NovelToon NovelToon
Cinta Kontrak Seorang CEO

Cinta Kontrak Seorang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ana Sutiana

Ketika hidupmu dipenuhi dengan rutinitas dan kesibukan, tiba-tiba sebuah kontrak cinta muncul di depan mata. Sakira Anindya, seorang wanita muda yang mandiri, harus menjalani perjanjian unik dengan seorang CEO tampan dan misterius, Rafael Pratama. Awal dari perjanjian itu hanyalah formalitas, tapi hati tak pernah bisa diajak kompromi.

bisakah Sakira menjaga jarak tanpa terjerat perasaan? Ataukah kontrak ini justru membuka jalan bagi cinta yang tak pernah ia duga? Drama, romansa, dan rahasia CEO menanti untuk mengubah hidup Sakira selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Sutiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31. Bayang-bayang masa lalu

Malam turun perlahan di kota yang tak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu gedung tinggi menyala seperti bintang yang jatuh ke bumi. Namun bagi Nadira, pemandangan indah itu sama sekali tidak mampu menenangkan pikirannya.

Langkahnya terasa berat saat memasuki kembali apartemen milik Raka. Suasana di dalam ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara pendingin ruangan yang berdengung pelan.

Ia meletakkan tasnya di sofa, lalu duduk sambil memijat pelipisnya.

Hari ini terasa begitu melelahkan.

Bukan karena pekerjaan.

Tapi karena pertemuannya dengan wanita itu.

Vanessa.

Nama itu terus terngiang di kepalanya sejak siang tadi.

Cara wanita itu menatapnya, cara ia menyebut nama Raka dengan begitu akrab, bahkan cara ia tersenyum seolah memiliki kenangan yang tidak diketahui orang lain.

Semua itu membuat hati Nadira terasa tidak nyaman.

Padahal seharusnya ia tidak perlu memikirkan hal seperti ini.

Pernikahannya dengan Raka hanyalah sebuah kontrak.

Tidak lebih.

Tidak ada perasaan yang seharusnya ikut terlibat.

Nadira menghela napas panjang.

"Kenapa aku malah memikirkan ini..." gumamnya pelan.

Ia berdiri, berjalan menuju dapur kecil di sudut apartemen, lalu menuangkan segelas air putih. Setelah meminumnya perlahan, ia mencoba menenangkan diri.

Namun pikirannya tetap kembali pada satu hal.

Vanessa.

Dan hubungan wanita itu dengan Raka.

Tiba-tiba suara pintu apartemen terbuka.

Klik.

Nadira menoleh refleks.

Raka masuk ke dalam dengan langkah santai, jasnya masih melekat rapi di tubuhnya. Wajah pria itu terlihat lelah, tapi tetap dingin seperti biasa.

Tatapan mereka bertemu sejenak.

"Kau sudah pulang?" tanya Raka singkat.

Nadira mengangguk.

"Iya."

Suasana kembali hening.

Biasanya Nadira akan langsung masuk kamar atau pura-pura sibuk dengan ponselnya.

Namun kali ini, ia justru berdiri di tempatnya, seolah ingin mengatakan sesuatu.

Raka memperhatikannya.

"Kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya pria itu datar.

Nadira ragu sejenak.

Ia tahu seharusnya ia tidak menanyakan hal ini.

Tapi rasa penasaran itu terlalu kuat.

"Aku… bertemu Vanessa hari ini."

Alis Raka sedikit berkerut.

"Di mana?"

"Di kantor."

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

Raka melepas jasnya lalu meletakkannya di sandaran kursi.

"Apa yang dia katakan?" tanyanya.

Nada suaranya tetap tenang, tapi Nadira bisa merasakan sesuatu yang berbeda di dalamnya.

"Apa kalian… sangat dekat dulu?" tanya Nadira hati-hati.

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Raka tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap Nadira cukup lama, seolah menimbang sesuatu di dalam pikirannya.

"Kenapa kau menanyakan itu?" balasnya.

Nadira menunduk sedikit.

"Tidak ada alasan khusus."

Ia tersenyum kecil, meskipun senyum itu terasa dipaksakan.

"Aku hanya penasaran."

Raka berjalan mendekat beberapa langkah.

Tatapannya tajam, seakan mencoba membaca isi hati Nadira.

"Ini hanya pernikahan kontrak, Nadira," katanya pelan.

"Seharusnya kau tidak perlu memikirkan hal seperti itu."

