Di tahun 3000 terjadi kekacaun dunia. Banyak orang berpendapat itu adalah akhir zaman, bencana alam yang mengguncang dunia, Gempa bumi, lonsor, hujan yang disertai badai..
Saat mata mereka terbuka, dunia sudah berubah. Banyak orang yang tewas akibat tertimpa bangunan yang roboh dan juga tertimbun akibat tanah longsor.
Tapi, ada yang berbeda dengan Orang yang terkena air hujan. Mereka tiba-tiba menjadi linglung, bergerak dengan lambat, meraung saat mencium bauh darah.
Yah, itu Virus Zombie. Semua orang harus bertahan hidup dengan saling membunuh. Kekuatan yang muncul sedikit membantu mereka untuk melawan ribuan Zombie.
Lima tahun berlalu, Dunia benar-benar hancur.. Tidak ada lagi harapan untuk hidup. Sumber makanan sudah habis, semua tanaman juga bermutasi menjadi tanaman yang mengerikan.
Aruna Zabire, memasuki hutan yang dipenuhi hewan dan tumbuhan mutasi. Dia sudah bosan untuk bertahan, tidak ada lagi keluarga dan kerabat. Mereka semua tumbang satu persatu ditahun ketiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Memulai Perjalanan
Waktu terus berjalan, pagi hari kembali menyapa. Aruna sudah bangun sejak pukul 4 pagi, saat ini dia sedang membuat roti isi kacang dalam jumlah besar untuk dibagikan kesemua warga.
Ada satu hal yang terjadi di dalam ruangnya, tiba-tiba barang yang berwarna Abu sedikit menghilang, sepanjang malam Aruna memikirkan pemicunya! Lalu dia teringat saat memberi uang lebih kepada penjual ubi.
Makanya hari ini, dia ingin mencoba untuk membuktikannya. Dengan memberikan roti untuk sarapan semua warga sebelum mereka memulai perjalanan.
"Akhirnya selesai juga! Aku harus segera keruangku untuk mandi sebelum mereka bangun." Dia berjalan ke kamar mandi.
Hanya butuh waktu beberapa menit, Aruna sudah keluar dari ruangnya. Di dalam kamar mandi dia membuang sedikit air, agar mereka yang masuk selanjutnya tidak curiga.
Kembali ke dapur, dia sudah melihat semua orang sudah berkumpul sambil menatapnya seakan meminta penjelasan. "Aku yang membuatnya untuk kita sarapan!"
Sehabis cuci muka dan sikat gigi, mereka kembali duduk di ruang makan. Kakek Ji segera bertanya. "Nak, kenapa membuat begitu banyak?"
"Kakek mari kita sarapan, nanti aku jelaskan" jawab Aruna setelah duduk di samping Bibi Ying. "Nenek ayo bagikan, masing-masing dapat dua roti!"
"Terima kasih Kak Aruna!" ucap para cucu dengan serempak. Tapi tak ada yang berani untuk memulainya terlebih dahulu.
Ini yang kedua kalinya mereka makan enak semenjak Aruna tinggal bersama mereka, baru setelah melihat Kekek Ji memasukkan sepotong roti dimulutnya, barulah ada keberanian dalam diri mereka.
Aruna juga hanya diam, dia tau apa yang mereka pikirkan. Mereka hanya takut, setelah makan enak, mereka ingin lagi dan lagi.
Mereka semua hanya makan satu, satunya lagi bisa dimakan nanti. Aruna tak masalah, itu terserah mereka, asalkan jangan disimpan lebih dari dua hari. Cuaca yang panas yang berlebihan, membuat makanan cepat basi atau berjamur.
Saat makan tadi, Aruna melihat Kakek Ji makan dengan gelisah. Saat ingin mengucapkan sesuatu terdengar suara panggilan dari luar. Sebelum beranjak, Kakek Ji membersihkan mulutnya.
Kakek Ji keluar bersama Anak sulungnya Paman Ji Min. Ternyata para warga yang sudah berkumpul, mereka memang sudah membuat perjanjian untuk berkumpul di rumah Kepala Desa dan akan berangkat jam 6 pagi, dan saat ini masih ada waktu sekitar 30 menit untuk bersiap.
"Oh kalian sudah datang, bagaimana? Apa semuanya sudah berkumpul?" tanyanya sambil melihat sekitar.
"Ya, masih ada beberapa yang belum datang!"
"Mungkin mereka masih bersiap!"
