NovelToon NovelToon
Batas Obsesi Sang Konglomerat

Batas Obsesi Sang Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Terlarang / Percintaan Konglomerat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hazard111

Nadin Kirana tidak pernah menyangka hidupnya akan hancur dalam semalam. Ayahnya kabur membawa uang perusahaan, meninggalkan utang sebesar sepuluh miliar rupiah dan adiknya yang sedang kritis di rumah sakit. Dikejar oleh rentenir kejam dan diboikot dari semua pekerjaan, Nadin tersudut di ujung jurang.

Satu-satunya jalan keluar datang dari Gilang Mahendra—CEO dari Mahendra Corp, pria bertangan dingin yang dikenal tidak memiliki belas kasihan dalam bisnis maupun kehidupan pribadinya. Gilang bersedia melunasi seluruh utang Nadin dan membiayai pengobatan adiknya, namun dengan satu syarat mutlak: Nadin harus menandatangani kontrak untuk menjadi "miliknya" sepenuhnya selama tiga tahun.

Tidak ada cinta. Tidak ada janji pernikahan. Nadin hanya menjadi properti pribadi Gilang yang harus siap memuaskan pria itu kapan pun dan di mana pun dia inginkan, serta tinggal bersamanya di penthouse mewahnya bagaikan burung dalam sangkar emas.

Awalnya, hubungan mereka murni transaksional dan dipenuhi kebe

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Hukuman Kesunyian dan Darah di Ujung Fajar

Isakan tangis Nadin Kirana memecah keheningan yang membekukan di dalam ruang makan tersebut. Tubuhnya meluruh, nyaris menyentuh lantai marmer yang dingin, jika saja kedua tangan kokoh Gilang Mahendra tidak menahan bahunya dengan cengkeraman yang sekeras besi.

Dunia Nadin benar-benar telah runtuh. Harapan palsu yang ditawarkan Bastian Wirawan ternyata adalah racun mematikan yang tidak hanya menghancurkan dirinya, tetapi juga menyeret ayahnya ke dalam jurang kematian yang sesungguhnya. Nadin meremas kaus hitam yang dipakai Gilang, membenamkan wajahnya yang basah oleh air mata di dada bidang pria itu.

"Gilang, tolong saya," isak Nadin dengan suara yang pecah dan serak. Keputusasaan telah menelan habis seluruh harga dirinya. Dia tidak lagi peduli pada ego atau dendam masa lalunya. "Saya mohon. Lakukan apa pun pada saya. Bunuh saya malam ini juga, tapi tolong selamatkan ayah saya. Jangan biarkan Bastian membunuhnya."

Gilang menatap puncak kepala Nadin dengan tatapan yang sangat rumit. Dada pria itu masih naik turun menahan amarah yang mendidih. Dia sangat membenci pengkhianatan. Di dunia bisnisnya, siapa pun yang berani menusuknya dari belakang akan langsung dilenyapkan tanpa sisa. Namun, melihat wanita yang selalu menatapnya dengan penuh perlawanan ini kini hancur berkeping-keping dan memohon padanya, ada perasaan aneh yang berdenyut nyeri di sudut hatinya.

Tangan Gilang yang menahan bahu Nadin bergerak naik, mencengkeram rahang wanita itu dengan kasar dan memaksa Nadin untuk mendongak menatapnya.

"Nyawamu sudah menjadi milikku sejak kau menandatangani kontrak di rumah sakit waktu itu, Nadin," desis Gilang. Suaranya sangat rendah, dingin, dan tidak memiliki belas kasihan. "Kau tidak punya hak untuk menawarkan nyawamu lagi sebagai alat tukar. Kau tidak memiliki apa pun lagi untuk diberikan kepadaku."

"Lalu saya harus bagaimana?" tangis Nadin semakin keras. Mata bulatnya menatap Gilang dengan sorot keputusasaan yang murni. "Dia ayah saya, Gilang. Segila apa pun dia karena meninggalkan kami dengan utang, dia tetap ayah saya."

