NovelToon NovelToon
ANTARA KETIGA DALANG ITU Dan AKU

ANTARA KETIGA DALANG ITU Dan AKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Duniahiburan
Popularitas:15
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

Sekar Arum, gadis desa Plumbon, memiliki cinta yang tak biasa: wayang kulit. Ia rela begadang demi menyaksikan setiap pertunjukan, mengabaikan cemoohan teman-temannya. Baginya, wayang adalah jendela menuju dunia nilai dan kearifan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sang Bintang di Panggung Kelir

Desa Plumbon berbenah diri. Bendera merah putih dan janur kuning menghiasi setiap sudut jalan. Aroma masakan tradisional Jawa dan harumnya kembang setaman menguar di udara. Hari ini adalah hari yang istimewa: bersih desa. Sebuah tradisi yang selalu dirayakan dengan meriah sebagai ungkapan syukur atas hasil panen dan keselamatan desa.

Namun, ada satu hal yang membuat perayaan bersih desa kali ini terasa lebih istimewa dari tahun-tahun sebelumnya. Sebuah spanduk besar terpampang di depan balai desa, mengumumkan: "Pagelaran Wayang Kulit Bersama Ki Bimo Samudra, Sang Dalang Setan dari Karangpandan!"

Seketika, nama dan julukan itu menyentak hati Sekar Arum. Ki Bimo Samudra, Sang Dalang Setan! Dalang yang selama ini hanya ia saksikan di layar televisi dan kanal YouTube. Dalang yang terkenal dengan sabetan wayangnya yang secepat kilat di kelir, hingga membuatnya dijuluki "Dalang Setan". Dalang yang juga menjadi bintang iklan produk sakit kepala yang selalu menghiasi layar kaca.

Sekar Arum tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Apakah ini mimpi? Apakah benar dalang idolanya akan tampil di desanya sendiri? Ia segera berlari pulang untuk memastikan kabar tersebut kepada ibunya.

"Bu, apa benar Ki Bimo Samudra, si Dalang Setan, akan mendalang di desa kita?" tanya Sekar Arum dengan napas tersengal-sengal.

Ibunya tersenyum dan mengangguk. "Iya, Nduk. Beliau diundang oleh panitia bersih desa untuk memeriahkan acara ini."

"Ya ampun, Bu! Aku nggak sabar pengen nonton! Aku pengen lihat sendiri gimana sabetan wayangnya yang kayak setan itu!" seru Sekar Arum dengan mata berbinar-binar.

Sejak saat itu, hari-hari Sekar Arum terasa berjalan lambat. Ia terus membayangkan bagaimana penampilan Ki Bimo Samudra di atas panggung kelir. Ia penasaran ingin melihat langsung sabetan wayangnya yang terkenal dan mendengarkan suaranya yang khas. Ia bahkan membayangkan bagaimana sang dalang membanting wayang dengan gerakan secepat kilat, menciptakan efek dramatis yang memukau.

Akhirnya, hari yang dinanti-nantikan pun tiba. Sejak sore hari, Sekar Arum sudah berdandan rapi dan bersiap-siap untuk pergi ke lapangan desa tempat pagelaran wayang akan diadakan. Ia mengenakan kebaya batik kesayangannya dan menyisir rambutnya dengan rapi.

"Kamu mau ke mana, Nduk? Kok dandan ayu banget?" goda ibunya sambil tersenyum.

"Mau nonton wayang, Bu!" jawab Sekar Arum dengan pipi merona. "Siapa tahu nanti ketemu jodoh di sana."

Ibunya tertawa mendengar jawaban Sekar Arum. "Ya sudah, hati-hati ya, Nduk. Jangan pulang terlalu malam."

"Siap, Bu!" kata Sekar Arum sambil mencium tangan ibunya.

Dengan langkah riang, Sekar Arum berjalan menuju lapangan desa. Semakin dekat, semakin ramai suasana. Lampu-lampu hias berwarna-warni menerangi lapangan, menciptakan suasana yang meriah dan festive. Aroma makanan dan minuman dari berbagai stand jajanan memenuhi udara.

Sekar Arum melihat teman-temannya, Rini dan Sinta, sudah menunggu di dekat panggung. Mereka berdua juga berdandan rapi dan terlihat bersemangat.

"Hai, Sekar!" sapa Rini dengan ceria. "Akhirnya kita bisa nonton Ki Bimo Samudra!"

"Iya, aku udah nggak sabar pengen lihat aksinya," timpal Sinta sambil melirik ke arah panggung. "Katanya sih, Ki Bimo Samudra itu... legenda banget!"

Sekar Arum hanya tersenyum mendengar ucapan teman-temannya. Ia sendiri lebih tertarik pada keahlian mendalang Ki Bimo Samudra daripada penampilannya.

Saat yang dinanti-nantikan pun tiba. Lampu panggung meredup, dan suara gamelan mulai mengalun dengan syahdu. Seorang pembawa acara naik ke atas panggung dan memberikan sambutan singkat.

"Hadirin sekalian, mari kita sambut penampilan istimewa dari Ki Bimo Samudra, Sang Dalang Setan dari Karangpandan!"

Seketika, tepuk tangan meriah membahana di seluruh lapangan. Dari balik layar, muncul seorang pria dengan rambut yang mulai memutih di beberapa bagian, namun sorot matanya tetap tajam dan penuh semangat. Kerutan di wajahnya menambah kesan bijaksana dan berpengalaman. Ia mengenakan beskap beludru berwarna gelap dan blangkon batik yang rapi. Dialah Ki Bimo Samudra, sang dalang idola, seorang maestro di dunia pewayangan.

