NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Pewaris Terkaya Yang Diremehkan

Istri Kontrak Pewaris Terkaya Yang Diremehkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Laskar Bintang

Demi menyelamatkan perusahaan ayahnya, Alina menerima pernikahan kontrak dengan pewaris konglomerat yang dingin dan kejam. Di mata semua orang, ia hanyalah wanita murahan yang menikah demi uang.

Tak ada yang tahu, Alina sebenarnya pewaris keluarga finansial terbesar yang sengaja menyembunyikan identitasnya.

Saat kontrak hampir berakhir dan rahasianya terbongkar, sang suami justru jatuh cinta. Kini, ketika kebenaran terungkap siapa yang sebenarnya sedang mempermainkan siapa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laskar Bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan di Negeri Orang

Pesawat yang membawa Alina dan Arsen mendarat di Singapura saat langit masih berwarna abu kebiruan. Kota itu terlihat tenang dari balik jendela, gedung-gedung tinggi berdiri rapi seolah tak pernah mengenal kekacauan.

Berbeda dengan apa yang sedang mereka hadapi.

Alina menatap layar ponselnya. Pesan dari CEO Aurora Holdings belum berubah. Singkat. Formal. Tanpa penjelasan tambahan.

Kita perlu berbicara sebelum semuanya terlambat.

Kalimat itu terdengar seperti ancaman sekaligus permintaan tolong.

“Kau masih bisa membatalkan,” ujar Arsen pelan saat mereka berjalan keluar bandara.

Alina menggeleng. “Kalau dia benar-benar terpojok, ini kesempatan kita melihat kelemahannya.”

Arsen menatapnya sekilas. “Dan kalau ini jebakan?”

Alina tersenyum tipis. “Maka kita pastikan dia yang menyesal.”

Pertemuan dijadwalkan malam hari di sebuah hotel bintang lima di kawasan Marina Bay. Ruangannya privat, dengan dinding kaca besar menghadap laut dan lampu kota yang berkilauan.

Ketika Alina dan Arsen masuk, seorang pria paruh baya sudah menunggu.

Ia berdiri, menyambut mereka dengan senyum tipis yang lebih terlihat seperti formalitas daripada keramahan.

“Terima kasih sudah datang, Nyonya Alina. Tuan Arsen,” katanya.

Namanya Daniel Wijaya. CEO Aurora Holdings. Wajahnya tenang, tapi garis halus di sekitar matanya menunjukkan kurang tidur.

Alina duduk tanpa banyak basa-basi.

“Langsung saja,” katanya. “Apa yang ingin Anda bicarakan?”

Daniel menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan.

“Perusahaan Anda bergerak cepat,” ujarnya. “Aku akui, aku tidak menyangka.”

Alina tidak menjawab.

“Kalian berhasil mengamankan dukungan investor strategis, menstabilkan saham, bahkan membalikkan opini pasar.”

“Fakta tidak membutuhkan pujian,” balas Alina datar.

Daniel tersenyum samar. “Baiklah. Aku akan jujur. Aurora sedang menghadapi tekanan besar. Proyek Eropa itu… lebih rumit dari yang terlihat.”

Arsen bersandar santai, tapi tatapannya tajam. “Dan Anda ingin apa dari kami?”

Daniel menautkan jari-jarinya di atas meja.

“Kerja sama.”

Kata itu menggantung di udara.

Alina mengangkat alis. “Setelah semua yang Anda lakukan?”

“Bisnis bukan soal perasaan,” jawab Daniel tenang. “Ini soal bertahan.”

Alina menatapnya tanpa berkedip.

“Dan Anda berpikir kami akan membantu Anda bertahan?”

Daniel menarik napas pelan. “Saya tahu siapa Anda sebenarnya, Alina.”

Ruangan itu seketika terasa lebih dingin.

Arsen sedikit menegang, tapi Alina tetap diam.

“Pewaris keluarga finansial terbesar di Asia Tenggara,” lanjut Daniel. “Saya juga tahu Anda tidak pernah benar-benar kesulitan dana. Semua ini adalah pilihan.”

Alina tersenyum kecil. “Jika Anda sudah tahu, Anda seharusnya juga tahu saya tidak mudah ditekan.”

Daniel mengangguk. “Justru karena itu saya ingin bicara. Aurora punya jaringan global. Keluarga Anda punya kekuatan finansial dan reputasi. Jika kita bersatu, kita bisa menguasai pasar regional.”

“Dan kalau kami menolak?” tanya Arsen.

Daniel menatapnya langsung. “Maka perang ini akan menjadi lebih panjang. Dan lebih mahal.”

Alina bersandar perlahan.

Ia membaca situasi dengan cepat. Daniel tidak lagi menyerang. Ia sedang bernegosiasi dari posisi lemah.

Namun pria itu tetap berbahaya.

“Kerja sama seperti apa?” tanya Alina akhirnya.

Daniel tersenyum tipis. “Aliansi strategis. Investasi silang. Penghentian semua manuver agresif di pasar.”

Alina terdiam beberapa detik.

Lalu ia berkata pelan, “Anda tidak menawarkan kerja sama. Anda menawarkan penyelamatan.”

Daniel tidak menyangkal.

