NovelToon NovelToon
Milik Sang Ketos Dingin

Milik Sang Ketos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Dijodohkan Orang Tua / Perjodohan / Cintapertama
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: kasychan_A.S

Bagi Aluna, Arlan adalah musibah berjalan. Ketua OSIS yang kaku, sok suci, dan hobi memberinya hukuman hanya karena masalah sepele.

​Aluna bersumpah tidak akan pernah mau berurusan dengan cowok itu seumur hidupnya. Namun, takdir punya selera humor yang buruk.

​Hanya karena gerendel pintu toilet sekolah yang macet dan sebuah aksi penyelamatan yang salah waktu, Aluna dan Arlan terjebak dalam satu bilik yang sama selama tiga puluh menit. Sialnya, mereka tidak ditemukan oleh teman-temannya, melainkan oleh Bu Lastri guru BK paling kejam seantero sekolah.

​Tuduhan melakukan hal tidak pantas langsung meledak. Penjelasan mereka dianggap bualan. Dan yang lebih gila lagi, kedua orang tua mereka yang ternyata sahabat lama memutuskan bahwa satu-satunya cara menutupi skandal ini adalah dengan pernikahan.

follow IG author:qilla_kasychan
semoga kalian suka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kasychan_A.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13- Konser

"Lagian, mana ada waktu buat mikirin cewek asing," gumam Arlan pelan sambil membetulkan posisi duduknya.

​"Yee, dibilangin juga. Awas aja kalau ternyata jodoh lo itu tipe-tipe macem Aluna, bisa rontok semua sirkuit di otak lo, Lan," Barra masih saja memancing emosi sambil tertawa puas melihat skor di layar TV-nya yang menunjukkan angka kemenangan.

​Arlan mendengus, kali ini benar-benar tidak ingin membalas. Ia membiarkan Barra.Tiga hari berlalu. Tubuh Aluna yang tadinya ringkih seperti kerupuk kena air, akhirnya kembali bugar. Meski wajahnya masih sedikit pucat, setidaknya dia tidak lagi mengigau soal robot raksasa di tengah lapangan.

​Pagi itu, Aluna kembali menginjakkan kaki di koridor sekolah. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menikmati udara sekolah yang jujur saja tetap terasa menyebalkan karena ia tahu di suatu tempat di dalam bangunan ini, ada satu robot yang siap merusak harinya.

Saat bel istirahat berbunyi, Aluna baru saja ingin merebahkan kepalanya di meja untuk sekadar memejamkan mata, namun tiba-tiba mejanya digebrak pelan.

​"ALUNA! Welcome back, My Princess!" seru Sesya antusias, diikuti Belva yang membawa tiga kotak susu cokelat.

​"Berisik, Sya. Gue baru sembuh, jangan bikin telinga gue radang lagi," gumam Aluna malas.

​Sesya tidak memedulikan protes itu. Ia menarik kursi dan duduk tepat di depan Aluna dengan mata berbinar-binar. "Al, pokoknya gue nggak mau tahu. Sore ini, pulang sekolah, kita bertiga harus berangkat!"

​Aluna mengernyit. "Berangkat ke mana? Kondangan?"

​"Konser, Al! Konser indie di lapangan outdoor deket mal pusat. Ada band favorit gue sama Belva mau nonton. Jarang-jarang mereka ke sini!" seru Belva menimpali.

Wajah Aluna langsung berubah datar. Ia menggeleng tegas. "Nggak. Ogah. Lo berdua tahu kan gue paling benci tempat rame? Apalagi konser, desak-desakan, keringetan, berisik. Nggak ya, makasih."

​"Ih Aluna! Ayolah! Ini selebrasi karena lo udah sembuh!" Sesya mulai melancarkan jurus mautnya, menarik-narik lengan seragam Aluna. "Lagipula, lo udah tiga hari nggak keluar rumah. Lo butuh menghirup udara luar, bukan udara kamar yang bau minyak kayu putih doang!"

"Ya kan ga harus konser juga, Sya"

​"Al, pliss... tiketnya udah gue beliin. Masa lo tega biarin tiket ini angus gitu aja? Mahal tau!" Belva memasang wajah memelas yang paling menyedihkan.

​Aluna memijat pelipisnya. Melihat wajah kedua sahabatnya yang sudah seperti anak kucing minta makan, pertahanannya mulai goyah. Ia menghela napas pasrah. "Cuma nonton kan? Nggak pake acara jingkrak-jingkrak atau masuk ke kerumunan paling depan?"

