Genre: Fantasi-Wanita, Reinkarnasi, Petualangan, Aksi, Supernatural, Misteri, Kultivasi, Sihir.
[On Going]
Terbangun di hutan asing tanpa ingatan, Lin Xinyi hanya membawa satu hal bersamanya—suara misterius yang menanamkan pengetahuan sihir ke dalam pikirannya.
Di dunia di mana monster berkeliaran dan hukum kekuatan menentukan siapa yang hidup dan mati, ia dipaksa belajar bertahan sejak langkah pertama.
Siapakah sebenarnya Lin Xinyi?
Dan kenapa harus dia? Apakah dia adalah pembawa keberuntungan, atau pembawa bencana?
Ini adalah kisah reinkarnasi wanita yang tak sengaja menjadi dewi.
2 hari, 1 bab! Jum'at libur!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12 — Dewi Kesulitan
"Oh iya, Xinyi."
"Hmm?"
Xun'er mengeluarkan sebuah kalung dengan permata merah yang berkilau redup. Ia membuka telapak tangannya dan memperlihatkan benda itu pada Xinyi.
"Itu apa?" Xinyi memperhatikan kalung itu dengan penuh rasa penasaran.
"Hadiah untukmu, aku memang berniat memberikannya padamu setelah kau berhasil melewati petaka."
"Untukku?"
Bibir Xun'er melengkung membentuk senyum kecil. "Mau kupakaikan?" tanyanya.
"Ah, iya."
Xun'er bergerak ke belakang Xinyi. Jari-jarinya menyentuh punggung Xinyi yang halus, membuat tubuhnya sendiri sedikit menegang.
Melihat jarak sedekat itu, Xun'er menelan ludahnya. Perlahan ia mengumpulkan rambut hitam Xinyi, menahannya dengan hati-hati agar tidak mengganggu saat memasangkan kalung.
Dengan gerakan lembut dan terampil, kalung itu dikaitkan di leher Xinyi yang putih dan mulus.
Setelah pengait terpasang dengan sempurna, Xun'er kembali menguraikan rambut Xinyi. Namun ia tidak langsung menarik tangannya. Sebaliknya, ia mengelus rambut itu perlahan, menikmati kelembutannya.
Xinyi menyentuh kalung di lehernya, menatap permata merah yang memantulkan cahaya dengan indah.
"Ini terlihat sangat cantik."
Xinyi berbalik dan tersenyum ke arah Xun'er.
"Sudah kuduga, pilihan Xun'er memang selalu terbaik." Ia memiringkan kepalanya sambil menampilkan senyum manis.
Senyum itu langsung menghantam hati Xun'er. Wajahnya memanas dalam sekejap, rona merah muncul di pipinya.
Menyadari hal itu, Xun'er segera mengalihkan pandangannya.
"Gawat, aku tidak bisa melihatnya lama-lama," batin Xun'er.
Xinyi menyipitkan matanya, menangkap perubahan sikap Xun'er.
"Xun'er, kau... jangan-jangan—"
"Tidak!" potong Xun'er tanpa sadar.
"Hei, aku bahkan belum mengatakan apapun."
"Ah... itu. Apa yang mau kau katakan?"
"Hmm... tatap aku, Xun'er."
"Itu..."
Xinyi langsung memahami reaksinya. Senyum kecil muncul di bibirnya.
"Ahh... ternyata Xun'er terlalu takut untuk menatapku? Padahal aku sama sekali tidak menyeramkan." Xinyi berpura-pura sedih sambil meletakkan jarinya di bawah mata.
"Hiks... Xun'er jahat."
Xun'er akhirnya menoleh. "Bu—bukan begitu..."
"Akhirnya kau menatapku."
Xinyi sedikit terkejut melihat wajah Xun'er dari jarak dekat. Jantungnya berdetak lebih cepat tanpa alasan yang jelas.
"Sejak kapan dia secantik ini," batin Xinyi.
Merasa suasana mulai aneh, Xinyi segera mengalihkan topik.
"Ehem, itu... aku perlu melihat kondisi desa sekarang. Rasanya tidak enak menjadi pemimpin yang tidak tau apa-apa."
