NovelToon NovelToon
Cinta Kontrak Seorang CEO

Cinta Kontrak Seorang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ana Sutiana

Ketika hidupmu dipenuhi dengan rutinitas dan kesibukan, tiba-tiba sebuah kontrak cinta muncul di depan mata. Sakira Anindya, seorang wanita muda yang mandiri, harus menjalani perjanjian unik dengan seorang CEO tampan dan misterius, Rafael Pratama. Awal dari perjanjian itu hanyalah formalitas, tapi hati tak pernah bisa diajak kompromi.

bisakah Sakira menjaga jarak tanpa terjerat perasaan? Ataukah kontrak ini justru membuka jalan bagi cinta yang tak pernah ia duga? Drama, romansa, dan rahasia CEO menanti untuk mengubah hidup Sakira selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Sutiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Ketika kejujuran tidak lagi bisa di tunda

Sakira berdiri di depan jendela kamar, memandangi langit sore yang kelabu. Awan menggantung berat, seolah menahan hujan yang sama beratnya dengan isi dadanya. Pesan Rafael siang tadi masih tersimpan di ponselnya, belum ia balas lagi setelah persetujuan singkat itu. Ia tahu, percakapan yang akan terjadi malam ini bukan sekadar obrolan biasa. Ini akan menjadi titik balik—atau titik akhir.

Ia menghembuskan napas panjang, mencoba menenangkan diri. Sejak kapan hidupnya menjadi serumit ini? Dulu, ia hanya perempuan biasa yang berusaha bertahan hidup. Kini, ia terjebak dalam pernikahan kontrak dengan seorang CEO, jatuh cinta pada pria yang seharusnya tidak ia cintai, dan dihadapkan pada pilihan yang tak pernah ia minta.

Sementara itu, Rafael mengemudi tanpa pengawalan, sesuatu yang jarang ia lakukan. Ia ingin sendirian. Jalanan kota mulai padat, klakson bersahutan, namun pikirannya jauh lebih bising. Kata jujur dari pesan Sakira terngiang di kepalanya seperti tuntutan yang tak bisa ia hindari lagi.

Selama ini, ia hidup dengan aturan: emosi tidak boleh mengganggu keputusan, dan perasaan tidak boleh menguasai kendali. Tapi Sakira merusak semua itu—bukan dengan paksaan, melainkan dengan ketulusan yang tidak pernah ia temui di dunia bisnis.

Mobil Rafael berhenti di depan rumah. Ia tidak langsung turun. Tangannya masih mencengkeram setir, rahangnya mengeras. Untuk pertama kalinya, ia takut berbicara—karena kali ini, kata-kata bisa mengubah segalanya.

Malam datang perlahan. Rumah itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Sakira duduk di ruang tamu, tangannya saling menggenggam. Ketika pintu terbuka dan Rafael masuk, ia berdiri refleks. Mereka saling menatap dalam jarak beberapa langkah—terlalu dekat untuk berpura-pura, terlalu jauh untuk saling menyentuh.

“Kita bicara di ruang kerja,” kata Rafael pelan.

Sakira mengangguk.

Mereka duduk berhadapan. Tidak ada minuman. Tidak ada basa-basi. Hanya dua orang dewasa yang sama-sama terluka, berdiri di atas kejujuran yang rapuh.

“Aku tidak akan memutar kata-kata,” Rafael memulai. “Aku sudah lama kehilangan kendali atas perasaan ini.”

Sakira menelan ludah. Dadanya berdebar keras.

“Awalnya aku mengira ini hanya kebiasaan. Lalu kenyamanan. Tapi ternyata bukan,” lanjut Rafael. “Aku cemburu saat kamu ingin bekerja. Aku gelisah saat kamu menjauh. Dan aku takut saat kamu bicara tentang hidup setelah kontrak.”

Ia berhenti sejenak, menatap Sakira dalam-dalam. “Aku jatuh cinta padamu.”

Kata-kata itu meluncur begitu saja, tanpa hiasan. Jujur. Telanjang.

Sakira terdiam. Matanya berkaca-kaca, namun wajahnya tetap tenang. “Kamu tahu betapa berbahayanya kalimat itu bagiku?”

Rafael mengangguk. “Aku tahu.”

“Kamu CEO. Kamu punya dunia sendiri. Keluarga, reputasi, masa depan yang sudah tertata. Sedangkan aku?” Sakira tersenyum pahit. “Aku hanya perempuan yang kamu tarik masuk lewat kontrak.”

