NovelToon NovelToon
PULANG UNTUK SESUATU YANG TAK PERNAH PERGI

PULANG UNTUK SESUATU YANG TAK PERNAH PERGI

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Berbaikan / Tamat
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

Raka pulang setelah delapan tahun menghilang di Singapura. Bukan karena rindu kampung halaman, tapi karena mimpi yang terus berulang mimpi tentang Maya, sepupunya yang dulu selalu jadi lawan debatnya, teman sekaligus musuh dalam satu tubuh.

Tapi yang dia temukan bukan Maya yang dia kenal. Maya yang dulu ceplas-ceplos kini diam seperti kuburan. Maya yang dulu penuh api kini hanya menyisakan abu. Ditinggal suami tanpa penjelasan, harus membesarkan dua anak sendirian, dan terjebak dalam kesendirian yang dia jaga ketat seperti benteng.

Raka datang dengan niat hanya sebentar. Cukup untuk memastikan sepupunya baik-baik saja. Cukup untuk menghilangkan rasa bersalah karena pergi tanpa pamit delapan tahun lalu. Tapi hidup punya rencana lain.

"Kadang, yang paling kita hindari adalah tempat kita seharusnya kembali. Dan orang yang paling kita lawan adalah cinta yang tak pernah benar-benar pergi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: SURAT-SURAT YANG TAK PERNAH TERKIRIM

Hujan pertama musim hujan datang dengan gemuruh, membasahi tanah retak dan membangunkan kenangan-kenangan yang selama ini tertidur di bawah debu. Di loteng rumah kami tempat yang jarang dikunjungi sejak Maya sakit Bima menemukan sebuah kotak kayu tua yang terkunci.

"Kotak apa ini, Om?" tanyanya, membawa kotak berdebu itu turun.

Aku tidak mengenalinya. Kotak itu sederhana, tanpa ukiran, hanya dengan gembok kecil yang sudah berkarat. Kuncinya tidak ada.

"Harus kita buka?" tanya Kinan, penasaran.

"Mungkin isinya barang-barang lama Mama," kata Bima. Tapi suaranya ragu. Karena membuka kotak terkunci peninggalan ibunya terasa seperti membongkar rahasia yang tidak dimaksudkan untuk dibuka.

Namun rasa ingin tahu menang. Dengan obeng kecil, aku membuka gemboknya. Dan yang kami temukan bukan perhiasan atau dokumen penting, tapi tumpukan surat-surat. Puluhan, mungkin ratusan, surat yang ditulis tangan Maya.

Surat-surat yang tidak pernah dikirim.

---

Surat pertama yang kubaca berusia delapan tahun ditulis tak lama setelah aku pergi ke Singapura.

"Raka yang pergi,

Aku menulis ini padamu meski tahu tidak akan pernah kukirim. Karena apa gunanya? Kamu sudah memilih pergi. Dan aku sudah memilih bertahan dalam pernikahan yang mulai terasa seperti penjara.

Tadi Bima bertanya: 'Kapan Om Raka pulang?' Aku tidak bisa jawab. Karena aku juga tidak tahu.

Terkadang aku membayangkan kamu di Singapura. Mungkin di apartemen tinggi dengan pemandangan kota. Mungkin sudah punya pacar baru. Mungkin sudah melupakan kami.

Dan aku di sini. Dengan bayi yang baru lahir (Kinan, perempuan, mirip ayahnya sayangnya). Dengan suami yang semakin sering tidak pulang. Dengan rasa sesal yang tumbuh seperti jamur di hati.

Kenapa kamu pergi, Ra? Kenapa tidak bilang? Kenapa tidak beri kami kesempatan?

Atau mungkin lebih baik begini. Karena kalau kamu tetap di sini, mungkin kita akan melakukan hal bodoh. Dan sekarang, setidaknya, kamu aman. Dari aku. Dari rasa bersalah. Dari cinta yang salah waktu.

