"Kau bisa memiliki segalanya di dunia ini, Arunika. Kecuali satu hal: Kebebasan."
Arunika mengira menikah dengan Adrian Valerius, sang Direktur jenius yang tampan, adalah keberuntungan. Namun di balik wajah malaikatnya, Adrian adalah seorang psikopat dingin yang terobsesi pada kendali.
Di mansion mewah yang menjadi penjara kaca, setiap napas Arunika diawasi, dan setiap pembangkangan ada harganya. Arunika bukan lagi seorang istri, melainkan "proyek" untuk memuaskan obsesi gelap sang suami.
Mampukah Arunika melarikan diri, atau justru terjerat selamanya dalam cinta yang beracun?
"Jangan mencoba lari, Sayang. Karena sejauh apa pun kamu melangkah, kamu tetap milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PROLOG: LABIRIN KACA TUAN VALERIUS
Malam itu, Jakarta sedang tidak bersahabat. Langit di atas kawasan elit Menteng tampak sangat pekat. Petir sesekali menyambar, menerangi sejenak rumah mewah milik Adrian Valerius yang didominasi kaca dan beton. Bagi dunia luar, rumah itu adalah simbol kesuksesan, namun bagi Arunika, tempat itu tidak lebih dari penjara mewah yang menyesakkan.
Di dalam kamar utama yang sangat luas, Arunika berdiri mematung di depan jendela besar. Pantulan dirinya di kaca tampak rapuh. Ia masih mengenakan gaun sutra merah pemberian Adrian—gaun yang indah, namun terasa berat seolah sedang melilit tubuhnya.
Tangannya gemetar saat meraba saku gaun. Di sana terselip sebuah tiket pesawat dan paspor. Rencananya sederhana: pergi saat Adrian sedang menghadiri jamuan makan malam di Singapura. Namun, jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, dan badai di luar sana membuat seluruh penerbangan dibatalkan.
Tiba-tiba, suara deru mesin mobil terdengar memasuki halaman. Jantung Arunika seolah berhenti berdetak. Cahaya lampu depan mobil itu menyapu dinding kamar, lalu padam.
Dia pulang lebih awal.
Arunika panik. Ia segera menyembunyikan paspor dan tiket itu di balik tumpukan buku di pojok kamar. Ia berusaha mengatur napas, menghapus bekas air mata di pipinya, dan duduk di pinggir tempat tidur yang terasa dingin.
Suara langkah kaki terdengar dari koridor. Tap. Tap. Tap. Iramanya sangat teratur, tidak terburu-buru namun sangat tegas. Itu adalah langkah kaki seseorang yang selalu memegang kendali penuh. Adrian Valerius.
Pintu kamar terbuka perlahan. Sosok tinggi itu berdiri di sana. Adrian masih mengenakan setelan jas hitam yang sangat rapi. Wajahnya tampan, namun tatapan matanya selalu terasa kosong dan dingin.
"Kamu belum tidur, Sayang?" suara Adrian rendah dan tenang, namun sanggup membuat bulu kuduk berdiri.
"A-aku menunggumu, Mas," dusta Arunika. Suaranya bergetar, dan ia tahu Adrian menyadarinya. Adrian tidak pernah bisa dibohongi.
Adrian berjalan mendekat. Ia melepaskan jam tangan Rolex-nya dan meletakkannya di atas meja nakas dengan suara denting yang presisi. Ia kemudian duduk di samping Arunika, membuat kasur itu sedikit amblas karena beban tubuhnya. Aroma parfum sandalwood yang mahal dan dingin segera memenuhi ruangan.
"Menungguku? Atau menunggu hujan reda agar kamu bisa pergi ke bandara?"
Darah di sekujur tubuh Arunika seolah membeku. Ia menoleh perlahan, menatap wajah suaminya. Adrian masih tersenyum tipis yang biasa ia tunjukkan saat memenangkan tender besar.
