Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Di Antara Tantangan dan Harga Diri
Bunyi peluit disusul sorakan kembali memenuhi lapangan.
Gol.
Sekali lagi.
Bola kembali bersarang di gawang Dio.
Skor sudah terpaut jauh—terlalu jauh untuk disebut pertandingan seimbang. Namun Dio tetap berdiri. Ia menarik napas, mengusap wajahnya sebentar, lalu kembali ke posisi di depan gawang.
Di bangku penonton, ketiganya masih setia menyaksikan.
Gina bertepuk tangan tiap kali gol tercipta, matanya berbinar mengikuti pergerakan Azmi di lapangan.
Rahmalia hanya tersenyum kecil—bukan sorak, bukan pula kecewa. Ia menikmati pertandingan dengan tenang.
Sementara Siva? Wajahnya makin kusut.
“Gimana sih…” gerutunya kesal.
“Ini udah sepuluh kosong. Masa nggak bisa bales satu pun?”
Gina menoleh sekilas.
“Mau gimana lagi,” katanya santai.
“Kamu juga tahu Dio nggak jago bola. Lagian Azmi-nya emang kebangetan jagonya.”
Rahmalia ikut menimpali, nadanya menenangkan.
“Menang kalah nggak apa-apa. Ini kan cuma permainan.”
Namun seolah belum cukup—
Sorakan kembali meledak.
Gol.
Lagi.
Di lapangan, para pemain tim Dio mulai terlihat kelelahan. Nafas mereka berat, langkah-langkahnya melambat. Wajah-wajah yang tadi penuh semangat kini mulai kehilangan keyakinan.
Salah satu pemain menoleh ke Dio, wajahnya murung.
“Maaf, Yo… Azmi terlalu jago.Dia ngelewatin kita mulu.”
Pemain lain ikut menunduk.
Dio memandang mereka satu per satu.
Lalu ia menggeleng pelan.
“Enggak,” katanya tegas, tapi suaranya tetap tenang.
“Bukan salah kalian.”
Ia menepuk pundak salah satu temannya.
“Aku yang kurang jago. Aku yang nggak bisa nahan satu pun tendangannya.”
Ia tersenyum tipis.
“Maaf ya… aku bikin kalian malu.”
Kalimat itu membuat timnya terdiam.
Bukan karena putus asa—
justru karena kagum.
Dio tidak menyalahkan siapa pun. Tidak berteriak. Tidak melempar emosi. Ia memilih memikul semuanya sendiri.
“Gapapa, Yo,” sahut salah satu pemain.
“Kali ini kita bantu kamu. Kita tahan bareng-bareng.”
“Iya,” sambung yang lain.
“Kita masih bisa bertahan.”
Dio menatap mereka, lalu mengangguk.
“Makasih,” ucapnya tulus.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berteriak lantang—
“AYO! BALIK KE POSISI!”
“UBAH FORMASI!”
“BACK JADI LIMA! KITA FOKUS BERTAHAN!”
Suara Dio menggema, tegas dan penuh keyakinan.
Semangat timnya kembali menyala.
...----------------...
Berbeda dengan sisi lapangan sebelah.
Azmi berdiri santai, satu tangan di pinggang, satu kaki menginjak bola. Nafasnya masih stabil. Keringat mengalir di pelipisnya, namun raut wajahnya tenang.
Sesekali, pandangannya melirik ke arah bangku penonton.
Ke arah Rahmalia.
“Kapten,” ujar salah satu pemain mendekat.
“Kita udah unggul jauh. Apa kita main aman aja sampai peluit akhir?”
Azmi menggeleng.
“Nggak,” jawabnya singkat.
“Kita nggak boleh ngeremehin lawan.”
Ia menatap lapangan, lalu berkata tegas,
“Terus serang kalau ada peluang. Kasih bolanya ke aku.”
“Siap, Kapten!” jawab timnya serempak.
Namun di balik ketenangannya, pikiran Azmi melayang.
Ia teringat kejadian waktu di kantin tadi.
Tatapan Dio yang serius.
Nada suaranya yang penuh keyakinan.
“Aku nggak suka cara kamu cari kesempatan waktu hujan sama Icha.”
“Jadi hari ini aku tantang kamu main bola.”
Dan Azmi hanya menjawab satu kata.
“Baik.”
Dio menantangnya bukan dengan emosi kosong—
melainkan dengan harga diri.
Dan karena itulah, Azmi memilih bermain sepenuh tenaga.
Bukan untuk mempermalukan.
Bukan untuk pamer.
Melainkan karena ia percaya—
Meremehkan lawan yang datang dengan keyakinan
jauh lebih menyakitkan
daripada mengalahkan mereka dengan kemampuan terbaik.
Bola diletakkan tepat di tengah lapangan.
Itu tanda kick-off akan dimulai kembali.
Azmi berdiri di depan bola, kakinya menahan laju sebelum wasit memberi isyarat. Namun sebelum menendang, ia justru mengangkat kepala—menatap lurus ke arah gawang.
Ke arah Dio.
“Katanya kamu jago,” ucap Azmi cukup keras hingga terdengar jelas.