Tapi tetap saja.

Tetap saja aku menulis surat yang tidak akan pernah kukirim.

Karena kadang, hanya dengan menulis namamu, aku merasa sedikit kurang kesepian.

Maya."

Tanganku gemetar memegang kertas itu. Delapan tahun. Delapan tahun dia menulis surat padaku tanpa aku tahu. Delapan tahun dia menyimpan semua ini sendirian.

Bima mengambil surat lain lebih baru, sekitar lima tahun lalu.

"Raka di Singapura,

Hari ini Rangga tidak pulang lagi. Sudah tiga hari. Bima bertanya di mana ayahnya. Aku bilang kerja. Bohong.

Kinan demam. Aku harus ke apotek tengah malam sendirian. Di jalan, aku melihat pasangan muda berpegangan tangan. Dan tiba-tiba aku menangis. Bukan karena iri. Tapi karena ingat kita dulu.

Kita pernah seperti itu. Sekarang? Kamu di sana. Aku di sini. Dan di antara kita: laut, pilihan yang salah, dan waktu yang terbuang.

Terkadang aku benci kamu. Karena kamu pergi. Karena kamu meninggalkanku dengan semua ini.

Tapi lebih sering, aku benci diriku sendiri. Karena membiarkanmu pergi. Karena tidak berani menahammu. Karena memilih Rangga ketika hatiku memilihmu.

Aku ingin telepon kamu. Tapi nomormu sudah berubah. Aku ingin tulis email. Tapi takut mengganggu.

Jadi aku tulis surat ini. Yang ke-47. Menambah koleksi surat-surat untukmu yang tidak akan pernah terbaca.

Mungkin suatu hari nanti, ketika kita sudah tua, atau ketika salah satu dari kita meninggal, surat-surat ini akan ditemukan. Dan kamu akan tahu.

Kamu akan tahu bahwa selama kamu pergi, kamu tidak pernah benar-benar pergi dari pikiranku.

Maya."

Kinan menangis pelan. "Mama... sedih sekali ya."

"Ya, Sayang," bisikku, suara serak.

Aku melihat Bima. Matanya kosong. "Selama ini... Mama menderita sendirian."

"Kita tidak tahu, Bima."

"Tapi kita harusnya tahu! Kita harusnya bisa membantunya!"

"Kita tidak bisa membantu apa yang tidak kita ketahui."

---

Kami menghabiskan sore itu membaca surat-surat Maya. Sejarah penderitaan yang tersembunyi. Sejarah cinta yang tak terungkap. Sejarah seorang perempuan yang terjebak antara kewajiban dan keinginan.

Ada surat tentang kegembiraan kecil: "Bima dapat ranking pertama. Aku ingin cerita padamu."

Ada surat tentang kesedihan besar: "Ibuku sakit. Butuh biaya. Rangga tidak punya uang. Aku ingin telepon kamu, tapi tidak berani minta."

Ada surat tentang kerinduan sederhana: "Hari ini aku masak soto. Resep ibuku. Kamu dulu suka. Aku buatkan banyak, lalu sadar kamu tidak di sini. Jadi kami makan tiga hari berturut-turut."

Dan surat terakhir ditulis seminggu sebelum aku kembali.

"Raka,

Ini mungkin surat terakhir. Karena aku mulai lupa. Kata-kata sering hilang. Nama-nama kabur. Dokter bilang ini awal dari sesuatu yang buruk. Aku takut.

Tapi yang paling kutakuti: aku akan lupa kamu. Lupa kita. Lupa bahwa pernah ada cinta yang begitu besar dalam hidupku, meski tidak pernah kesampaian.

Jadi aku tulis ini: aku mencintaimu. Selalu. Meski menikah dengan orang lain. Meski punya anak dengannya. Meski hidup berjalan ke arah yang berbeda.

Cintaku padamu seperti benih yang tidak pernah ditanam. Tapi tetap hidup di kegelapan tanah. Tidak mati. Hanya menunggu.

