NovelToon NovelToon
Transmigrasi Si Gadis Polos

Transmigrasi Si Gadis Polos

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lyly little

Shabila Diaskara adalah gadis polos dan lugu yang bersikap hiperaktif serta pecicilan demi menarik perhatian ayahnya—seorang Daddy yang membencinya karena kematian sang ibu saat melahirkan dirinya. Dalam sebuah insiden, Shabila berharap bisa merasakan kasih sayang seorang ayah sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.

Saat terbangun, Shabila menyadari dirinya telah bertransmigrasi ke tubuh Aqila Weylin, gadis cantik namun pendiam dan cupu. Kini dipanggil “Aqila,” Shabila—yang akrab disapa Ila — mulai mengubah penampilan dan sikapnya sesuai kepribadiannya yang ceria dan manja.

Beruntung, kehidupan barunya justru memberinya keluarga yang penuh kasih. Sikap hiperaktif dan manja Ila membuat seluruh keluarga Aqila gemas, bukan marah. Setelah tak pernah merasakan cinta keluarga di kehidupan sebelumnya, Ila bertekad menikmati kesempatan kedua ini sepenuh hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyly little, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 **Ayah bukan vampir**

"Ah! Ila mau minta uang!"

"Buat apa?"

--------------

"Tadi kata Bang Liam, dia mau mam bibir Ila. Karena Ila gak mau dimam kek Bunda tadi, jadi Ila kesini mau minta uang untuk kasih ke Bang Liam, biar Bang Liam bisa beli makan dan gak kelaparan lagi," jawab Ila dengan wajah tanpa dosa.

Zeline dan Bryan seketika melotot lebar mendengar penuturan polos putri mereka. Rasa gemas yang tadi menyelimuti kini berubah menjadi geram yang tertuju pada satu nama: Liam. Mereka tak habis pikir bagaimana bisa Liam bicara sembarangan tentang "memakan bibir" di depan anak sekecil Ila.

"Ila! Dengerin Ayah, kalau ada siapa pun yang bilang mau mam bibir Ila, jangan mau ya! Gak boleh!" tegas Bryan dengan nada protektif yang meluap-luap.

Namun, Ila sama sekali tidak menyahut. Ia hanya melirik ayahnya sekilas lalu membuang muka dengan angkuh. Ia ingat prinsipnya tadi: sedang ngambek. Bryan hanya bisa mengembuskan napas kasar karena diabaikan oleh sang putri, sementara Zeline terkekeh geli melihat suaminya yang tak berdaya menghadapi aksi mogok bicara Ila.

Ila kemudian kembali memeluk Zeline, membenamkan wajah mungilnya di ceruk leher sang Bunda untuk mencari kenyamanan. Namun, tiba-tiba Ila merasakan sesuatu yang aneh. Ia merasa area leher bundanya sedikit lembap. Dengan rasa penasaran, ia menarik kepalanya dan memeriksa leher Zeline dengan teliti.

Seketika, mata bulat Ila kembali berkaca-kaca. Ia menemukan pemandangan yang mengerikan di matanya.

"Bunda... ini Ayah yang lakukan?" tanya Ila dengan suara bergetar, jarinya menunjuk tepat ke arah tanda kemerahan serta biru keunguan yang menghiasi leher Zeline.

Bryan yang melihat jari mungil itu menunjuk ke arah kissmark hasil perbuatannya langsung terbelalak. Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya, apalagi melihat mata putrinya yang sudah mulai berkaca-kaca lagi.

"I-tu... sebenarnya..." Bryan mencoba membuka suara untuk membela diri.

"Stop! Ila gak nanya ke Ayah! Ila nanya ke Bunda!" potong Ila dengan nada kesal, menatap tajam ayahnya seolah Bryan adalah tersangka utama dalam sebuah kasus kriminal besar.

Zeline mendadak mati kutu. Lidahnya terasa kelu. Bagaimana cara menjelaskan tanda cinta itu kepada seorang bocah berusia lima tahun tanpa terdengar ambigu? Otaknya berputar cepat mencari alasan yang masuk akal.

