NovelToon NovelToon
Saat Nada Tak Pernah Sejalan

Saat Nada Tak Pernah Sejalan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Keluarga / Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: bg.Hunk

Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Di Antara Tantangan dan Harga Diri

Bunyi peluit disusul sorakan kembali memenuhi lapangan.

Gol.

Sekali lagi.

Bola kembali bersarang di gawang Dio.

Skor sudah terpaut jauh—terlalu jauh untuk disebut pertandingan seimbang. Namun Dio tetap berdiri. Ia menarik napas, mengusap wajahnya sebentar, lalu kembali ke posisi di depan gawang.

Di bangku penonton, ketiganya masih setia menyaksikan.

Gina bertepuk tangan tiap kali gol tercipta, matanya berbinar mengikuti pergerakan Azmi di lapangan.

Rahmalia hanya tersenyum kecil—bukan sorak, bukan pula kecewa. Ia menikmati pertandingan dengan tenang.

Sementara Siva? Wajahnya makin kusut.

“Gimana sih…” gerutunya kesal.

“Ini udah sepuluh kosong. Masa nggak bisa bales satu pun?”

Gina menoleh sekilas.

“Mau gimana lagi,” katanya santai.

“Kamu juga tahu Dio nggak jago bola. Lagian Azmi-nya emang kebangetan jagonya.”

Rahmalia ikut menimpali, nadanya menenangkan.

“Menang kalah nggak apa-apa. Ini kan cuma permainan.”

Namun seolah belum cukup—

Sorakan kembali meledak.

Gol.

Lagi.

Di lapangan, para pemain tim Dio mulai terlihat kelelahan. Nafas mereka berat, langkah-langkahnya melambat. Wajah-wajah yang tadi penuh semangat kini mulai kehilangan keyakinan.

Salah satu pemain menoleh ke Dio, wajahnya murung.

“Maaf, Yo… Azmi terlalu jago.Dia ngelewatin kita mulu.”

Pemain lain ikut menunduk.

Dio memandang mereka satu per satu.

Lalu ia menggeleng pelan.

“Enggak,” katanya tegas, tapi suaranya tetap tenang.

“Bukan salah kalian.”

Ia menepuk pundak salah satu temannya.

“Aku yang kurang jago. Aku yang nggak bisa nahan satu pun tendangannya.”

Ia tersenyum tipis.

“Maaf ya… aku bikin kalian malu.”

Kalimat itu membuat timnya terdiam.

Bukan karena putus asa—

justru karena kagum.

Dio tidak menyalahkan siapa pun. Tidak berteriak. Tidak melempar emosi. Ia memilih memikul semuanya sendiri.

“Gapapa, Yo,” sahut salah satu pemain.

“Kali ini kita bantu kamu. Kita tahan bareng-bareng.”

“Iya,” sambung yang lain.

“Kita masih bisa bertahan.”

Dio menatap mereka, lalu mengangguk.

“Makasih,” ucapnya tulus.

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berteriak lantang—

“AYO! BALIK KE POSISI!”

“UBAH FORMASI!”

“BACK JADI LIMA! KITA FOKUS BERTAHAN!”

Suara Dio menggema, tegas dan penuh keyakinan.

Semangat timnya kembali menyala.

...----------------...

Berbeda dengan sisi lapangan sebelah.

Azmi berdiri santai, satu tangan di pinggang, satu kaki menginjak bola. Nafasnya masih stabil. Keringat mengalir di pelipisnya, namun raut wajahnya tenang.

Sesekali, pandangannya melirik ke arah bangku penonton.

Ke arah Rahmalia.

“Kapten,” ujar salah satu pemain mendekat.

“Kita udah unggul jauh. Apa kita main aman aja sampai peluit akhir?”

Azmi menggeleng.

“Nggak,” jawabnya singkat.

“Kita nggak boleh ngeremehin lawan.”

Ia menatap lapangan, lalu berkata tegas,

“Terus serang kalau ada peluang. Kasih bolanya ke aku.”

“Siap, Kapten!” jawab timnya serempak.

Namun di balik ketenangannya, pikiran Azmi melayang.

Ia teringat kejadian waktu di kantin tadi.

Tatapan Dio yang serius.

Nada suaranya yang penuh keyakinan.

“Aku nggak suka cara kamu cari kesempatan waktu hujan sama Icha.”

“Jadi hari ini aku tantang kamu main bola.”

Dan Azmi hanya menjawab satu kata.

“Baik.”

