Demi melunasi hutang ayahnya, Aluna Maheswari terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arkan Wijaya — CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh wanita mana pun. Pernikahan itu hanya sandiwara selama satu tahun. Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Tanpa perasaan. Namun siapa sangka, di balik sikap dinginnya, Arkan menyimpan luka masa lalu yang kelam. Dan Aluna… adalah satu-satunya wanita yang perlahan mencairkan hatinya. Masalahnya, mantan tunangan Arkan kembali. Dan rahasia besar tentang kematian ibu Arkan mulai terungkap. Kontrak mereka mungkin hanya satu tahun. Tapi perasaan? Tidak ada tanggal kedaluwarsa.
Retak di Balik Kontrak
Pagi setelah amplop misterius itu, suasana rumah terasa berbeda.
Aluna terbangun lebih awal dari biasanya. Ia hampir tidak tidur semalaman. Bayangan foto-foto lama Arkan dan Cemalia terus berputar di kepalanya—senyum lepas, pelukan hangat, tatapan yang jelas dipenuhi cinta.
Hal yang tidak pernah ia lihat di mata Arkan ketika menatapnya.
Ia duduk di tepi tempat tidur, memandangi cahaya matahari yang menyelinap masuk melalui tirai tipis. Dadanya terasa sesak, bukan karena cemburu—ia berusaha meyakinkan dirinya demikian—melainkan karena kesadaran bahwa ia berdiri di ruang yang dulu mungkin milik orang lain.
Ketukan pelan terdengar di pintu.
“Nyonya, sarapan sudah siap,” suara Bi Sari lembut.
“Baik, Bi. Saya segera turun.”
Aluna berdiri, merapikan dirinya. Ia tidak ingin terlihat lemah. Tidak di rumah ini. Tidak di depan Arkan.
—
Ruang makan pagi itu terasa hening.
Arkan sudah duduk di kursi biasanya, membaca berita di tablet. Ekspresinya datar, namun Aluna tahu pria itu pasti juga memikirkan amplop semalam.
Ia duduk perlahan di seberangnya.
“Selamat pagi,” ucapnya pelan.
Arkan menurunkan tabletnya. “Pagi.”
Hening lagi.
Beberapa detik terasa terlalu panjang.
“Aku sudah menyuruh orang mengecek rekaman CCTV,” kata Arkan akhirnya. “Amplop itu tidak dikirim lewat pos. Seseorang masuk ke halaman dan meninggalkannya di depan pintumu.”
Aluna menggenggam sendoknya lebih erat.
“Jadi memang disengaja.”
“Iya.”
Tatapan Arkan mengeras. “Dan aku punya dugaan kuat siapa yang melakukannya.”
Nama itu tak perlu disebut.
Cemalia.
“Jangan lakukan sesuatu yang akan memperburuk keadaan,” ujar Aluna pelan.
Arkan menatapnya tajam. “Kau ingin aku diam saja?”
“Aku ingin kamu berpikir jernih.”
Kata-kata itu membuat Arkan terdiam sejenak. Ia jarang mendapat nasihat seperti itu—terlebih dari seorang wanita yang baru dikenalnya beberapa hari.
“Aku tidak peduli dengan foto-foto itu,” lanjut Aluna, meski hatinya sedikit bergetar saat mengucapkannya. “Itu masa lalumu. Tapi jika kita membalas secara emosional, justru itu yang diinginkan pengirimnya.”
Arkan menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Kau lebih tenang dari yang kuduga.”
Aluna tersenyum tipis. “Bukan tenang. Hanya tidak ingin terlihat kalah.”
Sudut bibir Arkan bergerak samar, hampir seperti senyum.
“Baik. Kita tidak akan bergerak dulu. Tapi jika ia melangkah lebih jauh, aku tidak akan tinggal diam.”
Nada suaranya tegas.
Untuk pertama kalinya, Aluna merasa pria itu bukan hanya menjaga citra perusahaan—ia juga menjaga dirinya.
—
Siang itu, mereka kembali ke kantor bersama.
Berita gosip masih beredar, meski tim humas telah mengeluarkan klarifikasi resmi. Namun di dunia digital, rumor selalu lebih cepat daripada kebenaran.
Di ruang kerja Arkan, suasana tegang terasa sejak pagi.
