Lima tahun Hana mengabdi sebagai istri dan menantu yang sempurna, meski hanya dianggap sebagai pelayan tak berbayar. Ia rela makan sisa rendang di ujung meja dan menelan hinaan setiap hari demi keutuhan rumah tangga.
Namun, saat Hana menemukan Aris—suaminya—sengaja menyembunyikan uang puluhan juta sementara putra mereka terancam putus sekolah karena SPP menunggak, Hana sadar: kesabarannya telah habis.
Hana pergi membawa ijazah akuntansi yang selama ini berdebu di gudang. Dari seorang ibu rumah tangga yang tertindas, ia bertransformasi menjadi akuntan tangguh di bawah bimbingan Adrian, CEO dingin yang membantunya mengungkap borok finansial keluarga Aris.
Hana tidak membalas dengan amarah, ia membalas dengan cara yang paling menyakitkan: menjadi jauh lebih sukses dan menghancurkan harga diri Aris di meja hukum. Ternyata, berhenti menjadi sabar adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Retak di Atas Keramik Italia
Kantor distributor milik Pak Baskoro bukanlah gedung pencakar langit dengan kaca mengkilap, melainkan sebuah ruko tiga lantai yang pengap dan penuh tumpukan sampel semen serta besi beton. Namun bagi Hana, ruko ini adalah medan pertempurannya yang pertama. Di meja kayu tua yang catnya sudah mengelupas, Hana duduk menghadapi tumpukan nota yang menggunung dan layar komputer tabung yang berkedip melelahkan.
Ia menarik napas panjang, mengikat rambutnya tinggi-tinggi, dan mulai menari di atas tuts kalkulator.
"Hana, ini data piutang tahun lalu yang macet. Staf sebelumnya bilang ini sudah tidak bisa ditagih karena perusahaannya bangkrut," ujar Pak Baskoro sambil meletakkan map merah yang berdebu di meja Hana.
Hana membuka map itu. Matanya yang jeli sebagai akuntan langsung menangkap sesuatu yang janggal. Nama-nama vendor yang tertera di sana terasa akrab. Salah satunya adalah CV. Maju Jaya, sebuah perusahaan sub-kontraktor kecil yang sering disebut-sebut Aris saat sedang sombong di meja makan dulu. Aris sering bercerita bahwa pemiliknya, Pak Gunawan, adalah "kaki tangannya" dalam proyek-proyek sampingan di kantor.
Hana menelusuri tanggal transaksinya. Aneh, pikirnya. Transaksi ini tercatat lunas di buku kas kecil, tapi di buku besar justru dianggap piutang tak tertagih.
"Pak Baskoro, boleh saya cek rekening koran perusahaan untuk bulan Oktober tahun lalu?" tanya Hana tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
"Untuk apa? Itu kan sudah diaudit staf lama," jawab Pak Baskoro ragu.
"Saya hanya ingin memastikan satu hal. Jika saya benar, Bapak tidak hanya kehilangan uang karena piutang macet, tapi Bapak sedang dirampok dari dalam."
Melihat keyakinan di mata Hana, Pak Baskoro akhirnya memberikan akses. Hana bekerja seperti kesurupan. Ia mengabaikan jam makan siang, hanya menyesap air mineral botolan sambil terus mencocokkan angka demi angka. Ia menemukan pola yang sangat rapi: staf lama Pak Baskoro bekerja sama dengan vendor—termasuk perusahaan teman Aris—untuk membuat nota ganda. Uang masuk ke kantong pribadi, sementara pembukuan dibuat seolah-olah vendor berhutang.
Hana tersenyum dingin. Ia menemukan nama Aris Putranto di salah satu catatan kecil sebagai "penerima komisi koordinasi".
Jadi begini caramu dapat bonus besar, Aris? Dengan memakan uang haram dari memeras distributor kecil seperti Pak Baskoro?
Sementara itu, di rumah Aris, suasana hari raya yang tadinya meriah kini berubah menjadi kekacauan yang sunyi. Keramik Italia yang baru dipasang memang terlihat mengkilap di bawah lampu teras, namun di dalam rumah, debu mulai menebal.
Ibu Salma duduk di kursi goyangnya, memijat keningnya yang berdenyut. "Maya! Mana teh hangat Ibu? Ini sudah jam empat sore!"
Maya keluar dari kamar dengan wajah cemberut dan rambut acak-acakan. "Duh, Ibu! Maya lagi sibuk update foto teras baru di Instagram! Masak bikin teh saja harus Maya? Kan ada kompor, Ibu tinggal nyalakan sendiri!"
"Ibu ini orang tua, Maya! Kakimu itu masih sehat! Kenapa kamu jadi malas begini sejak Hana pergi?"
"Bukan Maya yang malas, Bu! Tapi Hana itu yang jahat! Kenapa dia pergi tidak bilang-bilang? Sekarang cucian baju sudah menumpuk setinggi gunung di belakang. Maya tidak mau ya kalau harus cuci baju Mas Aris juga, bau keringat!" sahut Maya sambil membanting pintu kamarnya kembali.
Ibu Salma mendengus. Ia mencoba berdiri, namun lututnya terasa nyeri. Ia berjalan ke dapur dan hampir terpeleset sisa tumpahan minyak yang belum dibersihkan sejak kemarin. Dapur yang biasanya rapi dan beraroma wangi masakan Hana, kini berbau apek dan dipenuhi piring kotor yang mulai dihinggapi lalat.
