NovelToon NovelToon
TIRAKAT 2

TIRAKAT 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Tumbal
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Berdasarkan kisah nyata.

Novel ini adalah seri kedua dari novel TIRAKAT. Menceritakan tentang kehidupan Nisa (Aku) setelah kejadian mengerikan yang hampir saja merenggut nyawa Bapaknya, yang telah dikisahkan pada seri sebelumnya.

Apakah Nisa melanjutkan tirakatnya?
Bagaimana kehidupan berjalan berikutnya?
Bagaimana pandangan orang-orang di sekitarnya sekarang?
Dan... Apakah Bapak bisa kembali normal?

SELAMAT MEMBACA... ☺️☺️☺️
.
.
.
!!! DISCLAIMER!!!

Seluruh nama tokoh, nama tempat, nama daerah, telah disamarkan. Apabila ada kesamaan, harap dimaklumi. Dan novel ini ditulis bukan untuk menyudutkan seseorang, tokoh, tempat, daerah, agama, atau kepercayaan tertentu. Murni hanya berbagi kisah dengan para pembaca sekalian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HARI DEMI HARI BERLALU

Hari demi hari berlalu...

Ternyata benar yang dikatakan oleh Ustadz Furqon sebelumnya. Aku harus lebih kuat dan yakin kepada Alloh dengan terus mengasah kekuatan do'a-do'aku.

Ternyata selama ini, aku yang memang masih lemah keimanan dan kekuatan batinnya.

Dan selama beberapa hari yang terus berlalu ini, aku tak lagi melihat sosok Gilang itu.

Justru sebaliknya, aku semakin kuat dengan Dayang Putri. Bahkan Dayang Putri juga seperti bisa memberikan wejangan juga padaku tentang segala hal di alam ghoib.

Aku semakin banyak pemahaman, semakin banyak pengetahuan, tentang hal-hal dalam urusan kekuatan keyakinan iman dan juga tentang hal-hal ghoib. Termasuk juga dengan pemahamanku atas tirakat yang aku jalani.

☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️

Siang ini, tepatnya di hari minggu. Aku diminta datang oleh Ustadz Furqon ke rumahnya. Entah ada pembicaraan apa, aku pun belum mengetahuinya.

Aku tiba di rumahnya, masih menggunakan sepeda kesayanganku. Dan kulihat sudah ada Mas Iko, Mas Ahmad, Ustadz Furqon, dan juga Bu Fatimah. Mereka sedang duduk mengobrol di pendopo Ustadz Furqon.

"Assalamu'alaikum..." ucap salamku sambil menyandarkan sepeda di samping pendopo itu.

"Wa'alaikumsalam..." jawab mereka bersamaan.

"Alhamdulillah, akhirnya datang juga." ucap Mas Iko sambil tersenyum cerah wajahnya.

"Ayok Nis, sini duduk di samping Ibu." kata Bu Fatimah, sambil menepuk lantai pendopo di sebelahnya.

"Iya Bu..." jawabku sambil menghampiri Bu Fatimah, dan aku langsung duduk.

"Nah, karena Nisa udah dateng, saya langsung aja ya Nis." kata Ustadz Furqon.

Aku mengangguk. Tanpa menjawab. Ada rasa penasaran juga dalam hatiku, akan ada pembicaraan apa sebenarnya siang ini. Sehingga Ustadz Furqon sampai memintaku untuk datang.

"Nisa... Kamu udah tau kan rencana saya mau membangun pondok pesantren di Jawa Timur?" pertanyaannya membuka pembicaraan denganku.

"Em, iya Ustadz..." jawabku singkat dengan wajah yang memperhatikan.

"Nah, saya bermaksud mau menyampaikan sesuatu ke kamu juga terkait hal itu."

"Apa itu Ustadz? Saya jadi penasaran..." jawabku. Ekspresiku semakin terlihat penasaran juga.

"Cieee... Ada yang penasaran nih..." canda Mas Ahmad sambil menutup mulutnya meledekku.

"Eh, apa toh Mas Ahmad ini? Ya wajarkan saya penasaran jadinya..." responku.