Direktur berkacamata yang kemarin menyindirnya kini membawa laporan baru.
“Pak Arkan, beberapa investor asing menunda keputusan kerja sama. Mereka khawatir stabilitas manajemen terganggu.”
Arkan tidak menunjukkan emosi.
“Stabilitas perusahaan tidak ditentukan oleh status pernikahan saya.”
“Namun opini publik—”
“Saya yang memimpin perusahaan ini, bukan opini publik,” potong Arkan tegas.
Ruang rapat kembali hening.
Aluna duduk di sudut, mengamati. Ia mulai memahami bahwa dunia Arkan jauh lebih keras daripada yang ia bayangkan.
Setelah rapat selesai, Arkan tetap duduk di kursinya, menatap kosong ke arah jendela.
“Ini yang mereka inginkan,” gumamnya pelan.
“Apa?” tanya Aluna.
“Menekan dari berbagai sisi sampai aku membuat kesalahan.”
Aluna melangkah mendekat.
“Kamu tidak sendiri.”
Kalimat itu sederhana, namun Arkan menoleh dengan tatapan yang sulit diterjemahkan.
“Jangan mengatakan sesuatu yang belum tentu bisa kau tanggung,” katanya pelan.
“Aku sudah menandatangani kontrak itu,” jawab Aluna. “Artinya aku siap menghadapi konsekuensinya.”
Hening lagi.
Lalu tiba-tiba ponsel Arkan berdering.
Nama yang muncul di layar membuat rahangnya mengeras.
Cemalia.
Ia menatap layar itu beberapa detik sebelum akhirnya mengangkatnya.
“Apa maumu?”
Suara di seberang terdengar samar, namun cukup keras hingga Aluna bisa menangkap nada manis yang dibuat-buat.
“Arkan, kita perlu bicara. Tentang sesuatu yang mungkin belum diketahui istrimu.”
Tatapan Arkan langsung beralih pada Aluna.
“Apa maksudmu?” suaranya berubah dingin.
“Temui aku malam ini. Kalau tidak, aku akan mengirimkannya ke media.”
Panggilan terputus.
Aluna bisa merasakan ketegangan yang tiba-tiba memenuhi ruangan.
“Apa katanya?” tanyanya pelan.
Arkan menghela napas panjang. “Ia ingin bertemu.”
“Dan kalau tidak?”
“Ia mengancam akan menyebarkan sesuatu.”
Jantung Aluna berdegup lebih cepat.
“Sesuatu apa?”
Arkan tidak langsung menjawab.
“Itu urusanku.”
Jawaban itu terasa seperti dinding.
Aluna menatapnya beberapa detik, lalu berkata, “Kalau itu menyangkut kita, itu juga urusanku.”
Untuk sesaat, Arkan terlihat ingin membantah. Namun ia mengurungkan niatnya.
“Malam ini aku akan menemuinya. Kau tidak perlu ikut.”
Nada suaranya final.
—
Namun Aluna tidak bisa diam.
Malam itu, tanpa sepengetahuan Arkan, ia meminta Rena mencari tahu lokasi pertemuan mereka.
Restoran rooftop mewah di pusat kota.
Angin malam bertiup kencang saat Aluna berdiri di lobi restoran, menunggu dengan jantung berdebar.
Ia tahu ini mungkin tindakan bodoh.
Namun jika Cemalia benar-benar memiliki sesuatu yang bisa menghancurkan mereka, ia harus tahu.
Beberapa menit kemudian, ia melihat Arkan duduk di sudut rooftop, berhadapan dengan Cemalia.
Wanita itu tampak anggun dalam gaun merah gelap. Senyumnya penuh percaya diri.
Aluna mendekat perlahan, berhenti di balik pilar besar yang cukup untuk menyembunyikannya.
“Apa yang kau inginkan?” suara Arkan terdengar tajam.
Cemalia tersenyum santai. “Kau tahu aku tidak suka berbasa-basi.”
Ia mengeluarkan sebuah map tipis dan meletakkannya di atas meja.
“Aku punya dokumen lama. Tentang alasan sebenarnya pertunangan kita dibatalkan.”
Arkan tidak menyentuh map itu.
“Itu sudah selesai.”