"Bunda jawab... ini Ayah yang lakuin, kan?" desak Ila sekali lagi, kali ini setetes air mata mulai jatuh di pipinya.

"Ini... ini digigit nyamuk, Sayang. Tadi ada nyamuk besar di kamar," jelas Zeline dengan suara yang sedikit tidak yakin, mencoba menenangkan kegelisahan putrinya.

"Bohong! Hikss..." Ila langsung menangis lebih kencang. "Ini pasti Ayah yang lakuin! Ayah gigit Bunda!"

"Ssttt, Sayang... diam ya? Cup cup, jangan nangis lagi," Zeline berusaha mendekap erat Ila, menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut agar tangisannya mereda.

"Ayah jahat, Hikss... Ayah itu vampire! Ayah gigit-gigit Bunda sampai luka gitu! Ila takut, Hikss..." isak Ila di sela tangisnya yang semakin histeris.

Bryan hanya bisa berdiri mematung di samping ranjang. Ia tidak menyangka bahwa kegiatan romantisnya bersama sang istri justru membuatnya mendapat predikat baru sebagai "Vampire Jahat" di mata putri tercintanya. Sepertinya, perjuangan Bryan untuk mendapatkan maaf dari Ila akan jauh lebih panjang dari yang ia bayangkan.

Zeline dan Bryan seketika hendak tertawa karena Ila menganggap Bryan adalah vampire tapi mereka harus tahan kalau tidak mau Ila semakin marah.

Ila melepaskan pelukannya pada Zeline dan beranjak keluar kamar orang tuanya itu dengan keadaan masih menangis.

"Malam ini bunda harus tidur bareng Ila hiks." setelah berucap seperti itu Ila bergegas berlari.

Zeline dan Bryan menghelas nafas dan ikut menyusul putrinya itu.

...****************...

Di ruang tamu, suasana masih dipenuhi sisa-sisa tawa tentang Liam yang disangka gembel. Namun, tawa itu seketika terhenti saat terdengar suara langkah kaki kecil yang berlari terburu-buru dari arah tangga. Ila muncul dengan wajah yang sudah sembab dan napas yang tersengal-sengal karena tangis.

Tanpa memedulikan tatapan bingung teman-teman abangnya, Ila langsung menghambur ke arah Alzian. Ia memeluk pinggang abang sulungnya itu dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di sana sambil kembali terisak hebat.

Alzian yang terkejut bukan main segera menyeimbangkan tinggi badannya dengan sang adik. "Heyy, kenapa hm? Kok makin kencang nangisnya?" tanya Alzian dengan nada khawatir yang kental, tangannya mengusap punggung Ila dengan lembut.

"Abang... Hikss... tadi Ila lihat Ayah mau makan Bunda, Hikss!" adu Ila dengan suara serak.

Seluruh pasang telinga di ruangan itu seketika menajam. Alzian mengerutkan kening, bingung dengan arah pembicaraan ini.

"Ayah udah makan bibir Bunda dan Ayah juga udah gigit leher Bunda sampai merah-merah, Hikss... Ayah jahat, Bang!" lanjut Ila dengan kepolosan yang luar biasa telak.

Keheningan melanda ruang tamu selama tiga detik, sebelum akhirnya Elzion, Dian, Liam, dan Juna kompak memalingkan wajah. Mereka sekuat tenaga menahan ledakan tawa yang rasanya sudah sampai di kerongkongan.

'Anjir, mau banget gue ketawa ngakak sekarang juga kalau nggak ingat ada Alzian!' batin Liam sambil menggigit bibir dalamnya kuat-kuat.

'Adek gue astaga... rahasia dapur Ayah dibongkar semua,' batin Elzion yang merasa antara malu dan ingin tertawa kencang.

'Ini bocil polos banget sih astaga, definisi pengamat yang sangat detail! Hahaha!' batin Dian yang kini wajahnya sudah memerah padam karena menahan tawa yang membuncah.