“Dan Anda berharap kami cukup baik hati untuk menyelamatkan Anda.”

“Kita bisa sama-sama untung.”

Alina menatap jendela kaca, melihat pantulan cahaya kota.

Ia teringat ayahnya. Teringat bagaimana perusahaan keluarga hampir runtuh karena tekanan dan manipulasi.

Aurora bukan korban.

Mereka bagian dari permainan kotor itu.

“Kenapa sekarang?” tanya Alina.

Daniel terdiam cukup lama sebelum menjawab. “Karena saya tahu Anda bukan tipe orang yang menghancurkan tanpa alasan.”

Alina tertawa kecil.

“Anda salah menilai saya.”

Keheningan kembali memenuhi ruangan.

Arsen akhirnya berbicara, suaranya rendah tapi tegas. “Kami tidak tertarik menjadi penyangga perusahaan yang goyah.”

Daniel menatap Alina sekali lagi. “Pikirkan ini baik-baik. Dunia bisnis berubah cepat. Musuh hari ini bisa menjadi sekutu esok.”

Alina berdiri.

“Saya tidak menutup kemungkinan apa pun,” katanya dingin. “Tapi jika Anda ingin aliansi, Anda harus datang bukan sebagai pihak yang terdesak.”

Ia melangkah menuju pintu, Arsen mengikutinya.

Sebelum keluar, Daniel berkata pelan, “Hati-hati, Alina. Tidak semua ancaman datang dari luar.”

Langkahnya berhenti sesaat.

Tapi ia tidak menoleh.

Di dalam mobil menuju hotel mereka, suasana hening.

“Apa menurutmu dia jujur?” tanya Arsen akhirnya.

“Dia jujur soal kelemahannya,” jawab Alina. “Tapi tidak soal niatnya.”

Arsen mengangguk pelan.

“Kita tidak bisa percaya begitu saja.”

“Aku tahu.”

Alina menatap lampu kota yang berkilauan.

“Aurora sedang terpojok. Itu membuat mereka berbahaya. Tapi juga membuat mereka bisa diprediksi.”

Arsen menoleh padanya. “Kau ingin memanfaatkan situasi ini?”

Alina tersenyum samar. “Aku ingin memastikan mereka tidak lagi menjadi ancaman.”

Keesokan paginya, berita baru muncul.

Beberapa investor besar Aurora menarik dana mereka.

Pasar bereaksi cepat.

Saham Aurora turun lagi.

Alina menerima telepon dari Hartono Group, menanyakan apakah Ardhana berniat mengambil alih sebagian aset Aurora yang mulai dilepas.

Arsen memandangnya ketika ia menutup panggilan.

“Kesempatan emas,” katanya.

Alina terdiam.

Mengambil alih aset berarti memperkuat posisi mereka.

Tapi itu juga berarti menghantam Aurora saat mereka jatuh.

“Apa kau ragu?” tanya Arsen lembut.

Alina menatapnya.

“Ayahku selalu bilang, kemenangan sejati bukan saat kita menjatuhkan lawan. Tapi saat kita tidak perlu lagi takut padanya.”

Arsen tersenyum kecil. “Dan sekarang?”

“Sekarang aku ingin memastikan tidak ada lagi yang bisa mempermainkan kita.”

Ia berdiri, mengambil laptopnya.

“Siapkan tim. Kita akan evaluasi aset yang paling strategis.”

Arsen menatapnya beberapa detik.

“Aku suka sisi ini darimu,” katanya pelan.

“Sisi apa?”

“Sisi yang tahu kapan harus lembut… dan kapan harus tak terhindarkan.”

Alina tersenyum tipis.

“Kau yang membuatku berani memilih.”

Arsen mendekat, menyentuh tangannya.

“Tidak,” katanya lembut. “Kau selalu berani. Aku hanya berdiri di sampingmu.”

Untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di Singapura, Alina merasa bukan hanya sebagai pebisnis.

Tapi sebagai perempuan yang memilih masa depannya sendiri.

Malam itu, saat ia berdiri di balkon hotel memandang laut yang gelap, ponselnya kembali bergetar.

Pesan dari Daniel.

Jika Anda berubah pikiran, pintu masih terbuka.

Alina menatap pesan itu lama.

Lalu mengetik balasan singkat.

Pintu hanya terbuka untuk yang datang tanpa niat tersembunyi.

Ia menekan kirim.

Angin malam menerpa wajahnya.

Permainan belum selesai.

Aurora belum benar-benar tumbang.

Dan rahasia lama mungkin masih bersembunyi di balik ancaman terakhir Daniel.

Namun satu hal kini pasti

Alina tidak lagi berdiri sendirian.

Dan jika dunia bisnis adalah papan catur, maka kali ini, ia bukan bidak.

Ia adalah pemainnya.

(BERSAMBUNG)

1
Osie
mampir nih..baca sipnosis sepertinya seru..so lanjut baca dan moga ini cerita gak ngegantung kayak jemuran 🙏🙏
Nia nurhayati
mampirrr thorr
Lusi Sabila
kayaknya seru nih.. buat bucin yaa Thor tuh yg dingin kayak kulkas 10 pintu Arsen 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!