Freen Sarocha adalah seorang penipu ulung yang hidup dari rasa takut orang lain. Berbekal minyak melati, bubuk kunyit, dan trik kabel listrik, ia sukses membangun reputasi sebagai "Paranormal Sakti" demi menguras dompet para orang kaya yang percaya takhayul. Baginya, hantu itu tidak nyata—mereka hanyalah peluang bisnis.
Namun, keberuntungan Freen berakhir saat ia menginjakkan kaki di rumah tua milik sahabatnya, Nam.
Di sana, ia bertemu dengan sesuatu yang tidak bisa ia tipu dengan trik pencahayaan. Sosok arwah bernama Chanya tidak hanya mengusir Freen, tapi juga memberikan hukuman paling kejam bagi seorang penipu: Membuka Mata Batinnya secara paksa.
Kini, dunia Freen berubah menjadi mimpi buruk. Ia melihat sosok-sosok mengerikan di setiap sudut jalan, di punggung orang asing, dan di bawah lampu merah. Hanya ada satu cara agar ia bisa kembali menjadi "normal": Freen harus berhenti berpura-pura dan mulai menjadi paranormal sungguhan.
Terjebak dalam konspirasi pembunuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princss Halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cermin Pemanggil Jiwa'
Freen segera merasakan dingin yang ekstrem menyebar dari Cermin itu ke seluruh tubuhnya, bahkan melalui ujung jari-jarinya. Permukaan cermin yang tertutup lumut dan air laut itu tidak memantulkan bayangan, tetapi Freen bisa merasakan bahwa energi di dalamnya sangat aktif dan berbahaya—seolah objek itu benar-benar mengancam.
"Kain, Nam! Cepat! Kain tebal!" perintah Freen mendesak, suaranya tajam. "Jangan biarkan cermin ini memantulkan apa pun!"
Freen tahu bahwa Cermin itu, sebagai portal atau penyimpan jiwa, harus segera ditutup. Energi bebasnya sangat tidak stabil.
Nam, yang selalu sigap, langsung membuka ranselnya dan mengeluarkan handuk kecil yang tebal dan berwarna gelap. Ia segera menyerahkannya kepada Freen.
Freen tanpa ragu membungkus Cermin Kuno itu dengan handuk tersebut, menutup seluruh permukaannya rapat-rapat. Begitu Cermin itu tertutup, dingin yang menusuk dari objek itu seketika mereda, dan aura mengancam yang dirasakan Freen menjadi teredam.
"Paman Suthep, segera putar balik!" kata Freen. "Kita harus kembali ke daratan secepatnya. Jangan berhenti sampai kita di pelabuhan."
Paman Suthep, yang menyaksikan seluruh insiden pemancingan spiritual itu dengan wajah pucat dan ketakutan, tidak membantah. Dia segera menyalakan mesin kapal dan memutar haluan, meninggalkan perairan Pulau Keramat secepat yang ia bisa.
Nam menatap Freen, yang kini memeluk erat Cermin yang terbungkus itu, dengan Mustika Merah Delima diletakkan di atas bungkusan kain tersebut.
"Apa yang akan kita lakukan dengan cermin ini, Freen? Kita tidak bisa menyimpannya di rumah," bisik Nam.
Freen menggeleng. "Aku tahu. Cermin ini terlalu kuat. Ia pasti perlu dikembalikan ke kuil suci di daratan, mungkin ke Kuil Agung Chiang Mai yang baru saja kita bantu restorasi, atau kuil lain yang memiliki kekuatan proteksi besar. Tapi kita tidak bisa terburu-buru. Kita harus mencari tahu dari mana asalnya, dan apa ancaman yang dibawa oleh Cermin ini."
"Misi kita belum selesai, Nam. Kita berhasil mengambil Cermin itu, tapi sekarang kita harus mencari tahu kenapa Mae Nakha menganggap Cermin ini 'Terancam' dan apa yang harus dilakukan untuk menetralkannya," ujar Freen.
Mata Freen kini fokus pada Cermin yang terbungkus di pangkuannya. Di bawah pengaruh Mustika Merah Delima, ia bisa merasakan energi Cermin itu mulai tenang. Freen tahu bahwa Cermin Kuno itu adalah objek paling kuat dan paling berbahaya yang pernah ia tangani sejauh ini.
