Lo tahu kenapa lampu lalu lintas warna merah itu artinya berhenti?"
Ifa menatap cowok di depannya dengan benci. "Karena merah itu tanda bahaya."
Nicholas menyeringai, mendekat hingga napasnya terasa di kening Ifa. "Sayangnya, makin bahaya, orang malah makin penasaran, Fa. Termasuk lo."
Lathifa (IPA, kelas 12) dan Nicholas (Teknik, tingkat 3). Dua kutub yang tidak seharusnya bertemu, dipaksa bersinggungan karena sebuah ketidaksengajaan di depan pintu rumah. Bagi Ifa, Nick adalah red flag yang harus dihindari. Bagi Nick, Ifa adalah gangguan kecil yang sangat menarik untuk dipermainkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Langit Jakarta seolah tumpah. Hujan yang tadinya hanya rintik gerimis berubah menjadi guyuran deras yang membutakan pandangan. Suara gemuruh petir sesekali menyambar, membuat Amara refleks mengeratkan pelukannya di pinggang Nicholas. Air mulai menembus seragam putihnya, membuat kulitnya bersentuhan langsung dengan hawa dingin yang menusuk tulang.
Nicholas tampak tenang meski jarak pandangnya terbatas. Ia memacu motornya sedikit lebih pelan, mencari tempat berteduh yang layak. Hingga akhirnya, ia membelokkan motor besar itu ke area parkir sebuah Indomaret yang lampunya bersinar terang di tengah remang hujan.
"Turun," perintah Nick singkat setelah mematikan mesin.
Amara turun dengan tubuh sedikit gemetar. Jaket almamaternya sudah basah kuyup, rambutnya yang tadi dikuncir rapi kini lepek menempel di pipi. Ia berjalan menuju teras depan minimarket, berdiri di pojokan dekat deretan galon air mineral.
Gadis itu tidak bersuara. Ia hanya merapatkan jaketnya, mencoba mencari sisa-sisa kehangatan yang sebenarnya sudah hilang ditelan air hujan. Bibirnya mulai memucat karena kedinginan. Amara menunduk, menatap ujung sepatunya yang basah, merasa sial karena hari Seninnya harus berakhir seperti ini. Di jemput oleh orang yang paling ingin ia hindari, dan sekarang terjebak hujan bersamanya.
Nick melepas helmnya, menyugar rambutnya yang sedikit basah ke belakang—gerakan sederhana yang entah kenapa terlihat sangat maskulin di mata Amara. Pria itu melirik Amara sekilas, memperhatikan bahu mungil gadis itu yang bergetar kecil. Namun, Nick tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berbalik dan melangkah masuk ke dalam Indomaret, membiarkan lonceng pintu berbunyi ting-tong saat ia masuk.
"Ditinggal gitu aja?" bisik Amara dalam hati, ada sedikit rasa sesak yang muncul. "Benar-benar nggak punya perasaan."
Amara mendengus pelan, mencoba mengalihkan pikirannya dengan menghitung tetesan air yang jatuh dari atap. Ia teringat Daffa. Kalau tadi ia pulang bersama Daffa, mungkin ia sudah sampai di rumah dan sedang meminum teh hangat buatan Bunda. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Ia kini terjebak di sini, menunggu entah sampai kapan.
Sekitar lima menit kemudian, pintu kaca Indomaret kembali terbuka. Nicholas keluar dengan membawa sebuah kantong plastik kecil. Tanpa banyak bicara, ia mendekati Amara dan langsung menyodorkan sebuah cup kertas yang masih mengepulkan uap.
"Minum," ucapnya pendek.
Amara mendongak, matanya yang bulat menatap cup itu ragu. "Apa ini?"
"Racun tikus. Ya minumanlah, pake nanya," balas Nick ketus, tapi tangannya tetap menyodorkan cup itu. "Cokelat panas. Biar lo nggak mati kedinginan terus gue yang disalahin Ryan."
Amara menerimanya dengan ragu. Saat jemarinya menyentuh cup itu, rasa hangat menjalar ke tangannya, membuat otot-ototnya sedikit rileks. "Makasih, Kak."