Mungkin itu egois. Tapi inilah kebenaranku.

Dan jika suatu hari kamu kembali meski aku tahu kamu tidak akan dan membaca ini, ketahuilah:

Kamu adalah cinta terbesarku.

Dan penyesalan terbesarku.

Dan harapan terbesarku yang tidak pernah benar-benar padam.

Sekarang aku berhenti menulis. Karena tanganku gemetar. Dan pikiranku kabur.

Selamat tinggal, Raka. Atau mungkin, sampai jumpa di kehidupan lain. Di mana waktu kita tepat. Di di mana kita berani.

Selalu,

Maya."

Ruangan sunyi. Hanya suara hujan di luar. Dan isak tangis kami bertiga.

---

Malam itu, aku tidak bisa tidur. Surat-surat itu tersebar di meja makan, seperti potongan puzzle dari kehidupan Maya yang tidak pernah kukenal. Aku selalu berpikir aku yang paling menderita karena mencintainya tapi tidak bisa memilikinya. Ternyata dia juga menderita memilikiku tapi tidak benar-benar memilikiku.

Bima keluar dari kamarnya, matanya bengkak. "Om, kita harus kasih tahu Papa."

"Tentang surat-surat ini?"

"Iya. Dia berhak tahu. Bahwa... bahwa Mama tidak bahagia dengannya."

"Tapi itu akan menyakitinya."

"Tapi kebenaran penting, kan? Seperti Mama selalu bilang."

Dia benar. Tapi kebenaran ini bahwa istrinya mencintai orang lain selama pernikahan mereka bisa menghancurkan Rangga yang sudah berusaha berubah.

---

Kami undang Rangga ke rumah keesokan harinya. Ketika dia melihat surat-surat itu, wajahnya pucat.

"Berapa banyak?" tanyanya, suara datar.

"Ratusan," jawabku. "Dari delapan tahun lalu sampai seminggu sebelum aku kembali."

Dia membaca beberapa. Lama. Diam. Lalu dia meletakkan surat itu, menutup wajah.

"Aku tahu," bisiknya.

Kami terkejut.

"Apa?" tanyaku.

"Aku tahu dia mencintaimu. Dari awal. Itu sebabnya... itu sebabnya aku sering pergi. Karena merasa seperti pencuri. Mencuri perempuan yang seharusnya milikmu."

Bima memandang ayahnya. "Tapi kenapa Papa tidak melepaskan Mama?"

"Karena ego. Karena aku pikir suatu hari dia akan belajar mencintaiku. Karena aku punya anak dengannya." Rangga menghela napas. "Dan karena... aku mencintainya. Meski tahu cintanya untuk orang lain."

Ini lingkaran penderitaan. Tiga orang yang saling mencintai dengan cara yang salah. Tiga orang yang menderita karena takut melukai orang lain. Tiga orang yang akhirnya terluka lebih dalam karena diam.

"Surat-surat ini," lanjut Rangga, "mereka membebaskan. Karena membuktikan bahwa penderitaanku tidak sendirian. Bahwa Maya juga menderita. Bahwa... kita semua korban dari waktu yang salah."

Dia berdiri, berjalan ke jendela. "Simpan surat-surat ini. Untuk anak-anak. Suatu hari nanti, mereka perlu tahu bahwa ibunya adalah perempuan yang kompleks. Bukan malaikat, bukan juga korban. Hanya manusia yang mencintai dengan caranya yang tidak sempurna."

---

Setelah Rangga pergi, Kinan bertanya: "Apakah cinta selalu menyakitkan?"

"Tidak selalu, Sayang."

"Tapi Mama sakit. Papa sakit. Om sakit."

"Karena kami tidak jujur. Karena kami memilih diam daripada bicara. Karena kami takut lebih dari pada berani."

"Kalau gitu, Adek mau selalu jujur. Supaya tidak sakit seperti Mama."

