NovelToon NovelToon
SELESAI MENJADI SABAR

SELESAI MENJADI SABAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Slice of Life / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Keluarga / Suami Tak Berguna
Popularitas:15.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Lima tahun Hana mengabdi sebagai istri dan menantu yang sempurna, meski hanya dianggap sebagai pelayan tak berbayar. Ia rela makan sisa rendang di ujung meja dan menelan hinaan setiap hari demi keutuhan rumah tangga.
Namun, saat Hana menemukan Aris—suaminya—sengaja menyembunyikan uang puluhan juta sementara putra mereka terancam putus sekolah karena SPP menunggak, Hana sadar: kesabarannya telah habis.
Hana pergi membawa ijazah akuntansi yang selama ini berdebu di gudang. Dari seorang ibu rumah tangga yang tertindas, ia bertransformasi menjadi akuntan tangguh di bawah bimbingan Adrian, CEO dingin yang membantunya mengungkap borok finansial keluarga Aris.
Hana tidak membalas dengan amarah, ia membalas dengan cara yang paling menyakitkan: menjadi jauh lebih sukses dan menghancurkan harga diri Aris di meja hukum. Ternyata, berhenti menjadi sabar adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Ujung Sebuah Manipulasi

Malam yang ditentukan tiba dengan atmosfer yang mencekam. Kafe yang dipilih sebagai lokasi pertemuan terletak di pinggiran kota, sebuah tempat yang remang-remang dengan bilik-bilik kayu tinggi yang memberikan privasi semu. Suara rintik hujan yang mulai turun membasahi aspal seolah menambah kesan dingin pada rencana besar yang telah disusun rapi.

Hana duduk di bilik paling pojok, menghadap ke arah pintu masuk. Di depannya terdapat sebuah tas jinjing kulit yang tampak penuh—meski isinya hanyalah tumpukan kertas koran yang dilapisi beberapa lembar uang asli di bagian atas. Di balik kemeja sutranya, sebuah perangkat penyadap kecil menempel erat, mengirimkan setiap suara langsung ke telinga Baskara dan tim kepolisian yang bersiaga di dalam sebuah mobil boks tidak jauh dari lokasi.

Jantung Hana berdegup kencang, namun ia terus melatih napasnya. Ia teringat pesan Adrian sesaat sebelum ia berangkat: "Tetaplah tenang, Hana. Kamu adalah pemegang kendali di sini. Jangan biarkan mereka melihat keraguan di matamu."

Tepat pukul delapan lewat sepuluh menit, lonceng di pintu kafe berdenting. Seorang pria dengan jaket hoodie gelap dan topi yang ditarik rendah masuk. Ia mengedarkan pandangan dengan waspada sebelum akhirnya melangkah menuju meja Hana. Saat pria itu duduk di hadapannya dan membuka penutup kepalanya, Hana tidak terkejut melihat siapa yang datang.

"Kamu datang juga akhirnya, Hana," ucap pria itu. Suaranya serak, penuh dengan kebencian yang dipendam.

Hana menatap pria di depannya dengan pandangan dingin. "Mas Aris. Ternyata benar dugaan saya. Kamu sudah jatuh begitu rendah hingga harus memeras mantan istrimu sendiri."

Aris tertawa sinis, matanya merah dan tampak kurang tidur. "Rendah? Kamu yang membuatku seperti ini, Hana! Kamu menghancurkan pekerjaanku, kamu menghancurkan namaku di depan keluarga besar. Kamu hidup mewah di apartemen mahal sementara aku harus mencuci piring di warung tenda untuk biaya rumah sakit Ibu!"

"Bukan saya yang menghancurkanmu, Aris. Perbuatanmu sendiri yang melakukannya," sahut Hana tenang, tangannya tetap berada di atas meja. "Di mana foto-fotonya?"

Aris mengeluarkan sebuah amplop cokelat besar dari balik jaketnya. "Semua klise dan salinan aslinya ada di sini. Sekarang, serahkan tas itu."

Hana menarik tas jinjingnya sedikit lebih dekat, namun tidak langsung memberikannya. "Saya ingin memastikan satu hal. Setelah saya menyerahkan uang ini, apakah kamu akan benar-benar menghilang dari hidup saya? Ataukah sebulan lagi kamu akan mengirimkan surat ancaman baru dengan alasan biaya pengobatan Ibu lagi?"

"Berhenti menceramahiku!" bentak Aris pelan namun tajam. "Serahkan uangnya, dan aku janji kamu tidak akan pernah melihat wajahku lagi. Aku butuh uang ini untuk melunasi utang ke rentenir dan membawa Ibu pulang ke kampung."

Hana menatap Aris cukup lama, mencari sisa-sisa pria yang dulu pernah ia cintai. Namun, yang ia temukan hanyalah kehampaan dan keserakahan. "Satu miliar rupiah, Aris. Itu jumlah yang sangat besar. Kamu sadar bahwa tindakanmu malam ini adalah tindak pidana berat?"

