NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Paksa Sang Dewa Kegelapan

Reinkarnasi Paksa Sang Dewa Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Kultivasi Modern
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Upaya bunuh diri Onad Nevalion berakhir dengan kegagalan. Alih-alih menemukan kematian, ia justru dibangkitkan oleh Dewa Kegelapan dan dikirim ke Solmara, sebuah dunia asing yang hancur oleh konflik antar entitas ilahi.

Onad terpilih sebagai wakil sang dewa untuk menghadapi Dewa Iblis di dunia Solmara. Dewa Kegelapan tidak dapat turun langsung karena campur tangannya akan melanggar hukum keseimbangan antar dunia.

Satu-satunya hal yang diinginkan Onad hanyalah menghilang dari kesialan hidupnya di dunia. Namun, mengapa kesialan itu justru mengejarnya hingga ke dunia lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mode Dewa Mengamuk

“Sial! Kalau gue lompat dari sini, gue pasti mati,” pikir Noah.

Tidak ada jalan keluar lain dari situasi ini. Terlalu banyak hal yang belum ia pahami. Bagaimana kalau ia mengaktifkan aura Dominasi Perang dan Mode Dewa Mengamuk sekaligus, tapi tetap saja tidak cukup untuk mengalahkan atau bahkan kabur dari mereka?

Ini serigala, bukan manusia yang bakal kehabisan napas setelah sprint beberapa menit.

Saat itu, serigala merah mulai melangkah mendekatinya dengan ekspresi mengejek yang jelas terlihat. Mereka sudah menilai bahwa Noah hanya tampak besar untuk ukuran manusia, tapi sama sekali tidak terlihat berani atau kuat untuk ukuran serigala.

“Sialan. Kayaknya gue enggak punya pilihan lain. Walau gue enggak tahu bakal selamat atau enggak lawan bajingan-bajingan ini, tetap lebih baik daripada lompat,” pikir Noah akhirnya.

Lupakan soal membunuh Dewa Iblis. Melihat situasi sekarang, membunuh seekor serigala saja terasa mustahil.

Ia juga belum tahu cara mengaktifkan kemampuannya.

“Coba aja dulu,” gumamnya dalam hati, lalu memusatkan pikiran bahwa dirinya sekarang lebih unggul dan lebih kuat dari musuh di depannya.

Ia teringat penjelasan Dominasi Perang yang bergantung pada emosinya. Selama ini ia cuma lari seperti pengecut, jadi tidak pernah terpikir menggunakannya dengan cara ini.

Noah menenangkan pikirannya dan menatap serigala merah yang mendekat. Dua serigala lainnya, seperti sebelumnya, menutup sisi kanan dan kiri untuk mencegahnya kabur.

Ia akhirnya benar-benar menenangkan diri dan memanggil satu perasaan yang hampir tidak pernah ia rasakan di kehidupan lamanya. Perasaan berkuasa. Dominasi.

“Gue enggak bakal mati di tempat asing begini! Gue akhirnya dapet kesempatan buat hidup kedua. Enggak ada siapa pun yang bakal ngambil ini dari gue!” teriak Noah dalam benaknya, membiarkan amarahnya meledak ke arah serigala yang mendekat.

Tiba-tiba, aura hitam mulai memancar dari tubuhnya saat tekad membunuh serigala di depannya menguat. Ini benar-benar situasi bunuh atau dibunuh.

Beberapa detik kemudian, aura yang menyelimutinya meredup, tapi tidak menghilang. Sebaliknya, tekanan di sekelilingnya justru meningkat, seakan gravitasi di sekitar Noah menjadi jauh lebih padat dan berat.

Langkah serigala merah pun goyah. Rasanya seperti ada batu besar yang menghantam tubuhnya. Kaki belakangnya mulai melemah, punggungnya melengkung ke bawah. Saat ia kembali menatap Noah, sosok itu terasa sulit untuk dipandang langsung.

Bagi serigala merah, Noah bukan lagi mangsa lemah. Ia terasa seperti pemburu yang siap memangsa mereka. Namun, ia tetap memaksakan diri melawan tekanan itu dan kembali melangkah ke arah Noah. Jarak mereka kini hanya sekitar lima meter.

Noah tercengang. “Sial! Masih belum cukup!” teriaknya dalam hati. “Terus teknik bertarung gimana? Gue juga enggak nemu cara buat ngaktifinnya. Mana sistem game sialan itu!” Ia mengumpat dalam benaknya.

Aura Dominasi Perang yang ia keluarkan belum cukup kuat untuk sepenuhnya menekan musuh di depannya. Ia memang memiliki pengetahuan semua teknik bertarung dari Khelgar, tapi ia sama sekali tidak tahu bagaimana cara menggunakan atau mengaksesnya.

