NovelToon NovelToon
Imam Pilihan Bunda.

Imam Pilihan Bunda.

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Nikahmuda / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Komedi
Popularitas:13.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nyai Nung

Humairah Liandra, mahasiswi 20 tahun yang terkenal nakal, keras kepala, ceplas-ceplos, dan anti diatur, tiba-tiba dijodohkan oleh bundanya sendiri dengan seorang tentara dingin dan disiplin—Haikal Fero, anak dari sahabat lama sang bunda.
Perjodohan yang awalnya ditentang mati-matian justru perlahan mengubah hidup Humairah… dan Haikal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Suara yang membuat luluh.

Kelas berakhir lebih lama dari biasanya.

Jam di dinding sudah melewati waktu pulang, dan lorong-lorong kampus mulai lengang. Mahasiswa keluar satu per satu, sebagian mengeluh pelan, sebagian lagi sibuk dengan ponsel mereka.

Lian melangkah sendirian.

Tas selempang menggantung di bahunya, langkahnya tenang namun waspada—kebiasaan lama yang tak pernah benar-benar hilang. Lorong itu panjang, diterangi lampu putih yang sedikit redup. Suara langkah kakinya bergema ringan.

Ia tidak sadar—atau mungkin sadar, tapi memilih diam—bahwa ada langkah lain yang menyusul.

Raka berjalan di sampingnya.

Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh.

Jarak aman. Jarak sopan.

“Pulang sendirian?” tanya Raka santai.

Lian melirik sekilas.

“Iya.”

“Kampus mulai sepi,” lanjutnya. “Biasanya jam segini rame.”

“Karena kelas molor,” jawab Lian singkat.

Raka tersenyum kecil.

“Kamu selalu menjawab seperlunya, ya.”

Lian tidak menjawab. Ia terus berjalan.

Beberapa langkah kemudian—

Ada sesuatu yang tidak beres.

Bukan suara.

Bukan bayangan.

Melainkan tekanan halus di udara—insting yang selama ini menyelamatkan hidupnya lebih dari sekali.

Lian berhenti mendadak.

Dan dalam satu gerakan refleks—

Tangannya mencengkeram pergelangan tangan Raka.

Diputar.

Ditarik ke belakang tubuhnya.

Gerakannya cepat. Presisi. Tanpa ragu.

“Lian—!”

BRAK!

Sebuah pot bunga besar jatuh dari lantai atas, menghantam lantai tepat di tempat Raka berdiri satu detik sebelumnya. Pecahannya berserakan. Tanah dan serpihan keramik melompat ke udara.

Suara benturannya menggema keras di lorong yang sepi.

Hening.

Napas Raka tertahan.

Matanya melebar.

Lian berdiri di depan Raka, tubuhnya sedikit condong, satu tangan masih mencengkeram pergelangan tangan pria itu—kuat. Terlalu kuat untuk ukuran wanita biasa.

Butuh beberapa detik sebelum ia menyadari apa yang ia lakukan.

Perlahan, Lian melepaskan tangannya.

Raka menunduk, menatap pergelangan tangannya sendiri. Merah. Bekas genggaman jelas terlihat.

Ia mendongak.

“Kamu…” suaranya terdengar pelan, campuran kaget dan heran.

“Refleksmu cepat.”

Lian menatap pot bunga yang hancur. Wajahnya datar, tapi rahangnya mengeras.

“Kalau aku telat satu detik,” katanya pelan,

“kepalamu yang pecah.”

Raka tertawa kecil—bukan tawa santai, melainkan tawa seseorang yang baru sadar betapa dekatnya ia dengan kematian.

“Sepertinya aku harus berterima kasih,” ujarnya.

“Kamu narik aku dengan… mudah.”

Nada itu bukan pujian. Lebih ke pengamatan.

Lian akhirnya menatapnya.

Tatapan tajam. Mengukur.

“Aku refleks,” jawabnya singkat.

“Dan kamu terlalu dekat dengan jalur jatuhnya benda.”

Raka melirik ke atas, ke balkon lantai dua.