Tak lama kemudian, Aris pulang dengan wajah lelah. Begitu masuk rumah, ia melempar tasnya ke atas sofa dan langsung mengeluh. "Bu, kenapa tidak ada makanan di meja? Aris lapar, tadi di kantor pusing sekali banyak kerjaan."
"Tanya adikmu itu! Kerjanya cuma main ponsel! Ibu tidak kuat kalau harus masak sendiri, Aris. Badan Ibu sakit semua," keluh Ibu Salma.
Aris berjalan ke dapur, berharap menemukan sisa makanan, namun yang ia temukan hanyalah panci kosong dan rice cooker yang nasinya sudah menguning dan berbau basi. Ia teringat bagaimana Hana biasanya menyambutnya dengan senyum—meski Hana lelah—dan sepiring makanan hangat yang selalu siap di meja.
"Sial!" Aris memukul pintu kulkas. "Kenapa wanita itu keras kepala sekali? Harusnya dia sudah minta ampun sekarang!"
Aris mengambil ponselnya, bermaksud memesan makanan lewat aplikasi, namun ia tertegun melihat saldo rekeningnya. Setelah membayar keramik Italia, biaya tukang, dan memberikan uang jajan tambahan untuk Maya, saldonya menyusut drastis. Ia baru sadar bahwa selama ini Hana-lah yang memutar uang belanja yang sangat minim itu menjadi kehidupan yang terlihat mewah.
Keesokan harinya di kantor, Hana menyerahkan sebuah laporan ringkas kepada Pak Baskoro.
"Pak, ini bukti penyimpangannya. Total kerugian Bapak mencapai dua ratus lima puluh juta rupiah dalam dua tahun terakhir. Dan ini," Hana menyodorkan selembar foto copy nota yang ia temukan, "adalah bukti bahwa vendor CV. Maju Jaya mengirimkan uang ke rekening pribadi staf Bapak dan seorang perantara bernama Aris Putranto."
Pak Baskoro menggebrak meja. Wajahnya merah padam. "Kurang ajar! Saya sudah curiga dengan Gunawan dari Maju Jaya itu, dia selalu berkelit kalau ditagih! Dan siapa Aris ini?!"
Hana menarik napas panjang, suaranya tetap tenang namun ada getaran emosi di sana. "Dia adalah suami saya, Pak. Atau lebih tepatnya, calon mantan suami saya."
Pak Baskoro tertegun. Ia menatap Hana dengan pandangan yang sulit diartikan—antara kasihan dan kagum. "Kamu mengkhianati suamimu sendiri untuk melaporkan ini?"
"Saya tidak mengkhianati siapa pun, Pak. Saya hanya membela kebenaran dan pekerjaan saya. Dia yang mengkhianati kepercayaan saya dan perusahaan Bapak dengan memakan uang yang bukan haknya," jawab Hana tegas. "Sekarang, Bapak punya dua pilihan. Melaporkan ini ke polisi, atau menggunakan bukti ini untuk menekan mereka agar mengembalikan uang Bapak."
Pak Baskoro terdiam lama, lalu ia tertawa kecil. "Hana, kamu benar-benar mutiara yang saya temukan di tumpukan sampah. Saya tidak akan lapor polisi dulu. Saya ingin mereka gemetar saat saya panggil besok. Dan saya ingin kamu yang duduk di sebelah saya saat pertemuan itu."
Malam itu, Hana pulang ke kontrakannya dengan perasaan puas yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia membelikan Gilang sebuah buku gambar dan krayon baru.
"Mama, tadi Ayah telepon ke HP Kak Siti pengasuh di sekolah," ujar Gilang saat mereka makan malam.
Hana menghentikan kunyahannya. "Lalu, Gilang bicara apa?"
"Ayah tanya Mama di mana. Ayah bilang kalau Mama tidak pulang, Ayah mau kasih semua mainan Gilang ke sepupu. Gilang bilang... ambil saja, nanti Mama belikan yang baru yang lebih bagus."
Hana tersenyum bangga, ia memeluk anaknya. "Pintar anak Mama."
Tak lama kemudian, pesan masuk ke ponsel Hana dari nomor baru yang ia tahu itu pasti Aris.
“Hana, besok Pak Gunawan dari Maju Jaya panggil aku. Katanya ada masalah di kantor barumu. Kamu jangan macam-macam ya! Jangan bikin malu aku di depan teman-temanku! Kalau kamu hancurkan hubunganku dengan Pak Gunawan, aku tidak akan segan-segan jemput paksa kamu dari kontrakan kumuhmu itu!”
Hana hanya membaca pesan itu tanpa membalas. Ia menatap pantulan dirinya di cermin kecil yang retak di dinding kontrakan. Ia tidak lagi melihat wanita yang lemah. Ia melihat seorang akuntan yang siap menghitung setiap butir dosa yang pernah dilakukan Aris padanya.
"Besok, Aris," bisik Hana pada cermin. "Besok kamu akan tahu bahwa keramik Italia-mu itu tidak akan cukup kuat untuk menahan runtuhnya duniamu."
Hana merebahkan diri di samping Gilang. Di bawah atap kontrakan yang bocor jika hujan, Hana justru merasa lebih aman daripada di dalam rumah mewah Aris. Karena di sini, tidak ada lagi kebohongan yang harus ia telan bersama sisa rendang.