Karena orang tua serta para keluarga selalu mendesak untuk menikah. Akhirnya Adelia Aurellia nekat menikahi seorang anak magang yang jarak usianya sepuluh tahun dibawahnya. Hal itu malah membuat orang tua Aurel menjadi murka. Pasalnya orang tua sang supir yang bernama Adam Ashraf adalah seorang pengkhianat bagi keluarganya Aurel.
Padahal itu hanya fitnah, yang ingin merenggangkan persahabatan antara Ayahnya Aurel dan juga Ayahnya Adam. Makanya Adam sengaja bekerja pada mereka, karena ingin memulihkan nama baik sang Ayah. Dan karena tujuan itu, ia pun langsung menerima tawaran dari Aurel, untuk menikahinya.
Akankah, Adam berhasil membersihkan nama baik sang Ayah? Dan Akankah mereka mendapatkan restu dari keluarga Aurel? Yuk ikuti karya Ramanda, jangan lupa berikan dukungannya juga ya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BIRU MALDIVES BERUBAH KELABU.
Cahaya matahari pagi yang memantul dari jernihnya air laut Maldives menyelinap masuk melalui tirai tipis water villa mewah itu. Namun, bagi Aurel, keindahan panorama laut lepas itu hanya bisa ia nikmati dari balik jendela kaca. Selama tiga hari terakhir, ia merasa seperti tawanan paling bahagia sekaligus paling frustrasi di dunia.
"Adam, cukup! Aku mau keluar!" seru Aurel sambil mendorong dada Adam, yang yang berkali-kali mencumbuinya. Lalu ia turun dari tempat tidur dan melempar bantal ke arah Adam yang masih bersandar santai di kepala ranjang tanpa mengenakan kemeja.
Adam menangkap bantal itu dengan satu tangan, seringai nakal menghiasi wajah tampannya. "Ke mana? Bukankah pelayanan kamar sudah menyediakan segalanya? Lobster, sampanye non-alkohol, bahkan buah-buahan segar sudah ada di meja." jawab Adam enteng.
"Bukan itu masalahnya, Pak CEO yang posesif!" Aurel berdiri di depan cermin besar, menunjuk koper yang masih terbuka setengah. "Lihat ini! Aku membawa lima gaun pantai, tiga topi lebar, dan kacamata hitam yang harganya mahal. Semua itu untuk dipakai di bawah matahari, bukan untuk dipamerkan pada dinding kamar!"
Adam terkekeh, ia turun dari ranjang dan melangkah mendekati istrinya. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Aurel, menatap pantulan mereka di cermin. "Dinding kamar ini saksi bisu betapa indahnya istriku tanpa perlu gaun-gaun itu, Adel." katanya seraya mengecup leher Adel.
Aurel mengerucutkan bibirnya, benar-benar merajuk. Ia melepaskan tangan Adam dengan gerakan kasar yang dibuat-buat. "Terserah! Kalau hari ini kita tidak keluar, aku akan memesan tiket pulang ke Jakarta sekarang juga. Biar aku urus Baskoro Build saja daripada dikurung di sini!"
Melihat Aurel yang sudah sampai pada titik puncaknya, Adam akhirnya menyerah. Ia mengangkat kedua tangannya ke udara sebagai tanda takluk. "Baik, baik. Tuan putri menang. Pakailah gaun pantaimu yang paling cantik. Kita keluar sekarang."
Satu jam kemudian, mereka sudah berjalan menyusuri bibir pantai berpasir putih yang sehalus bedak. Aurel mengenakan gaun sutra berwarna biru muda yang melambai tertiup angin, senada dengan warna laut. Ia berlari kecil, membiarkan kakinya dicumbu oleh ombak kecil yang tenang.
"Nah, begini kan jauh lebih segar!" seru Aurel sambil merentangkan tangannya. "Terima kasih, Adam. Ternyata suamiku bisa diajak kompromi juga."
Adam berjalan di belakangnya, menenteng sandal jepit milik Aurel sambil tersenyum lebar. "Aku hanya tidak ingin istriku berubah jadi singa di hari ketiga bulan madu kita. Tapi jujur saja, melihatmu tertawa begini... rasanya lebih indah daripada pemandangan manapun di Maldives."
Mereka duduk di bawah pohon palem yang miring ke arah laut. Adam menyandarkan kepalanya di pangkuan Aurel, sementara Aurel memainkan rambut suaminya dengan penuh kasih.
"Adam, terima kasih ya," ucap Aurel tiba-tiba, suaranya melembut. "Untuk semuanya. Untuk kesabaranmu menghadapi keraguanku, untuk caramu merangkul keluargaku, bahkan caramu menjinakkan Ansel."
Adam memejamkan mata, menikmati usapan tangan Aurel. "Itu sudah tugasku, Adel. Aku mencintaimu bukan hanya sebagai individu, tapi sebagai bagian dari semesta yang kau bawa. Aku ingin kita menua bersama, tanpa ada lagi rahasia atau rasa takut soal angka usia."