“Jangan bilang teknik-teknik itu baru jalan kalau gue beneran bertarung. Kayak petarung sungguhan di medan perang. Dan enggak ada perintah atau jurus khusus buat ngejalaninnya?” pikirnya.

Kalau memang begitu, tidak ada pilihan lain selain menghadapi musuhnya secara frontal.

“Mode Dewa Mengamuk!” teriak Noah, lalu menerjang ke arah serigala merah yang bersiap menyerangnya. Dua serigala lainnya sudah tak sanggup menahan tekanan auranya dan tergeletak di tanah.

Noah melesat cepat dan menutup jarak di antara mereka. Serigala merah menggeram, memperlihatkan cakar tajamnya, lalu mengayunkan cakar kiri ke arah dada Noah.

Namun pada saat itu, Noah merasakan sesuatu terjadi pada tubuhnya sendiri. Begitu ia memikirkan Mode Dewa Mengamuk, otot-ototnya seakan mendadak berlipat ganda kekuatannya. Kakinya terasa jauh lebih ringan dan cepat. Dan saat cakar serigala merah hampir mengenainya, persepsi Noah tiba-tiba berubah.

Refleksnya terasa dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Ia merunduk, meluncur ke bawah ayunan cakar itu, lalu dengan cepat menghantamkan uppercut ke mulut serigala merah.

BAMMMMM

Rahang serigala merah terkena hantaman keras dan tubuhnya oleng. Ia sudah berjuang melawan tekanan dari aura Dominasi Noah, dan pukulan telak ke mulutnya membuat keseimbangannya benar-benar runtuh. Itu cukup untuk menjatuhkannya ke tanah.

THUMPPPP

Serigala itu tumbang. Sementara itu, Noah merasa tinjunya nyaris patah.

Bahkan dalam Mode Dewa Mengamuk yang memberinya kekuatan lima kali lipat, serangan itu hanya cukup untuk mendaratkan satu pukulan keras. Artinya, sejak awal ia memang jauh lebih lemah dibanding monster-monster ini.

Noah segera menghantam kepala serigala yang jatuh itu, lalu mengunci lehernya dalam cekikan. Otot-ototnya menegang, urat-urat menonjol di seluruh tubuhnya. Adrenalinnya memuncak, tapi ini semua hanya sementara.

Ia mengerahkan seluruh tenaga, berusaha mematahkan leher serigala yang masih meronta.

Makhluk itu menggeliat hebat dengan Noah di atas tubuhnya, berusaha menggigitnya dengan taring panjang dan besar, berjuang lepas dari cekikannya.

“Aaaaargh!” Noah berteriak, lalu memaksa seluruh kekuatannya keluar.

KRAKKKKK

Serigala itu merengek sekali lagi untuk terakhir kalinya sebelum tubuhnya terkulai tak bergerak, mati di tempat.

Tiba-tiba, sebuah bunyi notifikasi berdenting di dalam kepala Noah.

Namun Noah sama sekali tidak memedulikannya. Ia langsung bangkit dan berlari ke arah serigala yang sebelumnya menutup jalur pelariannya di sisi kiri.

Mendekati serigala yang sudah melemah itu, ia menyatukan kedua tangannya dan menghantamkan kepalan gabungan ke kepala serigala tersebut dengan sekuat tenaga.

Suara retakan terdengar dari tengkoraknya. Darah mengalir keluar dari telinga dan mulutnya.

Noah sadar ia sudah berada di batas terakhir. Ia tahu waktunya hampir habis. Dengan sisa tenaga yang ada, ia berlari ke arah serigala terakhir yang menutup jalur kanan.

Ia bisa merasakan kekuatannya terus terkuras, tapi ia memaksa diri tetap bergerak. Serigala itu akhirnya mulai mampu melawan tekanan dari aura Dominasi Noah.

“Nggak bakal gue biarin!” teriak Noah.

Ia melompat dengan seluruh tenaga kakinya dan melancarkan tendangan menukik seperti yang sering ia lihat di film-film bela diri.

BANGG

Tendangan itu menghantam tepat di antara tengkorak serigala, membelahnya. Darah muncrat ke tanah. Noah sendiri tidak mendarat dengan sempurna. Keseimbangannya hilang dan ia terjatuh.

“Gue berhasil!” teriak Noah.

Tubuhnya ambruk ke tanah, seluruh kekuatan seakan lenyap dari dirinya.

Baru saat itu ia benar-benar menyadari betapa besar dampak Mode Dewa Mengamuk terhadap tubuhnya.

Sekarang, ia bahkan tidak punya tenaga untuk mengangkat kepala atau sekadar membalikkan badan.