"Janji ya, Kinan. Selalu jujur."

Tapi kejujuran itu sendiri datang dengan ujian tidak lama kemudian.

---

Laras datang di akhir pekan. Dan tanpa rencana, Kinan dengan kejujuran polos anak tujuh tahun berkata: "Kami nemu surat-surat Mama. Dia nulis surat buat Om Raka selama delapan tahun. Karena dia cinta Om Raka meski sudah nikah sama Papa."

Wajah Laras berubah. Sedikit. Hampir tak terlihat. Tapi aku melihatnya: keraguan. Ketidaknyamanan.

"Surat-surat cinta?" tanyanya, berusaha tetap tenang.

"Bukan cinta biasa," jelasku. "Lebih seperti... pengakuan. Dan penyesalan."

"Dan kamu membacanya?"

"Kami semua. Termasuk anak-anak. Dan Rangga."

"Kenapa?"

"Karena mereka bagian dari sejarah keluarga kami. Dan anak-anak berhak tahu ibunya yang seutuhnya."

Laras diam. Lalu: "Aku butuh waktu, Raka."

"Untuk apa?"

"Untuk memproses ini. Bahwa kamu... bahwa cintamu pada Maya begitu dalam. Bahwa surat-suratnya masih ada. Bahwa... bahwa aku mungkin tidak akan pernah bisa bersaing dengan hantu yang masih hidup seperti itu."

Dia pergi dengan Alika. Dan untuk pertama kalinya sejak kami bertemu, aku melihat ketakutan di matanya.

---

Malam itu, Bima marah pada Kinan. "Kenapa kamu cerita ke Bu Laras? Itu urusan keluarga kita!"

"Tapi Bu Laras bagian keluarga kita sekarang!"

"Belum tentu! Sekarang dia mungkin pergi karena kamu!"

Kinan menangis. "Adek cuma mau jujur! Kata Om, jujur itu penting!"

Aku menengahi. "Kinan benar harus jujur. Tapi Bima juga benar ada hal-hal yang butuh waktu untuk diceritakan."

"Tapi kita mau sembunyikan kebenaran? Seperti Mama dan Om dulu?" tantang Kinan.

Pukulan telak. Karena dia benar. Kami mengulang pola yang sama: menyembunyikan kebenaran untuk melindungi perasaan orang lain. Dan lihat hasilnya dulu penderitaan bertahun-tahun.

"Kamu benar, Kinan," aku mengaku. "Tapi kadang, kejujuran butuh kebijaksanaan. Kapan. Bagaimana. Kepada siapa."

"Tapi kapan kita belajar kebijaksanaan itu? Setelah terlambat seperti Mama?"

Aku tidak punya jawaban. Karena Kinan, dengan polosnya, telah menyentuh inti masalah: kami, orang dewasa, sering berpikir sudah bijak. Padahal kami hanya takut.

---

Tiga hari berlalu tanpa kabar dari Laras. Kinan cemas. "Apa Bu Laras nggak mau ketemu kita lagi?"

"Aku tidak tahu, Sayang."

"Kalau gitu, Adek mau minta maaf."

"Tidak perlu minta maaf karena jujur, Kinan."

"Tapi Adek mau jelasin. Pakai gambar."

Dia menggambar: sebuah hati besar. Di dalamnya, ada gambar kecil Maya dan aku. Dan di samping hati itu, gambar Laras dan aku dengan garis penghubung yang berbeda.

"Lihat, Om," jelasnya. "Cinta Mama dan Om itu di dalam hati. Tapi cinta Om dan Bu Laras itu di luar hati. Berbeda. Bukan saingan."

Gambar sederhana. Tapi penuh makna. Mungkin lebih bijak dari semua surat Maya dan semua pembicaraan kami.

Aku foto gambar itu, kirim ke Laras dengan pesan: "Penjelasan Kinan."

Lima menit kemudian, balasan: "Boleh aku datang besok?"

