NovelToon NovelToon
Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:784
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Ria, seorang gadis yang harus menanggung aib kedua orangtuanya seumur hidupnya. Lahir sebagai anak haram. Di belenggu sangkar emas dalam genggaman Ayahnya, di siksa lahirnya, dan di cabik batinnya. Ria terpaksa menikah dengan Pria dingin tak berperasaan bernama Arya. fisik Ria tidak terluka bersama Arya, namun batin Ria semakin tersiksa. Sampai ajal menjemput Ria, Arya baru tahu apa arti kehilangan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siasat di Balik Daftar Keinginan

"Aku tidak peduli apa pun permintaannya, Ria! Besok pagi kita berangkat ke Singapura. Aku sudah menyuruh asistenku menyiapkan jet pribadi dan tim medis terbaik!" Arya berdiri, suaranya menggelegar kembali. Ia mondar-mandir di kamar, dikuasai oleh kepanikan yang ia samarkan sebagai otoritas. "Aku punya uang, aku punya kuasa. Aku tidak akan membiarkanmu mati begitu saja!"

"CUKUP, ARYA!"

Bentakan itu tidak keras, namun sangat tajam hingga mampu menghentikan langkah Arya. Ria berusaha duduk tegak meski setiap inci tulang belakangnya terasa seperti dipatahkan. Napasnya memburu, wajahnya yang pucat kini sedikit merona karena emosi yang meluap.

"Berhenti menggunakan kuasamu untuk mengatur napas terakhirku!" suara Ria bergetar hebat. "Aku memohon padamu... untuk sekali saja, hargai aku sebagai manusia. Aku tidak butuh jet pribadi, aku tidak butuh dokter terbaik dunia yang hanya akan menjahit tubuhku yang sudah hancur!"

Ria menatap Arya dengan sorot mata yang penuh dengan kepedihan masa lalu. "Kau ingin membawaku berobat karena kau mencintaiku, atau karena kau tidak sanggup menanggung rasa bersalah jika aku mati di bawah pengawasanmu?"

Arya terdiam, mulutnya terkatup rapat.

"Kau tahu bagaimana aku bertahan hidup sebelum sampai di neraka ini?" tanya Ria, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya yang tirus. "Aku tumbuh besar dengan rasa lapar yang melilit perutku karena tidak ada kerabat yang sudi memberiku nasi. Aku dilempar seperti sampah dari satu rumah ke rumah lain karena mereka takut tertular kesialanku. Mereka menyebutku anak haram, anak pembawa maut yang membunuh ibunya sendiri!"

Ria tertawa getir, tawa yang terdengar sangat menyakitkan. "Bahkan Ayahku—pria yang kau sebut rekan bisnis itu—dia tidak pernah menganggap ku darah dagingnya. Di matanya, aku hanya noda hitam yang harus disembunyikan. Dan kau... kau membeli ku untuk menutupi aibnya."

Ria mencengkeram dadanya, mencoba menghalau nyeri yang semakin menggila. "Seumur hidupku, aku hanya ingin dicintai dan dihargai, Mas. Bukan dikasihani dengan rasa iba yang menyedihkan seperti ini. Jika kau membawaku ke rumah sakit sekarang, kau hanya memperpanjang penderitaanku demi ketenangan batinmu sendiri. Aku lelah, Mas. Aku ingin hidup tenang di masa terakhir ku."

Arya perlahan mendekat, ia ingin memeluk Ria, namun ia berhenti saat melihat binar kebencian bercampur lelah di mata istrinya.

"Aku sudah kenyang dengan kepatuhan, Mas. Aku sudah kenyang dengan hidup untuk orang lain, aku sudah kenyang mengagumimu dari jarak yang jauh," bisik Ria, suaranya melemah. "Di sisa waktuku yang tinggal menghitung hari ini, aku hanya ingin satu hal: Aku ingin merasa bahwa aku berharga bukan karena apa yang bisa kuberikan padamu atau Ayahku, tapi karena aku adalah Ria."

Arya jatuh terduduk di kursi rias di depan Ria. Bahunya terguncang. Ia baru menyadari bahwa selama ini ia tidak hanya mengabaikan kesehatan fisik Ria, tapi ia telah ikut serta menguliti martabat istrinya hingga tak tersisa.

"Ria..." Arya berbisik, suaranya serak karena tangis. "Maafkan aku... aku tidak tahu penderitaanmu sedalam itu."

"Kalau begitu, biarkan aku di sini," pinta Ria lembut, namun penuh penekanan. "Jangan bawa aku ke mana-mana. Temani aku tanpa harus ada jarum infus di tanganku. Biarkan aku menutup mata di tempat yang tenang, tanpa harus menjadi objek transaksi medis siapa pun."