“Belum,” jawab Cemalia lembut. “Tidak jika publik tahu bahwa kau membatalkan pertunangan karena ibumu menolak aku. Dan bahwa keluargamu selalu menganggapku tidak cukup baik.”
Jantung Aluna bergetar.
Ia tidak tahu detail masa lalu itu.
“Jika itu tersebar,” lanjut Cemalia, “keluargamu akan terlihat arogan. Saham perusahaan bisa turun lagi.”
Arkan menatapnya tanpa ekspresi.
“Jadi ini tentang uang?”
Cemalia tertawa kecil. “Ini tentang harga diri.”
Ia mencondongkan tubuhnya. “Aku tidak suka digantikan begitu saja.”
Arkan akhirnya menyentuh map itu, membukanya sekilas.
Wajahnya tetap datar.
“Kau pikir ini cukup untuk mengancamku?”
Cemalia tersenyum miring. “Cukup untuk membuat istrimu meragukanmu.”
Kalimat itu membuat Aluna tercekat.
Arkan berdiri tiba-tiba.
“Jika kau menyebarkan ini, kau juga akan terlibat dalam skandal lama. Kau yakin siap?”
Tatapan mereka saling bertabrakan.
Cemalia terdiam beberapa detik, lalu berdiri juga.
“Kita lihat saja.”
Ia melangkah pergi dengan angkuh.
Arkan tetap berdiri beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas berat.
Saat ia berbalik, tatapannya langsung bertemu dengan Aluna yang kini berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Wajahnya berubah.
“Kau mengikutiku?”
Aluna menahan napas.
“Aku tidak ingin jadi orang terakhir yang tahu.”
Arkan menatapnya lama.
“Kau seharusnya percaya padaku.”
“Aku ingin percaya,” jawabnya jujur. “Tapi kamu tidak pernah memberiku kesempatan untuk mengenal masa lalumu.”
Angin malam berhembus lebih kencang.
Beberapa pengunjung menoleh sekilas, namun segera kembali pada urusan mereka.
“Apa yang ingin kau ketahui?” tanya Arkan akhirnya.
“Kenapa pertunangan kalian benar-benar berakhir?”
Hening panjang.
Lalu Arkan berkata pelan, “Karena aku menyadari kami tidak pernah mencintai satu sama lain. Itu hanya kesepakatan keluarga.”
Aluna terdiam.
“Dan ibumu?” tanyanya.
“Ia hanya mempercepat keputusan yang memang sudah kuambil.”
Tatapan mereka terkunci.
“Aku tidak pernah mengkhianatinya,” lanjut Arkan. “Dan aku tidak pernah memilihmu untuk melukai siapa pun.”
Aluna bisa melihat kelelahan di matanya.
Bukan kebohongan.
“Lalu kenapa kamu terlihat begitu terganggu malam ini?” bisiknya.
Arkan terdiam.
Beberapa detik terasa panjang.
“Karena aku tidak suka masa laluku digunakan untuk menyentuh apa yang menjadi milikku sekarang.”
Kata-kata itu membuat jantung Aluna kembali bergetar.
“Dan apa itu?” tanyanya pelan.
Tatapan Arkan melembut untuk pertama kalinya malam itu.
“Kau.”
Udara seakan berhenti.
Aluna tidak tahu harus berkata apa.
Untuk sesaat, semua tentang kontrak, ancaman, dan skandal terasa jauh.
Hanya ada mereka berdua di bawah langit malam.
Namun Arkan segera menarik diri, menyadari jarak yang mulai memudar.
“Kita pulang,” katanya singkat.
Dalam perjalanan kembali, mereka tidak banyak bicara.
Namun kali ini, ketika mobil berhenti di depan rumah dan Arkan membuka pintu untuknya, ia tidak segera melepaskan tangannya.
Genggaman itu lebih lama dari biasanya.
Lebih hangat.
Dan lebih berbahaya.
Karena semakin mereka saling melindungi, semakin tipis garis antara sandiwara dan kenyataan.
Dan di kejauhan, badai belum benar-benar reda.
Cemalia mungkin mundur selangkah malam ini.
Tapi permainan baru saja memasuki babak yang lebih dalam.
Bukan lagi soal reputasi.
Melainkan soal siapa yang lebih dulu mengakui bahwa kontrak ini… perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih nyata.