NovelToon NovelToon
Milik Sang Penguasa

Milik Sang Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:36.1k
Nilai: 5
Nama Author: Vaelisse

Arabelle, seorang barista, tak menyangka hidupnya akan berubah ketika Lorenzo Devereaux, pemimpin dunia bawah yang dikenal sebagai Damon, datang menagih utang ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23

Lorenzo tidak berlebihan. Bagian dalam rumah itu jauh lebih indah dari yang terlihat di luar.

Mereka berjalan ke dapur, dan di sana seorang wanita berdiri membelakangi pintu, sibuk dengan sesuatu di atas meja. Lorenzo berhenti di ambang pintu.

"Mama..."

Wanita itu berbalik dan untuk sepersekian detik, wajahnya membeku dalam keterkejutan yang tulus. Lalu senyumnya merekah lebar, dan ia langsung membuka kedua tangannya.

"Lorenzo! Anakku!"

Mereka berpelukan erat. Arabelle berdiri beberapa langkah di belakang, diam-diam mengusap sudut matanya yang tiba-tiba memanas. Ada sesuatu yang hangat dan menyentuh dari pemandangan itu, Lorenzo, yang di depan orang lain selalu tampak dingin dan terkendali, kini memeluk ibunya seperti anak kecil yang lama pulang.

"Aduh, sudah berapa lama aku merindukanmu," gumam sang ibu.

Lorenzo melepaskan pelukan itu dan berbalik ke arah Arabelle. "Kenalkan, ini Arabelle. Arabelle, ini Mama, Olivia."

Arabelle tersenyum. "Halo, Bu Olivia."

"Kamu cantik sekali," kata Olivia hangat.

"Terima kasih banyak," jawab Arabelle.

Belum sempat ia bersiap, Olivia sudah menariknya ke dalam pelukan tanpa peringatan. Arabelle tertawa kecil, sedikit terkejut namun tidak keberatan.

"Di mana Papa?" tanya Lorenzo.

"Amsterdam. Pulangnya dua hari lagi, ada perjalanan bisnis," jawab Olivia.

"Kalian mau teh? Kopi?" tawar Olivia.

"Kopi, Ma," kata Lorenzo.

"Teh untuk saya, terima kasih," sambung Arabelle.

"Berapa sendok gula?"

"Satu sendok," jawab Arabelle.

"Saya juga satu," kata Lorenzo.

Arabelle menahan tawa kecil, tanpa disengaja, selera mereka sama juga dalam hal ini.

Mereka duduk di ruang tamu yang luas dan terang. Beberapa menit kemudian Olivia kembali membawa nampan dengan secangkir kopi, secangkir teh, dan sepiring kue kecil. Arabelle mengucapkan terima kasih, dan Olivia membalasnya dengan senyum yang sama hangatnya.

"Jadi, ada keperluan apa kalian ke Italia?" tanya Olivia.

"Aku ada beberapa pertemuan bisnis di sini, seminggu atau lebih. Sebenarnya aku bisa datang sendiri, tapi aku ingin Mama kenal Arabelle, dan supaya kita bisa menikmati waktu bersama," jawab Lorenzo, melingkarkan tangannya di bahu Arabelle.

"Ah, bagus sekali." Olivia tersenyum senang. Lalu ia menoleh sejenak, seolah baru teringat sesuatu. "Mungkin aku kabari adikmu juga bahwa kalian di sini?"

Arabelle menoleh ke Lorenzo. "Kamu punya adik?"

Lorenzo hanya melirik ibunya, seolah sedikit keberatan dengan pengungkapan itu.

"Namanya Belle. Lebih muda setahun dari Lorenzo," jelas Olivia, lalu mengangkat ponselnya dan menunjukkan sebuah foto seorang gadis dengan fitur yang kuat namun feminin, cantik dengan caranya sendiri.

"Cantik sekali," kata Arabelle kepada Lorenzo.

Lorenzo tertawa kecil.

"Sayang kamu tidak pernah cerita soal dia," tambah Arabelle, nadanya ringan tapi bermaksud.

"Besok dia bisa datang?" tanya Lorenzo kepada ibunya, mengalihkan topik dengan mulus.

"Tidak tahu, aku tanya dulu," jawab Olivia.

Obrolan berlanjut mengalir, dari cerita lama hingga rencana-rencana kecil yang mungkin akan mereka lakukan selama seminggu ke depan. Waktu berjalan tanpa terasa, hingga Arabelle merasakan matanya mulai berat dan tubuhnya menuntut istirahat.

"Lorenzo," bisiknya, "aku sudah sangat mengantuk."

Lorenzo menoleh dan mengangguk, lalu bangkit. "Ma, kami pamit dulu. Sudah malam. Mungkin kami mampir besok pagi, nanti aku telepon."

Olivia berdiri ikut. "Sampai jumpa, Arabelle." Ia memeluknya sekali lagi dengan hangat.

"Sampai jumpa, Bu Olivia."

"Sampai jumpa, anak gantengku." Olivia mencium pipi Lorenzo, dan Lorenzo menerima itu dengan sabar.

Olivia mengantar mereka sampai pintu. Di luar, langit sudah benar-benar gelap, udara malam Roma terasa lebih dingin dari siang tadi.

"Ibumu menyenangkan sekali," kata Arabelle ketika mereka berjalan kembali ke mobil.

"Dia suka padamu. Dan dia tidak mudah dekat dengan orang baru," jawab Lorenzo. Ia mencium pipi Arabelle sebentar sebelum mereka masuk ke dalam mobil.