“Pot itu… jatuh sendiri?”

Lian mengangkat bahu.

“Kampus lama. Bisa aja.”

Namun matanya tidak sepenuhnya percaya pada kalimat itu.

Raka memperhatikan Lian dengan lebih serius sekarang. Bukan lagi mahasiswa pindahan yang ramah—melainkan seseorang yang sedang menyusun ulang penilaiannya.

“Kamu menarikku seperti itu…” katanya pelan.

“Bukan tenaga orang biasa.”

Lian menghela napas pendek.

“Aku anak teknik. Angkat mesin, dorong alat berat, biasa.”

Itu jawaban setengah benar.

Raka tersenyum tipis.

“Masuk akal.”

Namun dalam hatinya, ia tahu—

itu tidak sepenuhnya benar.

Mereka berdiri beberapa detik dalam diam, dikelilingi pecahan pot dan tanah yang berserakan. Lorong itu kembali sunyi.

“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Raka akhirnya.

Lian mengangguk.

“Kamu?”

“Masih hidup,” jawabnya ringan. “Berkat kamu.”

Lian sudah melangkah pergi.

“Sama-sama,” katanya tanpa menoleh.

“Hati-hati lain kali. Jangan jalan di bawah benda yang bisa jatuh.”

Raka berdiri memandangi punggungnya yang menjauh.

Wanita itu…

tidak hanya berbahaya.

Dia terlatih.

Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Raka merasa—

Permainan ini mungkin tidak akan berjalan sepenuhnya sesuai rencananya.

Siap. Aku buat Bab 30 lanjutan ini panjang, detail, intim, dengan nuansa romantis dewasa tapi tetap elegan—tidak vulgar. Fokus pada chemistry, reaksi Lian yang kikuk, dan Haikal yang mulai berani menunjukkan rasa.

 

Rumah menyambut Lian dengan sunyi.

Lampu teras sudah menyala. Udara sore masih hangat ketika ia membuka pintu dan melangkah masuk. Sepatunya dilepas rapi di rak, tas digantung di tempat biasa. Tubuhnya terasa lelah—bukan karena kelas yang molor, tapi karena pikirannya belum sepenuhnya tenang sejak insiden di lorong kampus.

Ia menutup pintu.

Klik.

Belum sempat ia melangkah lebih jauh—

Sebuah tangan melingkar di pinggangnya.

Kuat. Hangat. Familiar.

Tubuh Lian refleks menegang.

Punggungnya bersandar ke dada seseorang. Nafas hangat menyentuh pelipisnya. Dan sebelum ia sempat bereaksi lebih jauh, suara itu terdengar—rendah, pelan, tepat di dekat telinganya.

“Sayang…”

Satu kata.

Namun cukup untuk membuat seluruh tubuh Lian kaku.

Ah. Ini buruk.

Sangat buruk.

Karena Haikal tidak pernah memanggilnya seperti itu tanpa alasan.

Dan nada suaranya—terlalu rendah. Terlalu dekat.

Lian menelan ludah.

“Mas…” suaranya sedikit serak, bukan karena takut—melainkan karena tubuhnya bereaksi lebih cepat dari pikirannya.

“Lepas.”

Namun lingkaran di pinggangnya justru mengencang sedikit. Tidak kasar. Tidak memaksa. Hanya cukup untuk memastikan ia tidak bisa pergi ke mana-mana.

“Aku kangen,” ujar Haikal pelan.

Lian memejamkan mata sebentar.

Ya Allah… ini lebih buruk.

Ia bisa merasakan detak jantung Haikal di punggungnya. Nafas pria itu teratur, namun hangat—terlalu dekat. Tangan Haikal tidak bergerak ke mana-mana, hanya di pinggangnya, tapi sentuhan itu sendiri sudah cukup membuat pikirannya kacau.

“Kamu lama,” lanjut Haikal.

“Aku nungguin.”

Nada itu bukan menuduh. Lebih seperti keluhan kecil yang jujur.

Lian menghela napas, mencoba menenangkan diri.

“Kelas molor, Mas.”

