Arinta adalah seorang pria, suami, juga ayah yang telah melakukan perselingkuhan dengan teman sekantornya bernama Melinda dari istri sah nya, Alena setelah menjalani bahtera rumah tangga hampir tujuh tahun pernikahan hanya karena kekhilafan.
Ketika semua rahasianya terbongkar oleh sang istri, semuanya dianggap terlambat, Alena seolah menutup ruang untuknya kembali sekalipun ia berusaha memperbaiki.
Sesakit itukah yang dirasakan oleh Alena? Harapannya untuk bersama Alena pupus ketika wanita itu mantap untuk bercerai dan sepertinya ia mulai dekat dengan seorang pengusaha kaya raya bernama Aditya.
Arinta harus melepaskan Alena meski ia masih mencintai sang istri dan tampak menyesal, tapi kehidupan terus harus berjalan....
Bagaimana cara Arinta memulai kembali semuanya dari awal sementara penghakiman atas dirinya akan terus melekat entah sampai kapan....
"Apakah aku tak pantas dengan kesempatan kedua...?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17 : Hati yang lelah
Alena pergi keluar dari dalam gedung kantor itu dengan hati yang kembali hancur disaat dia mulai berpikir untuk mencoba berdamai. Segala kepercayaannya kepada Arinta runtuh begitu saja saat melihat ternyata Arinta masih berduaan dengan Melinda cukup mesra, dan kali ini dia dapat melihat langsung dengan menggunakan mata dan kepalanya sendiri. Sudah tidak diragukan lagi, mereka memang punya hubungan lebih.
"Alena!!" Suara keras pria itu sudah bergaung memanggil nama wanita yang dulu pernah begitu dicintainya. "Alena kamu salah paham! Biar aku jelasin!" Arinta berusaha mengejar Alena yang terus saja berjalan hingga menuju lobi.
"Len, tunggu aku, plis! Kasih aku kesempatan buat jelasin!" Arinta berlari menghadang jalan Alena yang hendak keluar dari pintu utama gedung dengan mata yang sudah sembab.
"Kesempatan apa lagi? Kamu minta aku mendengar penjelasan gimana mesranya kamu sama wanita tadi di dalam ruangan kamu! Iya?!" Intonasi nada suara Alena meninggi.
"Enggak begitu Len! Kamu salah paham, minuman aku tadi tumpah ke baju dia, jadi...." Arinta berusaha merangkai kata agar tidak terkesan ada kesalahan yang bisa dituding oleh Alena.
"Kamu masih bisa mesra sama Melinda di situasi kita yang lagi kayak gini, dan kamu bilang itu gak disengaja?" Alena menatap dalam pria yang dulu pernah singgah di hatinya selama 7 tahun dengan tatapan dalam. "Semua itu gak bakal kejadian kalau kamu bisa membatasi diri dari Melinda! Tapi ternyata enggak 'kan? Kamu memilih untuk tetap dekat sama dia!" Ujar Alena dengan satu kenyataan Arinta masih dekat dengan Arinta.
Lelaki itu terdiam tak tau harus berbicara apa. Semua yang diucapkan oleh Alena itu benar. Kejadian tadi gak seharusnya terjadi kalau saja Melinda tidak masuk ke dalam ruangannya. Tapi itu bukan salahnya, karena dia sendiri perlu berbicara 'kan dengan Melinda. Sementara Alea sejak tadi hanya memeluk tubuh ibunya erat-erat. Gadis itu jadi murung seketika melihat orangtuanya tiba-tiba bertengkar.
"Aku udah gak ngerti lagi sama kamu. Kayaknya kamu emang lebih memilih Melinda dibanding sama rumah-tangga kita," ucap Alena dengan nada getir. Ia pun langsung berlalu keluar dari pintu dan berjalan cepat menuju parkiran.
Andini mengerutkan kening saat melihat Alena bergegas menuju ke arah mobil. Ekspresi wajah temannya itu sangat tegang, dan Alea tampak diam, tidak seceria saat mereka baru memasuki gedung.
Wah, kasus..., pasti ada apa-apa di dalam tadi, tebaknya dengan curiga.
"Din, kita pulang aja!" Alena berteriak dari kejauhan sebelum akhirnya ia berlari kecil mendekati mobil dan membuka pintu depan.
"Lu kenapa? Bukannya baru ke dalam?" Andini bertanya heran sambil melihat Alena yang sudah masuk dan duduk di kursi depan sambil membanting pintu.
"Gue liat Arinta sama perempuan itu, Din...," ucap Alena dengan suara bergetar.
"Hah, gila! Berani banget Arinta!" Andini langsung shock. "Biar gue yang tegur, lu tunggu sini!" Dengan rasa jengkel ia berniat untuk melabrak Arinta dan perempuan itu. Tapi langsung dicegah sama Alena.
"Gak usah, Din. Plis, kita pulang aja, gue butuh tenang...," ujarnya sembari menahan tangan Andini.