Kata-kata itu terasa seperti pisau kecil yang menusuk tanpa terasa.

Nadira terdiam.

Ia tahu Raka benar.

Tapi entah kenapa tetap terasa tidak enak di hati.

"Benar," jawabnya singkat.

"Aku hanya bertanya."

Ia berbalik seolah ingin pergi ke kamar.

Namun sebelum sempat melangkah jauh, suara Raka kembali terdengar.

Aku dan Vanessa memang pernah saling mengenal."

Nadira berhenti.

Perlahan ia menoleh.

Raka berdiri di tempat yang sama, wajahnya terlihat lebih serius dari biasanya.

Dulu," lanjutnya.

"Kami hampir menikah."

Jantung Nadira seakan berhenti sesaat.

Hampir menikah?

Ia tidak menyangka hubungan mereka sedalam itu.

"Lalu kenapa tidak jadi?" tanya Nadira tanpa sadar.

Raka terdiam.

Untuk pertama kalinya, Nadira melihat sesuatu yang berbeda di mata pria itu.

Bukan dingin.

Bukan juga marah.

Melainkan sesuatu yang lebih dalam.

Sesuatu yang seperti luka lama.

"Karena dia pergi," jawab Raka singkat.

Nadira terkejut.

"Pergi?"

"Tanpa penjelasan."

Ruangan itu kembali sunyi.

Nadira tidak tahu harus berkata apa.

Ia tidak pernah membayangkan bahwa pria setenang dan sedingin Raka pernah mengalami hal seperti itu.

Tiba-tiba ponsel Raka berdering.

Pria itu melihat layar ponselnya, lalu ekspresinya sedikit berubah.

"Vanessa," gumamnya pelan.

Nadira tanpa sengaja melihat nama itu di layar.

Raka mengangkat teleponnya.

"Ada apa?" katanya.

Beberapa detik berlalu.

Ekspresi Raka berubah menjadi serius.

"Apa?"

Nadira memperhatikan dari kejauhan.

"Baik. Aku akan ke sana sekarang."

Telepon itu ditutup.

Raka langsung mengambil kembali jasnya.

"Kau mau pergi?" tanya Nadira.

"Ada sesuatu yang harus aku urus."

"Karena Vanessa?"

Raka menatapnya sebentar.

"Dia mengalami masalah."

Jawaban itu sederhana, tapi cukup membuat hati Nadira terasa aneh.

Raka berjalan menuju pintu.

Namun sebelum keluar, pria itu berhenti sejenak.

"Nadira."

Wanita itu menoleh.

"Kau tidak perlu memikirkan masa laluku."

Setelah mengatakan itu, Raka keluar dari apartemen.

Pintu tertutup perlahan.

Dan Nadira hanya berdiri diam di ruang tamu yang tiba-tiba terasa sangat kosong.

Entah kenapa.

Untuk pertama kalinya sejak pernikahan kontrak itu dimulai—

Ia merasa takut.

Takut bahwa suatu hari nanti, Raka mungkin akan memilih kembali pada masa lalunya.

Dan saat itu terjadi…

Ia tidak tahu apakah hatinya akan tetap baik-baik saja.

Apartemen itu terasa semakin sunyi setelah Raka pergi. Suara pintu yang menutup tadi seakan masih terngiang di telinga Nadira. Ia berdiri cukup lama di ruang tamu, menatap pintu yang baru saja ditutup pria itu.

Perlahan Nadira menghembuskan napas panjang.

“Kenapa aku merasa seperti ini…” gumamnya pelan.

Ia berjalan menuju balkon apartemen. Dari sana, lampu-lampu kota terlihat begitu terang. Mobil-mobil berlalu lalang di jalan raya, seperti tidak pernah berhenti.

Namun di dalam hatinya, semuanya terasa begitu rumit.

Ia bersandar pada pagar balkon, menatap langit malam.

Ucapan Raka tadi terus berputar di pikirannya.

Dulu kami hampir menikah.

Kalimat itu terasa seperti gema yang terus kembali.

Nadira memejamkan matanya sesaat.

Ia tidak tahu mengapa hatinya terasa berat setelah mendengar itu.

Padahal sejak awal ia sudah tahu pernikahan ini hanyalah kontrak.

Tidak ada cinta.

Tidak ada komitmen yang sebenarnya.

Semua hanya kesepakatan.

Namun kenyataannya, semakin lama ia berada di dekat Raka, semakin sulit baginya untuk menjaga jarak.