"Ah, aku mengerti." Xun'er kembali ke sikap biasanya.
"Kau bisa berjalan 'kan. Xinyi?"
"Aku tidak lumpuh, Xun'er. Tentu saja bisa berjalan."
Xinyi mengganti pakaiannya dengan bantuan Xun'er. Setelah semuanya siap, keduanya pun keluar untuk melihat keadaan desa.
Setelah lima hari Xinyi tertidur, banyak perubahan yang terjadi.
Tap. Tap.
Langkah Xinyi bergema di jalan berbatu. Matanya membesar, ekspresinya dipenuhi keterkejutan.
"Apa-apaan ini!"
Di hadapannya terbentang desa yang hampir tidak bisa dikenali. Rumah-rumah kayu yang dulu berdiri kini digantikan bangunan batu yang rapi dan kokoh. Jalanan bersih, lingkungan terlihat lebih hidup.
Di sampingnya, Xun'er hanya tersenyum. Ia sudah menduga reaksi Xinyi.
"Xun'er, Xun'er, Xun'er!"
"Iya, iya, iya."
"Bagaimana bisa!?"
Xun'er mengangkat kedua tangannya dengan santai. "Aku juga tidak tau. Setelah kekuatan orang-orang kembali, tentu saja mereka akan memperbaiki desanya."
"Tetua pasti mengarahkan mereka untuk melakukannya."
Anak-anak terlihat berlarian di jalan sambil tertawa. Salah satu dari mereka menoleh ke arah Xinyi dan langsung berseru.
"Ah! Kak Xinyi!"
Xinyi mengangkat tangannya sambil tersenyum. "Yaho~"
Anak-anak itu langsung berlari mendekat. Tidak hanya mereka, beberapa orang dewasa yang berada di sekitar juga mulai memperhatikan keberadaan Xinyi dan ikut menghampiri.
"Itu Dewi!"
"Aku mau bertemu dengan Dewi!"
"Aku juga!"
"Aku juga!"
Dalam waktu singkat, kerumunan terbentuk mengelilingi Xinyi dan Xun'er.
Xinyi perlahan mundur karena banyaknya orang yang mendekat hingga punggungnya menyentuh tubuh Xun'er.
"Dewi!"
"Kau sangat hebat!"
"Kami memujamu!"
Xinyi hanya bisa tersenyum kaku. "Tunggu, itu..."
"Hei, kalian membuat Dewi kesulitan!" suara itu datang dari Xun'er.
Orang-orang langsung mengerti dan memberi sedikit jarak.
"Itu, terimakasih untuk pujian kalian. Kurasa agak berlebihan," ucap Xinyi.
"Tidak masalah Dewi!"
"Benar, kau lah yang membebaskan kami, pantas dipuji!"
Meski tersenyum, di dalam hatinya Xinyi berharap bisa segera keluar dari kerumunan ini. Ia masih belum terbiasa menjadi pusat perhatian dan menerima pujian sebanyak itu.
...---...
Kerajaan Shi adalah salah satu dari empat kerajaan besar yang berdiri di Benua Xuan. Wilayahnya menjadi yang paling dekat dengan hutan tempat tinggal Keturunan Darah Berdosa.
Sejak kecil, rakyat Kerajaan Shi telah diajarkan satu hal yang sama. Keturunan Darah Berdosa adalah musuh yang harus dimusnahkan. Kebencian itu tumbuh turun-temurun, mengakar kuat dalam pikiran setiap warga.
Namun kenyataannya, sampai sekarang belum ada satu pun yang berani benar-benar memasuki hutan terlarang itu. Semua teriakan tentang pemusnahan hanya berhenti sebagai kata-kata kosong.
Hingga akhirnya, segalanya berubah.
Di dalam istana Kerajaan Shi terdapat sebuah bola kristal peninggalan leluhur. Artefak itu diwariskan sejak masa Raja Shi Hao yang dahulu pernah bekerja sama dengan raja-raja lain untuk menekan Keturunan Darah Berdosa.
Bola kristal itu menjadi simbol penindasan dan segel.
Namun suatu hari, bola kristal tersebut pecah.
Retakannya menjadi pertanda yang mengerikan. Keturunan Darah Berdosa telah terbebas.
