika mereka melihat gubuk-gubukmu, mereka akan menghujaninya dengan meriam dari kapal perang di lepas pantai."

Jatmika menegakkan punggungnya. "Itu sebabnya aku di sini, Kyai. Aku butuh bantuan santri-santrimu untuk mengumpulkan minyak jarak, belerang kusam, dan daun-daun basah dalam jumlah besar. Kita akan membuat Tabir Asap Termal."

"Apa itu?" tanya Suro yang sejak tadi hanya menyimak.

"Balon itu butuh udara tenang dan penglihatan jernih untuk berguna," Jatmika menjelaskan. "Kita akan membakar campuran kimia di titik-titik tertentu di sekitar rawa. Asapnya bukan hanya akan menutupi pandangan mereka, tapi panas dari pembakaran itu akan menciptakan arus udara vertikal yang tidak stabil—Termal. Balon itu akan terombang-ambing seperti daun di tengah badai, dan operatornya akan terlalu sibuk bertahan hidup daripada menggambar peta kita."

Malam itu juga, perintah Kyai Hasan turun. Ratusan santri bergerak dalam senyap. Mereka memanggul keranjang-keranjang berisi bahan yang diminta Jatmika, mengirimkannya melalui jalur-jalur rahasia menuju pinggiran Segoro Wedhi.

Fajar menyingsing dengan suara yang tidak biasa. Sebuah deru mesin pompa terdengar dari kejauhan arah pelabuhan. Di langit yang masih remang, sebuah benda raksasa berbentuk oval mulai naik perlahan. Itu adalah balon udara pengintai milik militer Belanda, lengkap dengan keranjang anyaman yang berisi dua perwira dan sebuah teleskop kuningan besar.

Kapten Van De Berg berdiri di dermaga, menatap balon itu dengan puas. "Naiklah lebih tinggi. Temukan lubang tikus itu, dan kita akan mengakhiri lelucon ini hari ini juga."

Di dalam rawa, Jatmika berdiri di atas dahan pohon bakau tertinggi.

"Sekarang!" teriak Jatmika.

Di tiga puluh titik berbeda di sekeliling rawa, para pengikut Suro dan para santri menyulut tumpukan bahan kimia. Bukan api besar yang muncul, melainkan asap putih abu-abu yang sangat tebal dan berat. Jatmika telah mencampurkan bubuk garam kalsium ke dalam pembakaran untuk membuat asapnya lebih padat (opasitas tinggi).

Dalam hitungan menit, seluruh wilayah rawa tertutup oleh selimut kabut buatan yang masif.

Di atas sana, para perwira Belanda di dalam keranjang balon mulai panik. "Kapten! Kabut muncul mendadak! Kami tidak bisa melihat permukaan!"

Namun yang lebih mengerikan bukan hanya hilangnya pandangan. Sesuai perhitungan Jatmika, panas dari pembakaran kimia di bawah menciptakan kolom udara panas yang naik dengan cepat. Balon itu tiba-tiba tersentak hebat.

Wuuush!

"Gusti Allah! Balonnya menari!" seru Darman dari bawah.

Balon udara itu terangkat naik secara tiba-tiba, lalu terhempas ke samping saat menabrak lapisan udara dingin. Keranjang anyamannya berayun berbahaya. Teleskop berharga milik Belanda jatuh ke dalam rawa yang dalam. Para perwira di atas sana berteriak ketakutan saat balon mereka mulai berputar-putar di luar kendali karena turbulensi termal yang diciptakan Jatmika.

"Tarik! Tarik talinya!" teriak Van De Berg dari kejauhan, tapi suaranya kalah oleh deru angin buatan itu.

Jatmika turun dari pohon dengan tenang. "Mata mereka sudah buta untuk hari ini. Tapi ini hanya peringatan. Suro, siapkan tim pemukul. Saat mereka sibuk menarik kembali balon itu, kita akan menyerang gudang suplai mereka di perbatasan."

"Tapi Jatmika," Yusuf memotong, "Kyai Hasan berpesan, ada seseorang di dalam markasmu yang menerima surat dari pendopo kabupaten semalam. Seseorang yang tidak ikut ke pesantren."

Jantung Jatmika berdesir. Ia melihat ke arah kerumunan pengikutnya yang sedang bersorak melihat kegagalan balon Belanda. Di sana ada wajah-wajah yang ia kenal, wajah-wajah yang ia selamatkan.

Siapa?batin Jatmika.

Euforia kemenangan kecil itu tiba-tiba berubah menjadi kecurigaan yang mencekam. Di tengah revolusi teknologi, ancaman terbesar ternyata tetaplah sifat dasar manusia: Pengkhianatan.

1
Nemi yaa
kereen😍
Sastra Gulo: Terimakasih ka :)
total 1 replies
anggita
terus berkarya tulis👌. moga novelnya lancar.
Sastra Gulo: Amin kak. support selalu ya🙏😍
total 1 replies
anggita
Jatmika.. 👍💣💥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!