"Jangan coba-coba menakutiku dengan hukum! Kamu punya banyak uang, Hana. Satu miliar bagimu mungkin hanya bonus satu bulan kerja. Bagiku, ini adalah tiket untuk memulai hidup baru," Aris mencoba merampas tas itu, namun Hana menahannya.

"Jawab saya dengan jujur, Aris," suara Hana merendah, memastikan mikrofon kecil di dadanya menangkap setiap kata. "Apakah ini semua idemu sendiri? Ataukah Pak Mulyono yang merencanakan semua ini?"

Aris tampak ragu sejenak, namun keputusasaannya mengalahkan kewaspadaannya. "Paman yang mengambil fotonya. Dia yang punya kenalan fotografer. Tapi apa pedulimu? Yang penting uangnya ada di sini. Berikan!"

Hana melepaskan pegangannya pada tas itu. Aris dengan rakus membukanya, tangannya gemetar saat menyentuh lembaran uang di bagian atas. Namun, saat ia merogoh lebih dalam dan menyadari bahwa di bawah uang itu hanyalah kertas koran, wajahnya berubah menjadi pucat pasi, lalu memerah karena amarah.

"Kamu menjebakku?!" teriak Aris sambil berdiri, hendak menyerang Hana.

Namun, sebelum Aris sempat menyentuh Hana, pintu kafe terbanting terbuka. Tiga orang pria berpakaian preman yang sedari tadi menyamar sebagai pelanggan di meja lain langsung bergerak cepat.

"Polisi! Jangan bergerak!"

Aris terpaku, tangannya terkunci di udara. Di saat yang sama, tim kepolisian dari luar masuk dan mengepung bilik tersebut. Baskara dan Adrian muncul di belakang mereka.

Hana berdiri dengan perlahan, menjauh dari meja. Ia melihat Aris yang kini tersungkur di lantai dengan tangan terborgol ke belakang. Pria itu menatap Hana dengan tatapan yang penuh dengan caci maki sekaligus ketakutan yang luar biasa.

"Hana! Kamu tega! Kamu benar-benar iblis!" teriak Aris saat ia diseret keluar.

Hana tidak membalas. Ia hanya berdiri di sana, menatap mantan suaminya yang kini dibawa masuk ke dalam mobil polisi. Adrian segera menghampiri Hana, memegang bahunya untuk memberikan dukungan.

"Sudah berakhir, Hana. Semuanya terekam dengan jelas. Pengakuan dia tentang keterlibatan Pak Mulyono juga akan memudahkan polisi untuk menjemput pamannya malam ini juga," ujar Baskara sambil menunjukkan alat perekam.

Hana menarik napas dalam-dalam, merasakan udara yang masuk ke paru-parunya terasa jauh lebih bersih daripada sebelumnya. "Terima kasih, Pak Baskara. Terima kasih, Adrian."

"Kamu sangat berani, Hana," puji Adrian. "Tidak banyak orang yang bisa tetap tenang menghadapi intimidasi seperti itu."

Malam itu, Hana tidak langsung pulang ke apartemennya. Ia meminta Adrian untuk mengantarnya ke taman kota yang sepi. Mereka duduk di sebuah bangku kayu, membiarkan gerimis tipis membasahi kulit mereka. Hana menatap lampu-lampu jalanan yang berpendar di permukaan aspal yang basah.

"Apakah saya terlalu kejam, Adrian?" tanya Hana lirih.

Adrian menggeleng perlahan. "Keadilan seringkali terasa kejam bagi mereka yang terbiasa hidup tanpa aturan. Kamu hanya melindungi dirimu sendiri. Jika kamu memberikan uang itu, kamu justru membiarkan mereka terus berbuat jahat."

"Saya hanya merasa sedih," lanjut Hana. "Sedih melihat bagaimana seseorang yang dulu pernah berbagi mimpi dengan saya bisa berubah menjadi sosok yang tidak saya kenali. Ternyata benar, uang dan keputusasaan bisa menelanjangi sifat asli manusia."

"Setidaknya sekarang kamu benar-benar bebas," sahut Adrian. "Tidak akan ada lagi foto rahasia, tidak ada lagi ancaman di lobi kantor. Kamu bisa fokus sepenuhnya pada dirimu dan kariermu."

Hana menoleh ke arah Adrian, sebuah senyum tipis terukir di bibirnya. "Terima kasih sudah selalu ada di saat-saat paling gelap dalam hidup saya, Adrian. Saya tidak tahu bagaimana cara membalas semua kebaikanmu."

Adrian menatap mata Hana, tatapannya dalam dan penuh makna. "Kamu tidak perlu membalas apa pun. Melihatmu berdiri tegak dan bahagia sudah lebih dari cukup bagi saya."