Alzian menghela napas panjang. Sebagai anak tertua, ia cukup dewasa untuk mengerti apa yang sebenarnya terjadi di atas sana, meskipun ia merasa sedikit canggung karena teman-temannya harus mendengar "laporan" eksplisit dari adiknya.

"Tapi... Bunda gak apa-apa, kan? Bunda gak sakit?" tanya Alzian, mencoba mengalihkan fokus Ila dari detail "makan-memakan" tersebut.

"Leher Bunda merah semua, Hikss... Ayah gigit Bunda kayak vampire!" Ila semakin mengeratkan pelukannya, seolah-olah ia sedang mencari perlindungan dari ancaman besar yang ada di lantai atas.

Alzian membawa Ila ke dalam dekapannya, menggendong gadis kecil itu dan menepuk-nepuk pundaknya pelan. Ia melirik tajam ke arah teman-temannya yang masih bahu-membahu menahan tawa agar tidak meledak.

"Udah ya, jangan nangis lagi. Abang janji bakal jagain Bunda supaya Ayah nggak berani 'makan' Bunda lagi," ucap Alzian menenangkan, meski sebenarnya ia merasa sangat malu karena martabat ayahnya baru saja hancur berkeping-keping di depan teman-temannya akibat laporan polos sang adik.

"Iya Dek, tenang aja. Nanti Abang sendiri yang bakal jauhin Bunda dari Ayah. Kita karantina Bunda di kamar kamu supaya nggak dimakan 'vampire' lagi," sahut Elzion dengan nada mengejek yang sangat kentara. Matanya sengaja melirik ke arah sudut tangga, karena ia tahu betul bahwa Bryan dan Zeline sedang berdiri di sana.

Benar saja, Bryan dan Zeline awalnya berniat menyusul putri kecil mereka untuk memberikan penjelasan tambahan. Namun, langkah mereka terhenti di anak tangga terakhir. Mereka membeku saat mendengar Ila dengan semangat menceritakan "adegan panas" tersebut kepada seisi ruang tamu. Wajah Zeline memerah sempurna karena malu, sementara Bryan hanya bisa memijat pangkal hidungnya, merasa harga dirinya sebagai kepala keluarga sudah tamat di tangan anak sendiri. Mereka akhirnya hanya bisa mengintip dari balik pilar, tidak berani memunculkan diri karena suasana terlalu canggung.

Alzian yang menyadari adiknya masih sesenggukan segera mengeluarkan jurus pamungkas.

"Sudah ya, berhenti nangisnya. Kalau Ila masih nangis, Abang nggak jadi nih bawa Ila pergi beli jajanan ke supermarket depan," ujar Alzian dengan nada ancaman yang dibuat-buat serius.

Seketika, seperti ada tombol off, Ila langsung berhenti menangis. Ia menarik napas panjang untuk meredakan isaknya, lalu menghapus kasar sisa-sisa air mata di pipi chubby-nya menggunakan tangan mungilnya.

"Udah, Abang... Ila udah gak nangis lagi," sahutnya dengan suara serak yang sangat lucu, matanya yang masih sembab menatap Alzian dengan penuh harapan akan jajanan.

Melihat perubahan ekspresi yang begitu cepat dari sedih ke mode "siap belanja", Elzion dan teman-temannya yang lain tak bisa menahan diri untuk kembali terkekeh gemas. Ila benar-benar definisi bocah yang suasana hatinya bisa dibeli dengan makanan.

Di sisi lain, Lanka yang sedari tadi duduk tenang hanya bisa memperhatikan Ila tanpa berkedip. Ada senyum tipis yang sangat jarang ia tunjukkan tersungging di bibirnya.

'So cute, little girl. Kamu menggemaskan, tapi terlalu polos sampai rahasia orang tuamu sendiri kamu bongkar tanpa sisa,' batin Lanka sambil terus menatap Ila dengan tatapan intens yang sulit diartikan.

Ila yang merasa sudah aman karena perlindungan abangnya kini mulai merencanakan daftar jajanan yang ingin ia beli, melupakan sejenak "trauma" melihat bundanya yang hampir dimakan oleh sang ayah.

