Pembalasan Item Surgawi
"Sampah tidak berguna." Itulah julukan bagi Tian Feng. Di saat murid lain bertaruh nyawa demi setetes energi kultivasi, Feng justru memilih tidur malas sebagai pelayan di Paviliun Pengobatan.
Namun, dunia tidak tahu bahwa Feng menyembunyikan rahasia besar: Ia adalah keturunan terakhir Aliran Tao Terlarang yang diburu seluruh dunia.
Dengan bantuan Perkamen Alkimia Arus Balik, Feng mengambil jalan pintas mematikan. Ia bisa menjadi kuat dalam semalam tanpa latihan! Tapi, surga tidak memberi cuma-cuma. Setiap kekuatan instan menciptakan Hutang Karma—sebuah "penagihan" nyawa yang datang dalam bentuk petir bencana dan musuh-musuh haus darah.
Demi menyembunyikan identitasnya, Feng rela difitnah sebagai "Kelinci Percobaan Medis" yang sekarat. Namun, saat segel giok di dadanya retak dan para Tetua mulai mengincarnya, si pemalas ini terpaksa bangun.
Satu pil untuk menghancurkan pedang jenius. Satu teknik untuk membungkam langit.
Mampukah Tian Feng melunasi hutang karmanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: SIMFONI ES DAN API
Langit di atas Puncak Awan Putih pada hari pertama Babak Utama tidak lagi berwarna biru cerah, melainkan keperakan, tertutup oleh formasi pelindung raksasa yang berpendar redup. Ribuan bendera sutra dari berbagai klan berkibar di sepanjang dinding stadion batu yang baru saja diperkuat dengan prasasti kuno. Pagi itu, udara tidak hanya membawa aroma dupa dan embun, tetapi juga bau tajam dari energi Chi yang dilepaskan oleh para pendekar tingkat tinggi yang mulai mengisi tribun kehormatan.
Di barisan paling depan, para delegasi dari kekaisaran pusat duduk berdampingan dengan perwakilan Sekte Bulan Teratai dan Sekte Pedang Langit. Kehadiran mereka mengubah turnamen sekte internal ini menjadi panggung politik yang sangat krusial.
Namun, di sudut gelap koridor Paviliun Pengobatan, Tian Feng sedang tidak memikirkan politik. Ia sedang bersandar pada dinding batu, napasnya keluar dalam bentuk uap panas yang membara. Tangannya mencengkeram dadanya, di mana garis-garis hitam kebiruan kini tampak berpendar merah redup di bawah kulitnya.
"Sial... Tetua Agung benar-benar menanam bom di dalam diriku," bisik Feng.
Setiap detak jantungnya terasa seperti hantaman palu godam. Sepuluh persen energi Chi Naga Emas yang ia serap kemarin tidak bisa dibuang ke bumi sepenuhnya. Energi itu terlalu murni, terlalu agresif, dan sekarang ia terjebak di dalam Dantiannya yang baru, mencoba membakar jalur meridiannya yang masih segar.
"Minum ini. Jangan banyak bicara."
Sebuah tangan ramping menyodorkan botol porselen kecil berwarna biru tua. Feng tersentak, matanya yang memerah menatap sosok di depannya. Seorang wanita berdiri di sana, mengenakan jubah putih bersih dengan sulaman teratai perak di pinggirannya. Wajahnya tertutup cadar tipis, namun matanya yang tajam dan tenang menembus kegelapan koridor.
"Lin Xuelan?" Feng mengenali lambang sektenya. "Apa yang dilakukan murid Sekte Bulan Teratai di sini?"
"Menyelamatkan nyawa pewaris yang bodoh," jawabnya dingin. Suaranya halus namun mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah. "Energi Tetua Agung Mu adalah api matahari yang murni. Tanpa penyeimbang, kau akan meledak sebelum mencapai arena. Minum, atau aku akan membiarkanmu menjadi abu."
Feng menyambar botol itu dan meminum isinya. Rasa dingin yang luar biasa langsung menjalar di tenggorokannya, menekan rasa panas di dadanya untuk sementara. "Kenapa kau membantuku?"
Lin Xuelan terdiam sejenak, menatap pusaran giok di leher Feng yang sedikit terlihat. "Keluargaku pernah bersumpah pada darah leluhurmu untuk menjaga api Tao tetap menyala. Tapi ingat, Tian Feng, musuh-musuh lama garis keturunanmu sudah mulai mencium aromamu di Aula Utama kemarin. Jika kau ingin hidup, jangan biarkan siapa pun melihat apa yang ada di balik 'ruang kosong'-mu itu."
Sebelum Feng sempat bertanya lebih lanjut, wanita itu menghilang ke dalam kabut pagi, meninggalkan aroma melati yang samar.
