NovelToon NovelToon
Dinikahi Tuan Muda Lumpuh: Istriku Ternyata Dokter Bedah Jenius

Dinikahi Tuan Muda Lumpuh: Istriku Ternyata Dokter Bedah Jenius

Status: tamat
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kriminal dan Bidadari / Slice of Life / Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:203.2k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​"Kau pikir aku akan menyentuhmu? Aku lumpuh."

​Ucapan dingin Elzian Drystan di malam pertama mereka langsung dibalas senyum miring oleh istrinya.

​"Otot betis kencang, tidak ada atrofi, dan pupilmu melebar saat melihatku. Kau tidak lumpuh, Tuan. Kau hanya pembohong payah."

​Dalam detik itu, kedok Ziva Magdonia sebagai istri 'tumbal' runtuh. Dia adalah ahli bedah syaraf jenius yang mematikan. Rahasia Elzian terbongkar, dan kesepakatan pun dibuat: Elzian menghancurkan musuh yang mencoba membunuhnya, dan Ziva memastikan tidak ada racun medis yang bisa menyentuh suaminya.

​Namun, saat mantan kekasih Elzian datang menghina, Ziva tidak butuh bantuan.

​"Hidungmu miring dua mili, silikon dagumu kadaluarsa... mau kuperbaiki sekalian?"

​Bagi Ziva, membedah mental musuh jauh lebih mudah daripada membedah otak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Ziva Mengamuk

​​"LEPASKAN TANGAN KOTORMU DARI SUAMIKU!"

​Teriakan itu menggelegar dari ambang pintu, lebih nyaring dari petir.

​Bimo, si terapis gadungan, menoleh kaget. Namun, dia terlambat bereaksi.

​Ziva tidak berjalan. Dia berlari. Dengan kecepatan penuh dan amarah yang sudah meledak di ubun-ubun, Ziva menerjang maju. Dia tidak peduli dengan perbedaan ukuran tubuh mereka. Dia tidak peduli Bimo berotot kawat dan tulang besi.

​Ziva melompat dan mendaratkan tendangan keras tepat di rusuk Bimo yang sedang berlutut.

​BUGH!

​"ARGH!"

​Bimo terhuyung ke samping. Keseimbangannya hilang total karena tidak siap menerima serangan mendadak itu. Tubuh besarnya terjungkal, menabrak meja kopi hingga vas bunga di atasnya jatuh pecah berantakan.

​"Ziva!" seru Bu Ratih, matanya melotot horor melihat terapis mahal sewaannya digulingkan begitu saja oleh menantunya.

​Ziva tidak berhenti. Napasnya memburu, matanya menyala-nyala seperti singa betina yang anaknya diganggu. Dia berdiri di antara Elzian dan Bimo, menjadi tameng hidup bagi suaminya.

​Ziva menunduk, menatap tajam ke arah Bimo yang sedang mengerang memegangi rusuknya.

​"Kau..." desis Ziva, suaranya rendah tapi membuat bulu kuduk merinding. "Kau punya lisensi medis dari mana, hah?! Dari pasar loak?!"

​Bimo mencoba bangkit dengan wajah merah padam karena marah dan malu. "Hei! Apa-apaan kamu! Saya sedang terapi—"

​"Terapi?!" potong Ziva galak. Dia menunjuk kaki Elzian dengan tangan gemetar. "Kau menekan titik Arteri Femoralis dengan tekanan sekuat itu pada pasien yang punya riwayat imobilitas! Kau tahu apa dampaknya, Bodoh?!"

​Ziva maju selangkah, mendesak Bimo mupndur.

​"Kalau di sana ada gumpalan darah dan kau menekannya sekeras itu, gumpalan itu bisa lepas, naik ke paru-paru, dan menyebabkan emboli paru! Kau bukan mau menyembuhkan dia! Kau mau membunuhnya di tempat!" bentak Ziva.

​Wajah Bimo pucat seketika mendengar istilah medis yang dilontarkan Ziva dengan penuh otoritas.

​"S-saya... saya cuma memeriksa refleks..." gagap Bimo.

​"Memeriksa refleks tidak perlu meremukkan tulang!" Ziva menyambar tangan Bimo yang tadi dipakai menekan paha Elzian. Cengkeraman Ziva kuat sekali.