"Itu adalah konsekuensi dari kebodohanmu sendiri," jawab Gilang tanpa ampun.

Gilang melepaskan cengkeramannya dari rahang Nadin. Pria itu mundur satu langkah, membiarkan tubuh Nadin yang lemas merosot jatuh dan terduduk di atas lantai marmer. Nadin menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, menangis sejadi-jadinya meratapi nasib ayahnya yang kini berada di ujung tanduk karena kesalahannya sendiri.

Gilang menatap Nadin dari atas selama beberapa detik. Tatapan matanya menggelap, memancarkan aura seorang penguasa yang sedang mengambil keputusan fatal. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi untuk menenangkan wanita itu, Gilang berbalik dan berjalan cepat meninggalkan ruang makan.

Pria itu berjalan menuju ruang tengah, mengambil jas dan kunci mobilnya yang tergeletak di atas sofa. Suara langkah kaki Gilang yang berat dan terburu-buru menggema di dalam penthouse. Nadin mendongakkan kepalanya saat mendengar suara pintu utama penthouse dibuka dan dibanting tertutup dengan sangat keras.

Bunyi debuman pintu itu disusul oleh suara kunci elektronik yang diaktifkan dari luar. Gilang telah pergi. Dan pria itu mengunci Nadin dari luar, mengurungnya sendirian di dalam sangkar emas ini bersama dengan rasa bersalah yang mencabik-cabik kewarasannya.

Nadin tertinggal sendirian di lantai ruang makan. Udara di dalam penthouse terasa sangat dingin dan mencekik. Dia menangis hingga suaranya habis dan tenggorokannya terasa perih. Bayangan wajah ayahnya yang disiksa terus berputar di kepalanya. Dia mengutuk dirinya sendiri karena begitu mudah diperdaya oleh senyuman ramah Bastian Wirawan. Gilang benar, Nadin terlalu naif untuk bermain di dunia para monster ini.

Waktu terus berlalu tanpa kenal ampun. Jam dinding antik berdentang menunjukkan pukul sembilan malam, lalu pukul sepuluh malam.

Nadin akhirnya memaksakan diri untuk bangkit berdiri. Kakinya terasa selembek jeli. Dia berjalan tertatih menuju pintu utama penthouse dan menekan gagang pintunya. Terkunci rapat. Layar panel keamanan di sebelah pintu menunjukkan warna merah menyala, menandakan bahwa sistem penguncian darurat tingkat tinggi telah diaktifkan oleh Gilang. Tidak ada yang bisa membuka pintu ini dari dalam maupun dari luar, kecuali Gilang sendiri.

"Dimas!" teriak Nadin sambil memukul daun pintu kayu tebal itu dengan kedua tangannya. "Dimas, saya tahu kamu ada di luar! Tolong buka pintunya!"

Hanya keheningan yang menjawab teriakannya. Penthouse itu kedap suara, dan Nadin tahu betul bahwa Dimas tidak akan pernah berani melanggar perintah langsung dari Gilang Mahendra.

Dengan perasaan putus asa, Nadin berjalan kembali ke ruang tengah. Dia menjatuhkan dirinya di atas sofa kulit. Tidak ada ponsel, tidak ada akses internet. Gilang telah mencabut semua jalur komunikasi ke luar sejak pria itu mengetahui peretasan tersebut. Nadin benar-benar terisolasi dari dunia luar.

Malam itu menjadi malam paling panjang dan menyiksa dalam hidup Nadin. Setiap detik yang berdetak di jam dinding terasa seperti sayatan pisau di kulitnya. Dia mondar-mandir dari ujung ruangan ke ujung ruangan lainnya. Sesekali dia duduk memeluk lututnya, berdoa dalam hati agar ada keajaiban yang menyelamatkan ayahnya. Namun logika arsiteknya yang kejam terus mengingatkannya bahwa di dunia nyata, tidak ada keajaiban. Yang ada hanyalah aksi dan reaksi. Dan reaksinya malam ini adalah kematian.

