“Capek tidak, Sayang? Aku masih mau sekali lagi.”
“Kamu kuat sekali, Mas,” jawab istrinya sambil tersenyum lelah.
Tama tertawa pelan dan mencium pipi wanita itu dengan penuh kasih. Namun beberapa detik kemudian ia bertanya pelan,
“Sudah diminum pilnya?”
Senyum sang istri perlahan memudar.
“Harus terus, Mas? Aku lelah minum pil KB…”
Tama terdiam sejenak sebelum mengelus rambutnya lembut.
“Turuti saja, Sayang. Ini demi kebaikan kita.”
Istrinya tidak pernah benar-benar mengerti mengapa Tama selalu menolak memiliki anak.
Malam kembali hening saat Tama memeluknya dari belakang. bayangan masa lalu itu kembali datang.
Sebuah rahasia yang selama ini ia sembunyikan.
“Aku takut kamu meninggalkanku jika tahu siapa aku sebenarnya,” bisiknya dalam hati.
Karena jauh di masa lalu, Tama pernah melakukan sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia lupakan.
Dan jika kebenaran itu terungkap…
yang hancur bukan hanya rahasianya.
Tetapi juga pernikahan yang selama ini ia jaga mati-matian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nufierose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KECURIGAAN ALISYA
BAB 29
Jakarta menyambut mereka dengan cuaca mendung yang berat, seolah langit pun ikut berduka atas apa yang tertinggal di Swiss.
Begitu mobil berhenti di depan rumah, Alisya turun tanpa menunggu dibantu. Ia melangkah masuk, melewati ruang tamu yang luas, dan menaiki tangga tanpa sepatah kata pun.
Langkahnya lambat, namun matanya kosong, mengabaikan segala dekorasi rumah yang biasanya ia tata dengan penuh kasih.
Bi Fatimah, asisten rumah tangga yang sudah lama ikut mereka, menyambut dengan senyum lebar yang seketika luntur melihat raut wajah nyonyanya.
"Non Alisya..." sapa Bi Fatimah lirih, namun Alisya terus berjalan hingga suara pintu kamar yang tertutup terdengar memuakkan di telinga.
Tama masuk tak lama kemudian, wajahnya tampak lebih tua sepuluh tahun. Ia terduduk di sofa ruang tengah, menangkup wajahnya dengan tangan yang masih gemetar. Bi Fatimah mendekat dengan perasaan was-was.
"Den Tama... ada apa? Non Alisya kenapa diam saja?" tanya Bi Fatimah dengan suara bergetar.Jelas dia tau Nonanya itu pasti tidak baik-baik saja.
“Alisya pendarahan Bi, dia di rawat beberapa hari di Swiss.” Mendengar itu Bi Fatimah mendelik.
“Lalu kandungannya bagaimana Den?”
Tama mendongak, matanya merah padam.
"Kandungan? Jadi Bibi tahu?"
Bi Fatimah seketika bersimpuh di lantai, air matanya tumpah. Rasa bersalah memuncah di hatinya.
"Maafkan Bibi, Den. Ampun... Non Alisya yang meminta Bibi tutup mulut. Non bilang, Den Tama pasti akan marah besar kalau tahu ada bayi di perut Non. Non Alisya takut sekali diminta menggugurkannya, padahal Non sangat menyayangi bayi itu. Bibi tidak tega..."
Tama memejamkan mata rapat-rapat. Setiap kata yang keluar dari mulut Bi Fatimah seperti sembilu yang menyayat jantungnya.
"Semua sudah berakhir, Bi," suara Tama pecah.
"Alisya keguguran di Swiss. Kami kehilangan anak itu."
Bi Fatimah terisak keras, memukul dadanya sendiri karena sedih.
"Ya Allah... anak itu... Non Alisya sangat mengharapkannya den."
Tama tidak marah pada Bi Fatimah. Bagaimana bisa ia marah pada orang lain ketika akar masalahnya adalah dirinya sendiri?