Dio menantangnya bukan dengan emosi kosong—

melainkan dengan harga diri.

Dan karena itulah, Azmi memilih bermain sepenuh tenaga.

Bukan untuk mempermalukan.

Bukan untuk pamer.

Melainkan karena ia percaya—

Meremehkan lawan yang datang dengan keyakinan

jauh lebih menyakitkan

daripada mengalahkan mereka dengan kemampuan terbaik.

Bola diletakkan tepat di tengah lapangan.

Itu tanda kick-off akan dimulai kembali.

Azmi berdiri di depan bola, kakinya menahan laju sebelum wasit memberi isyarat. Namun sebelum menendang, ia justru mengangkat kepala—menatap lurus ke arah gawang.

Ke arah Dio.

“Katanya kamu jago,” ucap Azmi cukup keras hingga terdengar jelas.

“Ayo. Keluarin semua kemampuan kamu.”

Nada suaranya ringan. Senyumnya tipis.

Namun justru itulah yang membuat kalimat itu terasa seperti tantangan.

Azmi tahu persis apa yang ia lakukan.

Azmi tahu kalimat itu bisa terdengar menyebalkan.

Tapi ia tetap mengucapkannya.

Karena ia tahu—jika Dio terpancing, maka timnya akan ikut terbakar.

Pandangan Azmi sempat beralih ke bangku penonton.

Ke arah Rahmalia.

Ia melihat Rahmalia menatap lapangan dengan serius. Tidak bersorak, tidak berteriak—hanya memperhatikan.

Dan entah kenapa, itu cukup.

Senyum Azmi kembali muncul.

Di sisi lain lapangan, Dio menangkap semua itu.

Tatapan Azmi.

Nada suaranya.

Senyumnya.

Kepalan tangannya mengeras.

“Bajingan…” gumamnya pelan.

Dadanya naik turun. Harga dirinya seperti disentil tepat di titik paling sensitif.

Ayo Yo. jangan kalah, pikirnya.

Bukan cuma soal bola.

...----------------...

Di bangku penonton, Siva langsung bereaksi.

“Apaan sih dia?” gerutunya kesal.

“Ngeremehin Dio banget.”

Rahmalia tampak ragu. Alisnya sedikit berkerut.

“Eh… mungkin dia nggak maksud ngeremehin,” katanya pelan, meski suaranya tidak terlalu yakin.

Gina menyeringai kecil.

“Itu jelas provokasi,” ujarnya santai.

“Bagus lah. Biar Dio tau diri. Ngajak tanding, ya minimal bisa bola dulu.”

“Cara ngomongnya tetep salah,” balas Siva cepat.

Rahmalia menengahi.

“Udah,” ucapnya lembut.

“Kita liatin aja dulu sampai selesai.”

Peluit dibunyikan.

Azmi langsung menendang bola ke rekan setimnya, lalu berlari cepat menembus pertahanan. Pergerakannya agresif, percaya diri.

Namun kali ini—

Berbeda.

Pemain-pemain tim Dio bergerak lebih rapat. Formasi mereka mengerut, menjaga Azmi dengan disiplin.

Satu orang.

Dua.

Tiga.

Empat pemain mengepungnya.

Geraknya jadi sempit.

Azmi tertahan.

Namun bukannya frustrasi—

Azmi justru tersenyum.

Berhasil, pikirnya.

Provokasinya masuk.

“Bagus!” teriak Dio dari kejauhan.

“Tahan dia! Jangan kasih celah!”

Azmi berusaha bergerak, tapi tekanan terlalu rapat. Waktu tersisa tinggal hitungan detik.

Ia menoleh cepat.

Melihat satu celah.

Dan di saat semua orang mengira ia akan memaksakan tembakan—

Azmi mengoper bola.

Umpan pendek. Cepat. Tepat.

Pemain di sisi kanan menerima bola itu tanpa penjagaan berarti.

“SHOOT!” teriak seseorang dari bangku penonton.

Tendangan dilepaskan.

Dio terlambat bereaksi.

Bola meluncur melewati jangkauan tangannya—

mengoyak jaring gawang.

Gol.

Di detik-detik terakhir.

Sorakan meledak bersamaan dengan peluit panjang tanda pertandingan berakhir.

Azmi berhenti berlari. Ia menoleh ke arah Dio.

Tidak tersenyum.

Tidak selebrasi berlebihan.

Hanya tatapan tenang.

Di depan gawang, Dio berdiri terpaku. Nafasnya berat. Matanya menatap rumput di bawah kakinya.