Pukul dua dini hari, rasa lelah yang luar biasa mulai mengalahkan kepanikan Nadin. Dia meringkuk di sudut sofa, masih mengenakan gaun rumah berwarna putih pucat yang kini terlihat kusut. Matanya bengkak dan merah. Cincin ruby di jarinya terasa sangat berat dan dingin, seolah ikut mengejek kebodohannya.

Di tengah kesunyian yang membekukan itu, pikiran Nadin perlahan mulai menganalisis semua kejadian yang telah berlalu. Dia teringat pada kemarahan Gilang saat melihat foto ayahnya. Pria itu marah bukan hanya karena rahasia perusahaannya dicuri, tetapi pria itu juga terlihat marah saat Nadin menuduhnya sebagai penyiksa. Gilang adalah pria yang arogan dan kejam, namun Gilang tidak pernah berbohong mengenai tindakannya. Jika Gilang memang ingin menyiksa ayahnya hingga mati, pria itu tidak akan repot-repot menyembunyikannya dari Nadin. Gilang justru akan menggunakan fakta itu untuk mengancam Nadin sejak awal.

Bastian Wirawan. Nama itu membuat darah Nadin mendidih oleh kebencian. Pria itulah yang telah merancang semua ini. Bastian menjebak ayah Nadin dalam utang, menggunakan ayah Nadin untuk mencuri uang perusahaan, dan kemudian menggunakan Nadin untuk menghancurkan sistem Gilang. Nadin hanyalah alat sekali pakai bagi Bastian.

Air mata Nadin kembali menetes dalam diam. Dia telah mengkhianati satu-satunya pria yang menempatkan dirinya sebagai perisai di depan dunia yang kejam ini. Meskipun perisai itu berduri dan sering kali melukainya, namun perisai itu tidak pernah membiarkan monster lain menyentuhnya. Dan Nadin telah menghancurkan perisai itu dengan tangannya sendiri.

Menjelang pukul lima pagi, langit di luar jendela kaca raksasa perlahan mulai berubah warna menjadi biru gelap. Hujan badai yang mengguyur sejak semalam telah reda, menyisakan embun dan kabut tipis yang menyelimuti kota Jakarta.

Nadin masih terjaga, matanya menatap kosong ke arah pintu utama. Kesadarannya sudah berada di ambang batas.

Tiba-tiba, terdengar bunyi klik elektronik yang sangat pelan dari arah pintu utama. Lampu indikator pada panel keamanan berubah menjadi hijau.

Jantung Nadin langsung berdetak kencang. Dia memaksakan dirinya untuk duduk tegak, mencengkeram erat lengan sofa.

Pintu utama terbuka perlahan. Sesosok tubuh tinggi besar melangkah masuk ke dalam penthouse yang temaram.

Itu adalah Gilang Mahendra.

Namun, penampilan pria itu sangat jauh berbeda dari biasanya. Kaos oblong hitam yang dia pakai terlihat kotor oleh noda debu dan bercak darah yang sudah mengering di bagian bahu. Rambutnya berantakan, basah oleh keringat dan sisa air hujan. Di sudut bibir kanannya terdapat luka robek yang masih segar, dan memar kebiruan mulai terbentuk di tulang pipinya. Buku-buku jari kedua tangannya terlihat lecet parah dan berdarah.

Gilang terlihat seperti iblis yang baru saja merangkak keluar dari medan perang di neraka.

Pria itu menutup pintu dengan kakinya, lalu berdiri mematung di lorong masuk. Napasnya terdengar berat dan sedikit tersengal. Bau tajam dari keringat, darah, dan mesiu samar-samar tercium menguar dari tubuhnya, memenuhi udara di dalam penthouse.

Nadin berdiri dari sofa dengan tubuh bergetar hebat. Dia menatap pria itu dengan pandangan yang tidak bisa percaya. Gilang tidak pernah terlibat dalam perkelahian fisik secara langsung. Pria ini selalu memiliki ratusan anak buah untuk melakukan pekerjaan kotornya. Mengapa pria ini pulang dalam keadaan babak belur seperti ini?