---

Pertemuan besoknya penuh ketegangan. Laras membawa Alika. Kami duduk di ruang tamu, anak-anak di kamar (meski mungkin mengintip).

"Aku membaca surat-surat Maya," mulaku. "Dan mereka mengajariku sesuatu: bahwa diam itu berbahaya. Jadi aku tidak akan diam sekarang."

Laras mengangguk, mendengarkan.

"Aku mencintai Maya. Itu tidak akan pernah berubah. Tapi cinta itu seperti foto di album indah, tapi sudah selesai. Sedangkan kamu... kamu adalah halaman kosong yang sedang kita tulis bersama."

"Tapi surat-surat itu... mereka bukti cinta yang sangat dalam."

"Dan cinta yang dalam itu yang membuatku siap untuk cinta baru. Karena Maya mengajariku bagaimana mencintai dengan sepenuh hati. Dan aku ingin mencintaimu dengan pelajaran itu tapi dengan cara yang berbeda. Bukan sebagai pengganti. Tapi sebagai lanjutan."

Laras diam lama. "Aku takut, Raka. Takut akan selalu dibandingkan. Takut kamu memilih kenangan daripada kenyataan."

"Maka izinkan aku melengkapi, bukan mengganti." Aku mengambil gambar Kinan. "Seperti ini. Maya di dalam hati. Kamu di sampingnya. Keduanya ada. Keduanya penting."

Dia melihat gambar itu, lalu menatapku. "Kamu yakin bisa?"

"Aku yakin mau mencoba. Karena anak-anakku butuh contoh bahwa cinta bisa tumbuh lagi setelah kehilangan. Bahwa hidup terus berjalan. Bahwa hati bisa diperluas, bukan diganti."

Laras tersenyum kecil. "Kinan memang bijaksana."

"Dia belajar dari ibunya. Yang belajar dari penderitaannya sendiri."

---

Malam itu, setelah Laras pulang dengan janji untuk perlahan-lahan membangun kembali kepercayaan, Bima bertanya: "Om, apakah Mama akan marah kalau tahu kita kasih tahu surat-suratnya ke orang lain?"

"Aku pikir tidak. Karena surat-surat itu adalah suaranya yang terpendam. Dan sekarang, suara itu akhirnya terdengar. Tidak lagi tersembunyi di kotak kayu."

"Apakah dengan begitu, penderitaan Mama jadi ada artinya?"

"Mungkin. Karena mengajari kita untuk tidak mengulang kesalahan yang sama. Untuk jujur. Untuk berani."

Kinan menambahkan: "Dan untuk tetap mencintai, meski takut."

Ya. Itulah pelajaran dari surat-surat yang tidak pernah terkirim: bahwa cinta, meski tidak diungkapkan, tetap ada. Tapi cinta yang diungkapkan meski terlambat, meski tidak sempurna lebih baik.

Kotak kayu itu sekarang tidak terkunci lagi. Surat-suratnya kami simpan dengan rapi, bukan sebagai rahasia yang memalukan, tapi sebagai warisan. Sejarah cinta yang rumit. Bukti bahwa manusia bisa salah, bisa menderita, tapi tetap bertahan.

Dan mungkin, di suatu tempat, Maya akhirnya lega.

Karena suaranya akhirnya terdengar.

Karena cintanya akhirnya diakui.

Karena pelajarannya akhirnya dipelajari.

Surat-surat itu tidak lagi tidak terkirim.

Mereka telah sampai.

Meski terlambat delapan tahun.

Meski pembacanya bukan hanya satu orang, tapi seluruh keluarga yang dia tinggalkan.

Dan dalam sampai itu, ada penutupan.

Dan dalam penutupan itu, ada awal baru.

Seperti hujan yang membersihkan debu.

Seperti bunga yang tumbuh di antara retakan.

Seperti cinta yang, meski pernah tersesat, akhirnya menemukan jalannya pulang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!