​"Dengar baik-baik," bisik Ziva dingin tepat di depan wajah pria berbadan besar itu. "Sekali lagi kau sentuh suamiku dengan teknik sampahmu itu... demi Tuhan, aku akan mematahkan jari-jarimu satu per satu. Aku dokter bedah. Aku tahu persis cara mematahkan tulang tanpa meninggalkan bekas di rontgen."

​Bimo menelan ludah kasar. Nyalinya ciut. Wanita di depannya ini gila. Tatapannya bukan tatapan dokter, tapi tatapan pembunuh.

​Bimo menarik tangannya kasar dari cengkeraman Ziva, lalu mundur menjauh.

​"Ziva! Jaga sopan santunmu!" Bu Ratih akhirnya berdiri, wajahnya merah menahan amarah. "Ibu membawa Pak Bimo jauh-jauh untuk membantu Elzian! Niat Ibu baik! Kenapa kamu malah mengamuk seperti orang kesurupan?!"

​Ziva berbalik perlahan menghadap ibu mertuanya. Dia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu tersenyum miring. Senyum yang sangat menakutkan.

​"Niat baik?" ulang Ziva sinis. "Ibu datang membawa tukang pukul berkedok terapis, memaksa masuk saat pemilik rumah menolak, dan membiarkan orang asing menyiksa anak tiri Ibu sendiri?"

​Ziva melirik Elzian sekilas. Suaminya itu bersandar lemas di kursi roda, wajahnya pucat pasi dan dipenuhi keringat dingin. Bibirnya sedikit berdarah, bekas gigitan menahan sakit. Hati Ziva mencelos melihatnya. Dia tahu betapa sakitnya cedera Elzian saat ini.

​"Lihat dia, Bu," tunjuk Ziva pada Elzian. "Dia kesakitan. Wajahnya pucat. Tapi Ibu malah tertawa-tawa di sofa sambil menyuruh orang itu menekan lebih keras. Ibu pikir saya buta?"

​"Dia tidak sakit! Dia lumpuh!" elak Bu Ratih panik. "Justru karena dia diam saja, makanya Ibu suruh tekan lagi! Ibu cuma mau memastikan dia benar-benar lumpuh atau cuma pura-pura!"

​Akhirnya, pengakuan itu keluar.

​Suasana ruangan membeku.

​Elzian mengangkat wajahnya, menatap ibu tirinya dengan tatapan kecewa yang mendalam, meski dia sudah tahu niat wanita itu sejak awal.

​Ziva tertawa pendek, tawa tanpa humor.

​"Oh, jadi itu tujuannya. Investigasi," angguk Ziva.

​Dia berjalan mendekati Bu Ratih. Aura dominasi Ziva begitu kuat hingga Bu Ratih tanpa sadar mundur sampai betisnya menabrak sofa.

​"Dengar ini baik-baik, Nyonya Ratih," ucap Ziva tegas. Suaranya menggema di seluruh ruangan, didengar jelas oleh Raka, Bimo, dan para pelayan yang mengintip ketakutan.

​"Elzian adalah pasien saya. Dia di bawah pengawasan medis saya dua puluh empat jam."

​Ziva menepuk dadanya sendiri.

​"Saya yang tahu kondisi ototnya. Saya yang tahu obat apa yang dia minum. Dan saya yang tahu kapan dia boleh diterapi."

​Ziva menatap tajam mata Bu Ratih, lalu beralih menatap Bimo dan para pelayan satu per satu.

​"Mulai detik ini," lanjut Ziva lantang, penuh penekanan. "Tidak ada yang boleh menyentuh tubuh Elzian tanpa izinku. Tidak ada terapis, tidak ada dokter lain, dan tidak ada 'tamu' yang boleh masuk ke kamarnya."

​Ziva menarik napas panjang, lalu mendeklarasikan klaim mutlaknya.

​"Hanya aku yang boleh menyentuh dan merawat suamiku! Kalau ada yang berani melanggar aturan ini, kalian berurusan langsung dengan pisau bedahku!"

​Bu Ratih ternganga, kehabisan kata-kata. Dia kalah telak. Rencana untuk membongkar kedok Elzian hancur berantakan karena menantu yang dikiranya lemah ini ternyata lebih galak dari anjing penjaga neraka.

