NovelToon NovelToon
Cinta Kontrak Seorang CEO

Cinta Kontrak Seorang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ana Sutiana

Ketika hidupmu dipenuhi dengan rutinitas dan kesibukan, tiba-tiba sebuah kontrak cinta muncul di depan mata. Sakira Anindya, seorang wanita muda yang mandiri, harus menjalani perjanjian unik dengan seorang CEO tampan dan misterius, Rafael Pratama. Awal dari perjanjian itu hanyalah formalitas, tapi hati tak pernah bisa diajak kompromi.

bisakah Sakira menjaga jarak tanpa terjerat perasaan? Ataukah kontrak ini justru membuka jalan bagi cinta yang tak pernah ia duga? Drama, romansa, dan rahasia CEO menanti untuk mengubah hidup Sakira selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Sutiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33. malam yang mengubah segalanya

Malam semakin larut.

Di ruang tamu apartemen yang luas itu, Nadira masih duduk sendirian di sofa. Lampu ruangan hanya menyala sebagian, menciptakan suasana sunyi yang terasa menekan.

Televisi masih menyala di depannya, tetapi Nadira sama sekali tidak memperhatikan apa yang ditayangkan. Pikirannya terus melayang pada percakapan Raka dengan wanita bernama Vanessa tadi.

Wanita dari masa lalu suaminya.

Nadira menghela napas panjang.

Entah kenapa, sejak melihat ekspresi Raka ketika bertemu Vanessa tadi sore, hatinya terasa tidak nyaman.

Seolah ada sesuatu yang belum selesai di antara mereka.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.

Namun Raka belum juga pulang.

Nadira akhirnya mematikan televisi. Ia berdiri lalu berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air.

Apartemen itu terasa terlalu sepi malam ini.

Setelah meneguk air, Nadira kembali ke ruang tamu. Ia mencoba menghubungi Raka, tetapi panggilannya tidak dijawab.

“Kenapa belum pulang juga…” gumamnya pelan.

Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Mungkin Raka sedang membantu Vanessa.

Mungkin memang ada masalah serius.

Namun tetap saja perasaan gelisah itu tidak bisa dihilangkan begitu saja.

Di sisi lain kota.

Raka sedang duduk di sebuah kafe yang hampir tutup.

Di depannya, Vanessa tampak jauh lebih tenang dibanding beberapa jam yang lalu.

Raka menatap wanita itu dengan serius.

“Sekarang jelaskan semuanya.”

Vanessa menggenggam cangkir kopi di tangannya.

“Aku tidak tahu harus mulai dari mana.”

“Mulai dari alasan kenapa kamu tiba-tiba kembali.”

Vanessa terdiam beberapa detik.

Matanya terlihat sedikit berkaca-kaca.

“Aku tidak punya pilihan lain, Raka.”

Raka mengerutkan kening.

“Apa maksudmu?”

Vanessa menunduk.

“Bisnisku bangkrut.”

Raka terdiam.

Vanessa melanjutkan dengan suara pelan.

“Semua investasi yang aku lakukan gagal. Aku kehilangan hampir semuanya.”

“Kamu kembali hanya karena itu?”

Vanessa cepat menggeleng.

“Bukan hanya itu.”

Raka menatapnya tajam.

“Lalu?”

Vanessa mengangkat kepalanya perlahan.

Tatapannya terlihat rumit.

“Aku sakit.”

Raka terkejut.

“Sakit?”

Vanessa mengangguk pelan.

“Aku didiagnosis penyakit serius beberapa bulan lalu.”

“Apa?”

Vanessa tidak langsung menjawab.

Ia hanya berkata dengan suara lirih.

“Aku mungkin tidak punya banyak waktu lagi.”

Ucapan itu membuat Raka terdiam cukup lama.

Ia tidak menyangka percakapan malam ini akan berubah menjadi seperti ini.

“Kenapa baru sekarang kamu memberitahuku?”

Vanessa tersenyum pahit.

“Karena dulu aku terlalu egois.”

Ia menatap Raka dengan penuh penyesalan.

“Aku meninggalkanmu demi mengejar ambisi dan kehidupan yang kupikir lebih baik.”

“Tapi ternyata aku salah.”

Raka tidak langsung menanggapi.

Ia hanya menatap meja dengan wajah serius.

Vanessa kembali berbicara.

“Aku tidak berharap kamu memaafkanku.”

“Lalu kenapa datang?”

Vanessa menatapnya dalam-dalam.