Ia terbaring di atas rumput dan tanah, merasakan tanah menempel di wajah dan punggungnya, dengan kerikil kecil yang menusuk-nusuk kulitnya.

“Hampir aja,” pikir Noah, akhirnya menyadari betapa tipisnya jarak antara hidup dan mati barusan.

Sedetik saja lebih lambat, dan ia pasti sudah dicabik-cabik oleh serigala terakhir yang kini tergeletak tak jauh darinya, hanya sekitar satu meter, dengan darah masih mengalir dari kepala yang hancur.

“Anjing, sakit banget!” Noah merasakan seluruh tubuhnya dilanda nyeri luar biasa. Terutama kedua tinjunya dan kaki kanan yang ia gunakan untuk menendang serigala terakhir.

DINGGG

...────୨ৎ────...

...Selamat kepada inang karena telah membuka kemampuan berikut untuk pertama kalinya....

...Dominasi Perang...

...Teknik Bertarung...

...Mode Dewa Mengamuk...

...Tubuh Dewa Perang...

...Inang telah mempelajari teknik Cekikan, Hentakan Vertikal, dan Pukulan Gabungan....

...Penguasaan saat ini untuk ketiga teknik tersebut: 30 persen pada Tingkat Master....

...Tubuh Dewa Perang akan mengalami peningkatan setelah inang keluar dari kondisi melemah....

...────୨ৎ────...

“Akhirnya, ketemu juga!”

Noah mendengar semua notifikasi itu bergema di dalam kepalanya. Dia sebenarnya sudah menduga sesuatu seperti ini akan terjadi sejak dia membunuh serigala merah dan mendengar bunyi ding di benaknya.

Yang tidak dia sangka, bukan cuma aura Dominasi Perang dan mode Dewa Mengamuk yang terbuka. Dia juga berhasil menembus batas kapasitasnya saat ini dan melampaui limit tubuhnya, memenuhi syarat untuk membuka Tubuh Dewa Perang. Artinya, setelah tenaganya pulih sepenuhnya, kekuatannya akan menjadi dua kali lipat.

Pertemuan pertama Noah di Solmara, tepat setelah dia masuk ke dunia ini, langsung berubah menjadi pertarungan hidup dan mati. Dia nyaris tidak selamat.

Siapa yang tahu, kalau dia mati di sini, apa akan ada yang tahu atau peduli?

Dia akan mati tanpa nama.

Lagi.

Noah kembali memusatkan pikirannya pada notifikasi di dalam kepalanya. Tidak ada panel sistem atau layar yang bisa dia buka untuk melihat daftar notifikasi atau menggulirnya satu per satu.

Rasanya sistem ini adalah bagian dari kesadarannya sendiri dan bekerja seperti pikirannya saat dia memikirkannya.

“Jelasin lebih lanjut,” katanya, mencoba memberi perintah.

DINGGG

...────୨ৎ────...

Ditemukan 3 tubuh tak bernyawa di dekat Inang. Inang disarankan menggunakan Penyerapan Kemampuan untuk meningkatkan kekuatan. Selain itu, Inang dapat menggunakan Sintesis untuk menggabungkan 2 entitas ini dan menciptakan makhluk bawahan. Inang harus mengambil dan memakan inti yang berada di dekat jantung ketiga entitas tersebut.

...────୨ৎ────...

Suara mekanis itu berhenti, setelah memberi tahu Noah tentang apa yang sudah dia capai dan apa yang bisa dia lakukan untuk memulihkan diri dan menjadi lebih kuat.

“Keren. Setidaknya gue punya semacam panduan buat hal-hal dasar dan pengingat,” gumam Noah, sebelum akhirnya tertidur karena kelelahan.

1
azizan zizan
sudah lah buang aja lah dari rak baca.... cerita tah apa2 tah ini...
azizan zizan
Thor kau bercerita apa kau menjelas...??????🤔🤔
DityaR: Oh, maksudnya Pacing cepat,
aku sengaja ga pakai itu. Feel-nya kurang dapet, lagian itu monolog dari persepsi Noah kok, biar konflik batin dia dapet. kan dia udah ga pingin hidup itu, sekalian jelasin latar belakang dia sama motif dia. itu di bab awal broo, kalau aku kasih sat set, gak dapat latar belakangnya si Noah itu karakternya gimana, soalnya ga cukup kalau cuma di tulis 1 paragraf buat jelasin Noah itu kek gimana, jadinya kek formulir pendaftaran ekskul wkwkwk.
jadi aku sampirin di monolog, di narasinya.

Iya paham novel online pembacanya suka yang sat set alias Pacing cepat kan?

Coba kita buat vibe yang beda ....

Jadi kalau lagi buru-buru, gpp skip aja.
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!