Pria itu memang dingin.

Terkadang bahkan menyebalkan.

Tapi di balik semua itu, ada sisi lain yang jarang orang lihat.

Cara Raka diam-diam memastikan ia makan ketika lembur di kantor.

Cara pria itu selalu pulang ke apartemen meskipun jadwalnya sangat padat.

Dan cara Raka berdiri di depannya waktu itu, ketika seseorang hampir mempermalukannya di rapat perusahaan.

Semua itu membuat Nadira tanpa sadar mulai terbiasa dengan keberadaan Raka.

Bahkan… mungkin terlalu terbiasa.

“Ah, sudahlah.”

Nadira menggelengkan kepalanya, seolah ingin mengusir pikiran-pikiran itu.

Ia kembali masuk ke dalam apartemen lalu duduk di sofa. Tangannya meraih ponsel di meja.

Tanpa sadar ia membuka berita bisnis yang menampilkan foto Raka di salah satu artikel.

CEO muda yang sukses.

Pria yang selalu terlihat sempurna di mata publik.

Nadira menatap foto itu cukup lama.

“Jadi dulu kamu hampir menikah dengan orang lain…” gumamnya pelan.

Ia meletakkan kembali ponselnya.

Di sisi lain kota, Raka sedang mengendarai mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi. Jalanan malam masih cukup ramai, tapi pikirannya jauh lebih kacau daripada lalu lintas di depannya.

Telepon dari Vanessa tadi membuatnya terkejut.

Wanita itu mengatakan sedang berada di sebuah hotel dan membutuhkan bantuan.

Awalnya Raka sempat ragu.

Namun pada akhirnya ia tetap datang.

Mobilnya berhenti di depan hotel mewah di pusat kota. Ia keluar dengan langkah cepat lalu masuk ke dalam lobi.

Beberapa menit kemudian, ia menemukan Vanessa duduk di salah satu sofa.

Wanita itu terlihat berbeda dari biasanya.

Rambutnya sedikit berantakan, dan wajahnya tampak lelah.

“Vanessa,” panggil Raka.

Wanita itu mengangkat wajahnya.

Begitu melihat Raka, matanya langsung berkaca-kaca.

“Kamu benar-benar datang…”

Raka berdiri di depannya.

“Apa yang terjadi?”

Vanessa menggigit bibirnya pelan.

“Aku tidak tahu harus meminta bantuan siapa lagi selain kamu.”

Raka menghela napas pendek.

“Apa masalahnya?”

Vanessa menunduk beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan,

“Aku dikejar seseorang… mereka menuntutku membayar hutang.”

Raka terdiam.

“Hutang?”

Vanessa mengangguk perlahan.

“Bisnis yang aku jalankan di luar negeri… gagal.”

Raka menatap wanita itu dengan ekspresi serius.

“Berapa jumlahnya?”

Vanessa ragu sejenak sebelum menjawab.

“Lima miliar.”

Raka terdiam cukup lama.

Bukan karena jumlah uangnya.

Melainkan karena situasi yang tiba-tiba menjadi jauh lebih rumit.

Vanessa kemudian menatapnya dengan mata penuh harap.

“Aku tahu aku tidak pantas meminta bantuanmu setelah semua yang dulu…”

“Tapi sekarang aku benar-benar tidak punya siapa-siapa lagi.”

Sementara itu, jauh di apartemen mereka…

Nadira duduk sendirian di ruang tamu.

Ia mencoba menonton televisi, tapi pikirannya tetap melayang.

Jarum jam sudah menunjuk hampir tengah malam.

Namun Raka belum juga pulang.

Entah kenapa, perasaan tidak tenang mulai muncul di hatinya.

Dan tanpa Nadira sadari—

Malam ini akan menjadi awal dari masalah yang jauh lebih besar bagi pernikahan kontrak mereka.

Bersambung...

1
Saridi Rangkas
sangat bagus cerita nya
Saridi Rangkas
👍
JR Rhna
tak dijelaskan secara terperinci apa keuntungan yg didapatkan dari kedua belah pihak.ceritanya sangat cepat tanpa penjelasan lebih
Ana Sutiana: iya maaf ya?? kadang saya suka ga fokus menulis nya??,, maaf juga masih berantakan kisah nya🙏
total 1 replies
Ratna Ningsih
kok banyak yg di ulang ulang ceritanya
Ana Sutiana
bagus dan menarik ceritanya untuk di baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!