​"Janji! Kita di pinggir aja, yang penting denger musik!" sahut Sesya girang sambil ber-tos ria dengan Belva.

​Sepulang sekolah, dengan perasaan setengah hati, Aluna akhirnya terseret mengikuti kedua sahabatnya. Ia masih mengenakan seragam sekolah yang dibalut jaket oversize, kontras dengan Sesya dan Belva yang sudah sibuk memoles lip tint agar terlihat kece di depan panggung.

Sesampainya di lokasi, suasana sudah sangat ramai. Suara dentuman musik dari sound system besar mulai terasa menggetarkan dada. Aluna merasa tidak nyaman, ia menarik tudung jaketnya rendah-rendah.

​"Gue tunggu di deket stand minuman aja ya," ujar Aluna setengah berteriak di tengah kebisingan.

​"Jangan jauh-jauh, Al!" pesan Belva sebelum akhirnya mereka berdua mulai terhanyut dalam euforia penonton.

​Aluna berdiri menyandar di sebuah pilar, memperhatikan kerumunan orang yang menurutnya sangat aneh karena bisa sangat bahagia di tempat seberisik ini. Namun, saat pandangannya menyapu area penonton yang lebih santai di bagian belakang, matanya mendadak terpaku pada satu sosok.

​Aluna memicingkan matanya, berusaha memastikan di balik sorot lampu panggung yang kelap-kelip.

Aluna menarik tudung jaketnya lebih dalam, berusaha menenggelamkan diri dari kebisingan yang mulai memekakkan telinga. Di depannya, lautan manusia mulai histeris saat lampu panggung meredup dan instrumen musik mulai dimainkan.

​"Rayyan! Rayyan! Rayyan!" teriakan itu menggema di seluruh lapangan.

​Sesya dan Belva sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Mereka berdua lompat-lompat kegirangan sambil mengangkat ponsel tinggi-tinggi untuk merekam momen pembukaan. Aluna yang berdiri di antara mereka hanya bisa menghela napas pasrah, sesekali bahunya tersenggol penonton lain yang berusaha merangsek maju.

'Gue harusnya ada di kamar sekarang, dengerin lagu lewat earphone sambil rebahan,' batin Aluna meratapi nasibnya.

​Bau keringat, debu lapangan yang beterbangan, dan suhu udara yang mendadak naik karena kepadatan orang membuat kepala Aluna mulai berdenyut lagi. Padahal dia baru saja sembuh, tapi sekarang dia malah menjerumuskan diri ke tempat yang paling tidak dia sukai.

​"Al! Seru banget kan?!" teriak Sesya sambil mengguncang bahu Aluna. "Tuh liat! Rayyan ganteng banget aslinya!"

​Aluna hanya memaksakan senyum tipis yang lebih mirip ringisan. Di atas panggung, sosok Rayyan muncul dengan gaya khasnya, disambut jeritan yang hampir membuat gendang telinga Aluna pecah. Bagi orang lain, ini adalah surga. Bagi Aluna, ini adalah ujian kesabaran tingkat tinggi.

​"Sya, Bel, gue ke belakang bentar ya! Mau cari udara segar!" teriak Aluna di telinga Sesya.

​"Hah? Apa? Jangan jauh-jauh, Al! .Nanti lo ilang" balas Sesya tanpa menoleh karena matanya sudah terkunci ke panggung.

​Aluna perlahan mundur, menyelip di antara celah-celah penonton yang semakin padat. Rasanya seperti sedang keluar dari labirin manusia. Begitu sampai di area yang sedikit lebih longgar di dekat barisan stan makanan, ia menyandarkan tubuhnya ke sebuah pagar pembatas dengan napas terengah.

Aluna masih berusaha mengatur napasnya yang terasa pendek. Ia memejamkan mata, membiarkan punggungnya bersandar pada pagar pembatas yang dingin. Di kejauhan, suara Rayyan yang sedang menyanyikan lagu ballad terdengar samar-samar, sedikit menenangkan kepalanya yang berdenyut.

​"Satu lagu lagi... abis itu gue beneran cabut," gumam Aluna pada diri sendiri.