“Aku hanya ingin melihatmu sekali lagi.”

Raka menghela napas berat.

Namun di dalam hatinya, pikirannya justru melayang pada seseorang yang sedang menunggunya di rumah.

Nadira.

Istrinya.

Walaupun pernikahan mereka berawal dari kontrak, Nadira tetaplah orang yang kini ada di sisinya.

Raka berdiri dari kursinya.

“Aku harus pulang.”

Vanessa terlihat sedikit terkejut.

“Sekarang?”

Raka mengangguk.

“Istriku menunggu.”

Mendengar kata itu, ekspresi Vanessa berubah.

“Istrimu…”

Raka menatapnya dengan tegas “Ya. Nadira.”

Vanessa tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak sampai ke matanya.

“Sepertinya dia sangat penting bagimu.”

Raka tidak menjawab.

Namun diamnya sudah cukup untuk memberi jawaban.

Sementara itu di apartemen.

Nadira akhirnya tertidur di sofa karena kelelahan menunggu.

Lampu ruang tamu masih menyala.

Tak lama kemudian pintu apartemen terbuka.

Raka masuk dengan langkah pelan.

Ketika melihat Nadira tertidur di sofa, langkahnya terhenti.

Perasaan bersalah tiba-tiba muncul di hatinya.

Ia berjalan mendekat.

Nadira terlihat sangat lelah.

Rambutnya sedikit berantakan dan tubuhnya meringkuk di sofa.

Raka menghela napas pelan.

“Kenapa menunggu di sini…” gumamnya.

Ia kemudian menggendong Nadira dengan hati-hati menuju kamar.

Saat itulah Nadira perlahan terbangun.

“Raka…?”

Raka menatapnya.

“Maaf aku pulang terlambat.”

Nadira mencoba duduk.

“Kamu dari mana?”

Raka terdiam sebentar sebelum menjawab.

“Aku berbicara dengan Vanessa.”

Mendengar nama itu, Nadira langsung terdiam.

Raka melanjutkan dengan suara tenang.

“Dia sedang mengalami masalah.”

Nadira menunduk.

“Apa kamu akan membantunya?”

Pertanyaan itu membuat Raka menatapnya.

Ada sesuatu dalam nada suara Nadira yang terasa berbeda.

Seperti menahan perasaan.

Raka akhirnya berkata jujur.

“Aku tidak tahu.”

Nadira menggigit bibirnya pelan “Dia wanita yang penting di masa lalumu, kan?”

Raka tidak langsung menjawab.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan.

Akhirnya ia berkata pelan.

“Dulu mungkin iya.”

Nadira mengangkat kepalanya.

“Sekarang?”

Raka menatapnya dalam-dalam.

“Sekarang semuanya berbeda.”

Jantung Nadira berdebar tanpa alasan yang jelas.

Namun sebelum ia sempat mengatakan sesuatu lagi, ponsel Raka tiba-tiba berdering.

Nama Vanessa muncul di layar.

Nadira melihatnya.

Dan tanpa sadar hatinya terasa sedikit sakit.

Raka menatap layar ponselnya beberapa detik.

Lalu…

Ia menekan tombol tolak panggilan.

Nadira terkejut.

“Kamu tidak mengangkatnya?”

Raka meletakkan ponselnya di meja.

“Tidak.”

“Kenapa?”

Raka menatap Nadira dengan tatapan serius.

“Karena sekarang aku punya hal yang lebih penting.”

Nadira terdiam.

Raka melanjutkan dengan suara rendah.

“Istriku.”

Untuk beberapa saat, Nadira tidak bisa berkata apa-apa.

Entah kenapa kata itu membuat hatinya terasa hangat sekaligus bingung.

Pernikahan mereka hanyalah kontrak.

Namun malam ini…

Sesuatu terasa mulai berubah.

Dan tanpa mereka sadari—

Kembalinya Vanessa bukan hanya membawa masalah dari masa lalu.

Tetapi juga akan menguji perasaan yang mulai tumbuh di antara mereka.

Ruang kamar kembali sunyi setelah ponsel Raka berhenti berdering.

Nadira masih berdiri di dekat tempat tidur, menatap Raka dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada kelegaan karena Raka memilih tidak menjawab telepon Vanessa, tetapi di sisi lain hatinya tetap dipenuhi berbagai pertanyaan.

“Raka…” Nadira akhirnya membuka suara pelan.

Pria itu menoleh. “Ya?”

“Vanessa benar-benar dalam masalah?”

