Ruoling hidup di istana seperti di neraka setelah ibunya di hukum mati karna katanya 'sudah menuangkan racun di makanan utama saat perayaan ulang tahun Kaisar' hingga banyak yang kehilangan nyawa.
Semua penderitaannya itu di mulai saat dirinya di cap sebagai "anak pembunuh", lalu di fitnah, di jauhi sampai di perlakukan tidak selayaknya tuan putri. Parahnya anak-anak itu tak ragu untuk membayar pelayan yang bekerja dengannya untuk membuatnya berada di posisi yang jahat.
Tapi Ruoling remaja diam saja, tapi beranjak dewasa Ruoling sadar mereka tidak pantas memperlakukannya seperti itu. Namun saat kebenaran tentang ibunya terungkap dalam suatu kebetulan yang tak di sengaja membuat Ruoling rela mempertaruhkan nyawa, masa depan dan namanya semakin buruk untuk membongkar pelaku yang tak pernah di sangkanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tak sangaja bertemu
Langit sore di atas taman istana dipenuhi cahaya keemasan. Pepohonan willow menundukkan dahan panjangnya seolah ikut menjaga rahasia setiap orang yang melangkah di sana.
Udara lembut membawa aroma bunga plum yang mulai mekar, namun keindahan itu sama sekali tidak berhasil menenangkan hati Ruoling karna memikirkan masalah yang tiada henti menimpanya.
Namun nasib seolah tidak pernah memihak kepadanya. Tak berapa lama memasuki taman, langkahnya langsung terhenti. Di sana, di dekat kolam batu yang memantulkan cahaya matahari, berdiri Ruoyi bersama tiga temannya, Feixue, Lianhua dan Haoran, yang selalu mengikutinya seperti bayangan.
Adiknya mengenakan jubah tipis berwarna biru pucat dengan bordiran awan perak, rambutnya disanggul rapi dan dihiasi ornamen giok kecil yang berkilau. Ia terlihat begitu anggun, lembut, dan polos, gambaran putri yang sempurna. Sangat berbeda dengan dirinya—gadis yang dihindari semua orang.
Ruoling menggeleng, membuang pemikiran buruknya tentang san adik bertepatan dengan Ruoyi menoleh dan pandangannya mereka langsung bertemu.
Tatapan ke teman-temannya yang semula lembut itu berubah menjadi dingin, tajam seperti memiliki kebencian yang telah mengakar.
“Lihat,” ucap adiknya sengaja dikeraskan agar terdengar jelas, “anak pembunuh itu muncul lagi.”
Ruoling diam. Kata-kata semacam itu sudah menjadi menu harian baginya. Namun ketika yang mengucapkannya adalah Ruoyi, seseorang yang dulunya tidur satu ranjang dengannya ketika badai malam membuat adiknya itu ketakutan, seseorang yang pernah memeluknya sambil tersenyum polos, kata itu terasa seperti pisau yang ditancapkan dalam-dalam.
“Aku benar-benar tidak mengerti,” kata salah satu gadis, Feixue, itu sambil menutup mulutnya dengan kipas, “bagaimana pihak istana masih mengizinkannya berkeliaran? Bukankah seharusnya anak seperti itu disembunyikan… atau setidaknya diawasi ketat?”
"Aku juga punya pemikiran yang sama, tapi ya sudah, biarkan saja. Tapi aku yakin cepat atau lambat Permaisuri akan bosan memaafkannya."
Ruoling mengepalkan jarinya hingga buku-bukunya memutih. Dia bukan orang yang sabar. Dia tidak pernah sabar ketika ada yang berani menghinanya, tapi hal itu terkecuali pada adiknya, Ruoyi. Ia menahan emosinya karna tidak ingin memperpanjang masalah jadi yang bisa di lakukannya hanya berdiri di sana tanpa mengatakan apa-apa.
"Bicara tentang hukuman..." Feixue menyunggingkan senyum licik tanpa mengalihkan pandangan dari Ruoling. "Sepertinya kejadian kemarin Permaisuri tidak benar-benar menghukumnya. Aneh, tidak seperti biasanya."
"Sudah aku katakan biarkan saja!" Ruoyi mengalihkan pandangan pada Feixue dengan tidak suka karna sore hari ini suasana hatinya sedang baik yang tidak ingin di hancurkannya hanya karna Ruoling lagi. "Orang seperti dia akan selalu memancing masalah jadi jangan membicarakannya lagi. Ayo kita pergi."
Tidak ada yang berani membantah Ruoyi bahkan Feixue sekalipun yang terkenal akan keberaniannya. Begitu punggung mereka menghilang di balik lengkungan gerbang taman, Ruoling baru menghela napas panjang.
Kata-kata itu menusuk dari Ruoyi seperti racun dingin yang menyebar perlahan. Kebencian yang di rasakan adiknya sama dengan yang lainnya yaitu berawal dari racun yang merenggut nyawa ibu dan sebagian besar keluarganya.
Hal itu membuat Ruoyi trauma yang sering muncul di saat tidak terduga. Sering kali trauma itu kambuh tanpa sebab, tapi banyak orang yang menuduhnya sebagai dalangnya.
Pelan-pelan ia duduk di bangku batu di bawah pohon plum. Rambut panjangnya yang belum sepenuhnya rapi terjatuh melewati bahu, menutupi sebagian wajahnya. Ia menunduk, menatap bayangannya sendiri di permukaan kolam. Sorot matanya tampak kosong, lelah dan penuh kehampaan.
Tapi kemudian perlahan berubah menjadi sedih. Ia mengangkat kepalanya dan memandang langit, mencoba menahan perih yang menusuk dada.
Ruoling berusaha keras agar tidak menangis di tempat umum ini lalu bergumam, “sampai kapan aku harus menanggung semua in? Apakah aku benar-benar tidak boleh untuk merasakan bahagia kebahagiaan lagi?"