Terompet perunggu raksasa berbunyi tiga kali, menandakan dimulainya Babak Utama. Suasana di stadion meledak dalam sorakan yang mengguncang gunung. Ribuan penonton berdiri saat wasit utama, seorang tetua dengan jubah emas, melangkah ke tengah arena yang kini dilapisi oleh batu obsidian yang lebih keras.
"Babak Utama, Pertandingan Pertama!" teriak wasit. "Zhao Ling dari Sekte Pedang Langit melawan Wu Kong dari Puncak Pertahanan!"
Feng berjalan keluar dari koridor, mencoba menstabilkan napasnya. Ia duduk di area peserta, mengamati pertandingan pertama dengan mata yang masih terasa panas.
Zhao Ling melangkah ke arena dengan keanggunan seorang dewi kematian. Ia tidak membawa sarung pedang; pedangnya, sebuah bilah tipis transparan yang tampak terbuat dari cahaya, melayang di samping bahunya. Lawannya, Wu Kong, adalah raksasa dengan perisai baja berat yang telah memenangkan puluhan pertandingan tanpa pernah tergores.
"Mulai!"
Wu Kong meraung, menghantamkan perisainya ke tanah, menciptakan gelombang kejut yang meretakkan lantai obsidian. Namun, Zhao Ling hanya menggerakkan dua jarinya.
SYUT!
Pedang cahayanya melesat, tidak menyerang perisai itu secara frontal, melainkan membelah udara di sekitarnya. Dalam hitungan detik, Wu Kong terhenti. Perisai bajanya yang tebal mendadak terbelah menjadi dua bagian yang sangat rapi, seolah-olah ia hanya terbuat dari kertas. Tak ada setetes darah pun yang tumpah, namun ujung pedang Zhao Ling sudah berada tepat di depan tenggorokan Wu Kong.
"Aku menyerah..." bisik Wu Kong, wajahnya pucat pasi.
Seluruh stadion terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya sorakan gemuruh kembali pecah. Efisiensi dan ketajaman Zhao Ling benar-benar berada di level yang berbeda. Ia adalah pedang yang tidak memiliki hambatan.
Di tribun Klan Lu, Tetua Lu tampak gelisah. Ia berbisik pada asistennya, "Pastikan Han Shuo tidak menahan diri. Aku tidak peduli jika dia harus menghancurkan arena, asal si bajingan Feng itu tidak keluar dari sana dalam keadaan utuh."
Matahari kini tepat berada di puncak langit. Panas di tubuh Feng kembali meningkat. Obat dari Lin Xuelan mulai kehilangan efeknya. Ia bisa merasakan energi api matahari dari Tetua Agung mulai mengamuk kembali, mencari jalan keluar.
"Pertandingan Kedua!" teriak wasit, suaranya bergema di seluruh stadion. "Tian Feng dari Paviliun Pengobatan melawan Han Shuo dari Klan Han!"
Suasana stadion mendadak berubah. Jika tadi adalah sorakan kekaguman, kini adalah bisik-bisik penuh kecurigaan dan kebencian. Banyak orang masih menganggap Feng adalah penipu atau produk eksperimen yang gagal.
Feng bangkit berdiri. Setiap langkahnya menuju arena terasa seperti berjalan di atas bara api. Ia bisa merasakan uap panas mulai merembes dari pori-porinya.
Han Shuo sudah menunggu di tengah arena. Begitu ia melihat Feng mendekat, suhu di sekitar arena turun drastis. Es mulai merayap di pinggiran batu obsidian. Han Shuo mengenakan jubah biru es yang berat, wajahnya sedingin kristal yang ia kendalikan.
"Kau tampak terbakar, Feng," ucap Han Shuo, suaranya mengandung nada ejekan yang dingin. "Apakah 'ruang kosong'-mu itu mulai penuh dengan sampah yang kau telan kemarin?"
Feng berdiri lima meter di depannya. Ia tidak membalas. Ia hanya memejamkan mata, memusatkan seluruh kekuatannya untuk menahan ledakan api di dalam dirinya.
"Wasit... cepat mulai," gumam Feng dengan suara serak. "Sebelum aku kehilangan selera untuk bermain."
Wasit mengangkat tangannya. "Mulai!"
Han Shuo tidak memberikan kesempatan sedetik pun. Ia langsung menghantamkan kedua telapak tangannya ke lantai arena.
"Domain Es Abadi: Penjara Sembilan Neraka!"
KRRRKKK!
Dalam sekejap, seluruh stadion tertutup kabut putih yang membekukan. Lantai obsidian tertutup es setebal satu meter dalam waktu kurang dari dua detik. Penonton di barisan depan terpaksa mundur karena udara dingin yang menusuk tulang. Es itu tumbuh dengan cepat, membentuk duri-duri raksasa yang mengarah tepat ke arah Feng dari segala arah.
Feng tetap berdiri diam. Ia tidak menghindar.