Perjalanan panjang kembali ke pelabuhan pun digunakan Freen untuk memikirkan langkah selanjutnya. Mereka kini memiliki artefak kuno yang memerlukan penanganan spiritual yang sangat hati-hati, dan mereka harus segera merencanakan bagaimana cara memindahkan Cermin itu dengan aman.
Kapal Paman Suthep melaju cepat membelah ombak, meninggalkan perairan Pulau Keramat yang dingin. Freen terus memeluk Cermin Kuno yang terbungkus rapat di pangkuannya. Di bawah lindungan kain tebal, Cermin itu terasa seperti benda mati, tetapi Freen tahu energi mengerikan di dalamnya hanya tertidur.
"Nam, kita tidak bisa kembali ke Nonthaburi membawa Cermin ini langsung," ujar Freen, suaranya pelan. "Jika Cermin ini benar-benar menyimpan jiwa atau berfungsi sebagai portal, membawanya ke rumah kita akan sangat berisiko. Kita butuh tempat persembunyian yang aman, yang sudah disucikan."
Nam mengangguk setuju. "Kita tidak punya Kuil Agung di sini. Tapi di kota ini pasti ada Kuil Buddha besar, kan? Kita bisa menyewa kamar di sana, atau setidaknya tempat yang mereka izinkan untuk menaruh barang suci."
"Lebih baik kita menyewa kamar hotel yang terpisah dan terjamin keamanannya dulu," putus Freen. "Kita akan bersikap seperti turis biasa. Di hotel, kita bisa melakukan riset mendalam. Nam, kau cari tahu semua legenda tentang 'Cermin Penyimpan Jiwa' atau 'Cermin Laut' di Thailand Selatan. Apa fungsi sebenarnya, dan bagaimana cara menetralkan ancamannya."
Setelah mencapai pelabuhan, Freen dan Nam segera berterima kasih kepada Paman Suthep, memberinya bonus yang sangat besar agar ia mau tutup mulut tentang 'memancing artefak kuno'. Paman Suthep, yang masih pucat karena ketakutan, dengan senang hati menerima uang itu dan berjanji tidak akan pernah kembali ke Pulau Keramat.
****
Freen dan Nam kemudian menyewa taksi menuju hotel bintang empat yang besar di pusat kota. Keamanan dan anonimitas adalah prioritas mereka.
Mereka menyewa kamar dengan dua tempat tidur. Begitu masuk, Freen langsung meletakkan Cermin yang terbungkus itu di dalam koper besar dan menguncinya. Ia meletakkan Mustika Merah Delima di atas koper tersebut, menciptakan segel proteksi ganda.
"Jangan buka koper itu sampai kita tahu pasti apa yang ada di dalamnya, Nam," perintah Freen.
Freen duduk di tepi tempat tidur, kelelahan fisik dan mental terasa menusuk. Nam segera menyalakan laptop dan mulai bekerja.
"Baik, Freen. Aku akan mencari hubungannya dengan legenda lokal," kata Nam, jemarinya lincah di atas keyboard.
Beberapa jam berlalu. Kamar hotel itu diterangi oleh cahaya laptop Nam. Freen hanya beristirahat sambil mengawasi koper.
Tiba-tiba, Nam berseru. "Freen, aku menemukannya! Ini bukan sekadar cermin penyimpanan, ini adalah 'Cermin Pemanggil Jiwa'!"
Nam memutar laptop-nya.
"Legenda kuno dari Kerajaan Sriwijaya menyebutkan artefak yang ditemukan di reruntuhan kuil tenggelam. Cermin ini bisa memanggil jiwa-jiwa yang telah lama terkubur di lautan, baik itu roh kapal karam,
maupun roh jahat yang sengaja dibuang ke laut."
"Dan mengapa Cermin itu 'Terancam'?" tanya Freen, mendekat.
"Karena ia tidak hanya memanggil jiwa, tetapi juga menarik orang yang melihat pantulannya ke alam roh! Itu sebabnya Kapten Wit dan kapalnya hilang. Mereka melihat sesuatu di Cermin itu yang membuat mereka tergila-gila atau ditarik paksa!" jelas Nam.
"Jika Cermin ini dibawa ke tempat umum dan dibuka, siapa pun yang melihatnya bisa ditarik jiwanya."
