NovelToon NovelToon
Om Benny, I Love You

Om Benny, I Love You

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Pernikahan rahasia / CEO / Romantis / Cinta Terlarang / Nikah Kontrak
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: chiisan kasih

Pernikahan rahasia. Ciuman terlarang. CEO dingin yang jatuh pada gadis tomboy.
Benny, seorang CEO yang anti wanita dan memilih hidup sendiri, terpaksa menikah dengan Cessa—putri sahabatnya yang berusia delapan belas tahun. Pernikahan mereka dimulai sebagai kontrak penuh aturan: tanpa cinta, tanpa sentuhan, tanpa perasaan.
Namun satu ciuman menghancurkan segalanya.
Tinggal serumah membuat batasan runtuh, kecemburuan tumbuh, dan hasrat berubah menjadi dosa. Saat Cessa mencintai tanpa ragu, Benny justru berperang dengan prinsip, moral, dan ketakutan terbesarnya: jatuh cinta pada wanita yang seharusnya tak boleh ia miliki.
Ini bukan kisah cinta yang aman.
Ini kisah tentang memilih perasaan… atau menghancurkan hidup sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiisan kasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

“Saat Aku Kehilanganmu”

Rumah itu terasa asing.

Benny berdiri di ruang tengah, menatap pintu kamar tamu yang tertutup rapat. Sejak semalam, Cessa tidak keluar. Tidak ada suara langkah kaki. Tidak ada suara berisik. Tidak ada komentar usil yang biasanya membuatnya kesal—dan entah sejak kapan—dirindukan.

Ia menghela napas panjang.

Dia cuma menjaga jarak, katanya pada diri sendiri. Itu yang aku mau.

Namun kalimat itu tidak terasa meyakinkan.

Benny melirik jam dinding. Pukul tujuh pagi. Biasanya pada jam segini, Cessa sudah mondar-mandir di dapur, mengeluh soal kopi yang terlalu pahit atau sarapan yang terlalu sederhana. Pagi ini, dapur sunyi. Meja makan kosong.

Ia melangkah ke dapur. Membuka kulkas. Tidak ada bekal. Tidak ada catatan kecil. Tidak ada apa pun yang menandakan Cessa masih ada di rumah itu—selain pintu kamar yang terkunci.

“Cessa,” panggilnya pelan.

Tidak ada jawaban.

Benny mengernyit. Ia mengetuk pintu. Sekali. Dua kali.

“Cessa, kamu ke kampus?”

Sunyi.

Ia menghela napas, berbalik, dan bersiap berangkat kerja. Biarkan saja, pikirnya. Dia sedang emosi. Nanti juga normal.

Namun sepanjang perjalanan ke kantor, pikiran Benny tidak pernah benar-benar sampai.

Lampu merah terasa lebih lama. Klakson terdengar lebih berisik. Ponselnya berkali-kali ia cek—tidak ada pesan masuk. Biasanya, Cessa selalu mengabari. Hari ini, tidak.

Di kantor, Benny memaksakan diri bekerja. Rapat demi rapat ia lewati dengan kepala berat. Kata-kata klien terdengar seperti dengung jauh. Tangannya menandatangani berkas tanpa membaca. Sekretarisnya berkali-kali menatap cemas.

“Pak Benny, Bapak baik-baik saja?” tanya sekretaris akhirnya.

“Lanjutkan,” jawab Benny singkat.

Ia berdiri, berjalan ke jendela besar. Dari lantai tinggi itu, kota tampak kecil. Orang-orang berlarian dengan hidup mereka masing-masing. Dan untuk pertama kalinya, Benny merasa tidak mengendalikan apa pun.

Ponselnya bergetar.

Nama yang muncul membuat jantungnya melonjak—lalu jatuh.

Brain.

“Ya?” jawab Benny.

“Kamu tahu Cessa di mana?” tanya Brain tanpa basa-basi.

Benny membeku. “Bukannya di kampus?”

“Dia nggak masuk,” jawab Brain. “Tasya juga nggak bisa hubungi dia.”

Dada Benny menegang. “Dia nggak di rumah?”

“Tidak,” suara Brain terdengar tegang. “Kamu terakhir sama dia, kan?”

Benny terdiam. Ingatannya melayang ke pintu kamar yang tertutup, ke kalimat terakhir Cessa: aku jaga jarak.

“Ben?” desak Brain.

“Aku… aku cek,” jawab Benny cepat. “Gua kabarin.”

Telepon terputus.

Benny meraih jaketnya dan bergegas keluar. Tanpa menjelaskan apa pun pada siapa pun. Di mobil, pikirannya berputar liar. Cessa bukan gadis ceroboh. Ia keras kepala, tapi bertanggung jawab. Jika ia tidak masuk kampus dan tidak pulang… berarti ada sesuatu yang salah.

Atau—sesuatu yang ia lakukan.

Ia menghubungi Cessa. Tidak diangkat. Sekali. Dua kali. Pesan dikirim. Centang dua abu-abu. Tidak dibalas.

Di mana kamu?

Tolong balas.

Mobil Benny melaju lebih cepat dari seharusnya.

Cessa duduk di bangku taman kecil dekat kampus lama tempat ibunya dulu sering mengajaknya. Tas ransel diletakkan di samping. Jaket tipis melingkupi tubuhnya. Ia menatap danau kecil di depannya, mencoba menenangkan napas.

Ponselnya bergetar.

Nama Ben muncul.

Cessa mematikan layar.

Ia lelah.

Lelah menunggu.

Lelah berharap.

Lelah merasa tidak dipilih.