Saat duri-duri es itu menyentuh pakaiannya, penonton mengira itu adalah akhir dari sang "Tikus Lab". Namun, pemandangan yang terjadi justru membuat Tetua Agung Mu berdiri dari kursinya di tribun kehormatan.
Begitu es itu menyentuh tubuh Feng, suara mendesis yang sangat keras terdengar. Uap putih pekat meledak dari tubuh Feng, menyelimuti dirinya dalam kabut panas yang luar biasa. Es yang menyentuh Feng tidak hanya mencair, tapi langsung menguap menjadi gas.
"Apa?!" Han Shuo terkejut. "Kau menahan teknik Domain-ku dengan suhu tubuhmu?"
Feng perlahan membuka matanya. Iris matanya yang hitam kini memiliki lingkaran merah membara di tengahnya. Ia bukan lagi seorang pemalas yang mengantuk. Ia adalah tungku hidup yang sedang mencari pendingin.
"Terima kasih, Han Shuo," suara Feng terdengar berat dan bergema. "Esmu... adalah apa yang aku butuhkan."
Feng melangkah maju. Setiap langkah yang ia ambil meninggalkan jejak kaki yang membara di atas lantai es. Ia tidak menyerang; ia justru membiarkan duri-duri es Han Shuo menusuk ke arahnya. Dan setiap kali es itu menyerang, Feng justru menangkapnya dengan tangan kosong, menyerap hawa dingin itu secara paksa ke dalam meridiannya untuk mendinginkan api batinnya.
Benturan antara energi api matahari Tetua Agung di dalam tubuh Feng dan energi es abadi Han Shuo menciptakan badai uap yang menelan seluruh arena. Penonton tidak bisa lagi melihat apa yang terjadi di dalam; mereka hanya bisa mendengar suara es yang pecah dan raungan uap yang meledak-ledak.
Di dalam kabut pekat itu, Han Shuo mulai panik. Ia merasa energinya tidak lagi menyerang musuh, melainkan "dihisap" masuk ke dalam sebuah lubang tanpa dasar.
"Siapa kau sebenarnya?!" teriak Han Shuo, melepaskan teknik pamungkasnya—sebuah naga es raksasa yang meluncur dari langit.
Feng menengadah. Ia mengangkat tangan kanannya, di mana pusaran giok di pergelangan tangannya kini bercahaya sangat terang.
"Aku?" Feng bergumam di tengah badai uap. "Aku hanyalah orang yang benci merasa panas."
Feng mengepalkan tangannya. Seketika, naga es raksasa itu membeku di udara—bukan karena es, tapi karena seluruh energinya ditarik secara paksa oleh Feng. Dalam satu hentakan napas, Feng melepaskan campuran energi es dan api yang telah ia selaraskan melalui Seni Transmutasi Sunyi.
Sebuah gelombang kejut transparan menyapu seluruh arena, menghancurkan sisa-sisa es dan mengusir kabut uap dalam sekejap.
Han Shuo terlempar ke dinding pelindung arena dengan kekuatan yang menghancurkan tulang rusuknya. Ia jatuh tersungkur, napasnya memburu, sementara seluruh tubuhnya kini dipenuhi embun yang mendidih.
Feng berdiri di tengah arena yang kini benar-benar bersih dari es. Wajahnya kembali tenang. Garis-garis merah di dadanya menghilang, digantikan oleh aura yang sejuk dan stabil. Ia menatap tangannya, merasakan kekuatan yang jauh lebih padat dari sebelumnya.
"Pemenang... Tian Feng!" wasit berteriak, suaranya sedikit gemetar.
Namun, kejutan hari itu belum berakhir. Saat Feng hendak turun dari arena, sebuah getaran hebat mengguncang seluruh Puncak Awan Putih. Bukan dari pertandingan, melainkan dari langit.
Formasi pelindung raksasa sekte tiba-tiba retak. Di tengah langit yang perak, muncul sebuah retakan hitam besar. Dari dalamnya, turun sesosok pria tua dengan jubah hitam yang memiliki lambang Mata Berdarah—lambang dari musuh bebuyutan penganut Tao kuno.
"Di mana pewaris ketujuh itu?" suara pria tua itu menggelegar, meruntuhkan beberapa atap paviliun di kejauhan. "Berikan kepalanya pada kami, atau sekte ini akan menjadi kuburan masal hari ini!"
Seluruh stadion berubah menjadi kekacauan. Para tetua berdiri dengan senjata terhunus.
Feng menatap pria tua di langit itu, lalu melirik ke arah Lin Xuelan yang berdiri di kejauhan dengan wajah yang sangat tegang.
"Benar-benar hari yang panjang," gumam Feng sambil mengepalkan tinjunya yang kini terasa sangat ringan. "Padahal aku baru saja merasa nyaman."