Haikal menunduk sedikit, dagunya hampir menyentuh bahu Lian.

“Aku tahu.”

“Terus kenapa nyergap kayak maling?” gumam Lian, berusaha terdengar santai.

Haikal terkekeh kecil.

“Ini rumahku. Dan kamu istriku.”

Kalimat itu sederhana.

Namun efeknya menghantam keras.

Lian menggigit bibirnya pelan. Tangannya yang tadi santai kini menggenggam tali tasnya erat. Ia bisa merasakan perubahan kecil dalam nada Haikal—lebih hangat, lebih berani.

Tangan Haikal akhirnya bergerak, naik sedikit dari pinggang ke perut Lian.

Sentuhannya lembut. Protektif.

“Capek?” tanyanya.

Lian mengangguk kecil.

Haikal membalikkan tubuhnya perlahan, membuat mereka saling berhadapan. Wajah Haikal begitu dekat sekarang. Mata gelap itu menatapnya dengan intensitas yang membuat napasnya tertahan.

“Kamu pulang,” kata Haikal pelan,

“dan aku lega.”

Jari Haikal menyibak rambut Lian yang jatuh ke pipinya. Gerakannya hati-hati, seolah ia sedang menyentuh sesuatu yang rapuh—padahal wanita di depannya sama sekali tidak rapuh.

Lian berdeham kecil.

“Mas…”

“Nadanya jangan kayak gitu.”

Haikal tersenyum tipis.

“Kayak gimana?”

“Kayak…” Lian berhenti, wajahnya memanas.

“…kayak mau—”

Ia tidak melanjutkan.

Haikal mendekat sedikit lagi.

“Niatku jelas.”

Jantung Lian berdebar keras.

Iya. Jelas banget.

Tangannya secara refleks bertumpu di dada Haikal, seolah menjaga jarak. Namun jarak itu terlalu tipis untuk disebut aman.

“Kamu hamil,” ujar Haikal tiba-tiba, suaranya lebih serius.

“Aku nggak akan sembarangan.”

Lian menatapnya, terkejut.

“Tapi nada kamu—”

“Aku suamimu,” potong Haikal lembut.

“Aku kangen istriku. Itu saja.”

Keheningan menyelimuti mereka.

Lian akhirnya tersenyum kecil, lelah tapi hangat. Tangannya naik, mencengkeram bagian belakang kaus Haikal.

“Peluk aja,” katanya pelan.

“Jangan aneh-aneh.”

Haikal tertawa pelan, lalu memeluknya erat. Tidak ada gerakan lain. Tidak ada ciuman. Hanya pelukan panjang yang penuh rasa aman.

Lian menyandarkan kepalanya di dada Haikal. Mendengar detak jantung pria itu—tenang, kuat, nyata.

Di rumah ini,

di pelukan ini,

untuk sesaat—

Dunia di luar bisa menunggu.

1
panjul man09
ibu berpikiran apa itu, menikahkan anaknya hanya 2 orang saksi tidak undang tetangga adakan syukuran kek, ibu pelit emang lian hamil? sampe nikah sembunyi2 ,haikal jg mau aja dia ikutim maunya bu maya.
dyah EkaPratiwi
😭😭😭 semangat lian
dyah EkaPratiwi
semoga keduanya selamat
munaroh
nanti tak cobane, rujak bertabur keju. wes kemecer dhisik 🤤
munaroh
good job Lian👏
munaroh
🤣🤣🤣. begitulah pas nikah di hari-hari pertama, banyak kejutan😭
Nyai Nung: sifat yang berlawanan 🤣🤭
total 1 replies
munaroh
🤣🤣🤣 ada ada aja dah😆
munaroh
cie cie, pesonanya abang ga bisa ditolak ya lian🤣
Nyai Nung: banget beb, rasanya jantungku mau copot 🤭🤣
total 1 replies
dyah EkaPratiwi
pecemburu sekali pak haikal
Nyai Nung: Sejuta sekali🤭
total 1 replies
muna aprilia
lanjut
Nyai Nung: Siap bos, ditunggu ya👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!