NovelToon NovelToon
Di Manja Suami Om-Om

Di Manja Suami Om-Om

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cinta setelah menikah / Cintamanis
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Nara tak pernah membayangkan hidupnya berubah jauh. Dari gadis yang diremehkan karena nilai akademik, kini ia menjadi istri pria mapan yang usianya terpaut jauh darinya.
Arkan, sosok dingin dan misterius, justru memanjakan Nara tanpa syarat. Namun menikah bukan akhir perjuangan, kelas sosial, tekanan keluarga, dan mimpi Nara yang belum selesai menjadi ujian terbesar.
Apakah Nara hanya akan menjadi istri yang dimanja, atau perempuan yang tetap berdiri dengan mimpinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Usai keluar dari ruang dosen, langkah Nara terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena kalah, justru karena menang telak dan emosinya terkuras habis.

Perdebatan dengan Naumi, tatapan iri, dan bisik-bisik tajam dari semua orang meninggalkan lelah yang tidak terlihat.

Yang Nara butuhkan sekarang cuma satu hal, yaitu pelukan Arkan.

Tanpa ragu, Nara meminta mobil yang menjemputnya dan menuju kantor suaminya. Ia sudah mengirim pesan singkat sebelumnya, dan Arkan langsung membalas dengan satu kalimat yang membuat dada Nara menghangat, yaitu kalimat, "Datang saja. Aku tunggu."

Sepanjang perjalanan, Nara menatap keluar jendela. Pikirannya melayang. Ia membayangkan wajah teman-teman kampusnya jika tahu kebenaran.

"Bagaimana ekspresi mereka saat sadar bahwa om-om yang mereka hina adalah Arkan? pria kaya, tampan, berwibawa, dan royal." Nara tersenyum sendiri, karena teman-temannya berpikir, Nara bersama om-om dengan perut buncit.

Nara kembali tersenyum kecil, bukan karena sombong, tapi karena ironis.

"Kalian sibuk menebak-nebak hidupku, padahal kalian bahkan tidak menyentuh setengah dari kenyataannya." Lalu pikiran Nara beralih pada Sandra. Satu-satunya yang tetap berdiri di sisinya.

Nara menghela napas pelan. “Aku nggak keberatan kalau Sandra menikah,” batin Nara, “tapi dia pantas dapat laki-laki yang royal seperti Arkan, yang bisa bikin hidupnya lebih baik.” Nara kembali berpikir, Bukan soal harta semata. Tapi tentang rasa aman, dihargai, dan tidak perlu lagi menghitung sisa uang setiap akhir bulan.

Mobil akhirnya berhenti di depan gedung tinggi menjulang. Yaitu Kantor Arkan.

Begitu Nara melangkah masuk, aura tempat itu terasa berbeda, tenang, mahal, dan profesional.

Dan ternyata Arkan sudah menunggunya.

Begitu melihat Nara, Arkan langsung meminta Nara mendekat, tak peduli beberapa pasang mata karyawan yang memperhatikan.

Tanpa banyak kata, Nara langsung memeluk suaminya erat. Wajahnya tersembunyi di dada Arkan.

“Sayang..” suara Nara bergetar, “aku capek.”

Arkan membalas pelukan Nara, mengusap punggungnya lembut. “Aku di sini,” bisik Arkan.

“Kamu nggak sendirian.” lanjut Arkan.

Dan di dalam pelukan itu, semua gosip, iri hati, dan kebisingan dunia perlahan mulai terdengar, di kantor Arkan, waktu berjalan pelan dan tenang. Semua merasa iri dengan Nara yang bisa menikah dengan Arkan.

Nara duduk di sofa kecil dekat jendela, buku sketsa terbuka di pangkuannya. Pensilnya menari ringan, membentuk garis-garis gaun yang anggun. Sesekali ia berhenti, mengernyit kecil, membayangkan paduan kain, satin lembut untuk bagian atas, mungkin chiffon jatuh untuk bawahnya.

Nara begitu tenggelam sampai tidak sadar Arkan beberapa kali melirik ke arahnya.

“Kamu bosan?” tanya Arkan tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.

Nara menggeleng. “Enggak sih.”

Nara lalu menutup buku sketsanya pelan, menoleh ke arah Arkan dengan mata berbinar.

“Tapi kayaknya pengen naik eskalator.”

Tangan Arkan yang sedang mengetik langsung berhenti. “Naik eskalator?” Arkan menoleh, alisnya terangkat.

Nara tersenyum polos, senyum khas yang selalu membuat Arkan kalah.

“Iya.” jawab Nara.

Baru saat itu Arkan sadar. Bukan eskalatornya yang Nara mau. Tapi jalan-jalannya.

“Nanti ya,” ujar Arkan lembut, kembali menatap layar.

“Setelah pekerjaan selesai.” kata Arkan.

Nara mengangguk patuh, sama sekali tidak ngambek.

“Iya.” jawab Nara. Senyumnya manis, seolah berkata aku sabar nunggu kamu.

Arkan ikut tersenyum kecil.

Entah sejak kapan, ruang kantor yang dulu terasa dingin dan kaku kini terasa hangat. Ada kehidupan di dalamnya. Ada tawa kecil, ada sketsa gaun, ada permintaan naik eskalator yang terdengar sepele tapi mengubah suasana.

Arkan kembali mengetik, tapi hatinya ringan. Baru kali ini dalam hidupnya, bekerja tidak lagi terasa melelahkan. Karena di sudut ruang kerjanya ada Nara, yang tanpa sadar membuat hidup Arkan terasa jauh lebih hidup.