Perjalanan menuju vila Lorenzo memakan waktu sekitar satu jam. Ketika bangunan itu akhirnya muncul di kejauhan, Arabelle menempelkan wajahnya hampir ke kaca sebuah vila besar menghadap laut, berdiri anggun di bawah cahaya lampu eksterior yang keemasan. Ukurannya luar biasa.

Lorenzo memarkir mobil di garasi yang sudah penuh dengan beberapa kendaraan lain. Mereka turun.

"Ini semua untuk satu orang?" tanya Arabelle, memandang ke seluruh penjuru halaman.

"Sekarang untuk dua orang," jawab Lorenzo.

Arabelle terkikik.

Lorenzo bertanya kepada salah satu pengawal apakah semua barang sudah dipindahkan ke kamar, dan pengawal itu mengangguk. Para pengawal memang selalu tampak tegang dan tak banyak bicara Arabelle sudah lama memilih untuk tidak mencoba menyapa mereka duluan.

"Aku butuh kasur sekarang," gumam Arabelle, menyandarkan kepalanya ke bahu Lorenzo sambil berjalan.

"Sebentar lagi kita naik ke kamar."

Pintu vila terbuka, dan Arabelle hampir tidak bisa menyembunyikan reaksinya. Lobi bagian dalam terasa seperti masuk ke dalam istana langit-langit tinggi, lantai marmer, cahaya lampu gantung yang lembut memantul ke mana-mana.

Mereka naik lift bersama, lalu berjalan menyusuri koridor yang lebar selama beberapa menit sebelum Lorenzo membuka sebuah pintu di ujung lorong.

Kamar itu besar. Tempat tidur berukuran raksasa berdiri di tengah ruangan, terlihat empuk bahkan dari kejauhan. Di sudut lain ada lemari pakaian yang luas, kamar mandi dengan bathtub yang lebih besar dari kamar tidur Arabelle di rumah, dan sebuah balkon yang menghadap langsung ke laut.

Arabelle berjalan ke balkon sebentar, membiarkan angin malam menyentuh wajahnya. Pemandangan di bawah sana gelap dan tenang, hanya suara ombak yang jauh dan bintang-bintang yang tersebar di langit.

Kenapa semua keindahan ini datang padaku sekaligus?

Ia masuk kembali dan membuka lemari pakaian dan di dalamnya, semua pakaiannya sudah tergantung rapi. Arabelle menoleh ke Lorenzo dengan alis terangkat.

"Lorenzo, bagaimana semua ini bisa ada di sini?"

"Kami ambil dari rumahmu. Memangnya bagaimana lagi?"

"Kalian masuk ke rumahku?"

"Pakai kuncimu."

"Kamu seharusnya minta izin dulu," kata Arabelle.

"Aku tidak meminta izin siapa pun tentang kapan, bagaimana, dan mengapa aku melakukan sesuatu," jawab Lorenzo datar.

Arabelle menghela napas. Ia memilih untuk tidak melanjutkan perdebatan itu malam ini tubuhnya terlalu lelah, dan suasana hatinya masih cukup baik untuk dipertahankan.

Ia mengambil piyama dari lemari, mengganti pakaiannya, dan meletakkan baju kotor di keranjang yang sudah tersedia. Lorenzo sudah berganti dengan celana pendek, seperti biasa tanpa baju. Arabelle menurunkan riasannya, menjalani rutinitas perawatan malam yang singkat, menggelung rambutnya asal-asalan, lalu naik ke tempat tidur dengan ponsel di tangan.

Kasurnya luar biasa. Terasa seperti berbaring di atas awan.

Beberapa saat kemudian sisi lain kasur sedikit tertekan, Lorenzo ikut naik. Arabelle meletakkan ponselnya dan berbaring miring membelakanginya, sudah setengah terlelap bahkan sebelum menutup mata sepenuhnya.

Lorenzo membalikkan tubuhnya dengan mudah dan menariknya lebih dekat ke arahnya.

"Lepaskan, aku mau tidur," gumam Arabelle malas.

"Ya sudah, tidur saja," jawabnya, dan tangannya tetap melingkar di pinggang Arabelle.

Arabelle tidak protes lagi. Dalam hitungan menit, kelelahan seharian itu menang, dan ia terlelap di dalam dekapan Lorenzo.

**

Pagi datang dengan suara air keran dari kamar mandi.

Arabelle membuka mata perlahan dan mendapati Lorenzo sedang sikat gigi, tubuh bagian bawahnya tertutup handuk putih.

"Selamat pagi," katanya dari depan cermin.

"Selamat pagi..." balas Arabelle dengan suara yang masih berat.

"Jam sepuluh. Kita keluar hari ini, belanja. Bersiap-siaplah."

Arabelle duduk di tepi kasur, mengusap matanya, lalu menyarungkan sandal berbulu yang langsung ia cari begitu kaki menyentuh lantai. Ia berjalan ke kamar mandi dan mengambil sikat giginya.

"Tidurnya nyenyak?" tanya Lorenzo.

Arabelle mengangguk sambil menggosok gigi. Ia meludah, membilas mulut, lalu membasuh wajahnya dengan air dingin.

"Nyenyak sekali. Kamu?"

"Sangat baik," jawabnya.

Arabelle tersenyum ke cermin.

"Oke, keluar dulu. Aku mau mandi," kata Arabelle.

Lorenzo mendekat, mencium bibirnya sebentar, lalu melangkah keluar dan menutup pintu di belakangnya.

1
Amoyy
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!