Keesokan harinya, berita tentang penangkapan Aris dan Pak Mulyono atas kasus pemerasan tidak menjadi konsumsi publik secara luas berkat penanganan taktis tim Humas perusahaan. Namun, di lingkungan internal kantor, semua orang tahu bahwa Hana Anindita adalah wanita yang tidak boleh diremehkan.

Hana masuk ke ruangannya dengan langkah yang lebih ringan. Ia melihat meja kerjanya yang bersih, tumpukan berkas yang menanti, dan masa depan yang kini tampak begitu cerah. Ia mengambil sebuah bingkai foto kecil yang berisi kutipan favoritnya dan meletakkannya di sudut meja.

Di kantor polisi, Aris dan Pak Mulyono harus menghadapi konsekuensi hukum yang berat. Tanpa dukungan finansial dan nama baik yang tersisa, mereka tidak punya pilihan selain mengakui semua perbuatan mereka. Ibu Aris akhirnya diurus oleh Dinas Sosial setelah keluarga besarnya yang lain satu per satu menarik diri karena malu atas skandal tersebut.

Hana memutuskan untuk memberikan bantuan terakhir secara anonim melalui lembaga sosial untuk memastikan mantan mertuanya tetap mendapatkan perawatan medis yang layak di panti jompo yang baik. Ia melakukannya bukan karena masih cinta atau ingin kembali, melainkan karena ia tetaplah Hana yang memiliki hati, meskipun hati itu kini telah memiliki benteng yang kokoh.

Satu bulan kemudian, Hana mendapatkan kabar bahwa kasusnya telah P21 dan siap disidangkan. Ia tidak merasa perlu hadir setiap saat; ia sudah menyerahkan semuanya pada Baskara. Fokusnya kini adalah pada keberhasilan proyek regional yang baru saja diluncurkan.

Sore itu, saat Hana hendak pulang, ia melihat Adrian menunggunya di depan lift.

"Sudah siap untuk makan malam yang bukan tentang urusan kantor?" tanya Adrian sambil tersenyum.

Hana tertawa kecil, kali ini suaranya terdengar merdu dan lepas. "Sudah. Dan saya yang akan menentukan tempatnya kali ini."

Saat pintu lift terbuka dan mereka melangkah masuk, Hana merasa seolah-olah ia baru saja melewati pintu gerbang menuju kehidupan yang benar-benar baru. Sabar yang dulu ia pelihara telah bermetamorfosis menjadi kekuatan, dan kekuatan itu kini menuntunnya menuju kebahagiaan yang sesungguhnya.

1
arniya
Aris bukan d penjara??!
Mom Ilham
anaknya hana apa khabarnya ya
Lia Kiftia Usman
karyamu asyiik dibaca..thor..
Sefna Wati: terima kasih kkk sudah mampir baca novel karyaku ya ...
sehat selalu ya🥰🥰
jangan lupa tinggalkan like nya ya dan mampir di novel lainnya mana tau kakak juga suka dengan cerita yang lain🥰🥰🥰🥰
🥰🥰🥰
total 1 replies
Nor
Kok ceritanya aneh yaa, kenapa tiba² ada surat tanah peninggalan almarhum ayah hana. sebenarnya ayah hana itu masih hidup atau sudah meninggal?
Sefna Wati: kalau mau tau kelanjutannya baca terus ya kak biar gak penasaran 🥰🥰🥰
total 1 replies
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
terlambat sudah penyesalan mu Aris mau gimana pun kamu memohon agar Hana mau kembali tetep aja hasilnya nihil karna Hana sekarang bukan Hana yang dulu lagi
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kok gak Aris gak emak nya sama² ngeyel sih udah tau nanti kena ulti sama Hana eh masih aja mau gangguin Hana 😒
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
baguslah akhirnya sekarang Hana bisa hidup tenang dan terbebas dari hama² ini
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
pelajaran nya disini tu jangan pernah meremehkan orang dari penampilan nya,berawal dari Hana yang diperlakukan seperti babu sekarang malah lebih bersinar dari orang² yang dulu memerintah nya
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kapokkk modyar aee kau Aris bisa² habis sudah semua harta haram mu itu 😂😂
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
sok²an meremehkan ni si Aris jangan kira karna Hana dulu diperlakukan seperti babu bukan berarti fungsi kepintaran di otak nya udah gak kerja yaa 😏
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
karma mu Aris bahkan anak mu aja gak Sudi lagi sama kamu lagian bisa² nya dia beli keramik baru tapi anak nya aja nunggak SPP 😒
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kok si Aris makin gak ngotak ya emang gak punya tangan ya buat mijet doang masak Hana Mulu yang gerak 😑
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
emang sih semua orang itu punya batas kesabaran gak semua orang itu tahan disakiti berkali kali apa lagi sama keluarga nya sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!