Semua orang mengenal Genta sebagai Presma (Presiden Mahasiswa) yang berwibawa. Tapi hanya Rara yang tahu kalau kakinya lemas setiap kali harus berpidato.
Berawal dari rahasia di balik panggung, Rara terjebak dalam kesepakatan rumit: Menjadi "support system" mental sang idola kampus secara offline, sambil menjaga rahasia bahwa sang pangeran es sebenarnya adalah Paladin manja yang ia kenal di dunia maya.
Satu hal yang Genta pelajari: Berakting cool itu mudah, tapi menyembunyikan detak jantung di depan Rara itu mustahil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Kania Terbongkar
Matahari pagi di Hari-H penutupan festival menyelinap masuk melalui celah-celah ventilasi Laboratorium Informatika yang pengap, menciptakan garis-garis cahaya yang menampakkan debu-debu yang menari di udara. Bagi Rara, pagi ini terasa seperti napas terakhir sebelum sebuah badai besar menerjang. Setelah semalam suntuk terjaga di apartemen Genta, melewati jam-jam penuh igauan demam dan ketidakpastian, Rara hanya sempat pulang sebentar ke kosnya untuk mandi dan mengganti pakaian.
Tujuan pertamanya bukan gedung fakultas, melainkan sebuah sudut remang di lantai dua Lab Informatika. Di sana, Bimo sudah menunggu. Sahabatnya itu adalah sosok yang lebih suka berinteraksi dengan barisan kode daripada manusia, namun di tangan pria berkacamata tebal inilah, nasib Rara digantungkan.
Bimo tidak mengucapkan selamat pagi saat Rara datang. Ia hanya menunjuk ke arah kursi kosong di sampingnya, sementara matanya tetap terpaku pada tiga monitor besar yang menampilkan riwayat log jaringan universitas yang sangat rumit. Bau kopi instan yang sudah dingin menjadi musik latar yang menyesakkan.
"Aku sudah melakukan deep tracking sejak pesan daruratmu masuk subuh tadi, Ra." Suara Bimo terdengar datar, namun ada nada keseriusan yang tidak biasa. "Akun anonim di platform confess kampus itu memang sulit ditembus karena mereka menggunakan VPN berlapis. Tapi, mereka melakukan satu kesalahan fatal yang biasanya dilakukan oleh orang-orang yang merasa terlalu berkuasa untuk bisa ditangkap."
Rara mencondongkan tubuh, jantungnya berdegup kencang. "Kesalahan apa, Bim?"
"Mereka mengunggah foto skandalmu di balkon rektorat itu menggunakan koneksi Wi-Fi internal universitas." Bimo menekan tombol Enter, dan layar monitor tengahnya menampilkan sebuah peta jaringan yang berkedip merah. "Si pengunggah mengira dengan menghapus metadata foto, jejaknya hilang. Tapi sistem keamanan baru kita mencatat setiap alamat MAC perangkat yang terhubung ke titik akses Wi-Fi Rektorat pada malam kejadian."
Bimo kemudian melakukan sinkronisasi data yang membuat Rara menahan napas. "Hanya ada tiga perangkat yang aktif di area balkon pada jam itu. Dua adalah ponsel milikmu dan Genta. Dan yang ketiga... adalah sebuah iPad Pro inventaris resmi BEM yang diserahkan khusus untuk fungsionaris inti bagian administrasi dan kebijakan."
Rara merasa seolah-olah seluruh oksigen di ruangan itu baru saja disedot keluar. Layar monitor Bimo kini menampilkan sebuah folder tersembunyi di dalam penyimpanan awan (cloud) yang terhubung dengan akun fungsionaris tersebut.
"Lihat ini." Bimo membuka sebuah file dokumen berjudul Draf_Permohonan_Maaf_Genta_V3. "Aku memeriksa metadatanya. Data di balik datanya."
Sebuah kotak informasi muncul di layar.
Author: Kania Adiwangsa
Created: 18 October, 23:45
Rara menutup mulutnya dengan tangan, matanya memanas bukan karena sedih, melainkan amarah yang mulai mendidih. "Kania... Jadi dia yang menulis semua itu? Dia yang merancang agar aku terlihat seperti penggoda?"
"Bukan hanya itu, Ra." Bimo menggulir layar ke bawah, membuka riwayat pesan di sebuah grup Telegram rahasia yang diberi nama Genta’s Guardians. Di sana, segalanya terpampang nyata dengan kejamnya. Ada instruksi jelas dari Kania kepada beberapa akun bot untuk menyebarkan foto Rara dengan sudut pandang yang manipulatif. Ada skrip komentar kebencian yang sudah disiapkan sebelumnya agar mahasiswa lain terpancing untuk menghujat Rara.
Rara membaca pesan-pesan Kania di sana: "Pastikan gadis itu tidak punya muka lagi di fakultasnya. Genta tidak boleh punya gangguan seperti dia. Dia adalah noda bagi rencana Harvard Genta. Hancurkan dia pelan-pelan."
Ini bukan sekadar rasa tidak suka. Ini murni tentang obsesi kendali dan ambisi kekuasaan yang gila hormat. Kania menggunakan kekuasaan dan fasilitas organisasi untuk menghancurkan hidup seseorang hanya demi menjaga "proyek kesempurnaan" yang ia bangun atas nama Genta.
"Dia benar-benar menganggap Genta sebagai properti miliknya, bukan sebagai manusia," bisik Rara tak habis pikir.
