Matahari sore di Desa Sukamaju sedang terik-teriknya, namun tidak sepanas suasana hati Gus Hilman. Pemuda berusia 22 tahun itu baru saja turun dari mobil, merapikan sarung instan dan kemeja kokonya yang wangi setrikaan. Ia baru tiga hari kembali dari Jakarta untuk mengelola pesantren kecil milik kakeknya di ujung desa.
"Gus Hilman!"
Suara cempreng itu memecah ketenangan. Hilman menghela napas panjang tanpa menoleh. Ia sudah tahu siapa pemilik suara itu. Keyla. Anak tunggal Pak Lurah yang menurut desas-desus warga adalah "ujian berjalan" bagi kaum pria di sana.
Keyla datang dengan motor matic-nya, berhenti tepat di depan Hilman hingga debu jalanan terbang mengenai sepatu kulit sang Gus. Gadis 17 tahun itu turun dengan gaya menantang. Ia mengenakan tank top merah ketat yang memperlihatkan bahu mulusnya, dipadu dengan celana jins pendek di atas lutut. Rambutnya yang dicat cokelat dibiarkan tergerai, basah oleh keringat yang membuatnya tampak semakin... mencolok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15
Pintu kamar tertutup dengan bunyi klik yang pelan namun terasa sangat final. Suasana kamar yang biasanya berantakan kini sudah dihias dengan seprai putih bersih dan aroma harum melati. Gus Hilman berdiri mematung di dekat pintu, masih mengenakan jas dan pecinya, sementara Nayla duduk di pinggir ranjang sambil memainkan ujung kerudungnya yang mulai lepas.
"Mbak... eh, Nayla," suara Hilman terdengar rendah dan bergetar. "Berikan ponselmu."
Nayla mendongak, matanya yang nakal kembali bersinar meski baru saja terjadi ketegangan. Ia menyodorkan ponselnya dengan gaya manja. "Kenapa? Mau cek histori chat aku sama Rian? Cemburu ya, Gus?"
Hilman tidak menjawab. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia membuka ponsel itu. Matanya menatap tajam setiap kontak laki-laki yang ada di sana. "Mulai malam ini, tidak ada lagi nama 'Sayangku', 'Calon Imam', atau siapa pun itu. Aku akan menghapus semuanya."
"Hapus aja semuanya, Gus. Toh, yang jadi imam benerannya kan sekarang ada di depan mata," bisik Nayla. Ia berdiri, melangkah mendekat hingga dada mereka hampir bersentuhan.
Hilman mencoba tetap fokus menghapus kontak, namun jemari Nayla mulai merambat naik ke dada Hilman, bermain di antara kancing jas suaminya. "Gus... tadi di kebun sawo kita belum selesai, kan? Warga datengnya cepet banget, padahal aku udah nungguin bibir Gus..."
"Nayla, jaga bicaramu," Hilman memperingatkan, tapi napasnya mulai memburu. Jarak yang sangat dekat ini membuat pertahanan imannya yang ia tahan selama bertahun-tahun benar-benar hancur.
Nayla tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat menggoda di kesunyian malam. Ia menarik dasi yang masih melingkar di leher Hilman, memaksa pria itu menunduk. "Gus nggak perlu tahan lagi. Sekarang aku halal buat Gus. Kenapa masih kaku?"
Pandangan Hilman mendadak gelap oleh kabut gairah yang selama ini ia tekan habis-habisan. Ia melempar ponsel Nayla ke atas kasur. Tangannya yang besar tiba-tiba mencengkeram pinggang Nayla dengan kuat, menarik tubuh mungil itu hingga menempel sempurna pada tubuhnya.
"Kamu yang memintanya, Nayla," desis Hilman.
Tanpa aba-aba lagi, Hilman membungkam bibir Nayla dengan ciuman yang sangat dalam dan menuntut—sebuah "lumutan" bibir yang penuh dengan luapan emosi dan gairah yang terpendam. Nayla tersentak, namun ia tidak menolak, justru melingkarkan lengannya erat di leher Hilman.
Gus yang selama ini dikenal kalem dan dingin itu kini berubah menjadi sosok yang sangat dominan. Dalam ciuman yang panas itu, tangan Hilman berpindah ke leher Nayla, memberikan tekanan yang sedikit kuat—sebuah "cekikan" lembut namun posesif yang menunjukkan bahwa gadis ini sekarang sepenuhnya miliknya..
Nayla mendesah pelan di sela ciuman mereka, ia merasa tertaklukkan oleh sisi liar suaminya yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Hilman melepaskan tautan bibir mereka sejenak, menatap mata Nayla dengan tatapan lapar yang sangat dalam.
"Jangan pernah berani menyebut nama laki-laki lain lagi di depanku," bisik Hilman tepat di depan bibir Nayla, suaranya parau oleh hasrat.
Nayla tersenyum di tengah napasnya yang tersengal, ia justru semakin merapatkan tubuhnya. "Iya, Gus... cuma Gus Hilman. Habisin aku malam ini, Gus."
Hilman tidak lagi memberikan celah untuk bicara. Ia kembali mencium istrinya dengan lebih intens, membawa Nayla menuju ranjang untuk menuntaskan malam pertama mereka yang penuh gairah.
lanjut ke bab satunya ya guys sabar😫😘