Nick tidak menyahut. Ia mengeluarkan sebuah handuk kecil dari tas ranselnya—handuk yang sepertinya selalu ia bawa—dan tanpa permisi, ia mengacak-acak rambut Amara dengan handuk itu untuk mengeringkannya.
"Kak! Bisa sendiri!" protes Amara, mencoba menghindar.
"Diem, Bocah. Rambut lo lepek kayak kucing kecebur selokan," Nick menahan kepala Amara dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mengeringkan rambut gadis itu dengan gerakan yang tidak bisa dibilang lembut, tapi juga tidak kasar.
Jarak mereka sangat dekat. Amara bisa melihat sisa-sisa air hujan yang menggantung di bulu mata Nick. Seringai tipis yang biasanya menghiasi wajah pria itu menghilang, digantikan oleh ekspresi datar yang sulit dibaca. Amara terpaku, napasnya seolah tertahan di tenggorokan.
Setelah dirasa cukup kering, Nick menjauhkan handuknya. Ia kemudian membuka kantong plastik tadi dan mengeluarkan satu kotak susu stroberi serta sebotol air mineral. Ia duduk di pembatas teras yang terbuat dari semen, menyalakan sebatang rokok, lalu menatap lurus ke arah hujan.
"Kenapa lo liatin gue terus? Terpesona?" tanya Nick tanpa menoleh, hembusan asap rokoknya terbang terbawa angin.
Amara langsung memalingkan wajah, menyesap cokelat panasnya dengan terburu-buru hingga lidahnya hampir melepuh. "Pede banget! Siapa juga yang liatin."
"Daffa. Siapa dia?" tanya Nick tiba-tiba. Pertanyaan itu terdengar santai, tapi ada nada menyelidik di sana.
Amara tersedak kecil. "Kok Kakak tahu nama Daffa?"
"Tadi dia teriak-teriak manggil nama lo pas lo di gerbang. Temen cowok? Atau... pacar?" Nick menoleh, menatap Amara dengan mata tajamnya yang berkilat tertimpa lampu minimarket.
"Bukan urusan Kakak," jawab Amara defensif.
Nick terkekeh sinis. "Hati-hati, Ra. Cowok kayak gitu biasanya cuma manis di depan. Kelihatannya supel, tapi aslinya... membosankan."
"Daffa itu baik! Dia perhatian banget, beda sama Kakak yang—" Amara menggantung kalimatnya, takut kebablasan.
"Bedanya sama gue apa?" Nick mencondongkan tubuhnya ke arah Amara, membuat Amara terdesak ke tembok minimarket. "Gue jahat? Gue berandalan? Gue red flag?"
Amara menelan ludah. "Kakak sendiri yang bilang."
Nick menyeringai lagi—seringai yang membuat Amara merasa seperti mangsa yang sedang dipojokkan. "Emang benar. Gue emang jahat. Makanya, jangan pernah berpikir buat main-main sama gue kalau nggak mau ikut kebakar."
Ia mematikan rokoknya di bawah sepatu boot-nya, lalu berdiri. Hujan mulai mereda sedikit, hanya menyisakan gerimis tipis.
"Ayo balik. Ryan udah berisik nanya posisi," Nick meraih helmnya.
Amara masih terpaku, memegang cup cokelat panas yang kini sudah mendingin. Ia menatap punggung Nick yang lebar. Nicholas adalah teka-teki yang berbahaya. Di satu sisi, ia adalah pria kasar yang suka mengintimidasi, tapi di sisi lain, dialah yang datang menjemputnya dan memberinya cokelat panas di saat kedinginan.
"Masih mau di sini?" suara Nick membuyarkan lamunan Amara.
"Eh, iya... sebentar!"
Amara membuang cup kosongnya ke tempat sampah dan segera menyusul Nick. Saat ia naik ke atas motor, ia tidak lagi ragu untuk memegang ujung jaket Nick. Di bawah langit Jakarta yang masih mendung, Amara sadar bahwa hidupnya sebagai "Amara" yang tenang di sekolah perlahan mulai terganggu oleh kehadiran sosok Nicholas.