Suara pintu laboratorium yang terbuka membuat keduanya menoleh. Di sana berdiri Genta. Tubuhnya masih terlihat lemas, wajahnya pucat sisa demam semalam. Ia mengenakan kemeja katun berwarna biru pucat, dengan lengan yang digulung asal hingga siku.
"Genta? Kenapa kamu di sini? Kamu harusnya istirahat," ucap Rara panik sambil beranjak dari kursinya.
Genta tidak menjawab. Langkahnya tertuju langsung pada monitor Bimo. Ia menatap barisan pesan singkat di Telegram itu, membaca setiap instruksi kejam yang ditulis Kania. Bimo berdehem canggung, sedikit menggeser kursinya untuk memberi ruang bagi Genta.
Genta terdiam cukup lama, matanya terpaku pada layar. "Jadi dia merencanakan semua ini?" suaranya rendah, nyaris berbisik.
Laboratorium itu mendadak sunyi senyap. Rara tidak menjawab, ia hanya memperhatikan Genta dari samping. Ia bisa melihat rahang pria itu mengeras rapat, menahan sesuatu yang nampaknya jauh lebih menyakitkan daripada pengkhianatan politik mana pun. Genta menunduk, membiarkan poninya menutupi matanya yang kini memancarkan rasa jijik pada dirinya sendiri.
Bimo yang merasa suasana semakin menyesakkan, hanya bisa pura-pura sibuk dengan tetikusnya. Genta perlahan memutar tubuhnya menghadapi Rara. Ia tidak berani menatap mata Rara secara langsung, pandangannya justru jatuh pada bekas goresan kecil di sepatu Rara, sebuah pertanda bahwa Genta benar-benar kehilangan seluruh harga dirinya di depan gadis itu.
"Tapi bagaimanapun, tangan ini yang tanda tangan, Ra..." Suara Genta pecah, parau dan sangat tidak stabil. "Tangan yang harusnya bisa aku pakai buat melindungimu, malah aku pakai buat menghancurkan hidupmu sendiri. Aku tahu aku yang membuat fitnah itu jadi resmi. Tapi aku nggak nyangka kalau selama ini aku cuma menjalankan naskah yang dia buat untuk menusukmu dari belakang."
Rara tidak menjawab, hanya diam sambil menoleh kearah lain.
Bimo yang merasa suasana semakin canggung, memutuskan untuk memecah ketegangan. "Ya, nggak cuma kamu sih, Gen. Sistem keamanan kampus kita saja hampir kebobolan kalau dia lebih pintar sedikit. Dia profesional banget kalau urusan manipulasi data dan menggiring opini begini."
Genta meremas pinggiran meja, buku jarinya memutih. Rasa bersalah karena telah menandatangani surat itu tetap ada, namun amarahnya kini beralih pada sosok yang telah memanipulasinya untuk mengkhianati Rara. Ia merasa seperti senjata yang baru saja menyadari bahwa ia telah digunakan untuk melukai orang yang paling ia hargai.
"Aku akan lapor ke Dekan sekarang juga," ucap Genta tiba-tiba, suaranya kembali ke nada tegas namun kali ini didorong oleh keputusasaan. Ia berbalik menuju pintu dengan langkah mantap. "Semua bukti ini sudah lebih dari cukup. Aku tidak peduli lagi pada diriku sendiri. Aku akan serahkan semuanya ke rektorat."
"Genta, tunggu!" Rara berlari dan menahan lengan Genta, menghentikan langkahnya tepat di depan pintu lab.
"Kenapa, Ra? Dia sudah menghancurkanmu! Aku harus mempertanggungjawabkan ini!" seru Genta, amarahnya meluap sebagai bentuk penebusan dosanya.
"Pikirkan konsekuensinya, Genta!" Rara menatap Genta dengan sorot mata yang penuh kecemasan. "Kalau kamu lapor sekarang, Kania mungkin hancur, tapi BEM juga akan runtuh. Seluruh organisasi akan dianggap sebagai sarang skandal. Dan kamu... kamu adalah ketuanya. Kamu yang menandatangani draf itu. Di mata dunia, kamu bukan korban, tapi pimpinan yang tidak kompeten atau bahkan terlibat dalam penindasan anggotanya sendiri."
Genta terdiam, napasnya memburu.
"Beasiswamu, rencana Harvard-mu... semuanya akan hilang dalam sekejap," lanjut Rara pelan. "Ayahmu tidak akan pernah memaafkan skandal sebesar ini. Kamu akan kehilangan semua yang sudah kamu bangun selama bertahun-tahun, Genta."
Genta menatap tangan Rara yang memegang lengannya, lalu menatap Bimo yang hanya bisa terdiam menatap layar monitor. Kesadaran itu menghantamnya seperti palu godam. Kebenaran ini adalah pedang bermata dua. Jika mereka menariknya keluar untuk menebas Kania, pedang itu juga akan melukai Genta hingga tak bersisa.
Laboratorium itu kembali sunyi, menyisakan deru kipas komputer yang seolah-olah menghitung waktu menuju acara penutupan malam nanti. Kurang dari sepuluh jam lagi, dan mereka kini berdiri di persimpangan jalan yang mustahil. Keadilan bagi Rara atau masa depan Genta. Pilihan yang akan menentukan apakah sang Paladin akan tetap memiliki menaranya, atau sang Healer yang harus menanggung luka itu selamanya.