Di usia 24-th Paroline Benedicta adalah wanita yang paling banyak dibicarakan di kampusnya di Los Angeles. Menawan, kaya, dan penuh teka-teki, ia menyusuri lorong kampus bukan dengan tas desainer, melainkan dengan kereta bayi yang membawa Andreas Sunny yang berusia dua tahun. Rumor yang beredar sangat kejam, mereka bilang dia adalah sosialita yang jatuh, seorang gadis yang ditinggalkan kekasihnya setelah melakukan kesalahan yang ceroboh.
Kenyataannya, Paroline adalah wanita yang memegang teguh janjinya, membesarkan putra yatim piatu dari mendiang sahabatnya seolah anaknya sendiri. Ia telah menukar malam-malam liarnya dan gaun pesta sutranya dengan kekuatan tenang dari seorang ibu, mengubur masa lalu pemberontaknya demi memberikan kehidupan yang sempurna bagi Andreas.
Masuklah Fharell Desmon, mahasiswa baru berusia sembilan belas tahun sekaligus pewaris karismatik dari Desmon Group.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#2
Suasana kelas pagi itu di University of California, Los Angeles terasa riuh rendah. Sinar matahari California menembus jendela kaca besar, menyinari deretan kursi teater kayu yang dipenuhi mahasiswa. Di barisan tengah, Fharell Desmon duduk santai dengan kaki menyilang, namun fokusnya terpecah saat teman-teman satu gengnya mulai mendekat dengan wajah serius.
"Rell, gue serius. Lo beneran mau main api sama si Paroline?" tanya Justin, sambil menggeser kursi agar lebih dekat ke arah Fharell.
Fharell hanya mengangkat alis, tangannya sibuk memainkan pulpen. "Main api apa? Kita cuma temen ngobrol, Jus."
"Temen ngobrol atau target?" timpal Brandon dengan nada mengejek. "Denger ya, Bro. Seluruh kampus tahu dia itu single parent. Dia punya buntut. Lo itu pewaris tunggal Desmon Group. Apa kata bokap lo kalau tahu lo jalan sama cewek yang sudah punya anak tanpa suami? Keluarga lo itu konservatif, Rell. Mereka nggak bakal terima barang bekas kayak gitu di silsilah keluarga kalian."
Wajah Fharell yang tadinya humoris berubah sedikit dingin. Ia tidak suka istilah yang digunakan Brandon. "Dia punya nama, Bran. Namanya Paroline. Dan anaknya, Andreas, adalah anak paling pintar yang pernah gue temui."
"Terserah lo, deh," Justin mendengus. "Kita cuma ngingetin. Jangan sampai nama besar Desmon jatuh cuma gara-gara lo penasaran sama hot mom di semester akhir itu."
Malam harinya, di dalam kamar asramanya yang luas dan modern, Fharell merebahkan tubuhnya. Kata-kata teman-temannya tadi siang masih terngiang, tapi bukannya menjauh, rasa penasarannya justru memuncak. Dengan gerakan impulsif, ia membuka aplikasi Instagram dan mengetikkan nama: @Paroline_Benedicta.
Akun itu tidak dikunci. Fharell mulai men-scroll dengan ibu jarinya.
Postingan Terbaru, ada Foto-foto estetik Paroline dan Andreas di taman. Paro terlihat sangat keibuan, mengenakan dress bunga-bunga yang sopan, menggendong Andreas dengan tatapan penuh kasih.
Video Singkatnya, Andreas yang sedang berjalan, didampingi Paroline yang tertawa renyah tanpa riasan wajah yang tebal. Ia tampak begitu murni, begitu tulus.
Fharell tersenyum sendiri. "Dia bener-bener ibu yang luar biasa," gumamnya.
Namun, rasa ingin tahunya membawa jarinya terus bergerak ke bawah, melewati ratusan foto hingga sampai pada postingan tiga atau empat tahun yang lalu, masa sebelum Paroline mengambil cuti panjang.
Mata Fharell membelalak. Ia menegakkan posisi duduknya, bersandar pada tempat tidur.
Sosok di layar ponselnya kini sangat berbeda. Itu adalah Paroline versi 20 tahun. Di sana, ia tampak sangat berani. Ada foto Paro di sebuah night club bergengsi di Los Angeles, mengenakan gaun mini hitam yang sangat ketat dan terbuka, memamerkan lekuk tubuhnya yang menggoda.
Di postingan lain, terdapat video singkat Paro sedang memegang rokok tipis di jemarinya yang lentik, tertawa liar di bawah lampu neon disko bersama teman-temannya.
Ada aura pemberontak, seksi, dan nakal yang terpancar kuat dari foto-foto lama itu. Sama sekali berbeda dengan sosok wanita anggun yang memayungi bayinya di lobi kampus kemarin.
"Woah..." Fharell bergumam, tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. "Ternyata rumor itu... ada bumbunya juga ya?"
Ia terdiam sejenak, menatap foto Paroline yang sedang memegang gelas minuman keras dengan tatapan mata yang sayu namun sangat menggoda. Pikiran nakal pria berusia 19 tahun mulai merayap di kepalanya. Ia membayangkan bagaimana rasanya jika sisi liar Paroline itu muncul kembali saat bersamanya.
"Gila, apa yang gue pikirin?" Fharell menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran mesum yang mendadak muncul. Ia tertawa kecil pada dirinya sendiri. "Tapi... kalau dipikir-pikir, calon istri yang punya banyak pengalaman itu justru lebih menarik, kan? Dia sudah melewati masa liarnya, dan sekarang dia tahu cara menjadi wanita yang sesungguhnya."
Alih-alih merasa ilfil atau jijik seperti kebanyakan orang, Fharell justru merasa semakin kagum. Ia melihat sebuah perjalanan transformasi yang luar biasa.
"Banyak orang bisa jadi orang baik sejak awal karena mereka tidak punya pilihan. Tapi Paroline? Dia pernah punya dunia di genggamannya, dia pernah jadi ratu pesta, tapi dia memilih untuk meninggalkan itu semua demi membesarkan seorang anak. Itu bukan kelemahan, itu kekuatan."
Fharell mematikan ponselnya, menatap langit-langit asrama dengan senyum tipis yang penuh arti. Baginya, masa lalu Paroline bukan lagi sebuah aib yang harus dihindari, melainkan sebuah teka-teki indah yang membuatnya ingin menggali lebih dalam.
"Paroline Benedicta," bisiknya pelan. "Lo makin bikin gue penasaran."
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