NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Sang Istri Terbuang

Ruang Ajaib Sang Istri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Angel Abilla

Pernikahan yang kukira pelabuhan cinta, ternyata hanyalah jerat maut yang dirancang suamiku sendiri. Namaku Aruna, putri keluarga Adiwangsa yang dicap lugu oleh dunia. Namun di malam pengantinku yang penuh duri, aku menyaksikan pengkhianatan Tristan dan selingkuhannya tepat di depan mataku.
​Tristan ingin hartaku, ia ingin membuangku ke desa terpencil hingga aku membusuk. Namun, ia melakukan satu kesalahan besar: membiarkan Aruna Adiwangsa pergi dengan liontin warisan ibunya.
​Sebuah Ruang Ajaib terbuka dari tetesan darah rasa sakitku. Di sana, aku membangun kekuatan, mengumpulkan harta, dan menyusun strategi yang tak terduga. Tristan, nikmatilah sisa kejayaanmu, karena saat aku kembali, aku akan memastikan kau berlutut memohon ampun di bawah kakiku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Angel Abilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 : Jejak yang Tersembunyi

Gedung perkantoran bertingkat itu tampak kokoh di bawah terik matahari Jakarta. Aruna melangkah dengan dagu terangkat, mengabaikan rasa perih di hatinya. Setiap ketukan hak sepatunya di lantai marmer itu adalah pernyataan perang pertama yang ia kirimkan hari ini.

Di lantai dua belas, seorang pria paruh baya dengan kacamata yang merosot hingga ke ujung hidung sudah menunggu. Pak Baskara, pengacara kepercayaan almarhumah ibunda Aruna, berdiri menyambutnya dengan raut wajah cemas.

"Aruna? Ada apa ini? Kamu baru saja menikah kemarin, kenapa mendadak ingin bertemu secara rahasia?" tanya Pak Baskara sambil mempersilakannya duduk.

Tanpa sepatah kata pun, Aruna meletakkan ponselnya di atas meja kayu jati yang berat itu. Ia memutar rekaman video dari kamera tersembunyi di hotel. Pak Baskara terdiam. Ia melepaskan kacamatanya dengan gerakan kasar, seolah tidak sanggup lagi melihat pengkhianatan di layar itu.

​"Laki-laki kurang ajar!" geram Pak Baskara. "Apa yang ingin kamu lakukan, Aruna? Kamu bisa menggugat cerai dia sekarang juga dengan bukti ini."

Aruna menggeleng pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum dingin. "Terlalu cepat, Pak. Kalau aku cerai sekarang, dia sudah berhasil mencuri sebagian kecil aset ayahku lewat perjanjian pranikah yang dia manipulasi. Aku ingin dia pergi tanpa membawa sepeser pun. Bahkan baju di badannya pun akan kuambil kembali."

Pak Baskara menatap Aruna dengan pandangan baru. Gadis kecil yang dulu dianggapnya rapuh, kini menunjukkan ketenangan yang justru terasa mengancam.

"Terus, apa rencana kamu?"

"Tolong putus semua celah yang bisa digunakan Tristan untuk menyentuh yayasan Ibu. Dan satu lagi," Aruna meletakkan sebuah amplop tua yang kusam di atas meja. "Ayah pernah bilang, Ibu meninggalkan wasiat tambahan yang hanya boleh dibuka jika aku merasa dalam bahaya. Apa Pak Baskara tahu soal ini?"

Pak Baskara terlihat terkejut. Ia menarik laci brankas di belakang mejanya dan mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil yang ukirannya sangat mirip dengan liontin perak yang melingkar di leher Aruna.

​"Ibumu pernah berpesan," suara Pak Baskara merendah, "bahwa keluarga Adiwangsa bukan kaya karena bisnis semata, tapi karena 'warisan' yang dijaga oleh hati yang tulus. Dia memberikan kotak ini padaku dua puluh tahun lalu."

***

Flashback

Pandangan Aruna terpaku pada ukiran rumit di tutup kotak itu. Memorinya mendadak ditarik mundur, ke sebuah ingatan yang selama ini terkunci rapat di sudut kepalanya.

Bayangan Pak Baskara yang jauh lebih muda muncul di benaknya. Saat itu, Aruna baru berusia tujuh tahun, sedang bersembunyi di balik pilar besar di ruang kerja ibunya.

​"Baskara, aku nggak punya banyak waktu," suara ibunya terdengar lemah, namun penuh ketegasan. Ibunya, yang saat itu terlihat begitu ringkih, menyerahkan kotak kayu tersebut dengan tangan gemetar.

​"Nyonya, apa ini benar-benar perlu? Anda bisa menyimpannya sendiri untuk Aruna," jawab Pak Baskara muda, raut wajahnya penuh kesetiaan sekaligus kekhawatiran.

Ibunya menggeleng pelan, bibirnya melengkung pahit. "Dunia ini nggak selalu ramah pada hati yang tulus. Suatu hari, Aruna akan sampai pada titik di mana cinta yang ia percayai justru berbalik menghancurkannya. Di titik itulah, dia nggak butuh uang. Dia butuh warisan Adiwangsa yang sebenarnya."