“Itu kesalahanku,” ucap Rafael cepat. “Dan aku menyesalinya.”

“Penyesalan tidak selalu cukup,” balas Sakira lirih. “Aku tidak mau menjadi pilihan yang mudah. Aku tidak mau dicintai diam-diam tapi disembunyikan terang-terangan.”

Rafael bangkit dari duduknya. “Aku tidak akan menyembunyikanmu.”

Sakira berdiri juga. “Kata-kata itu mudah diucapkan sekarang. Tapi bagaimana saat keluargamu datang? Saat mereka menilai aku tidak pantas? Saat kamu harus memilih?”

Rafael terdiam. Ia tahu pertanyaan itu akan datang.

Dua hari kemudian, keluarga besar Rafael benar-benar datang. Rumah itu mendadak ramai oleh suara langkah, tawa yang dibuat-buat, dan tatapan yang menilai. Sakira berdiri di sisi Rafael, mengenakan gaun sederhana. Ia tidak mencoba terlihat mencolok. Ia hanya menjadi dirinya sendiri.

Ibunda Rafael tersenyum tipis. “Jadi kamu Sakira.”

“Iya, Bu,” jawab Sakira sopan.

Pandangan itu tidak ramah, tapi juga tidak kasar. Lebih seperti pisau yang dibungkus senyum.

Makan malam berlangsung dengan formalitas yang kaku. Pertanyaan demi pertanyaan mengarah halus tapi menusuk—tentang latar belakang Sakira, pekerjaannya, keluarganya. Sakira menjawab dengan jujur, tanpa berusaha membesar-besarkan apa pun.

“Apa rencanamu setelah menikah?” tanya salah satu bibi Rafael.

Sakira melirik Rafael sekilas, lalu kembali menatap penanya. “Tetap bekerja. Saya ingin mandiri.”

Ruangan mendadak hening.

Ibunda Rafael meletakkan sendoknya. “Istri Rafael seharusnya fokus mendukung suami, bukan mengejar ambisi sendiri.”

Sakira membuka mulut, namun Rafael lebih dulu berbicara.

“Ibu,” katanya tegas. “Sakira bukan aksesori. Dia pasanganku.”

Semua mata tertuju pada Rafael.

“Dan satu hal lagi,” lanjutnya. “Pernikahan kami memang berawal dari kontrak. Tapi sekarang, aku bersama Sakira karena aku memilihnya.”

Kata kontrak membuat beberapa orang terkejut. Ada bisik-bisik, ada tatapan tajam. Sakira merasa kakinya melemah. Ini lebih cepat dari yang ia kira.

Ibunda Rafael menatap putranya lama. “Kamu serius?”

“Sangat serius.”

“Maka kamu harus siap dengan konsekuensinya,” ucap sang ibu dingin. “Keluarga ini punya standar.”

Rafael menggenggam tangan Sakira. “Dan aku siap.”

Malam itu, setelah keluarga besar pergi, Sakira melepaskan genggaman Rafael. Tangisnya pecah. Bukan karena penghinaan, melainkan karena keberanian Rafael yang membuat hatinya semakin rapuh.

“Aku tidak ingin kamu mengorbankan segalanya karena aku,” ucap Sakira di sela tangis.

Rafael memeluknya. Erat. “Aku tidak merasa berkorban. Aku hanya berhenti bersembunyi.”

Namun Sakira tahu, kenyataan tidak sesederhana itu.

Beberapa hari berikutnya, tekanan mulai terasa. Saham perusahaan bergejolak. Gosip beredar. Dewan direksi mempertanyakan fokus Rafael. Semua yang Sakira khawatirkan mulai terjadi.

Suatu malam, Sakira menunggu Rafael yang pulang larut. Ketika pria itu akhirnya masuk dengan wajah lelah, Sakira berdiri dengan mata sembab namun tekad yang bulat.

“Aku akan pergi,” katanya.

Rafael tertegun. “Apa?”

“Aku tidak ingin menjadi alasan kamu kehilangan segalanya,” lanjut Sakira. “Aku mencintaimu, Rafael. Justru karena itu aku tidak bisa egois.”

Rafael mendekat, wajahnya pucat. “Jangan ambil keputusan sendiri.”

“Aku sudah terlalu lama hidup di bawah keputusan orang lain,” balas Sakira lembut. “Untuk sekali ini, izinkan aku memilih.”

Ia meletakkan cincin di meja. “Kontrak kita berakhir lebih cepat.”