Kebahagiaan itu terasa sempurna hingga sebuah pemandangan di kejauhan menarik perhatian Adam. Sekitar tiga puluh meter dari tempat mereka duduk, di depan sebuah restoran fine dining pinggir pantai, tampak seorang pria mengenakan kemeja linen putih dan celana pendek bermerek.
Adam menyipitkan mata. Postur tubuh itu, cara berjalannya, bahkan jam tangan perak yang berkilau di bawah sinar matahari itu terasa sangat familiar.
"Ada apa, Adam?" tanya Aurel yang menyadari perubahan raut wajah suaminya.
Adam tidak menjawab. Ia segera bangkit berdiri, fokusnya terkunci pada pria itu. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena cinta, tapi karena amarah yang mulai membakar dadanya. Pria itu adalah Irfan Ardi, suami dari Arumi—kakak ipar yang sangat ia hormati.
Namun, Irfan tidak sendirian. Seorang wanita muda dengan pakaian minim dan rambut pirang kecokelatan tampak tertawa manja sambil menggandeng erat lengan Irfan. Bahkan, Irfan sesekali mengecup pelipis wanita itu dengan mesra.
"Bajingan..." desis Adam pelan.
"Adam? Siapa itu?" Aurel ikut berdiri, mencoba mengikuti arah pandang Adam.
"Itu Mas Irfan, Adel. Kakak iparku," suara Adam terdengar berat dan tajam. "Mbak Arumi bilang padaku minggu lalu kalau suaminya sedang dinas luar kota ke Balikpapan untuk urusan tambang. Tapi apa yang dia lakukan di Maldives dengan wanita lain?"
Aurel menutup mulutnya dengan tangan, terkejut. "Mungkin itu rekan kerjanya?"
"Rekan kerja tidak berpegangan tangan seperti itu, Adel. Aku tahu Mas Irfan bukan orang yang suka mengumbar kemesraan dengan orang asing," Adam mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih. "Mbak Arumi sedang hamil muda di Surabaya, menjaga anak-anak, sementara dia di sini bersenang-senang?"
Tanpa pikir panjang, Adam melangkah lebar menuju restoran tersebut. Langkahnya mantap dan penuh ancaman. Aurel mencoba menahannya, namun Adam sudah terlalu jauh terbakar amarah.
Konfrontasi di Tepian Laut
"Mas Irfan!"
Suara Adam menggelegar di antara desiran angin pantai. Pria itu tersentak, ia melepaskan kacamata hitamnya dan menoleh. Wajahnya yang tadinya ceria seketika berubah menjadi pucat pasi saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya.
"Adam? K-kau... kenapa ada di sini?" tanya Irfan terbata-bata. Tangannya gemetar, mencoba melepaskan kaitan tangan wanita di sampingnya, namun terlambat.
Adam berhenti tepat di depan Irfan. Ia menatap wanita asing itu dengan pandangan menghina, lalu kembali menatap kakak iparnya. "Harusnya aku yang bertanya, Mas. Bukankah Mas Irfan harusnya ada di Balikpapan? Sejak kapan Balikpapan punya pantai seindah Maldives dan rekan kerja semanja ini?"
"Adam, dengarkan aku dulu... ini tidak seperti yang kau lihat," Irfan mencoba membela diri, namun suaranya mencicit ketakutan.
"Tidak seperti yang kulihat?" Adam tertawa sinis, langkahnya maju satu tindak, membuat Irfan mundur teratur. "Aku melihat seorang pengkhianat yang sedang menghancurkan hati kakakku. Mbak Arumi sedang berjuang dengan mual dan pusingnya di rumah, Mas! Dan Mas di sini... dengan wanita ini?"
Wanita di samping Irfan tampak bingung. "Irfan, siapa ini? Katanya kau sudah bercerai dengan istrimu?"
Mendengar kata 'bercerai', emosi Adam meledak. Ia menarik kerah kemeja Irfan dengan kasar. "Kau bilang pada wanita ini kau sudah cerai? Kau benar-benar sudah gila, Mas!"
"Adam, lepaskan! Kita bisa bicara baik-baik!" seru Irfan panik, menyadari beberapa turis mulai memperhatikan mereka.
"Bicara baik-baik?" Adam menatap Irfan dengan mata yang memerah. "Aku akan pastikan Mbak Arumi tahu semuanya hari ini juga. Dan jangan harap kau bisa menginjakkan kaki di rumah keluarga Bramasta lagi!"
Aurel sampai di samping Adam, mencoba meredam amarah suaminya. "Adam, tenanglah. Jangan di sini, ini tempat umum."
Adam mengatur napasnya yang memburu, namun tatapannya tetap menghujam Irfan. Bulan madu yang tadinya penuh dengan aroma cinta, kini mendadak amis oleh bau pengkhianatan. Adam menyadari bahwa kebahagiaannya bersama Aurel kini harus diuji oleh badai yang menimpa kakaknya sendiri.