Wanita itu menghela napas panjang, menatap kotak kayu itu seolah sedang mempertaruhkan segalanya. "Hanya saat dia merasa benar-benar hancur dan dikhianati, kotak ini akan mengenali darahnya. Berikan padanya hanya jika saat itu tiba. Janji padaku, Baskara."

"Pegang kata-kata saya, Nyonya. Selama saya masih ada di sini, amanah ini akan saya jaga," bisik Pak Baskara penuh hormat.

***

Kembali ke masa sekarang,

Aruna memejamkan mata sejenak. Rasa sakit di hatinya perlahan membeku, berganti menjadi niat yang dingin dan terhitung. Ibu tidak sedang memberinya sekadar harta, melainkan senjata untuk membalas mereka.

Dengan tangan yang kini tidak lagi ragu, Aruna menyentuh kunci kristal itu, dan keajaiban pun dimulai.

Saat Aruna menyentuh kotak itu, liontin di lehernya terasa berat. Sensasi panas yang aneh merambat ke dadanya, membuat napasnya sedikit sesak.

​"Pak, apa Bapak merasa ruangan ini mendadak terlalu terang?" gumam Aruna.

Pak Baskara mengerutkan kening. "Terang? Enggak, Aruna. Mungkin kamu lagi capek saja."

***

Di kamar Presidential Suite yang masih berantakan itu, Siska sibuk mengagumi dirinya di depan cermin sambil memoles lipstik. Sementara itu, Tristan keluar dari kamar mandi mengenakan jubah mandi sutra, berjalan santai merasa telah memenangkan segalanya.

​"Mas, aku laper. Pesanin sarapan paling mewah di sini, dong. Aku mau lobster dan champagne, ya?" ucap Siska manja sambil menyandarkan kepalanya di bahu Tristan.

Tristan tertawa, mencium kening Siska. "Apa sih yang enggak buat kamu? Tunggu sebentar."

Tristan segera menelepon room service. Tak lama kemudian, seorang pelayan masuk mendorong troli perak berisi berbagai hidangan mewah. Aroma gurih lobster yang baru matang. Aromanya memenuhi ruangan.

"Totalnya lima belas juta rupiah, Tuan. Anda ingin memasukkannya ke tagihan kamar atau membayar sekarang?" tanya pelayan itu sopan.

"Bayar sekarang saja. Pakai kartu ini," ucap Tristan penuh percaya diri sambil memberikan kartu kredit platinum milik Aruna yang ia pegang. Ia sudah membayangkan betapa nikmatnya hidup mewah menggunakan harta istrinya.

Pelayan itu menggesek kartu tersebut pada mesin EDC. Tet! Bunyi penolakan terdengar.

"Maaf, Tuan. Transaksinya ditolak," ujar pelayan itu.

Tristan heran. "Coba sekali lagi. Mungkin di sini jaringannya lagi susah."

Pelayan itu mencoba lagi untuk kedua kalinya, lalu ketiga kalinya. Hasilnya tetap sama: Declined.

Wajah Tristan mulai malu. Siska yang tadinya duduk manis kini berdiri menghampiri. "Ada apa, Mas? Kok lama?"

"Kartunya nggak bisa, Siska. Sialan!" gumam Tristan. Ia mencoba kartu kreditnya sendiri, namun kartu itu pun langsung ditolak karena limitnya sudah habis dipakai untuk foya-foya sebelum menikah.

"Maaf Tuan, jika nggak bisa membayar sekarang, sarapannya terpaksa kami bawa kembali," ucap pelayan itu dengan nada yang mulai tidak seramah tadi.

​"Tunggu! Keluar kamu!" bentak Tristan malu. Pelayan itu segera keluar dengan meja dorongnya, meninggalkan Tristan dan Siska yang kelaparan di tengah kemewahan yang mendadak terasa seperti ejekan bagi mereka.

Siska melipat tangan di dada, wajah cantiknya berubah cemberut. "Gimana sih, Mas? Katanya semua udah aman! Masa cuma bayar sarapan aja nggak becus? Aku nggak mau ya malu-maluin kalau ujung-ujungnya kita diusir dari sini karena nggak bisa bayar!"

​"Diam, Siska! Aku harus telepon Aruna. Pasti ada yang salah dengan banknya!"

Tristan mencari ponselnya dengan tangan gemetar, sementara Siska kesal. "Aku pergi dulu kalau begitu. Malu-maluin saja! Kabari aku kalau kartunya sudah aktif lagi!" Siska mengambil tasnya dan keluar dari kamar dengan membanting pintu, meninggalkan Tristan sendirian dalam kepanikan.

Tristan mondar-mandir di depan ranjang, keringat dingin mulai membasahi dahinya. Itulah saat ia akhirnya menekan tombol panggil ke nomor Aruna, tanpa menyadari bahwa itu adalah awal dari kejatuhannya.

***

Tangan Aruna sudah di atas tutup kotak saat ponselnya tiba-tiba bergetar. Nama 'Tristan ❤️' muncul di layar. Aruna menatap layar itu dengan rasa mual, namun ia segera mengubah ekspresi wajahnya menjadi lembut sebelum mengangkat telepon.