"Oke deh, Len...." Andini pun menghela napas dan menatap Alena dengan perasaan sedih. "Lu yang sabar ya, pasti ada jalan keluarnya buat masalah kalian ini...." Ia menepuk lembut baju wanita yang sedang duduk di sebelah.
"Makasih, Din...," balas Alena hanya mengangguk kecil.
.
.
Arinta berjalan gontai kembali ke ruangan atas kantor. Wajahnya lesu, pandangannya tertunduk, kedua bahunya tampak tak berdaya. Semua orang menatapnya sambil berbisik-bisik. Melinda kemudian menghampirinya dengan khawatir.
"Maaf ya, Aku gak tau kalau Istri kamu bakal kemari...," ujarnya dengan rasa penyesalan. Sekarang semuanya sudah terlambat. Orang-orang di kantor membicarakan mereka. Dalam sekejap keduanya jadi buah bibir yang hangat dan dengan cepat menyebar.
.
.
Alena langsung menitipkan Alea kepada Yani setelah tiba di apartemen.
"Bi, tolong ajak Alea main ya...," ucapnya langsung menyerahkan gadis kecil itu.
"Iya Bu," balas wanita itu sedikit bingung tapi tetap patuh. Akhirnya ia berjalan keluar apartemen, mengajak Alea jalan-jalan di lorong apartemen.
"Sekarang lu mau apa, Len?" Tanya Andini dengan cemas.
"Kayaknya aku lagi butuh waktu dulu, Din...." Alena menghembuskan napasnya yang terasa berat.
"Oke deh, lu istirahat aja, gue harus berangkat ke kantor." Andini mengusap pelan punggung Alena. "Gue pergi dulu, lu sama Alea hati-hati," ucapnya sambil tersenyum kemudian berdiri dari atas sofa.
"Thanks ya, Din...." Alena menatap Andini dengan perasaan haru.
"Iya, lu 'kan temen gue. Wajar aja dong gue bantu!" Andini mengangguk cepat. "Udah ya, gue pergi dulu, takut macet!" Andini pun akhirnya berjalan keluar meninggalkan apartemen.
Keadaan di dalam apartemen seketika terasa lengang tanpa keberadaan orang-orang. Yah, dia memang sedang membutuhkan ini. Lari sejenak dari padatnya rutinitas. Ia kemudian berjalan ke arah kamar untuk mengganti pakaiannya kembali.
Usai berganti pakaian ia duduk di atas ranjang sambil membuka ponsel dan mengaktifkan kembali Instagram miliknya yang sudah lama ia tinggalkan sejak memiliki Alea.
Alena terdiam sejenak cukup lama seperti sedang memikirkan sesuatu sambil memandangi layar ponselnya. Di sana masih ada beberapa foto dirinya dan Arinta di masa lalu, dari mereka pacaran bahkan sampai menikah. Semua kenangan itu berakhir ketika Alea lahir ke dunia. Saat itu Alena fokus untuk membesarkan sang buah hati sendiri tanpa campur tangan orang lain.
...Rasanya begitu berat saat harus mengetahui perselingkuhan suami yang sudah menemani selama 7 tahun.......
...Khilaf, itu adalah ucapannya sebagai penjelasan atau pembenaran? Tapi dia melakukan itu sampai 6 bulan, dan aku gak tau apa saja yang sudah dilakukannya dengan wanita itu.......
Akhirnya Alena menuangkan rasa lelah hatinya ke dalam sebuah status di Instagram.
Tak butuh waktu lama, curahan itu langsung mendapat respon komentar dari orang-orang yang melihat termasuk teman-temannya.
"Ini serius?? Arinta suami kamu selingkuh?"
"Bravo, khilaf kok 6 bulan? Itu sih, ketagihan!"
"Ya ampun baru 7 tahun udah bosen? Apalagi ngaku khilaf? Itu jelas di sengaja bukan khilaf? Mending cerai saja, karena selingkuh itu seperti penyakit.
Satu kata itu tertulis dalam kolom komentarnya. Cera**i. Membuat perasaan hati Alena semakin meradang. Harus kah pernikahannya berakhir di meja hijau?
"Kata aku sih cerai saja, Mbak. Gak bakal berubah, kalau ada kesempatan pasti bakal selingkuh lagi kayak mantan aku dulu, selingkuh di belakang aku malah perempuannya sampai hamil! Bersyukur cerai sama dia aku jadi dapat jodoh yang lebih baik sekarang."
Alena membaca satu-persatu pesan yang masuk itu dengan hati teriris. Apakah dia harus merelakan pernikahannya atau mengorbankan dirinya sendiri hanya demi rumah-tangga yang sudah membuatnya tidak nyaman?
Mana yang harus dia pilih?
.
.
Bersambung....
hemmmm jarang deh mungkin ada 1000/1 yg betul" sadar, sodara ku aja berhentinya ajal menjemput selingkuh Mulu susah kalau hati udah pernah bercabang