Freen menatap koper dengan tatapan ngeri.
"Jadi, kita membawa portal pemanggil jiwa berskala besar di dalam koper kita."
"Tugas kita sekarang bukan hanya mengembalikan, Freen. Tapi menghancurkan Cermin itu, atau menonaktifkannya selamanya," kata Nam.
"Legenda bilang, satu-satunya cara untuk menonaktifkan Cermin Pemanggil Jiwa adalah dengan membawanya ke air terjun suci yang terletak di hulu sungai terdekat, dan memandikannya di bawah air yang mengalir deras, lalu menenggelamkannya ke dasar mata air suci itu."
Freen memejamkan mata, memikirkan rencana baru. Air terjun suci. Itu berarti perjalanan baru ke pedalaman, dan ritual spiritual yang mendalam.
"Nam, cari air terjun suci yang dimaksud. Kita akan berangkat subuh. Kita harus menonaktifkan Cermin ini sebelum energi 'Terancam'-nya meledak di kota ini."
Freen duduk terdiam sejenak, mencerna informasi yang baru saja disampaikan Nam. Matanya tertuju pada koper terkunci yang berisi Cermin Kuno.
"Sriwijaya," gumam Freen, nama itu terdengar asing di telinganya. "Nama yang sangat asing di telingaku. Itu kerajaan yang sangat tua, Nam, jauh sebelum kerajaan-kerajaan di Thailand modern."
"Ya, Freen," jawab Nam, menggeser peta digital di tabletnya. "Sriwijaya adalah kerajaan maritim besar yang berpusat di sekitar Sumatra, tetapi pengaruhnya sangat luas, mencakup semenanjung Melayu dan wilayah Thailand Selatan. Artefak seperti ini bisa saja terbawa ke sini ratusan, bahkan ribuan, tahun yang lalu."
"Itu menjelaskan mengapa Cermin ini memiliki energi yang begitu kuno dan berbeda dari roh-roh yang selama ini kita temui," kata Freen. "Ini bukan hantu lokal. Ini adalah artefak dari peradaban yang hilang, menyimpan jiwa-jiwa dari laut yang sangat jauh."
Freen mengambil napas dalam-dalam. "Baik. Kita tidak bisa berlama-lama memikirkan sejarahnya. Prioritas kita adalah air terjun suci. Nam, apakah kau menemukan lokasi yang tepat untuk air terjun itu?"
Nam mengangguk. "Aku menemukan satu lokasi yang cocok dengan deskripsi 'air terjun suci' dalam legenda lokal yang disebut 'Nam Tok Sathu'—Air Terjun Pembersihan. Letaknya sekitar tiga jam perjalanan ke pedalaman, di kaki gunung yang dianggap sakral oleh penduduk asli. Di sana terdapat mata air yang dipercaya memiliki kemampuan untuk memurnikan energi."
"Tiga jam. Kita akan menyewa mobil dan berangkat sebelum fajar menyingsing," putus Freen, bangkit berdiri. "Kita harus membawa Cermin ini ke sana tanpa ada yang melihatnya. Kita akan menjadi turis yang ingin melakukan ritual pagi."
Freen mulai mengemas ranselnya. Ia mengambil beberapa kain bersih lagi untuk membungkus Cermin, memastikan tidak ada pantulan yang bocor. Ia juga menyiapkan garam kasar dan air suci yang tersisa.
"Kita hanya membawa yang esensial, Nam. Kita tidak akan bertarung fisik, tapi kita akan melakukan ritual spiritual yang intens. Kau fokus pada navigasi dan perlindungan eksternal. Aku akan fokus pada Cermin ini," instruksi Freen.
Saat malam semakin larut, Freen duduk di samping koper. Ia melepaskan Mustika Merah Delima dan memegangnya erat. Ia mengirimkan pesan keheningan kepada Mae Nakha, memberi tahu bahwa ia sudah mendapatkan Cermin itu dan sedang dalam perjalanan untuk menonaktifkannya.
Freen Sarocha, sang 'penyelamat dimensi', siap untuk misi pemurnian artefak Kerajaan Sriwijaya di Air Terjun Suci, jauh dari hiruk pikuk pantai. Petualangan mereka berlanjut, semakin dalam ke dalam sejarah spiritual Thailand.