"Tidak masalah,, apalagi diantara mereka ada anak yang masih balita,"
Kepala Desa hanya bisa mengangguk, karena keluarganya juga pasti masih bersiap. Jadi, meminta mereka untuk duduk, karena dirinya juga masih ingin masuk ke dalam rumah. Tapi saat dia berbalik, matanya melotot, badannya bergetar, wajahnya memerah menahan amarah.
Kepala Desa melihat dua cucu dan menantunya jalan mendekat sambil membawa sebuah wadah yang berisi roti kukus.
"Apa yang mereka lakukan?" geramnya. Dia bersusah payah untuk menyembunyikannya, tapi kenapa mereka seakan sengaja memperlihatkan di depan semua warga.
"Kalian ---,, apa yang kalian lakukan?" tanyanya dengan sedikit membentak. Kenapa mereka malah membuat masalah? Apa yang harus dia katakan kepada warganya.?
"Ayah!"
"Kakek!"
Menantu dan Cucunya hanya bisa menunduk, mereka ingin menjelaskan sesuatu, tapi mereka keburu takut melihat wajak Kakek yang menggelap.
"Kakek Ji ada apa?" tanya Aruna yang baru tiba tapi melihat keadaan yang sangat canggung.
"Nak apa maksudnya ini? Mereka semua sudah melihatnya!" ucapnya dengan suara pelan.
Aruna segera paham, dia tersenyum lalu berkata. "Kakek, aku yang meminta mereka membawanya untuk dibagikan!"
Kakek Ji terkejut, "Nak, kamu--" Suaranya tercekat, dia tak bisa melanjutkan ucapannya.
Warga desa sejak tadi hanya diam yang melihat Kapala Desa tiba-tiba marah kepada menantu dan cucunya, mereka juga bingung apa yang terjadi. Tapi saat melihat isi dalam wadah itu semua terbelalak, mereka segera bertanya-tanya dalam hati, dari mana asalnya roti itu? Siapa yang membuatnya? Untuk siapa roti itu.?
Dan makin terkejut lah mereka saat melihat seorang gadis cantik yang keluar dari rumah Kepala Desa, apalagi dia memanggilnya dengan sebutan 'Kakek'.
"Kakek Ji, aku tau apa yang kamu pikirkan. Makanya aku membuat banyak roti untuk dibagikan!"
Kakek Ji menunduk, mengusap sudut matanya yang berair. Ternyata Aruna yang baru mengenalnya sangat memahami isi hatinya. Bagaimana bisa dia makan enak, sementara warganya di luar sana sedang kesusahan.
Aruna meminta izin kepada kepada Kakek Ji untuk menyapa para warga. Dia hanya bisa menghela nafas melihat kondisi mereka yang sangat memperihatinkan.
"Selamat pagi semuanya, perkenalkan aku Aruna, gadis yang ditemukan tidak sadarkan diri beberapa hari yang lalu!"
Mendengar itu, semua langsung heboh. Kabar jika ada seorang gadis yang tidak sadarkan diri di gerbang Desa memang sudah menjadi topik perbincangan.
Tapi, mereka tidak tahu bagaimana wajah gadis itu, karena orang yang menemukannya langsung pergi setelah membawanya ke rumah Kepala Desa.
Dan sekarang mereka sudah melihatnya dengan jelas. Cantik, sangat cantik. Putih mulus dan sangat menawan.
Aruna yang ditatap banyak orang dengan mata terkagum-kagum merasa sedikit malu. Wajahnya sedikit panas, rasanya sungguh berlebihan.
"Waaahhh,,, Kakak cantik sekali!"
"Nak kamu nona dari bangsawan mana?"
"Aruna umur berapa?"
"Aruna bolehkah kami berteman?"
"Nak apakah kamu ikut kami?"
Seketika mereka semua berubah jadi wartawan.
Aruna : "....."
Siapapun, tolong carikan dia lubang semut untuk bersembunyi.
Kemarin, saat dirinya keluar memang tidak ada yang melihatnya, dan kebetulan rumah Kepala Desa berada di urutan pertama setelah memasuki pintu gerbang.
...----------------...
Setelah semua orang berkumpul, Kepala Desa segera mengabsen jangan sampai ada yang tertinggal, mereka harus segera memulai perjalanan. Sambil diabsen, nama yang disebut maju untuk mengambil roti. Dan tak lupa mereka mengucapkan terima kasih dengan tulus.