Ia menghela napas, mengingat pagi tadi. Ia keluar rumah tanpa suara. Tanpa pamit. Tanpa drama. Untuk pertama kalinya, ia memilih dirinya sendiri. Bukan karena ingin membuat Benny panik—ia tidak yakin Benny akan panik—melainkan karena ia butuh ruang.

Kalau aku terus ada, dia akan terus nyaman, pikirnya.

Dan itu menyakitkan.

Langkah kaki cepat terdengar mendekat.

“Cessa!”

Suara itu membuat bahunya menegang.

Benny berdiri beberapa meter di depannya. Napasnya memburu. Kemejanya kusut. Wajahnya jelas cemas—terlalu cemas untuk disangkal.

“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Benny, suaranya lebih tinggi dari biasanya.

Cessa bangkit perlahan. “Aku butuh waktu.”

“Kamu bikin semua orang panik,” lanjut Benny. “Ayahmu—”

“Aku sudah dewasa,” potong Cessa tenang. “Aku bisa jaga diri.”

“Ini bukan soal itu.”

“Terus soal apa?” Cessa menantang. “Soal kamu?”

Benny terdiam.

Itu jawaban yang cukup.

“Kamu nggak boleh menghilang begitu saja,” kata Benny akhirnya, lebih pelan.

“Kenapa?” tanya Cessa. “Karena aku istrimu?”

Benny membuka mulut—lalu menutupnya lagi.

Cessa tersenyum pahit. “Atau karena kamu takut?”

Benny mengepalkan tangan. “Aku takut kamu kenapa-kenapa.”

“Bohong,” balas Cessa lembut. “Kamu takut kehilangan kendali.”

Kalimat itu menohok tepat sasaran.

“Aku jaga jarak seperti yang kamu mau,” lanjut Cessa. “Aku berhenti mengejar. Tapi kenapa sekarang kamu datang?”

Benny melangkah mendekat. “Karena aku—”

Ia berhenti. Menarik napas. Kata-kata itu sulit. Terlalu jujur.

“Karena rumah terasa kosong,” ucapnya akhirnya. “Dan aku benci perasaan itu.”

Cessa menatapnya lama. Matanya berkaca-kaca, tapi suaranya tetap tenang. “Kosong itu yang aku rasain setiap hari di rumah kamu.”

Benny menunduk.

“Kamu protektif,” lanjut Cessa, “tapi kamu nggak pernah bilang aku penting.”

Benny menelan ludah. “Aku nggak pandai bilang.”

“Aku nggak minta janji besar,” kata Cessa lirih. “Aku cuma mau kamu berhenti pura-pura.”

Keheningan menyelimuti mereka. Angin sore berembus pelan, menggerakkan dedaunan. Waktu terasa melambat.

“Aku nggak minta kamu cinta aku sekarang,” tambah Cessa. “Tapi aku nggak mau hidup sebagai bayangan.”

Benny mengangkat kepala. Tatapan mereka bertemu.

“Kalau kamu terus seperti ini,” kata Cessa, suaranya bergetar, “aku akan benar-benar pergi.”

Kata pergi itu menghantam Benny lebih keras dari apa pun.

“Ke mana?” tanyanya cepat.

Cessa menggeleng. “Aku belum tahu. Tapi aku tahu satu hal—aku nggak bisa tinggal di tempat yang bikin aku merasa tidak dipilih.”

Benny melangkah satu langkah lebih dekat. “Jangan.”

“Kenapa?” desak Cessa.

Karena aku membutuhkanmu.

Karena aku takut kehilanganmu.

Karena aku mencintaimu.

Semua kalimat itu berputar di kepala Benny—namun tak satu pun keluar.

Yang keluar hanya satu kalimat rapuh.

“Beri aku waktu.”

Cessa tersenyum kecil. Sedih. “Aku sudah memberi.”

Ia mengambil tasnya. Melangkah melewati Benny. Satu langkah. Dua langkah.

Benny berbalik cepat. “Cessa.”

Ia berhenti, tanpa menoleh.

“Aku nggak pernah normal dengan siapa pun,” ucap Benny pelan. “Dan entah sejak kapan… aku normal denganmu.”

Cessa menutup mata sesaat.

“Kalau itu benar,” katanya lirih, “buktikan.”

Ia pergi.

Meninggalkan Benny berdiri sendiri di taman yang mendadak terasa terlalu luas.

Malam itu, Benny pulang ke rumah yang gelap. Tidak ada lampu menyala. Tidak ada suara. Ia berdiri lama di ruang tengah, menyadari satu kebenaran pahit:

Ia tidak kehilangan Cessa hari ini.

Ia kehilangan Cessa sejak lama—saat ia memilih aman daripada jujur.

Saat Cessa berhenti menunggu, Benny baru mengerti—

cinta yang tak diucapkan adalah penolakan paling kejam.

1
Dwi Winarni Wina
yakin tak pernah normal dekat sm cessa benny😀
Dwi Winarni Wina
pergi yg jauh cessa biar beni kehilanganmu..
Dwi Winarni Wina
aku aja benny suka sama cessa tp gengsinya tinggi mau mengakuimya😀
Dwi Winarni Wina
Si Benny sebenarnya ada perasaan tapi ge ngsinya terlalu tinggi😀
Dwi Winarni Wina
biarkan aja perasaanmu tumbuh Benny...
Dwi Winarni Wina
casse keras kepala banget kekeh pada pilihannya...
Dwi Winarni Wina
cessa nekat ingin tetep menikah sm Benny sahabat baik ayahnya...
Dwi Winarni Wina
berarti pria normal ben, terima aja lamaran cessa😀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!