Mata hitam Gilang bergerak menembus keremangan ruangan, langsung mengunci sosok Nadin yang berdiri di dekat sofa. Tatapan pria itu sangat tajam, lelah, namun memancarkan sebuah dominasi yang tidak terbantahkan.

Tanpa mengatakan apa pun, Gilang melangkah mendekati Nadin. Setiap langkah pria itu terasa sangat berat. Dia berhenti tepat dua meter di depan wanita itu.

Gilang merogoh saku celananya dengan tangan kanan yang gemetar pelan karena kelelahan otot. Pria itu mengeluarkan sebuah benda kecil dan melemparkannya ke atas meja kaca di depan Nadin. Benda itu mendarat dengan bunyi dentingan logam yang nyaring.

Nadin menunduk menatap benda tersebut. Itu adalah sebuah jam tangan pria berbahan perak yang talinya sudah putus dan kacanya retak. Jam tangan itu adalah hadiah ulang tahun yang Nadin beli dari gaji pertamanya sebagai arsitek untuk ayahnya empat tahun yang lalu. Jam tangan yang tidak pernah dilepaskan oleh ayahnya. Di permukaan jam itu, terdapat noda darah yang belum sepenuhnya mengering.

Nadin menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan isakan yang nyaris meledak. Dia kembali mendongak menatap wajah Gilang dengan mata yang berlinang air mata. Pertanyaan tak bersuara tercetak jelas di wajah wanita itu.

"Dia masih bernapas," ucap Gilang memecah keheningan. Suara pria itu sangat parau, kering, dan berat. "Tulang rusuknya patah dua, wajahnya hancur, dan dia kekurangan banyak darah. Tapi dia belum mati. Dimas sedang membawanya ke rumah sakit rahasia milik perusahaanku untuk dioperasi."

Lutut Nadin benar-benar kehilangan kekuatannya kali ini. Dia jatuh berlutut di atas karpet tebal, tepat di depan kaki Gilang. Tangisannya meledak. Perasaan lega, rasa bersalah, dan kekaguman yang gelap bercampur aduk menghantam dadanya dengan kekuatan badai.

Gilang ternyata tidak meninggalkan ayahnya mati. Terlepas dari kemarahan dan rasa dikhianatinya, pria ini pergi ke medan perang itu, mempertaruhkan nyawanya sendiri, dan membawa pulang ayah Nadin dari tangan maut.

"Kenapa?" isak Nadin, suaranya nyaris tidak bisa dikenali. Dia menatap sepatu bot Gilang yang kotor oleh lumpur dan darah. "Anda bilang Anda akan membiarkannya mati. Saya sudah mengkhianati Anda, Gilang. Kenapa Anda repot-repot menyelamatkannya?"

Gilang menunduk menatap wanita yang sedang menangis hancur di depan kakinya. Rahang pria itu mengeras. Dia merasakan nyeri yang luar biasa di seluruh tubuhnya akibat perkelahian brutal di gudang bawah tanah milik Bastian tadi, namun rasa nyeri itu tidak sebanding dengan rasa sakit saat dia mengetahui pengkhianatan Nadin beberapa jam yang lalu.

Gilang berjongkok secara perlahan, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Nadin. Pria itu mengulurkan tangan kanannya yang terluka, menangkup wajah Nadin yang basah oleh air mata. Ibu jari Gilang mengusap lembut pipi wanita itu, meninggalkan sedikit noda darahnya di kulit putih Nadin. Sebuah tanda kepemilikan yang sangat primitif.