Larangannya yang keras selama bertahun-tahun agar Alisya tidak hamil telah menciptakan tembok ketakutan bagi istrinya.
Tama teringat bagaimana ia selalu bersikap dingin setiap kali topik tentang anak muncul.
Ia melakukan itu karena ia membenci darah keluarganya sendiri, darah yang penuh kekerasan dan pengkhianatan seperti ayahnya dan Kevin. Ia tidak ingin kutukan itu turun ke anaknya.
Namun, ia tidak sadar bahwa dengan mencoba memutus kutukan itu, ia justru menghancurkan kebahagiaan terbesar Alisya.
"Bibi tidak salah," ucap Tama parau.
"Saya yang salah. Saya yang membuat dia merasa harus bersembunyi di rumahnya sendiri."
Tama melangkah menuju kamar mereka. Di depan pintu, ia mendengar suara isak tangis yang sangat lirih, namun menusuk.
Ia tahu Alisya sedang berada di titik terendahnya. Ia membuka pintu perlahan dan melihat Alisya duduk di lantai, bersandar pada lemari besar.
Di tangan Alisya, ada sebuah kotak sepatu kecil. Di dalamnya terdapat sepasang sepatu bayi rajutan berwarna putih yang baru saja ia keluarkan dari tempat persembunyiannya.
Tama duduk di lantai, agak jauh agar tidak mengejutkan Alisya.
"Sayang..."
Alisya Tanpa menoleh, suaranya datar
"Aku membelinya minggulalu, Mas. Saat kamu bilang kamu harus ke Swiss untuk Gery. Aku pikir, aku akan memberikannya padamu di sana, di bawah salju, agar kamu tidak bisa marah dan akhirnya mau menerima dia."
Mendengar itu Tama merasa semakin hancur.
"Aku tidak akan marah, Sya. Aku bersumpah demi nyawaku, aku tidak akan pernah marah."
"Tapi dia sudah tahu ayahnya tidak menginginkannya, jadi dia pergi. Dia memberimu kebebasan yang kamu mau, Mas. Kamu tidak perlu repot-repot memikirkan cara melindunginya lagi sekarang."
Kalimat itu jauh lebih menyakitkan daripada tamparan bagi Tama. Alisya tidak lagi bicara dengan kemarahan, tapi dengan kepasrahan yang mematikan.
Di saat Tama berusaha menyatukan kepingan hati istrinya yang hancur, di luar sana, Kevinyang berhasil kabur di Swiss ternyata sudah tiba di Jakarta lebih dulu.
Ia tidak bergerak sendirian. Argo memantau rumah Tama dari kejauhan, menunggu saat yang tepat untuk menyelesaikan apa yang dimulai oleh Kevin.
Tama belum tahu bahwa musuh sebenarnya bukan hanya di Swiss, tapi sudah berada di depan gerbang rumahnya sendiri.
Suasana rumah yang sudah dingin menjadi semakin mencekam ketika sebuah paket tanpa nama tiba di depan gerbang.
Bi Fatimah mengantarkannya ke ruang kerja Tama dengan tangan gemetar, seolah-olah ia bisa merasakan energi gelap yang memancar dari kotak kecil itu.
Tama membuka paket itu dengan gerakan kasar. Di dalamnya, tidak ada bom atau senjata, hanya sebuah foto cetak berkualitas tinggi dan selembar kertas.
Mata Tama membelalak, urat-urat di lehernya menegang saat melihat gambar di foto tersebut. Itu adalah foto sebuah tangan yang sudah kaku, melingkar sebuah jam tangan kulit berwarna putih yang sudah terciprat darah pekat.
Di sekeliling tangan itu, genangan darah membentuk pola yang mengerikan di atas lantai semen yang dingin.
Tama mengenali jam itu. Itu adalah jam milik Pria yang ia habisi bertahun-tahun lalu, rahasia berdarah yang menjadi alasan mengapa ia selalu merasa tidak layak menjadi seorang ayah.
Kevin tidak hanya tahu,Kevin ada di sana, atau setidaknya dia berhasil mendokumentasikan dosa terbesar Tama.