"Apa maksudmu, Mas? Aku nggak mengerti..."
Adrian menghela napas pendek, seolah-olah ia sedang berhadapan dengan anak kecil yang gagal berbohong. Ia berdiri, berjalan santai menuju rak buku, dan tanpa ragu tangannya meraih celah tempat Arunika menyembunyikan paspornya tadi.
Adrian mengeluarkan benda itu, menimbangnya di tangan, lalu kembali menatap Arunika.
"Waktu adalah hal yang paling sulit dikendalikan, Arunika. Tapi kamu lupa, aku memiliki akses ke seluruh sistem keamanan di kota ini. Kamu memesan tiket menggunakan akun yang sudah ku pantau sejak enam jam lalu."
Adrian membuka paspor itu, melihat foto Arunika sebentar, lalu perlahan-lahan ia merobek halaman paspor tersebut. Suara kertas yang terkoyak terdengar sangat mengerikan di telinga Arunika.
"Kenapa, Mas? Kenapa kamu melakukan ini padaku?" Arunika akhirnya meledak. Ia berdiri dengan kaki lemas, air mata mulai jatuh lagi. "Aku istrimu, bukan tawananmu! Aku nggak bisa hidup seperti ini. Aku takut padamu, Adrian! Kamu manusia yang nggak punya hati!"
Adrian berhenti merobek. Ia menatap potongan kertas di lantai, lalu berjalan mendekati Arunika. Ia tidak marah ataupun berteriak. Justru ketenangannya itulah yang paling menakutkan.
Ia memegang kedua bahu Arunika, memaksa wanita itu untuk menatap langsung ke dalam matanya yang gelap.
"Hati itu nggak efisien, Arunika. Hanya membuat orang melakukan kesalahan. Aku nggak ingin berbuat salah sama kamu," bisik Adrian. Tangannya naik ke leher Arunika, ibu jarinya mengusap nadi di leher istrinya yang berdenyut kencang. "Kamu bilang kamu takut? Bagus. Rasa takut adalah bentuk penghormatan yang paling murni. Itu artinya kamu sadar siapa yang berkuasa di sini."
Adrian menarik Arunika ke dalam pelukannya. Pelukan yang seharusnya terasa hangat, namun bagi Arunika terasa seperti lilitan ular yang siap meremukkan tulangnya.
"Kamu tahu kenapa aku memilihmu? Karena kamu adalah satu-satunya hal yang belum bisa kupahami sepenuhnya. Dan aku suka memecahkan teka-teki. Kamu adalah proyek pribadiku, Arunika. Aku akan membentuk mu, menghancurkan egomu, dan membangun mu kembali sampai kamu hanya melihatku sebagai duniamu."
"Aku ingin cerai..." isak Arunika di dada Adrian.
Adrian tertawa kecil, suara tawa yang terasa hampa. "Cerai? Dalam kamusku, hanya ada dua cara untuk meninggalkan pernikahan ini: menjadi milikku selamanya, atau menjadi debu. Dan aku belum selesai bermain denganmu."
Adrian melepaskan pelukannya, lalu berjalan menuju pintu kamar dan menempelkan jarinya pada pemindai biometrik di dinding. Terdengar suara kunci elektronik yang berputar berkali-kali. Seluruh jendela kaca di ruangan itu tiba-tiba tertutup oleh tirai baja otomatis.
"Malam ini badai sangat berbahaya di luar sana," kata Adrian sambil mulai membuka kancing kemejanya satu per satu, menatap Arunika dengan tatapan predator yang telah mengunci mangsanya. "Tetaplah di sini. Di sini kamu aman. Di sini, kamu milikku."
Arunika jatuh terduduk di lantai, di kelilingi oleh sobekan paspornya yang kini tidak berharga. Ia menatap suaminya dan menyadari bahwa mulai malam ini, identitasnya telah mati. Ia hanyalah sebuah benda koleksi di dalam labirin kaca seorang iblis berwajah malaikat.