Melihat warganya bahagia, Kepala Desa merasa sangat senang. Sudah lama sekali senyum di wajah mereka menghilang, dan sekarang kembali berkat Aruna.
Mengenai status Aruna, dia menjadi Cucu Tabib Gu. Ide itu tiba-tiba muncul dipikiran Kepala Desa di malam harinya, Membuat sebuah karangan jika Aruna adalah Cucu dari Adik Tabib Gu yang tinggal di kerajaan tetangga. Dia tidak sadarkan diri karena perjalanan jauh sampai beberapa bulan,
Dan Bagaimana cara mengetahui alamat Tabib Gu? Karena mereka sering berkirim surat. Dan alasan kenapa tidur di rumah Kepala Desa, karena hanya ada satu kamar di rumah Tabib Gu.
Itulah yang harus mereka katakan jika ada yang bertanya. Dan Aruna tentu dengan senang hati menyetujui.
Dengan perasaan tidak rela, mereka berjalan keluar dari pintu gerbang. Tidak ada yang berani untuk menoleh, anak-anak yang belum sepenuhnya mengerti situasi juga hanya diam melihat para orang tua bersedih.
Kakek Ji yang berjalan paling depan. Tidak ada yang melihatnya kembali mengusap air mata. Mereka akhirnya harus ikhlas meninggalkan Desa Suning, dan mencari kehidupan baru di luar sana, entah bisa balik atau tidak itu urusan nanti.
Aruna berada di rombongan bagian belakang atas permintaan Kakek Ji. Karena dia juga sudah tau kalau Aruna pandai bela diri. Kakek Ji memintanya untuk berjaga dan dirinya di bagian depan.
"Aruna, namaku Chen. Salam kenal ya!" ujar seorang gadis, tubuhnya sangat kurus tapi masih sangat energik.
"Aku Rhui" Seorang gadis di sisi kanannya juga tak mau kalah.
"Hmm yaa, salam kenal, mari kita berteman!" balas Aruna dengan sedikit haru. Di masanya dia tidak pernah punya teman, tinggal di panti asuhan tapi dirinya selalu sendiri. Setelah meraih gelarnya pun sama, mereka datang jika hanya butuh.
Pernah sekali Dia bertanya, kenapa mereka tidak ingin berteman dengannya? Dan jawaban yang dia dengar membuatnya tertawa miris.
'Aruna, kamu itu sangat cantik, jika kami berteman denganmu, semua perhatian hanya tertuju padamu.'
'Aruna, wajah cantikmu itu bisa merusak hubungan seseorang.'
'Aruna, banyak pria yang menyukaimu. Tapi mereka malah datang menemuiku, itu membuatku risih.'
Hanya karena itu, Aruna kecil sempat membenci wajahnya. Dia berniat untuk melukainya, tapi dia takut wajahnya malah jadi rusak. Beranjak dewasa,.dia tidak peduli lagi jika tidak ada yang ingin berteman dengannya.
Apa salahnya punya wajah yang cantik? Bilang saja kalian semua iri.
Tapi saat melintas di zaman itu, semua orang malah mengagumi kecantikannya dan mengajaknya untuk berteman. Hal itu yang membuat Aruna percaya diri, kedepannya dia tidak akan pernah menyalahkan wajahnya yang menawan..
"Ya ya,, kamu tidak malu kan berteman dengan orang desa seperti kami?" tanya Chen dengan pelan. Meski suaranya pelan masih banyak yang mendengarnya.
Semua memasang pendengaran mereka menunggu jawaban Aruna. Mereka sadar, hanya dengan melihat dari segi wajah dan pakaiannya Aruna itu Anak kota yang dimanjakan. Yang seperti itu biasanya tidak ingin dekat apalagi berteman dengan orang Desa.
"Tidak, kenapa harus malu? Aku hanya tidak suka berteman dengan orang yang bermuka dua."
Hening .......
Emang ada orang yang punya muka dua? Jika ada, tentu mereka juga tidak ingin berteman dengan orang seperti itu, bukankah itu menakutkan?
"Hehehe kamu tenang saja, di sini tidak ada yang bermuka dua. Kami semua hanya punya muka satu!" jelas Chen dengan polos.
"Ya itu benar!" Rhui ikut membenarkan.
Aruna : "......"
Sebenarnya siapa yang salah? Apakah orang Desa belum mengetahui istilah kiasan seperti itu ?
lanjut thorr💪💪💪