Arya menatap tangan Ria yang kurus. Ia tahu, egonya sedang bertarung dengan kenyataan. Membiarkan Ria tinggal berarti ia harus menerima kenyataan bahwa ia akan segera kehilangan istrinya. Namun, memaksanya pergi berarti ia akan membunuh jiwa Ria sebelum raganya benar-benar menyerah.

Arya terdiam cukup lama, memandangi pantulan dirinya di cermin meja rias yang retak oleh ketegangan malam itu. Ia sadar, memaksa Ria saat ini hanya akan membuat istrinya itu semakin menjauh dan memperburuk kondisi batinnya. Arya adalah seorang negosiator ulung, dan kali ini, ia akan menggunakan kemampuannya bukan untuk bisnis, melainkan untuk mencuri waktu dari maut.

"Baiklah," ucap Arya dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti gumaman. Ia kembali mendekati tempat tidur dan duduk di samping Ria. "Aku tidak akan membawamu ke Singapura besok. Aku tidak akan memaksamu masuk rumah sakit sekarang."

Ria menatapnya ragu, mencari kebohongan di mata suaminya. Namun, yang ia temukan hanyalah kepasrahan yang tulus.

"Sebagai gantinya," lanjut Arya, "tunjukkan padaku daftar itu. Daftar keinginan yang ingin kau lakukan. Aku akan menemanimu melakukan semuanya. Setiap poin, setiap tempat, setiap rasa yang ingin kau cicipi. Aku milikmu sepenuhnya, Ria."

Ria perlahan mengambil buku catatan kecil dari laci nakasnya. Jemarinya yang kurus membuka halaman yang berisi tulisan tangan yang agak gemetar. Arya membacanya dalam hati, dan setiap kata di sana terasa seperti sayatan sembilu: Melihat matahari terbit di puncak bukit, makan bakso pinggir jalan tanpa takut sakit perut, memaafkan nisan Ibu...

"Kita mulai besok," janji Arya. "Apapun yang kau inginkan."

Di balik janjinya, Arya sebenarnya sedang merangkai strategi. Ia akan mengikuti ritme Ria, memberikan kebahagiaan yang selama ini ia rampas, sambil diam-diam menginstruksikan tim medis terbaik dunia untuk bersiap di sebuah fasilitas kesehatan privat yang sangat dekat. Ia berharap, dengan memenuhi batin Ria, tubuh istrinya akan mendapatkan sedikit kekuatan tambahan—kekuatan yang cukup untuk bertahan sampai Arya bisa membujuknya ke meja operasi tanpa paksaan.

Senyum di Tengah Nyeri

Keesokan harinya, Arya benar-benar berubah. Ia membatalkan semua rapat direksi. Ia mengabaikan panggilan telepon dari koleganya. Ia membantu Ria mengenakan pakaian yang paling disukai istrinya—gaun berwarna pastel yang membuatnya tampak sedikit lebih segar.

Mereka pergi ke sebuah taman bunga di pinggiran kota. Arya menggandeng tangan Ria dengan sangat hati-hati, seolah tangan itu terbuat dari porselen yang bisa hancur kapan saja.

"Mas, lihat bunga itu," tunjuk Ria ke arah mawar putih yang mekar sempurna. "Dulu aku ingin sekali menanamnya di halaman belakang, tapi Ibu tiriku bilang bunga itu hanya akan mengotori tanah."

"Sekarang kau bisa menanam ribuan bunga itu, Ria. Di mana pun kau mau," jawab Arya lembut.

Ria tersenyum. Itu adalah senyum tercantik yang pernah dilihat Arya, meskipun ia tahu di balik senyum itu, Ria sedang menahan nyeri tulang yang hebat. Setiap langkah yang diambil Ria adalah perjuangan, dan Arya merasakannya lewat genggaman tangan mereka.

Di sela-sela tawa kecil Ria, Arya terus memperhatikan jam. Ia menghitung frekuensi napas Ria, memantau setiap kali Ria terbatuk. Dalam hatinya, ia terus berdoa agar "waktu yang tepat" itu segera datang—saat di mana Ria merasa cukup dicintai sehingga ia bersedia berjuang sekali lagi di rumah sakit demi hidup bersamanya lebih lama.

Arya tidak lagi melihat Ria sebagai aset atau beban. Kini, Ria adalah pusat semestanya. Namun, ia tidak tahu, apakah cinta yang terlambat ini mampu melawan takdir yang sudah digariskan oleh penyakit di dalam tubuh Ria?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!