...****************...

Setelah teman-teman geng Alzian berpamitan pulang—termasuk Liam yang pergi dengan beban sebutan "gembel" dan Lanka yang masih terbayang-bayang wajah polos Ila—ruang tamu akhirnya kembali tenang. Zeline dan Bryan akhirnya memberanikan diri keluar dari persembunyian mereka di balik pilar tangga untuk menghampiri anak-anak mereka.

"Ila..." panggil Zeline dengan suara lembut yang sedikit serak.

Ila yang saat itu masih meringkuk nyaman di pangkuan Alzian langsung menoleh. Begitu melihat sosok ibundanya, matanya kembali berbinar. "Bundaaaaaa!" teriaknya kencang. Ia segera merosot dari pangkuan Alzian dan berlari kecil dengan tangan terentang menuju Zeline.

Begitu sampai di hadapan sang Bunda, Ila langsung memeriksa keadaan Zeline dari atas sampai bawah dengan raut wajah sangat cemas.

"Bunda, maafin Ila udah ninggalin Bunda di kamar sendiri tadi. Bunda gak dimakan lagi kan sama Ayah? Bunda aman, kan?" cecar Ila bertubi-tubi dengan nada sangat khawatir, seolah Zeline baru saja selamat dari kandang singa.

Zeline tidak bisa menahan senyum harunya. Ia berlutut sedikit lalu mengusap pipi chubby Ila dengan penuh kasih. "Bunda gak apa-apa, Sayang. Ayah gak makan Bunda kok, tadi Ila cuma salah lihat," ucapnya berusaha memberikan pengertian paling masuk akal.

Elzion yang sejak tadi menyimak dari sofa hanya bisa tersenyum jahil. Ia tidak bisa melewatkan kesempatan emas untuk menyindir ayahnya.

"Makanya, kalau mau apa-apa itu pintu dikunci. Lagian udah berumur juga masih aja suka gitu-gitu," cibir Elzion dengan nada santai namun menusuk.

Sontak, Bryan memberikan tatapan tajam yang seolah berkata, 'Diam atau uang jajanmu dipotong!' namun Elzion hanya mengedikkan bahu tidak peduli.

Ila tiba-tiba terdiam, ia mencoba memproses kalimat Elzion barusan. "Abang El... biarin Bunda dimakan Ayah?" tanya Ila tiba-tiba.

Logika polos Ila bekerja; jika Elzion menyuruh mengunci pintu, berarti Elzion tahu Ayah sedang "memakan" Bunda dan Elzion tidak menolongnya, kan?

Zeline, Bryan, dan Alzian serentak menoleh ke arah Elzion. Mereka menyunggingkan senyum tipis, merasa puas melihat Elzion kini terjepit oleh ucapannya sendiri. Ekspresi Elzion yang semula sombong berubah menjadi panik saat melihat tatapan penuh selidik dari adik kecilnya.

"E-enggak kok, bukan gitu maksud Abang," kilah Elzion terbata-bata.

"Abang bohong! Ila gak like Abang El!" rajuk Ila sambil membuang muka dan melipat tangan di dada.

Bryan, sang Ayah, melihat ini sebagai peluang untuk memperbaiki citranya di mata Ila. Ia perlahan mendekat dan berjongkok di depan putrinya.

"Sayang, maafin Ayah, ya? Ayah janji gak lagi-lagi deh bikin leher Bunda merah dan makan bibir Bunda," ucap Bryan dengan nada sungguh-sungguh yang dipaksakan. Tentu saja itu bohong besar. Mana mungkin seorang Bryan bisa menahan diri untuk tidak mencumbu istrinya sendiri? Itu misi mustahil.

Ila menatap dalam-dalam wajah ayahnya. Di dalam hati kecilnya, ia sebenarnya tidak mau marah lama-lama. Ia sangat menyayangi ayahnya yang sekarang—sosok yang memberinya kasih sayang yang selama ini ia idamkan. Namun, di sisi lain, ia juga benar-benar tidak ingin ayahnya berubah menjadi vampire yang hobi menggigit Bunda.