"Hehehe... Jadi gini Nisa," Ustadz Furqon melanjutkan penjelasannya.

"Saya bermaksud untuk menawarkan posisi sebagai pembina asrama putri di pondok saya nanti."

"Eh? Apa Ustadz?" tanyaku agak kaget.

"Iya, jadi pembina asrama putri kamu nanti."

"Loh-loh... Gak salah denger saya Ustadz?" tanyaku lagi mencoba memastikan. Padahal memang jelas aku mendengar tawarannya padaku.

"Iya Nisa. Kamu jadi kandidat sebagai pembina asrama putri." sahut Bu Fatimah.

"Em, tapi kenapa saya Ustadz?" tanyaku lagi. Dengan perasaan bahwa diriku belum pantas.

"Saya kayaknya belum layak, belum pantas, kalau dikasih tugas seberat itu. Apalagi ini tempatnya di pondok pesantren. Ustadz salah pilih kayaknya deh..." jawabku.

"Hehehe... Ya kalo saya salah pilih, mana mungkin saya ajak ngobrol kamu begini toh Nis?" respon Ustadz Furqon.

Beberapa detik aku terdiam, sambil melihat semua yang hadir.

"Tenang aja kok Mbak Nisa, nanti juga Pak Ustadz buka juga lowongan buat jadi pendamping Mbak Nisa kalo mau menerima tawarannya. Kan juga nanti ada tenaga pengajarnya juga." jelas Mas Iko.

"Iya Mbak, nanti saya sama Mas Iko jadi pembina asrama putra di sana." tambah Mas Ahmad.

"Oh... Mas Ahmad sama Mas Iko juga diminta jadi pembina asrama di sana?" tanyaku.

"Iya Nis. Saya udah ngobrol duluan sama mereka juga, sebelum ngobrol sama kamu ini." sahut Ustadz Furqon.

"Oh gitu ya Ustadz..." responku sambil mengangguk pelan.

"Ya semoga kamu bersedia buat saya bawa ke Jawa Timur. Buat jadi pembina asrama putrinya nanti." kalimat Ustadz Furqon ini seperti mengharapkan jawaban positif dariku.

Aku menunduk sejenak, memandangi kedua tanganku yang kumainkan sendiri. Sambil muncuk berbagai macam pertanyaan dalam benakku.

Jawa Timur itu jauh dari sini. Bagaimana dengan bapakku di rumah? Siapa yang akan menemani hari-harinya?

Lalu, siapa yang akan mengajar mengaji anak-anak di desaku ini? Apakah Ustadz Furqon sudah ada calon pengajar penggantiku?

Dan apakah aku sanggup hidup di perantauan? Karena sampai usiaku 25 tahun sekarang, aku tak pernah jauh dari keluargaku.

"Nisa..." suara Ustadz Furqon memecah lamunanku.

"Eh, iya Ustadz..."

"Kamu gak usah jawab sekarang, gak perlu buru-buru juga kok harus kamu putuskan. Masih ada cukup waktu." ucapnya. Tampak Ustadz Furqon memahami apa yang aku pikirkan terkait tawaran itu.

"Em... Iya Ustadz. Saya juga gak bisa kasih jawaban sekarang. Saya harus ngobrol sama Bapak saya di rumah. Karena saya pasti akan jauh dari Bapak. Sedangkan dia sendirian nanti di rumah. Semuanya harus saya pikirkan matang-matang Ustadz..." jawabku.

"Iya Nisa, saya paham. Kamu juga wajib ada izin dari Bapakmu. Harus ada restu dan ridho kalau memang kamu menerima tawaran saya tadi."

"Iya Ustadz..."

Setelah pembicaraan yang cukup serius itu, kami semua mengobrol hal lain. Mengobrol lebih santai dan ringan.

Namun, selama aku ada di pendopo itu, pikiranku seperti berputar. Memikirkan tentang tawaran menjadi pembina asrama di pondok pesantren baru milik Ustadz Furqon di Jawa Timur.

Ada rasa ingin, namun juga bercampur rasa ragu.

