Menikah tanpa kehadiran suami bukanlah impian Sheena. Ia terpaksa menandatangani dokumen pernikahan di catatan sipil hanya didampingi oleh ibu mertuanya, sementara Matthias—sang suami—lebih memilih merayakan kelulusan S2-nya di The Spire Of Wisdom tanpa sedikit pun memberi kabar.
Tiga bulan penuh pengabaian membuat hati Sheena mendingin. Saat Matthias pulang dengan aura black flag yang kaku dan dingin, Sheena dipaksa pindah ke mansion pribadi pria itu. Matthias bersikap seolah Sheena hanyalah orang asing yang menumpang hidup, karena hatinya masih tertahan pada sosok gadis kecil di halte bus bertahun-tahun lalu—satu-satunya orang yang membolehkannya menangis.
Matthias tidak sadar, sapu tangan yang ia simpan bagai nyawa adalah milik wanita yang kini ia abaikan di rumahnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, apakah Sheena masih mau menunggu pria yang sudah membuang waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Asing
...–Dinginnya Lantai Makati–...
Seminggu di Calapan terasa seperti mimpi musim panas yang singkat. Begitu roda mobil Rolls-Royce itu menyentuh aspal Makati dan gerbang hitam mansion terbuka, kehangatan itu menguap seketika. Seolah-olah ada garis pembatas tak kasat mata yang kembali terbentang saat mereka melintasi pintu masuk.
Tahun sudah berganti. Resolusi tahun baru Matthias tetap sama: membesarkan SM Corp. Sedangkan Sheena kembali terjebak dengan tumpukan jurnal medis yang lebih tebal dari sebelumnya.
Matthias turun dari mobil dengan wajah yang kembali kaku, tanpa ekspresi. Ia tidak lagi memanggil Sheena "Babi Kecil". Ia kembali menjadi Tuan Smith yang tidak tersentuh.
"Rei sudah menungguku di kantor. Aku mungkin tidak akan pulang untuk makan malam," ucap Matthias dingin sambil merapikan jam tangan mahalnya. Ia bahkan tidak menoleh pada Sheena yang sedang menurunkan tas ranselnya sendiri.
Sheena, yang sudah kembali memakai mode "gadis kutu buku yang sibuk", hanya mengangguk tanpa minat. "Baguslah. Aku juga harus ke perpustakaan kampus sampai malam. Jangan lupa kunci pintu kalau kau pulang duluan."
Mereka berpapasan di lobi seperti dua orang asing yang kebetulan menyewa kamar di hotel yang sama. Tidak ada lagi tarikan di piring saat sarapan, tidak ada lagi tatapan sayu di pinggir pantai. Semuanya kembali ke pengaturan pabrik: Dingin, Kaku, dan Asing.
Di Kampus Makati...
Sheena duduk di pojok perpustakaan yang paling sunyi. Rambutnya yang kemarin terurai cantik di pantai, kini kembali digelung asal-asalan dengan pensil sebagai penyangganya. Ia menatap mikroskop dengan mata sleepy eyes-nya yang lelah.
"Sheena! Gimana liburanmu di Calapan? Ketemu cogan nggak?" bisik Mika yang tiba-tiba muncul di sampingnya.
Sheena menghela napas, bayangan tubuh dan wajah tampan Matthias yang bikin dia salting di pinggir pantai mendadak lewat di pikirannya. "Tidak ada. Isinya cuma pohon kelapa dan tiang listrik yang membosankan," jawab Sheena datar.
"Masa sih? Padahal gosipnya CEO SM Corp itu juga pulang ke Calapan lo. Kamu nggak lihat dia?"
"Tidak minat melihat," potong Sheena ketus.
Sementara itu, di kantor SM Corp yang super modern, Matthias sedang memimpin rapat awal tahun. Di depannya ada Celine yang sedang mempresentasikan proyek kolaborasi galeri baru. Celine berdandan sangat cantik, menggunakan parfum mahal yang menyengat, berusaha menarik perhatian Matthias.
Namun, fokus Matthias pecah. Ia menatap pulpen di tangannya, tapi pikirannya melayang ke wajah Sheena tanpa kacamata di bawah matahari terbenam Calapan. Ia merindukan suara cempreng yang memanggilnya "Hei kau, Tiang Gapura", tapi ego besarnya membisikkan bahwa itu hanyalah perasaan sesaat karena suasana kampung halaman.
"Matthias? Bagaimana menurutmu?" Tanya Celine dengan senyum manis.
Matthias tersentak. Ia kembali memasang wajah datarnya. "Proyeknya cukup bagus. Atur jadwal dengan Rei untuk detailnya."
"Hanya itu? Kita tidak mau merayakannya dengan makan malam?" pancing Celine.
"Aku sibuk," jawab Matthias singkat.
Sore itu, Matthias pulang ke rumah lebih awal dari biasanya. Suasana rumah sangat sepi. Ia melewati sayap kiri dan melihat lampu kamar Sheena masih padam. Gadis itu belum pulang.
Matthias masuk ke ruang kerjanya, melempar jasnya ke sofa—sofa tempat Sheena sering tidur karena menunggunya pulang. Ia duduk di sana, menatap kegelapan. Ia merogoh saku jasnya, mencari sapu tangan SK4.
"Makati memang jauh lebih dingin daripada Calapan," gumam Matthias pada dirinya sendiri.
Ia merasa aneh. Di Calapan, ia merasa seperti manusia. Di Makati, ia kembali menjadi mesin bisnis. Dan yang paling membuatnya frustrasi adalah, ia mulai merasa kesepian di rumahnya sendiri jika tidak mendengar suara pedas Sheena yang mengomel di dapur.