Kali ini—

Mereka benar-benar kalah telak.

Bukan hanya soal skor.

Tapi karena Azmi membuktikan satu hal:

Ia tidak perlu mencetak semua gol sendiri

untuk memenangkan pertandingan.

Dan itu—

entah kenapa—

terasa jauh lebih menyakitkan.

1
Kaka's
bakalan ada cinta"annya nih. 🤭🤭
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
apa gina ini anak pertama 🤔
kadang anak pertama itu memang didik lebih keras dari kecil, karena tanggung jawab anak pertama itu besar .
Hunk: Betul banget, Kak. Gina itu anak pertama, punya adik laki-laki yang masih SD namanya Ginan. Dan selama ini Gina memang sering merasa orang tuanya lebih memihak ke adiknya. Terima kasih sudah membaca🙏
total 1 replies
Agryena
aku mampir thor/Hey/
Agryena: sama sama kak!😁
total 4 replies
Kaka's
ih malah ngatain.. 🤣🤣
Kaka's
🤣🤣🤣 yo gass
Kaka's
permen marshmallow ini yang kenyal yah??🤭
Serena Khanza
dio tipe cowok yang sering banget ditemui jaman real kek nya dimana-mana ada yg kek dio.. kadang suka gak bisa ditebak dia bercanda atau serius..
tapi kalo liat nya sih dio mank ada something deh sama rahmalia 🤭
wlw masih tipis tipis sih ku baca nya thor masih melirik lirik, tp dia act of service ya gercep bet🤣
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
Rahmalia harus bisa beda kan antara rasa suka atau cuma sebatas kagum
Fra
Ik He's Siva son, i just can't prove it
Serena Khanza
dari keseluruhan bab ini kayak ada sesuatu ya rahmalia sama dio terus gina sama azmi..
ceritanya mank masa-masa anak sekolah dengan kehidupannya yang beraneka ragam, kalo menurutku yang ku baca dr bab awal sampe bab ini ceritanya tuh gak berat lebih ke ringan slice of life banget nget.. konflik nya masih di gina dan ayahnya sejauh ini ku baca..
karakter tokohnya menurutku bagus bagus cuma kek nya belom ada yang greget lagi ya masih sebagian belom ada konflik selain gina..
tapi jujur aku suka banget sama alur ceritanya thor kek inget jaman sekolah juga jadinya 🥰🥰
Serena Khanza: iya kak ku menunggu 🥰💪🏻💪🏻
semangat kak 💪🏻💪🏻💪🏻
total 2 replies
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
Azmi dan Rahmalia cocok deh thor 🤭🤭
Hunk: Udah yakin nih milih kapal mereka.🤣
total 1 replies
Kaka's
😑😑 pasalnya udah ampe 300 an.. pake ayat lagi.. rinci amat tuh anggota dewannya buat aturan. 🤣
Hunk: Terima kasih sudah membaca kak, semoga suka dengan cerita saya🤣
total 1 replies
Kaka's
udah telat masih aja lirik waketosnya 🤣🤣..
Fra
Ini bukan menyemengati ya pren, ancaman halus ini 😩😩
Fra
Orang tua semacam ini bener-bener bisa bikin anak stres berat dan tertekan. Padahal tempat yang diduduki anaknya sekarang bisa aja juga diinginkan orang lain yang belum bisa ngeraih itu semua. Keep Strong, Gina💪🏻 🥹
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
gina baru di tatap gitu aja sama Azmi langsung salting 🤣🤣
Hunk: Wkwk Gina emang gampang salting kalau udah ditatap Azmi langsung 😭
total 1 replies
Fra
Awal-awal aku pikir cuma cerita remaja biasa ih, ternyata ada intrik kaum elite. Aku suka kakak ini dan karyanya 😋
Fra
Dio x Gina juga manis ihh
Bingung mau dukung kapal mana 😩😩
Panda
masih slice of life khas anak sekolah

slow pace banget di sini dan belum ada ketegangan emosional atau psikologis yang kuat

cliff hanger cuma ada di GINA yang luka dan kemungkinan itu luka sesuatu yang sengaja diumpetin 🤔
Panda: kann gueeee baca yeeee hueheheheh

oke sep sama sama
total 4 replies
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
sikap Dio ini bisa bikin cwek salah sangka dan akhir nya baper 🤭🤭
Hunk: Iya, Dio memang tipenya gitu—kadang tanpa sadar sikapnya bikin orang lain salah nangkep. Niatnya biasa aja, tapi kesannya jadi beda 😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!