Rafael rafael menahan napas. Dadanya terasa hancur, tapi ia tahu—ini bukan akhir, ini ujian.

Jika cintanya cukup kuat, ia tidak akan membiarkan Sakira pergi sendirian.

Dan Sakira, melangkah keluar malam itu dengan air mata yang jatuh, tidak tahu bahwa keputusannya justru akan memaksa Rafael melakukan hal yang paling berani dalam hidupnya—memilih cinta, meski harus melawan dunia.

Pintu tertutup dengan suara pelan, namun bagi Rafael, bunyinya terdengar seperti dentuman keras yang merobohkan seluruh pertahanannya. Ia berdiri membeku di ruang tamu, menatap meja tempat cincin itu tergeletak. Benda kecil itu memantulkan cahaya lampu, dingin dan tak bernyawa—berbanding terbalik dengan perasaan yang kini berkecamuk di dadanya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya,

rafael benar-benar merasa ditinggalkan.

Ia mengambil cincin itu perlahan, menggenggamnya erat hingga telapak tangannya memerah. Bayangan Sakira berjalan keluar dengan bahu bergetar terus terulang di kepalanya. Ia tahu, kepergian itu bukan karena Sakira tidak mencintainya, melainkan karena cintanya terlalu besar hingga rela mengalah.

Dan itu yang paling menyakitkan.

Rafael duduk di sofa, menyandarkan tubuhnya, menutup mata. Selama ini ia terbiasa memegang kendali—atas perusahaan, atas orang-orang di sekitarnya, bahkan atas masa depannya sendiri. Namun malam ini, semua itu terasa tidak berarti tanpa Sakira di sisinya.

Di tempat lain, Sakira berjalan tanpa tujuan jelas. Udara malam dingin menusuk kulitnya, namun ia membiarkannya. Air mata terus jatuh, tak lagi ia usap. Setiap langkah terasa berat, seolah kakinya menolak pergi, namun hatinya memaksa.

“Aku melakukan hal yang benar,” bisiknya berulang-ulang, mencoba meyakinkan diri sendiri.

Namun setiap kali ia mengingat wajah Rafael—tatapan terluka yang berusaha tegar—dadanya kembali sesak. Ia berhenti di trotoar, menunduk, menangis dalam diam. Tidak ada yang tahu betapa berat keputusan itu baginya. Tidak ada yang tahu bahwa ia meninggalkan separuh hatinya di rumah itu.

Ponselnya bergetar. Nama Rafael muncul di layar.

Sakira menatapnya lama. Sangat lama. Jemarinya bergetar di atas layar, namun akhirnya ia mematikan ponsel itu. Bukan karena tidak ingin menjawab, melainkan karena jika ia mendengar suara Rafael sekarang, ia tahu ia akan berbalik arah.

Dan ia tidak boleh.

Keesokan paginya, Rafael datang ke kantor dengan wajah dingin namun mata yang kelelahan. Rapat dewan direksi berlangsung tegang. Pertanyaan demi pertanyaan mengarah pada kehidupan pribadinya, pada gosip yang beredar, pada keputusannya yang dianggap tidak rasional.

“Aku tetap pada keputusanku,” ujar Rafael tegas di tengah rapat. “Dan jika perusahaan ini mengharuskanku mengorbankan kebahagiaan pribadiku untuk dianggap layak memimpin, maka ada yang salah dengan cara kita memandang kepemimpinan.”

Ruangan sunyi. Beberapa direktur saling pandang. Keberanian Rafael membuat mereka terdiam, namun juga menyalakan konflik yang lebih besar.

Sementara itu, Sakira tiba di tempat tinggal sementaranya—sebuah kamar kecil yang sederhana. Ia duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya. Sunyi. Tidak ada suara langkah Rafael, tidak ada aroma kopi pagi, tidak ada kehadiran yang selama ini ia pura-pura anggap biasa.

Di dalam kesunyian itu, Sakira akhirnya mengakui satu hal dengan jujur.

Pergi tidak membuatnya lebih kuat. Pergi hanya membuktikan bahwa cintanya pada Rafael nyata.

Dan jauh di dalam hatinya, ada harapan kecil yang ia kubur dalam-dalam—bahwa suatu hari, Rafael akan datang bukan sebagai CEO, bukan sebagai suami kontrak, melainkan sebagai pria yang memilihnya tanpa syarat.

Harapan itu berbahaya.

Namun cinta, sejak awal, memang tidak pernah aman.

Bersambung...

1
Ana Sutiana
bagus dan menarik ceritanya untuk di baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!