Raka menghela napas sebelum menjawab.

“Iya. Dia bilang bisnisnya bangkrut.”

Nadira menunduk sedikit. Ia mencoba mencerna informasi itu.

“Lalu dia sakit juga, kan?”

Raka tampak terkejut.

“Kamu tahu?”

Nadira mengangguk pelan.

“Tadi dia sempat menyebutkannya sebelum kamu datang.”

Raka mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Jelas sekali ia sedang memikirkan sesuatu yang berat.

“Dia tidak mengatakan dengan jelas penyakit apa,” katanya pelan. “Tapi sepertinya cukup serius.”

Nadira terdiam.

Entah kenapa hatinya terasa semakin tidak tenang.

Bukan karena ia membenci Vanessa.

Tetapi karena ia tahu, orang yang pernah memiliki hubungan masa lalu yang kuat tidak akan mudah benar-benar terlepas dari kehidupan seseorang.

“Raka,” kata Nadira lagi dengan hati-hati.

“Hm?”

“Kalau dia benar-benar sakit… kamu pasti akan tetap membantunya, kan?”

Raka tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap Nadira cukup lama, seolah mencoba membaca sesuatu dari wajah wanita itu.

“Kenapa kamu bertanya begitu?”

Nadira tersenyum kecil, meskipun senyumnya terlihat sedikit dipaksakan.

“Karena kamu orang baik.”

Raka menggeleng pelan.

“Bukan itu alasannya.”

“Lalu?”

Raka melangkah mendekat.

“Nadira, masa lalu memang tidak bisa dihapus. Tapi bukan berarti masa lalu harus menentukan masa depan.”

Kata-kata itu membuat Nadira menatapnya kembali.

Tatapan mereka bertemu dalam jarak yang sangat dekat.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.

Raka akhirnya melanjutkan dengan suara lebih lembut.

“Aku memang pernah mencintai Vanessa dulu.”

Nadira merasakan dadanya sedikit sesak ketika mendengar kalimat itu.

“Tapi itu dulu,” lanjut Raka.

Nadira menunggu kalimat berikutnya, meskipun ia tidak yakin ingin mendengarnya.

Raka menghela napas pelan sebelum berkata,

“Sekarang aku sudah menikah.”

“Walaupun hanya kontrak?” tanya Nadira pelan.

Pertanyaan itu membuat Raka terdiam sejenak.

Ya.

Pernikahan mereka memang hanya kontrak.

Kesepakatan yang dibuat karena keadaan.

Namun anehnya, semakin lama mereka hidup bersama, semakin sulit bagi Raka untuk menganggap semuanya sekadar sandiwara.

Raka menatap Nadira dengan serius.

“Kontrak atau tidak… kamu tetap istriku.”

Jantung Nadira berdetak lebih cepat.

Ia tidak tahu kenapa kalimat sederhana itu terasa begitu berbeda malam ini.

Sebelum ia sempat menanggapi, ponsel Raka kembali berdering.

Namun kali ini bukan Vanessa.

Nama asistennya muncul di layar.

Raka langsung mengangkatnya.

“Halo?”

Beberapa detik kemudian ekspresi wajahnya berubah.

“Apa?”

Nadira yang melihat perubahan itu langsung merasa khawatir.

“Ada apa?”

Raka menurunkan ponselnya perlahan.

“Vanessa…”

“Kenapa dengan dia?”

Raka menatap Nadira dengan wajah serius.

“Asistanku bilang Vanessa pingsan di hotelnya dan sekarang sedang dibawa ke rumah sakit.”

Nadira membeku.

Malam yang awalnya terasa tenang itu tiba-tiba berubah menjadi jauh lebih rumit.

Dan tanpa mereka sadari—

Kejadian malam ini akan membawa mereka ke dalam masalah yang jauh lebih besar dari yang pernah mereka bayangkan.

Bersambung…

1
Saridi Rangkas
sangat bagus cerita nya
Saridi Rangkas
👍
JR Rhna
tak dijelaskan secara terperinci apa keuntungan yg didapatkan dari kedua belah pihak.ceritanya sangat cepat tanpa penjelasan lebih
Ana Sutiana: iya maaf ya?? kadang saya suka ga fokus menulis nya??,, maaf juga masih berantakan kisah nya🙏
total 1 replies
Ratna Ningsih
kok banyak yg di ulang ulang ceritanya
Ana Sutiana
bagus dan menarik ceritanya untuk di baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!