​Tiba-tiba, suara riuh penonton di depan sana berubah menjadi teriakan histeris yang lebih kencang dari sebelumnya. Aluna yang penasaran mencoba mengintip dari balik pilar. Ternyata lagu sudah selesai, dan Rayyan baru saja turun dari panggung. Tapi bukannya masuk ke area backstage utama yang tertutup, penyanyi itu justru berjalan memutar melewati jalur barisan stan makanan jalur yang jauh lebih sepi dan dekat dengan tempat Aluna berdiri dikawal oleh dua orang kru.

​Aluna mematung. Jaraknya hanya tinggal beberapa meter.

​Rayyan berjalan sambil menyeka keringat di lehernya dengan handuk kecil. Langkahnya santai, tapi auranya benar-benar berbeda. Saat ia melewati pagar tempat Aluna bersandar, langkah Rayyan tiba-tiba melambat.

​Penyanyi itu menoleh. Pandangannya tidak sengaja jatuh pada sosok gadis dengan jaket oversize yang wajahnya terlihat sangat cantik, kontras dengan lautan manusia yang memerah karena semangat di depan sana. Aluna yang kaget hanya bisa berdiri kaku, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat bukan karena demam, tapi karena gugup yang luar biasa.

​Rayyan berhenti tepat di depan Aluna. Ia menurunkan handuknya, lalu sebuah senyum tipis yang sangat tulus muncul di wajahnya.

"Hai," sapa Rayyan singkat. Suaranya terdengar ramah, jauh lebih santai dibanding saat ia sedang bernyanyi dengan penuh energi di atas panggung tadi.

​Aluna terdiam sejenak. Alih-alih histeris seperti ribuan orang di depan sana, ia hanya membalas tatapan Rayyan dengan ekspresi yang sangat tenang. Rasa pusing di kepalanya akibat suara musik yang menggelegar jauh lebih terasa nyata dibanding rasa kagum pada sang idola.

Baginya, Rayyan saat ini hanyalah seorang cowok yang secara tidak sengaja berpapasan dengannya di dekat barisan stan makanan.

​"Kamu... oke?" tanya Rayyan lagi. Ia sedikit heran melihat reaksi gadis di depannya. Biasanya, orang-orang akan berteriak histeris atau minimal langsung mengeluarkan ponsel untuk meminta foto, tapi gadis ini justru tampak tenang-tenang saja, seolah tidak peduli siapa yang sedang berdiri di hadapannya.

​Aluna menghela napas pendek, lalu mengangguk pelan. "Oke kok. Cuma butuh udara segar aja. Permisi ya, Kak," jawab Aluna sopan namun tanpa antusiasme yang berlebihan.

​"Sorry, saya bukan mau ganggu," ucap Rayyan lagi, kali ini dengan senyum yang lebih lebar karena merasa tertarik dengan sikap cuek Aluna. "Cuma mau bilang makasih ya sudah datang. Padahal kamu kelihatannya nggak terlalu suka tempat ramai begini."

​Aluna sedikit mengangkat alisnya, merasa heran bagaimana penyanyi ini bisa menebak pikirannya. "Sama-sama. Saya cuma nemenin temen saya, kok. Kakak nggak masuk? Itu krunya udah nungguin."

​Rayyan terkekeh pelan. "Iya, ini mau masuk." Ia menoleh ke arah manajernya, lalu kembali menatap Aluna dengan binar mata yang sulit diartikan. "Siapa nama kamu?"

​"Aluna," jawabnya simpel.

Rayyan terkekeh pelan. Ia justru semakin tertarik melihat betapa tenangnya gadis di depannya ini. Alih-alih segera beranjak mengikuti krunya, Rayyan justru merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah ponsel dengan case hitam polos.

​"Aluna," panggil Rayyan lagi, kali ini dengan nada yang sedikit lebih serius namun tetap lembut. "Boleh saya minta nomor telepon kamu?"

​Aluna sempat tertegun. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, memastikan telinganya tidak salah dengar akibat dentuman musik yang masih menggelegar di kejauhan. "Nomor telepon saya? Buat apa, Kak?"

​Rayyan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sanggup membuat jutaan fansnya pingsan, tapi di depan Aluna, ia tampak seperti cowok biasa yang sedang berusaha mendekati seseorang. "Ya... ga apa-apa cuma mau kenalan lebih deket aja."

Aluna sedikit mengernyitkan dahi. Di kepalanya, logika sedang beradu dengan rasa heran. Seorang bintang besar yang baru saja mengguncang panggung, tiba-tiba minta nomor teleponnya dengan alasan "mau kenal lebih dekat"? Rasanya seperti plot drama picisan yang sering ditonton Sesya, tapi wajah Rayyan yang tampak sungguh-sungguh membuat Aluna sulit untuk langsung menolak.