Ada rasa senang mendapat peluang mengajar di tempat yang memang lebih fokus pendidikan agama, namun juga bercampur rasa tidak percaya diri.

Ada bayangan nanti aku akan punya banyak kawan baru, lingkungan baru, ilmu baru, semuanya...

Tapi juga bercampur rasa khawatir, apakah aku bisa mengurus diriku sendiri tanpa bapakku?

Apakah aku bisa beradaptasi di sana nanti?

Semuanya campur aduk dalam pikiranku.

Ditambah lagi, dengan kemampuan diriku ini. Apakah jika aku menerima tawaran Ustadz Furqon akan menjadi penguat tirakatku. Atau malah menjadi pedang bermata dua bagiku.

Ya walaupun aku tinggal dan besar di Jawa Barat, tapi aku juga sedikit banyak tahu tentang Jawa Timur.

Daerah Jawa Timur itu adalah provinsi dengan sejuta budaya. Sejuta cerita. Dan juga sejuta keilmuan yang bersinggungan dengan dunia ghoib.

--------------------

🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞

--------------------

Singkat waktu, tak terasa sudah mendekati waktu ashar. Aku segera berpamitan untuk pulang.

"Ustadz, Bu Fatimah, Mas Ahmad, Mas Iko, saya izin mau pulang dulu ya. Udah mau ashar juga. Saya belum masak buat makan di rumah juga soalnya." ucapku dengan sopan.

"Oh, iya Nis. Terima kasih ya udah dateng." jawab Bu Fatimah.

"Iya Bu..."

"Nis, saya harap sih, kamu bersedia menerima tawaran saya. Soalnya saya merasa cocok kalau kamu jadi pembina asrama pondok pesantren saya nanti." ucapan Ustadz Furqon itu sebagai sebuah harapan, dan aku memahaminya.

"Insyaa Alloh Ustadz, kalau memang nanti sudah takdirnya saya ke sana, ya saya pasti ikut ke sana." jawabku.

"Iya Mbak, kasian nanti Mas Iko..." sahut Mas Ahmad.

"Eh!! Sssttt...!!" respon Mas Iko sambil menyenggol lengan Mas Ahmad. Namun aku tak paham apa maksud ucapan Mas Ahmad itu.

Dan Ustadz Furqon sama Bu Fatimah tampak tersenyum. Aku semakin tak paham.

"Em, memangnya kenapa sama Mas Iko? Kok kasian?" aku bertanya penasaran.

"Hehehe... Mas Iko nanti kangen sama kamu Nis! Hihihi..." jawab Mas Ahmad cepat.

Aku tiba-tiba terkejut, malu-malu, dan hendak berkata tapi tak tahu mau berkata apa...

Dan juga Mas Iko, tampak memandang kawannya itu sambil menahan senyum yang agak malu-malu, dengan mata yang dilebarkan sedikit...

🤭🤭🤭🤭🤭

1
Akbar Aulia
Nisa Baek" ya disana nanti
Ayuk Witanto
lanjut
Ayuk Witanto
tinggal nunggu keberangkatan
Ayuk Witanto
lanjut
Ayuk Witanto
sepertinya bisa nanti akan menetap di Jawatimur sama iko
Ayuk Witanto
Alhamdulillah di kasih ijin
Ayuk Witanto
lanjut
Ayuk Witanto
pasti si iko ada rasa sama kamu nis
Ayuk Witanto
si Gilang minta di getok tuh...makin lama makin jail gak bisa di kasiani
Ayuk Witanto
bener2 si Gilang
Ayuk Witanto
kerasukan
Ayuk Witanto
si Gilang harus di musnahkan
Ayuk Witanto
si Gilang perlu di pulangkan
Ayuk Witanto
si Gilang ini meresahkan
Ayuk Witanto
kok agak aneh ya
Ayuk Witanto
rumahnya di pucuk
Ayuk Witanto
Risa sakit apa yah
Ayuk Witanto
mencurigakan...kok tau dayang putri
Ayuk Witanto
kok ngomongnya gitu si risa
Ayuk Witanto
pasti saudara pak Handoyo punya pesugihan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!