Saat Nara dan Arkan sama-sama fokus. Pintu ruang kerja Arkan diketuk pelan dari luar.

“Masuk,” ucap Arkan tanpa menoleh.

Nara masih menunduk pada buku sketsanya. Ia mengira yang masuk sekretaris atau asisten pribadi Arkan, jadi sama sekali tidak bersiap.

Namun langkah kaki yang terdengar berbeda. Lebih mantap. Lebih percaya diri.

Nara mendongak. Seorang wanita cantik berdiri di ambang pintu. Penampilannya dewasa, rapi, dengan aura profesional yang kuat. Dari caranya berjalan dan berdiri, Nara bisa menebak, usia mereka mungkin tidak jauh berbeda dengan Arkan.

Tatapan wanita itu langsung tertuju pada Nara. Dengan tatapan menilai. Mengukur.

Nara yang merasa diperhatikan, mengangkat wajah dan menatap balik dengan tenang. Tidak menantang, tapi juga tidak menunduk.

Arkan berdiri sedikit dari kursinya.

“Silakan duduk.”

Wanita itu melangkah masuk, masih melirik Nara sesekali.

“Dia siapa, Arkan?” tanya wanita itu datar, tanpa senyum.

“Oh ya,” Arkan tersenyum kecil, nadanya santai.

“Perkenalkan, ini Nara, istriku.”

Kata istriku meluncur begitu alami. Nara tersenyum sopan.

“Senang bertemu dengan Anda.” kata Nara.

Namun Anggun nama wanita yang datang ke Arkan justru tampak membeku.

“Istri?” ulangnya pelan.

“Kapan kamu menikah? Aku tidak dengar kabar apa pun.”

“Sudah lama,” jawab Arkan singkat, tidak merasa perlu menjelaskan lebih jauh.

Nara bangkit dari duduknya, menghampiri Anggun dengan sikap santun.

“Saya Nara.”

Anggun menjabat tangan Nara, tapi wajahnya jelas berubah masam.

“Oh…” hanya itu yang keluar dari bibirnya.

Beberapa saat kemudian Anggun membuka map besar di tangannya dan mulai menjelaskan tujuan kedatangannya. Beberapa lembar desain perhiasan dikeluarkan, kalung, cincin, anting, dengan detail yang rumit dan elegan.

Arkan menyimak dengan serius. Sementara itu, mata Nara justru berbinar. Bukan karena cemburu. Tapi karena ide.

“Kalau gaun yang aku gambar dipadukan dengan perhiasan buatan sendiri…” batin Nara. “Pasti cantik.”

Nara tersenyum kecil pada dirinya sendiri.

Setidaknya, ia ingin membuat desain perhiasan.

Bukan untuk pamer. Bukan untuk menyaingi siapa pun. Cukup untuk dirinya sendiri.

Dan tanpa disadari Anggun, kehadirannya justru menyalakan kreativitas baru dalam diri Nara.

Begitu pintu ruang kerja tertutup dan langkah Anggun benar-benar menjauh, suasana mendadak terasa lebih ringan.

Nara menutup buku sketsanya, lalu mendekat ke meja Arkan dengan senyum jahil.

“Sayang,” panggil Nara manja, “kamu sadar nggak sih… kalau Anggun itu suka sama kamu?”

Arkan masih fokus pada layar laptop.

“Nggak.” Jawaban Arkan terlalu cepat. Terlalu datar.

Nara menaikkan alis. “Masa sih? Dia usaha besar loh buat ke sini. Pakai parfum satu botol, make up-nya rapi banget.”

Arkan akhirnya menoleh, ekspresinya tetap tenang. “Aku nggak lihat.” jawab Arkan.

Nara menahan tawa. “Masa nggak kecium parfumnya?”

“Yang aku lihat cuma desain,” jawab Arkan singkat. “Yang lain nggak penting.”

Nara makin geli. “Sayang, kamu ini polos atau pura-pura?”

Arkan menutup laptopnya perlahan, lalu menatap Nara tajam tapi lembut.

“Jangan mancing, ya.”

Alih-alih berhenti, Nara justru tertawa lepas. “Hehehe… aku cuma gemas.”

Nara duduk di pangkuan Arkan tanpa izin, menyandarkan kepala di bahunya.

Dalam hati, Nara tahu satu hal dengan pasti. Pria seperti Arkan, mapan, tampan, berwibawa, pasti banyak yang mengincar.

Tapi takdir punya caranya sendiri. Dan entah bagaimana, di antara sekian banyak wanita dewasa, cantik, dan berpengalaman, Arkan justru berjodoh dengannya. Gadis sederhana yang bahkan tak pernah membayangkan hidup seperti ini.

Arkan mengusap rambut Nara pelan.

“Ngapain ketawa sendiri?” tanya Arkan.

“Lagi bersyukur,” jawab Nara jujur.

Arkan tersenyum kecil, "Sayang, sepertinya kamu sedang memancing sesuatu yang lain deh." kata Arkan.

"Mancing apa?" tanya Nara.

Arkan meraih tangan Nara, dan meletakan tangan istrinya di tempat sensitif, tentu saja Nara melotot, "jangan macam-macam sayang." kata Nara.

"Maaf tidak bisa." jawab Arkan yang kemudian membawa tubuh Nara ke sofa.

1
Risma Surullah
alurnya bagus
Mita Paramita
hempaskan pelakor 🤣🤣🤣
Drama Queen
lanjut
piah Hasan
1001 ya cara pwrempuan mau jadi pelakor..
Uthie
keep dulu ya 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!