"Saya bukan orang jahat kok, santai aja"

​Aluna menghela napas pendek. Ia melihat kru Rayyan yang sudah mulai memasang wajah gusar karena sang artis tertahan terlalu lama. Dengan gerakan yang terlihat sangat tenang, Aluna mengambil ponsel yang disodorkan Rayyan dan mengetikkan nomor teleponnya.

​"Ini. Tapi jangan protes kalau saya jarang angkat telepon ya, Kak. Saya nggak suka diganggu kalau lagi tidur," ucap Aluna sambil mengembalikan ponsel itu.

​Rayyan tertawa kecil, kali ini suaranya terdengar sangat lega. "Siap. Saya pastikan nggak akan ganggu jam tidur kamu. Makasih ya, Aluna."

​"Ray! Ayo, meet and greet sudah mau mulai!" teriak manajernya dari kejauhan.

​Rayyan memberikan satu anggukan kecil ke arah Aluna, lalu melangkah pergi mengikuti krunya. Namun, sebelum benar-benar masuk ke area steril backstage, ia sempat menoleh lagi dan memberikan isyarat telepon dengan tangannya sambil tersenyum penuh arti.

​Aluna hanya menggelengkan kepala pelan melihat kelakuan penyanyi itu. Ia memasukkan kembali tangannya ke saku jaket oversize-nya, merasa suasana hatinya sedikit lebih baik meski rasa haus masih menyerang.

Tak lama kemudian, Sesya dan Belva muncul dengan napas tersengal-sengal dan wajah yang sangat merah karena terlalu banyak berteriak.

​"Aluna! Lo ke mana aja sih?! Gila, tadi Rayyan sempet turun panggung lewat sini, lo liat nggak?!" seru Sesya sambil memegangi dadanya yang naik turun.

​Aluna menatap kedua sahabatnya dengan ekspresi yang sangat datar. Ia meraba ponsel di sakunya yang baru saja bergetar sebuah pesan singkat masuk dari nomor asing.

​0812-xxxx: Sudah saya simpan. jangan lupa di save ya, Aluna.

​"Liat kok. Malah sempet ngobrol dikit," jawab Aluna santai sambil mulai berjalan menuju arah parkiran, meninggalkan kedua sahabatnya yang langsung mematung di tempat dengan mulut terbuka lebar.

​"APA?! NGOBROL?!" teriak Sesya dan Belva berbarengan, membuat orang-orang di sekitar mereka menoleh kaget.

1
Suo
CIEEE KEINGAT ALUNAA/Grin/
Suo
Fix Aluna sih
Kim Umai
sehabis acara, datang lah pegal² 🤣
Ria Irawati
nanggung lun.. gk usah pulang sampai besok 🤭
Panda%Sya🐼
Aduh-aduh dingin-dingin ternyata peduli ya 🤭🤏
j_ryuka
lalat aja kepeleset apalagi hatinya kakak😭
j_ryuka
gue Tabok juga mulut Lo
Blueberry Solenne
Wkwkwk gila aja ngepel lg. 4. mau sekolah apa jadi OB di suruh ngepel mulu
Blueberry Solenne
Uhuk uhuk cie cie ada yang lagi sating tuhhh, udah pacaran aja kalian
pojok_kulon
Apa sekolahnya akan fokus, apa mereka nggak takut anaknya jadi nggak semangat untuk sekolah laki
pojok_kulon
wah jangan jangan Arlan tuh
Kim Umai
ada aja gebrakan nya tiap hari 🤣
Blueberry Solenne
asiik, serahkan smuanya sama Arkan ketimbang kecoa doang wkwkwk
Blueberry Solenne: Arlan, typo😭😭😭
total 1 replies
Blueberry Solenne
Ett dah udah kek bocil, eh emang bocil ya🤭
Suo
wahh jadi aluna berharap nya lain nih/CoolGuy/
Panda%Sya🐼
Enggak usah marah. Toh si Arlan bukan pacar kamu /Facepalm/
j_ryuka
akhirnya cieeee cieeeee
j_ryuka
hey awas aja kau lyra
Hafidz Nellvers
edyan bisa sama gitu 😱
Hafidz Nellvers
keren orang tuanya 🥳
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!