Lalu, ia membaca secarik kertas di bawah foto itu. Hanya satu kata dengan huruf kapital yang ditulis dengan tinta merah yang tebal.
PEMBUNUH.
BRAAAKKK!
Tama menghantam meja kerjanya hingga vas bunga di atasnya jatuh dan hancur berkeping-keping. Amarahnya meledak, bukan lagi karena sedih, tapi karena murka yang murni.
Kevin tidak hanya merenggut nyawa anaknya, tapi sekarang bajingan itu mencoba menghancurkan sisa kewarasannya dengan mengungkit masa lalu tepat di saat istrinya sedang hancur.
"KEVIN!!!" teriak Tama, suaranya menggema ke seluruh penjuru rumah.
Di lantai atas, Alisya yang sedang termenung mendengar teriakan itu.
Ia tersentak, namun depresi yang mendalam membuatnya hanya bisa meringkuk lebih erat di pojok tempat tidur.
Ia merasa rumah ini tidak lagi menjadi tempat perlindungan, melainkan penjara penuh rahasia.
Tama segera menyambar ponselnya. Tangannya gemetar karena amarah saat menghubungi Gery dan Gani.
"Kumpulkan semua orang. Sekarang," perintah Tama dengan nada suara yang sangat rendah dan mematikan.
"Dia sudah di Jakarta. Dia mengirimkan paket ke rumahku. Aku tidak peduli hukum lagi, Gery. Aku ingin kepalanya di atas mejaku malam ini."
Gery, yang sedang bersama Selin, terdiam di seberang telepon. Ia bisa merasakan bahwa Tama sudah melewati batas kesabarannya.
"Tenang, Tam. Jangan gegabah. Itu yang dia mau. Dia mau kamu kehilangan kendali agar kamu melakukan kesalahan lagi."
"Dia menyebutku pembunuh, Ger! Dia menghina nyawa yang sudah hilang!" terah Tama.
"Selin, aku tahu kamu punya akses ke jaringan gelap di pelabuhan. Cari tahu di mana tikus itu bersembunyi!"
Selin mengangguk dan langsung menjalankan Printah bosnya.
____
Selin, yang mendengar percakapan itu melalui pengeras suara, menatap Gery dengan serius.
"Kevin bermain api di gudang bensin. Dia pikir dengan menekan titik lemah Tama, dia menang. Dia lupa bahwa Tama yang dalam kondisi 'pembunuh' adalah orang yang paling berbahaya yang pernah kita kenal."
Sementara itu, di sebuah apartemen kumuh di pinggiran Jakarta, Kevin Alvaro duduk di depan monitor yang menampilkan CCTV peretasan di sekitar area rumah Tama. Ia tersenyum puas melihat keributan di rumah kakaknya.
Di sampingnya, seorang pria berdiri dengan tenang, memperhatikan foto-foto masa lalu Tama yang berserakan di atas meja.
"Lihat dia, Sang pahlawan sedang kehilangan akal sehatnya," ucap Kevin sambil tertawa kecil.
"Satu dorongan lagi, dan dia akan benar-benar menjadi monster yang dia takuti sendiri. Dan saat itu terjadi, Alisya akan meninggalkannya selamanya."
Di dalam kamar, Alisya perlahan bangkit.
Ia berjalan menuju pintu ruang kerja Tama yang tidak tertutup rapat. Dari celah pintu, ia melihat suaminya sedang memegang foto berdarah itu.
Meskipun Alisya depresi, instingnya sebagai istri tetap tajam.
Ia mendengar kata ‘Pembunuh’keluar dari mulut Tama saat ia bicara di telepon. Alisya membeku.
Sebuah pertanyaan besar kini menghantam benaknya.
Siapa sebenarnya pria yang ia nikahi ini? Dan apakah kematian bayinya adalah bagian dari kutukan masa lalu Tama?
suka sama karakter Tama walaupun kejam dan cuek tapi sama istri selalu lembut
love banget pokonya 😗 😗
antagonis mulai keluar nih kayanya