cerita kehidupan sehari-hari (slice of life) yang menyentuh hati, tentang bagaimana tiga sahabat dengan karakter berbeda saling mendukung satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehangatan di Balik Meja Makan
Pagi yang cerah menyusup melalui celah-celah ventilasi kost . Devi, yang biasanya paling malas bangun pagi, kali ini tampak bersemangat. Dengan langkah perlahan, ia berjalan menuju kebun kecil di samping kost. Rambutnya yang sedikit berantakan diikat asal,
"Bayam, bayam... hari ini kamu harus jadi makanan enak," gumam Devi sambil mulai memetik helai demi helai daun bayam yang hijau ,Ia berjongkok dengan hati-hati, memisahkan tanaman yang sudah layak panen dengan yang masih kecil. Tidak lama kemudian, Dewi muncul dari pintu samping. Gadis itu berjalan pelan, menyisipkan rambutnya ke belakang telinga saat melihat Devi yang sedang asyik sendiri.
"Butuh bantuan, Devi?" tanya Dewi
Devi menoleh dan langsung tersenyum lebar. "Tentu saja! Tolong ambilkan wadah di dekat keran itu, Wi. Cabai-cabai ini juga sepertinya sudah mulai merah. Kita harus memanennya sebelum busuk." Dewi mengangguk . Keduanya mulai bekerja dalam harmoni. Dewi yang telaten memetik cabai satu per satu, sementara Devi terus memanen sayuran dengan sesekali melontarkan candaan ringan .
Di saat yang sama, Rohita keluar dari kamarnya dengan mengenakan jaket tipis. "Aku pergi ke warung depan sebentar. Jangan ada yang berteriak lagi hanya karena melihat ulat daun," sindir Rohita sambil menatap Devi
"Siap, Bos!" seru Devi
Setelah kepergian Rohita, Dewi dan Devi membawa hasil panen mereka ke dapur . Mereka mulai mencuci sayuran di bawah air . Suara gemericik air beradu dengan denting pisau saat Dewi mulai mengiris bawang .Saat sayuran mulai dimasukkan ke dalam panci yang mendidih, aroma segar khas masakan rumah mulai merebak.
Tak lama berselang, pintu depan terbuka. Rohita datang dengan menenteng sebuah kantong plastik yang tampak cukup berat. Tanpa banyak bicara, ia langsung menuju dapur. "Aku beli daging ayam. kemarin hanya makan es krim," ucap Rohita . Ia segera mengambil alih kompor di sebelah panci sayur, Rohita mulai membumbui ayam tersebut.
Ketiganya sibuk di dapur . Setelah semua masakan matang, piring-piring ditata di atas meja kecil. Daging ayam goreng buatan Rohita bersanding dengan sayur bening . Mereka duduk melingkar, berbagi ruang di kost yang sudah seperti rumah bagi mereka bertiga.
"Wah, masakan Rohita memang tidak pernah gagal," puji Devi
Dewi hanya mengangguk setuju, tersenyum kecil sambil menikmati kuah sayur yang segar. Rohita, merasa sangat senang melihat kedua temannya makan dengan lahap
Siang hari yang terik membuat suasana menjadi sedikit gerah. Devi, yang memiliki kebiasaan santai, tiba-tiba merasa ingin merokok untuk sekadar melepas penat. Ia bangkit dari tempat duduknya dan berpamitan "Aku ke warung sebentar ya, mau beli rokok," ujarnya tanpa menunggu jawaban. Ia berjalan menyusuri jalanan kecil menuju warung terdekat dengan langkah santai, menikmati panas matahari yang membakar kulitnya.
Sekembalinya ke kost, Devi masuk dengan santainya sambil mengisap rokok. Asap putih mengepul di sekitarnya, terbawa angin masuk ke dalam ruangan. Dewi, yang memang memiliki pernapasan sensitif, langsung terbatuk-batuk. Wajahnya yang pucat memerah karena sesak yang tiba-tiba menyerang.
"Devi... tolong, asapnya," ucap Dewi sambil terus terbatuk dan menutup hidungnya dengan ujung baju.
Melihat kondisi Dewi, Rohita langsung berdiri dengan mata menyala. "Keluar, Devi! Jangan merokok di dalam kamar kalau kamu tahu Dewi tidak kuat!" gertak Rohita
Devi langsung melangkah keluar menuju teras depan sambil membawa bungkusan rokoknya.
Rohita, meski marah, akhirnya menyusul ke depan untuk menemani Devi. Ia tidak ingin sahabatnya itu merasa terbuang,Mereka duduk di teras hingga sore hari. Saat itulah, sebuah kejadian menggelikan terjadi di depan mata mereka. Seorang tetangga yang baru saja pulang berbelanja tampak kewalahan karena seekor monyet liar yang entah datang dari mana menarik-narik kantong belanjanya. Si tetangga berusaha menarik kembali plastiknya, sementara si monyet tetap kukuh tidak mau melepasnya.
Melihat adegan tarik-menarik itu, ketegangan Devi seketika hilang. Ia tertawa terbahak-bahak hingga memegangi perutnya. "Lihat itu, Ta! Monyetnya lebih kuat dari Bapak itu!" seru Devi di sela tawa kencangnya. Rohita hanya tersenyum tipis, merasa terhibur secara diam-diam oleh kelakuan tetangganya dan tawa Devi yang menular.
Ketika matahari mulai terbenam dan udara mendingin, Devi yang mulai merasa mengantuk memutuskan masuk ke dalam. Ia langsung menuju kasur dan merebahkan diri di samping Dewi yang sudah lebih dulu tertidur. Mereka berdua tidur dengan lelap, meninggalkan Rohita sendirian di ruang tengah yang mulai temaram. Rohita duduk diam sambil membaca buku, namun pikirannya melayang-layang.
Keheningan malam itu tiba-tiba pecah ketika Rohita mendengar suara gesekan halus di luar jendela depan. Ia mematikan lampu dan mengintip melalui celah gorden. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat bayangan seorang pria yang sedang mencoba mencongkel pintu gerbang kost.
Rohita merasa gemetar. Dengan langkah yang sangat pelan dan napas tertahan, ia mundur menjauh dari jendela.lalu segera menuju kamar dan masuk ke bawah selimut. Dalam kegelapan, ia melihat Devi yang sedang tidur pulas, Rohita segera meringkuk dan memeluk Devi dengan sangat erat,