Kabar itu menyebar dengan cepat, menciptakan kepanikan di seluruh kerajaan. Banyak orang dilanda ketakutan, membayangkan balas dendam yang akan datang.
Meski begitu, ada pula yang meremehkannya, yakin bahwa mereka bisa menekan kembali musuh lama seperti yang dilakukan para leluhur.
Di sebuah rumah sederhana, tinggal seorang penyihir tingkat 5 bernama Xiang Malingsheng.
Rumah itu diterangi cahaya lampu sihir yang lembut, membuat suasana di dalam terasa hangat.
Malingsheng hidup bersama istri dan anaknya. Kehidupannya selama ini berjalan sederhana. Ia menjalankan tugas kerajaan untuk berpatroli dan menjaga keamanan wilayah.
Namun malam itu, ia menerima tugas yang berbeda.
Di atas meja kecil di dalam kamarnya tergeletak sebuah surat.
Kamar itu tidak besar, namun cukup nyaman untuknya dan sang istri. Anak mereka tidur di ruangan lain.
Dengan ragu, Malingsheng mengambil surat itu dan membukanya. Matanya bergerak perlahan membaca setiap kata.
Isi surat: Xiang Malingsheng. Kau pasti sudah mendengar tentang kabar itu. Keturunan Darah Berdosa telah bangkit, mereka pasti akan menyerang kita suatu saat. Karena itulah, kita tidak bisa diam saja! Kita harus menyerang lebih dulu! Aku Xu Tang, penyihir yang berada di bawah Raja Shi mengundangmu untuk bergabung dalam misi penyerang ini.
Keraguan langsung memenuhi hatinya.
Ia memahami kondisi kerajaan yang rapuh. Jika serangan terjadi secara tiba-tiba, kepanikan akan melanda seluruh wilayah. Namun di sisi lain, ia juga memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga dari ambisi kerajaan.
Keluarganya.
Ia tidak ingin meninggalkan istri dan anaknya.
"Sayang, ada apa?"
Suara lembut itu menyentuh telinganya.
Li Mei.
Istrinya berbaring di atas ranjang, tubuhnya tertutup selimut tipis. Tatapannya penuh perhatian saat melihat wajah Malingsheng yang tampak gelisah.
"Aku mendapatkan undangan untuk penyerangan."
"Keturunan Darah Berdosa?"
"Ya. Aku ingin mengikutinya, tapi jujur saja aku tidak mau meninggalkanmu dan anak kita."
Li Mei tersenyum lembut. "Sayang... jika kau ingin melakukannya, maka lakukanlah. Tapi berjanji padaku, kau akan kembali 'kan?"
Malingsheng masih ragu. Ia tahu, meski dirinya penyihir tingkat 5, kematian tetap bisa datang kapan saja.
Li Mei bangkit dari ranjang. Ia melilitkan selimut di tubuhnya dari dada hingga paha, lalu berjalan perlahan mendekati Malingsheng.
Ia mengelilinginya dengan langkah ringan, lalu berhenti tepat di depannya.
Wajah cantiknya mendekat, menatap mata suaminya yang penuh kebimbangan.
"Lihat aku."
Malingsheng mengangkat pandangannya.
"Tidak perduli sesulit apapun nanti, kau pasti akan mendapatkan jalannya. Aku percaya suamiku pasti akan bisa menyingkirkan Keturunan Darah Berdosa untuk selama-lamanya." Ia melingkarkan tangannya ke tubuh Malingsheng.
Pelukan itu penuh kehangatan dan keyakinan.
Malingsheng membalasnya, tangannya naik ke punggung istrinya. Perlahan keraguan di hatinya mulai memudar.
"Aku berjanji, pasti akan kembali dengan selamat."
Namun tepat saat suasana menjadi hening dan hangat, pintu kamar tiba-tiba terbuka.
Seorang anak kecil berdiri di ambang pintu dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
"Ayah dan Ibu sedang apa?" tanyanya.
Malingsheng dan Li Mei langsung melepaskan pelukan mereka. Keduanya memalingkan wajah dengan canggung, berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
apa ada sejarah dengan nama itu?