"Ila takut Ayah berubah jadi vampire lagi," lirihnya dengan nada sangat polos, nyaris berbisik seolah takut rahasia besar ayahnya itu terdengar oleh orang lain.

Mendengar itu, Zeline dan si kembar, Alzian dan Elzion, mati-matian menahan tawa agar tidak meledak di depan wajah serius Ila. Sementara itu, Bryan hanya bisa mengembuskan napas panjang, mencoba bersabar menghadapi imajinasi liar putrinya.

"Ayah bukan vampire, Princess," jelas Bryan lembut. Ia membatin dalam hati, 'Lagian mana ada zaman modern begini masih ada vampire?'

Ila tidak langsung percaya. Ia mengerjapkan matanya, menatap wajah sang Ayah dengan penuh selidik. Tiba-tiba, tangan mungilnya terulur menyentuh sudut bibir Bryan. Bryan hanya terdiam pasrah, membiarkan jari-jari kecil itu menarik sudut bibirnya ke atas hingga mulutnya terbuka sedikit paksa. Dengan sangat teliti, Ila melongok ke dalam, memeriksa deretan gigi ayahnya satu per satu.

"Mana taringnya? Udah Ayah hilangin?" tanya Ila dengan wajah tanpa dosa setelah mendapati gigi ayahnya rata seperti manusia biasa.

"Hahaha!" Tawa Elzion pecah seketika. Ia tidak sanggup lagi menahan geli melihat keberanian Ila yang memperlakukan wajah ayahnya seperti pasien dokter gigi.

Zeline dan Alzian pun ikut terkekeh kecil melihat tingkah random sang putri yang benar-benar di luar dugaan itu.

"Abang El kenapa ketawa?" tanya Ila bingung, masih dengan posisi jari di mulut ayahnya.

"Kamu ngapain cari taring Ayah, hahaha!" sahut Elzion di sela-sela tawanya yang belum reda.

"Vampire kan ada taringnya!" sahut Ila dengan nada tegas, seolah itu adalah fakta ilmiah yang tidak bisa diganggu gugat.

"Haha, serahmu lah Dek, serahmu. Capek Abang ketawa terus!" Elzion menyerah, ia menyandarkan punggungnya ke sofa sambil memegangi perutnya.

Ila mendengus kesal karena merasa ditertawakan. Ia kembali menatap Bryan, wajah polosnya menuntut penjelasan yang lebih logis atas pertanyaan tentang taring yang menghilang tadi.

"Ayah bukan vampire, Princess," Bryan yang paham dengan raut menuntut dari Ila segera memberikan penegasan sekali lagi.

"Terus kenapa bisa bikin leher Bunda merah?" tanya Ila lagi, masih mengejar jawaban yang menurutnya masuk akal.

"Kan tadi udah Bunda bilang kalau itu nyamuk yang gigit," kilah Bryan, menggunakan alasan yang sama dengan Zeline agar mereka terlihat kompak.

Elzion kali ini memilih untuk diam, ia tidak lagi menyela perbincangan panas antara ayah dan adiknya itu. Ia hanya tertawa dalam diam dengan bahu yang naik turun, sesekali memegang perutnya yang mulai kram karena terlalu banyak tertawa hari ini.

Ila beralih menatap bundanya dengan tatapan penuh keraguan. "Benar, Bunda?" tanya Ila, meminta konfirmasi terakhir untuk memastikan apakah ayahnya benar-benar manusia atau monster penghisap darah.

1
Marsya
lupa namanya,tapi itu ketua dari abg2 ila klau gx slah,ampun dech bisa2nya lupa namanya🤣🤣🤣🤣
Little Girl ୭ৎ 。⁠*⁠♡.
maaf KA aku salah nulis tokoh harusnya Zeline bukan Radella.
Dewiendahsetiowati
Radella ini siapa Thor?
Dewiendahsetiowati
dapat ganti keluarga yang menyayangi
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!