"Halo, Mas? Baru bangun?" ucap Aruna dengan suara manja yang sempurna, sementara matanya tetap menatap tajam ke arah Pak Baskara.

Di seberang sana, suara Tristan terdengar panik. "Sayang, kok kamu tiba-tiba pergi? Aku baru bangun dan kaget kamu nggak ada. Oh ya, kartu kreditku kok... nggak bisa dipakai saat aku mau bayar layanan kamar tadi?"

Sebuah senyum tipis yang dingin melintas di wajah Aruna. Permainan dimulai, Mas

"Oh ya? Mungkin ada kesalahan sistem di bank, Mas. Tenang saja, nanti aku urus kalau sudah selesai dari kantor Ayah. Tunggu aku di rumah, ya?"

Setelah menutup telepon, Aruna kembali menatap kotak kayu itu. Jantungnya berdegup kencang. Ia merasa ada sesuatu yang memanggilnya dari dalam kotak tersebut. Sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar harta atau hukum.

Tangan Aruna sedikit gemetar saat ia membuka kotak kayu itu. Begitu engselnya terbuka, sinar keemasan langsung tertuju ke penglihatannya, membuat ruangan Pak Baskara mendadak putih silau selama beberapa detik.

Di dalam kotak itu tidak ada uang atau berlian, melainkan sebuah gulungan kertas tua yang sudah menguning dan kunci kecil dari kristal bening. Namun, pandangan Aruna tertuju pada dasar kotak. Di sana, sebuah cermin kecil memantulkan wajahnya, tapi dengan latar yang asing. Sebuah kebun subur, bukan lagi kantor Pak Baskara.

​"Aruna? Kamu nggak apa-apa?" Suara Pak Baskara terdengar jauh, seolah terhalang oleh dinding kaca yang tebal.

Aruna tidak menjawab. Begitu jemarinya menyentuh kunci kristal itu, liontin di lehernya bereaksi hebat. Rasa panas yang tadinya merambat kini berubah menjadi denyutan yang seirama dengan detak jantungnya.

Tiba-tiba, pandangan Aruna gelap. Suasana kantor Pak Baskara menghilang begitu saja, digantikan oleh aroma tanah basah dan wangi bunga yang belum pernah ia temui di dunia nyata.

​"Aruna? Aruna! Kamu di mana?!" suara Pak Baskara terdengar sangat jauh.

Aruna mencoba membuka mata, namun yang ia temukan bukan lagi plafon kantor yang putih. Di hadapannya, menjulang sebuah gerbang kayu raksasa yang dililit akar pohon bercahaya kebiruan. Hawa dingin yang segar menyentuh kulitnya, membawa aroma bunga yang tidak pernah ada di bumi.

Ia menunduk, melihat kunci kristal di tangannya kini bersinar terang, seolah memberi petunjuk bahwa gerbang di depannya adalah satu-satunya jalan keluar. Namun, sebelum ia sempat melangkah, sebuah suara bisikan wanita yang sangat ia kenali. Suara ibunya terdengar tepat di telinganya.

"Selamat datang di tempat di mana keadilan tumbuh, Aruna. Pakai amarah kamu, atau kamu nggak bisa keluar dari sini."

Tepat saat itu, liontinnya memancarkan cahaya merah tua, dan gerbang itu terbuka dengan suara derit yang nyaring.

1
Ida Kurniasari
seruu bgt thorr😍
Angel: Wah, makasih banyak ya Kak Ida! 🥰 Senang banget kalau ceritanya menghibur. Bagian mana nih yang paling bikin nagih?
total 1 replies
Angel
keren
Nadira ST
💪💪💪💪💪💪☕☕☕☕🥰🥰🥰🥰☕
Angel: Wuih, deretan semangatnya sampai sini nih! Terima kasih ya, Nadira ST. Menurut kamu, apa bagian paling menarik dari bab ini? Ditunggu komentarnya lagi ya! 💪🔥
total 1 replies
Murni Dewita
💪💪💪💪
Angel: Aruna emang makin tangguh nih, Kak! 💪 Tapi kira-kira dia sanggup nggak ya ngadepin Paman Hendrawan yang jauh lebih licik? Pantau terus kelanjutannya ya, Kak Murni!
total 1 replies
Lala Kusumah
good job Aruna 👍👍👍👍
Angel: Terima kasih Kak Lala! Aruna emang pantes dapet apresiasi setelah semua pengkhianatan itu. Tapi ujian sebenarnya baru aja dimulai nih. Stay tuned ya! ✨
total 1 replies
Murni Dewita
👣👣
Angel: Wah, jejak Kak Murni sudah sampai sini nih! Menurut Kakak, apa yang bakal terjadi sama Aruna setelah ini? Stay tuned ya! ✨
total 1 replies
Lala Kusumah
astaghfirullah 😭
Angel: Jangan nangis dulu, Kak! Habis ini Aruna bakal kasih kejutan yang jauh lebih besar buat Tristan. Kira-kira apa yang bakal Aruna lakukan selanjutnya ya? Pantau terus besok jam 7 malam ya! 🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!