"Karena aku tidak akan membiarkan siapa pun, terutama bajingan seperti Bastian Wirawan, mengambil sesuatu yang berhubungan dengan milikku," desis Gilang. Suaranya terdengar penuh dengan obsesi yang gelap dan mematikan. "Ayahmu adalah bagian dari kelemahanmu. Dan aku tidak mengizinkan pria lain memanfaatkan kelemahanmu. Mulai malam ini, nyawa ayahmu, nyawa adikmu, dan nyawamu sendiri adalah hak milik mutlakku. Tidak ada konsorsium gelap, tidak ada rentenir, dan tidak ada Bastian Wirawan yang bisa menyentuh kalian."

Nadin memejamkan matanya, membiarkan sentuhan kasar dari tangan Gilang menenangkan badai di dalam kepalanya. Pria ini adalah monster, sebuah fakta yang tidak bisa dibantah. Namun, di dunia yang penuh dengan serigala buas ini, Gilang adalah monster terkuat yang bersedia berdarah untuk memastikan Nadin tetap berada di dalam dekapannya.

Nadin membuka matanya. Segala bentuk perlawanan, harga diri, dan keinginan untuk memberontak yang selama ini dia pertahankan dengan susah payah, kini menguap tak tersisa. Dia telah melihat dunia luar yang sesungguhnya. Dunia di mana Bastian dengan mudahnya mempermainkan nyawanya dan nyawa keluarganya. Jika dia harus memilih kepada iblis mana dia harus menjual jiwanya, maka dia akan memilih iblis yang ada di hadapannya saat ini.

Dengan gerakan perlahan, Nadin mengangkat kedua tangannya. Dia menyentuh dada Gilang yang bergemuruh, lalu melingkarkan lengannya di leher pria itu. Nadin menarik tubuhnya sendiri maju dan memeluk Gilang dengan sangat erat. Nadin membenamkan wajahnya di ceruk leher pria itu, menghirup aroma darah, keringat, dan debu yang bercampur dengan parfum vetiver.

"Maafkan saya," bisik Nadin di telinga Gilang, suaranya dipenuhi oleh penyerahan diri yang absolut. "Maafkan saya karena meragukan Anda. Maafkan saya karena mengkhianati Anda. Lakukan apa pun yang ingin Anda lakukan pada saya sebagai hukumannya, Gilang. Saya tidak akan pernah melawan lagi. Saya adalah milik Anda. Selamanya."

Mendengar sumpah penyerahan diri yang diucapkan dengan penuh keputusasaan itu, mata hitam Gilang perlahan memancarkan kilau kepuasan yang sangat kelam. Rasa sakit dari luka-lukanya seakan menghilang seketika. Hukuman kesunyian dan kepanikan yang dia berikan malam ini telah membuahkan hasil yang jauh lebih berharga daripada apa pun.

Gilang tidak hanya menguasai tubuh wanita ini lagi. Malam ini, di bawah siraman cahaya fajar yang pucat, Gilang akhirnya berhasil menaklukkan dan memiliki hati serta pikiran Nadin Kirana sepenuhnya.

Gilang membalas pelukan Nadin, merengkuh tubuh rapuh wanita itu dengan kekuatan penuh yang nyaris meremukkan tulang. Pria itu membenamkan wajahnya di rambut Nadin.

"Kau tidak akan pernah bisa lari dariku lagi, Nadin," bisik Gilang dengan suara parau yang dipenuhi oleh gairah dan kepemilikan yang gila. "Bahkan jika kau memohon padaku untuk melepaskanmu suatu hari nanti, aku lebih suka menghancurkan dunia ini daripada membiarkanmu pergi dari sisiku."

Di dalam sangkar emas yang kini telah berubah menjadi benteng pertahanan yang tidak tertembus itu, Nadin hanya bisa mengangguk pelan. Dia telah menyerahkan kunci kebebasannya secara sukarela kepada sang predator, siap untuk menghadapi apa pun masa depan yang akan mereka ukir di atas puing-puing pengkhianatan dan darah yang baru saja tertumpah.

1
Ida Aja
lah mana lanjutannya
juwita
serba salah di posisi nadin. tp klo di nikahi gpp. ini mah hny di jadikan budak nafsu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!