​Ziva menunjuk pintu utama dengan dagunya.

​"Sekarang, angkat kaki kalian dari rumahku. Bawa serta tukang pijat abal-abal itu sebelum aku panggil polisi atas tuduhan penganiayaan dan percobaan pembunuhan."

​"K-kamu mengusir Ibu?" suara Bu Ratih bergetar.

​"Saya tidak mengusir Ibu," Ziva tersenyum manis yang dibuat-buat. "Saya hanya menyelamatkan Ibu dari rasa malu kalau sampai polisi datang dan menyeret Ibu keluar dengan borgol."

​Bu Ratih menghentakkan kakinya kesal. Dia menyambar tas Hermae s-nya.

​"Awas kamu, Ziva! Kamu akan menyesal!" ancam Bu Ratih sambil berjalan cepat keluar, diikuti Bimo yang masih memegangi rusuknya yang nyeri.

​"Pintu ada di sana! Hati-hati di jalan, jangan balik lagi!" teriak Ziva.

​Setelah pintu depan tertutup keras, Ziva langsung berbalik. Topeng garangnya runtuh seketika, digantikan kepanikan murni.

​Dia berlutut di depan Elzian, menangkup wajah suaminya yang basah oleh keringat.

​"Elzian? Hei, lihat aku," panggil Ziva lembut. Dia memeriksa nadi di leher Elzian. Cepat dan lemah. Syok akibat nyeri hebat.

​Elzian membuka matanya perlahan. Napasnya tersengal. Dia menatap Ziva dengan pandangan kabur namun penuh rasa lega.

​"Ziva..." bisik Elzian lemah, sudut bibirnya terangkat sedikit. "Kau... galak sekali."

​"Diamlah, Bodoh," omel Ziva, matanya berkaca-kaca. Tangannya dengan lembut mengusap lutut Elzian yang tadi ditekan paksa. "Sakit banget ya?"

​Elzian mengangguk jujur. "Rasanya mau mati."

​"Kita ke kamar sekarang. Aku suntik anti-nyeri," Ziva berdiri, lalu menatap Raka yang masih mematung di sudut ruangan.

​"Raka! Jangan bengong saja! Bantu aku angkat Bosmu ke atas! Hati-hati kakinya!" perintah Ziva.

​Raka tersentak, lalu segera berlari mendekat dengan wajah kagum. "Siap, Nyonya! Siap!"

​Dalam hati, Raka bersorak. Akhirnya, ada seseorang di rumah ini yang bisa membungkam mulut besar Bu Ratih dan melindungi Elzian.

Nyonya barunya benar-benar luar biasa.

1
Osie
ternyata ziva beneran sakit kirain launching baby tripple td🤣🤣
Osie
ziva hamilkah?
Osie
game over dah tuh ibu marta🤣🤣🤣
Aidil Kenzie Zie
mampus koe mak Lampir
Rofik Aulian
kirain udah end nih cerita😄
Savana Liora: masih ada beberapa bab lagi ke depan ya. jangan kabur dulu
total 1 replies
Yanti Octavia
Masya Allah luasr biasa karyamu thor, ditunggu up selanjutnya tetep semangat untuk berkarya 😘💪
Savana Liora: makasih banyak kk
total 1 replies
merry
sick at Ziva jgn ksh ampunn
Anbu Hasna
suka ceritanya...
enggak cuma menghibur, tapi ada ilmu juga.
Savana Liora: terima kasih ya
total 1 replies
Mifta Nurjanah
gacorr,btw lanjutt
Andi
/Heart/
Dede Dedeh
lebok martha siah.......
Savana Liora
Ada alasannya
Ella Suteja
sangat bagus /Heart//Heart/
Savana Liora: makaaih kak
total 1 replies
Osie
skakmatt martaba... salah cari lawan ente
Mineaa
wuuuuaaahhhh......singa betina mengaum........🏃🏃🏃🏃🏃
Rofik Aulian
kenapa lah nunggu 3 tahun untuk bongkar kebusukan mereka
Rofik Aulian
partner rerbaik😍
Osie
lebay amir elzian jd enek aku nya
Warni
🤭
Aidil Kenzie Zie
maknya si jalang ingin eksis
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!