Sekar Arum terkesan melihat penampilan Ki Bimo Samudra. Ia merasa kagum dengan aura kewibawaan dan pengalaman yang terpancar dari diri sang dalang. Ia merasa semakin bersemangat untuk menyaksikan pertunjukan wayangnya.

Ki Bimo Samudra membungkuk hormat kepada para penonton, lalu duduk di belakang layar. Ia mulai mengatur wayang-wayang kulit yang sudah tertata rapi di atas gedebog (batang pisang).

"Sugeng dalu, para rawuh sedoyo," sapa Ki Bimo Samudra dengan suara yang merdu dan berwibawa. "Malam ini, saya akan membawakan lakon 'Wahyu Makutharama' sebagai persembahan untuk desa Plumbon tercinta."

Setelah memberikan sambutan singkat, Ki Bimo Samudra mulai memainkan wayang-wayangnya. Dengan lihai, ia menggerakkan wayang-wayang itu di atas layar, menciptakan berbagai macam adegan dan karakter. Suaranya yang khas dan merdu mengalun diiringi oleh musik gamelan yang syahdu.

Sekar Arum terpukau melihat penampilan Ki Bimo Samudra. Sabetan wayangnya yang secepat kilat di atas layar benar-benar memukau. Ia bisa menciptakan berbagai macam efek dramatis dengan gerakan wayangnya, membuat para penonton terpana dan terhanyut dalam cerita.

Selain itu, Ki Bimo Samudra juga pandai membawakan berbagai macam karakter suara. Ia bisa menirukan suara dewa, raksasa, ksatria, dan punakawan dengan sangat baik. Ia juga sering menyelipkan humor-humor segar dalam dialog wayangnya, membuat para penonton tertawa terbahak-bahak.

Rini dan Sinta juga terlihat sangat menikmati penampilan Ki Bimo Samudra. Mereka berdua tidak henti-hentinya berbisik dan memberikan komentar tentang keahlian Ki Bimo Samudra.

"Gila, Sekar! Ki Bimo Samudra itu legenda banget ya?" bisik Rini dengan mata berbinar-binar.

"Iya, aku juga kagum banget sama dia," timpal Sinta sambil tersenyum-senyum. "Dia bener-bener dalang sejati!"

Sekar Arum hanya tersenyum mendengar komentar teman-temannya. Ia merasa terhanyut dalam pertunjukan wayang yang memukau itu. Ia tidak peduli dengan sekelilingnya, yang ada di pikirannya hanyalah kisah Wahyu Makutharama yang sedang dibawakan oleh Ki Bimo Samudra.

Beberapa saat kemudian, Rini menyenggol lengan Sekar Arum. "Sekar, kita ke sana yuk? Kayaknya banyak cowok-cowok ganteng di dekat warung kopi itu," bisik Rini sambil menunjuk ke arah kerumunan orang di kejauhan.

Sinta mengangguk setuju. "Iya, Sekar. Siapa tahu kita bisa dapat kenalan baru," timpal Sinta dengan nada menggoda. Dalam hati, Sinta berharap Abimanyu ada di sana.

Sekar Arum menggelengkan kepalanya. "Aku di sini saja. Aku mau nonton wayang sampai selesai," jawab Sekar Arum dengan nada lembut.

"Ah, kamu mah nggak asyik!" kata Rini dengan nada sedikit kecewa. "Ya sudah, kalau gitu kita duluan ya."

"Iya, Sekar. Sampai jumpa besok," timpal Sinta sambil melambaikan tangan. Sinta sedikit kesal karena Sekar Arum tidak ikut, padahal ia ingin mendekati Abimanyu. Sinta tahu Abimanyu tinggal di desa sebelah dan diam-diam menyukai Sekar Arum.

Sekar Arum membalas lambaian tangan teman-temannya, lalu kembali memfokuskan perhatiannya pada pertunjukan wayang. Ia merasa lebih nyaman sendirian, menikmati seni pewayangan yang begitu memikat hatinya.

Waktu terus berlalu, dan pertunjukan wayang semakin larut malam. Satu per satu penonton mulai meninggalkan lapangan, namun Sekar Arum tetap setia duduk di tempatnya. Ia tidak ingin melewatkan satu adegan pun dari lakon Wahyu Makutharama.

Ketika jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam, Sekar Arum menyadari bahwa ia adalah salah satu dari sedikit penonton yang masih bertahan. Ia mulai merasa sedikit khawatir, namun tekadnya untuk menyaksikan pertunjukan wayang sampai selesai sudah bulat.

Tiba-tiba, seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Sekar Arum terkejut dan menoleh.

"Sekar?"

Sekar Arum mengerutkan keningnya, mencoba mengingat siapa pemilik suara itu. Kemudian, ia tersenyum lebar saat mengenali sosok yang berdiri di hadapannya.

"Abimanyu? Ya ampun, aku nggak nyangka ketemu kamu di sini!" seru Sekar Arum dengan nada gembira.

Abimanyu Narapati, atau yang akrab disapa Abim, adalah teman se-SMA Sekar Arum. Mereka berdua tidak terlalu dekat karena Abim memang dikenal sebagai sosok yang pendiam dan pemalu. Namun, Sekar Arum tahu bahwa Abim adalah anak yang pintar dan baik hati. Ia juga tahu bahwa Abim memiliki minat yang sama dengannya terhadap seni dan budaya Jawa.

Ia juga tahu bahwa Abim memiliki minat yang sama dengannya terhadap seni dan budaya Jawa.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!