“Ayo. Keluarin semua kemampuan kamu.”
Nada suaranya ringan. Senyumnya tipis.
Namun justru itulah yang membuat kalimat itu terasa seperti tantangan.
Azmi tahu persis apa yang ia lakukan.
Azmi tahu kalimat itu bisa terdengar menyebalkan.
Tapi ia tetap mengucapkannya.
Karena ia tahu—jika Dio terpancing, maka timnya akan ikut terbakar.
Pandangan Azmi sempat beralih ke bangku penonton.
Ke arah Rahmalia.
Ia melihat Rahmalia menatap lapangan dengan serius. Tidak bersorak, tidak berteriak—hanya memperhatikan.
Dan entah kenapa, itu cukup.
Senyum Azmi kembali muncul.
Di sisi lain lapangan, Dio menangkap semua itu.
Tatapan Azmi.
Nada suaranya.
Senyumnya.
Kepalan tangannya mengeras.
“Bajingan…” gumamnya pelan.
Dadanya naik turun. Harga dirinya seperti disentil tepat di titik paling sensitif.
Ayo Yo. jangan kalah, pikirnya.
Bukan cuma soal bola.
...----------------...
Di bangku penonton, Siva langsung bereaksi.
“Apaan sih dia?” gerutunya kesal.
“Ngeremehin Dio banget.”
Rahmalia tampak ragu. Alisnya sedikit berkerut.
“Eh… mungkin dia nggak maksud ngeremehin,” katanya pelan, meski suaranya tidak terlalu yakin.
Gina menyeringai kecil.
“Itu jelas provokasi,” ujarnya santai.
“Bagus lah. Biar Dio tau diri. Ngajak tanding, ya minimal bisa bola dulu.”
“Cara ngomongnya tetep salah,” balas Siva cepat.
Rahmalia menengahi.
“Udah,” ucapnya lembut.
“Kita liatin aja dulu sampai selesai.”
Peluit dibunyikan.
Azmi langsung menendang bola ke rekan setimnya, lalu berlari cepat menembus pertahanan. Pergerakannya agresif, percaya diri.
Namun kali ini—
Berbeda.
Pemain-pemain tim Dio bergerak lebih rapat. Formasi mereka mengerut, menjaga Azmi dengan disiplin.
Satu orang.
Dua.
Tiga.
Empat pemain mengepungnya.
Geraknya jadi sempit.
Azmi tertahan.
Namun bukannya frustrasi—
Azmi justru tersenyum.
Berhasil, pikirnya.
Provokasinya masuk.
“Bagus!” teriak Dio dari kejauhan.
“Tahan dia! Jangan kasih celah!”
Azmi berusaha bergerak, tapi tekanan terlalu rapat. Waktu tersisa tinggal hitungan detik.
Ia menoleh cepat.
Melihat satu celah.
Dan di saat semua orang mengira ia akan memaksakan tembakan—
Azmi mengoper bola.
Umpan pendek. Cepat. Tepat.
Pemain di sisi kanan menerima bola itu tanpa penjagaan berarti.
“SHOOT!” teriak seseorang dari bangku penonton.
Tendangan dilepaskan.
Dio terlambat bereaksi.
Bola meluncur melewati jangkauan tangannya—
mengoyak jaring gawang.
Gol.
Di detik-detik terakhir.
Sorakan meledak bersamaan dengan peluit panjang tanda pertandingan berakhir.
Azmi berhenti berlari. Ia menoleh ke arah Dio.
Tidak tersenyum.
Tidak selebrasi berlebihan.
Hanya tatapan tenang.
Di depan gawang, Dio berdiri terpaku. Nafasnya berat. Matanya menatap rumput di bawah kakinya.
Kali ini—
Mereka benar-benar kalah telak.
Bukan hanya soal skor.
Tapi karena Azmi membuktikan satu hal:
Ia tidak perlu mencetak semua gol sendiri
untuk memenangkan pertandingan.
Dan itu—
entah kenapa—
terasa jauh lebih menyakitkan.
kadang anak pertama itu memang didik lebih keras dari kecil, karena tanggung jawab anak pertama itu besar .
tapi kalo liat nya sih dio mank ada something deh sama rahmalia 🤭
wlw masih tipis tipis sih ku baca nya thor masih melirik lirik, tp dia act of service ya gercep bet🤣
ceritanya mank masa-masa anak sekolah dengan kehidupannya yang beraneka ragam, kalo menurutku yang ku baca dr bab awal sampe bab ini ceritanya tuh gak berat lebih ke ringan slice of life banget nget.. konflik nya masih di gina dan ayahnya sejauh ini ku baca..
karakter tokohnya menurutku bagus bagus cuma kek nya belom ada yang greget lagi ya masih sebagian belom ada konflik selain gina..
tapi jujur aku suka banget sama alur ceritanya thor kek inget jaman sekolah juga jadinya 🥰🥰
Bingung mau dukung kapal mana 😩😩
slow pace banget di sini dan belum ada ketegangan emosional atau psikologis yang kuat
cliff hanger cuma ada di GINA yang luka dan kemungkinan itu luka sesuatu yang sengaja diumpetin 🤔