Jatmika adalah seorang genius di bidang mekanika dan kimia yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Namun, maut bukan akhir baginya. Ia terbangun di tahun 1853, masa di mana Nusantara sedang dicekik oleh sistem Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang kejam. Hidup sebagai anak nelayan miskin di pesisir Kendal, Jatmika menyaksikan sendiri bagaimana rakyat mati kelaparan sementara gudang-gudang Belanda penuh dengan rempah dan emas. Berbekal ingatan masa depan, Jatmika memulai "perang" yang berbeda. Bukan dengan bambu runcing, melainkan dengan logistik dan ilmu pengetahuan.
Dapatkah Jatmika membawa Nusantara melompati satu abad perkembangan teknologi untuk merdeka lebih awal? Ataukah ilmu pengetahuan yang ia bawa justru menjadi kutukan yang memicu kehancuran lebih besar bagi rakyat yang ingin ia selamatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Nafas Garam Dan Mesin Yang Mati
Suara ledakan itu masih bergema di telinganya. Dingin yang menusuk dari ketinggian 35.000 kaki, alarm yang menjerit histeris di kokpit, dan guncangan hebat yang membuat gravitasi seolah hilang arah. Jatmika, seorang insinyur aeronautika berusia 28 tahun, ingat betul momen terakhirnya: memeluk tas ranselnya yang berisi cetak biru proyek turbin terbaru, lalu kegelapan yang pekat.
Namun, rasa sakit itu tiba-tiba berganti dengan sensasi yang berbeda.
Paru-parunya terasa terbakar. Bukan oleh asap avtur, melainkan oleh cairan asin yang kental. Jatmika tersedak hebat. Ia terbatuk, memuntahkan air yang terasa pahit dan amis. Matanya terbelalak, namun yang ia lihat bukan puing pesawat atau awan hitam, melainkan langit biru yang begitu bersih—biru yang tidak pernah ia lihat di Jakarta abad ke-21 yang penuh polusi.
"Gusti... Jatmika! Kowe wis tangi, Le?"
Sebuah suara serak memanggilnya. Jatmika menoleh dengan leher yang kaku. Di sampingnya, seorang pria tua dengan kulit yang legam terbakar matahari dan kerutan sedalam parit sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Pria itu hanya mengenakan celana kompreng hitam yang lusuh dan ikat kepala kain batik yang sudah pudar warnanya.
Jatmika mencoba bicara, tapi tenggorokannya seperti diamplas. Ia melihat tangannya sendiri. Kecil. Kurus. Penuh kapalan. Ini bukan tangan seorang insinyur yang biasa memegang stylus dan keyboard. Ini tangan seorang bocah laki-laki yang mungkin baru berusia empat belas atau lima belas tahun.
"P-pak...?" Jatmika berbisik. Suaranya melengking tinggi, suara remaja yang belum pecah sempurna.
"Iya, ini Bapak, Le. Jangan banyak gerak dulu. Kamu tadi hanyut waktu ombak besar menghantam cadik kita. Kupikir... kupikir kamu sudah menyusul ibumu," pria itu menyeka air matanya dengan kasar, lalu kembali mendayung perahu kayu kecil yang mereka tumpangi.
Jatmika tertegun. Ia melihat sekeliling. Mereka berada di tengah laut, tapi bukan laut lepas yang menakutkan. Di kejauhan, garis pantai dengan deretan pohon kelapa dan hutan bakau yang lebat terlihat hijau royo-royo. Tidak ada gedung pencakar langit. Tidak ada kapal tanker raksasa. Yang ada hanyalah beberapa perahu layar kayu dengan bentuk yang sangat tradisional.
Kepalanya mendadak berdenyut hebat. Kilasan memori yang bukan miliknya masuk seperti arus listrik.
Nama: Jatmika.
Status: Anak nelayan di pesisir Kendal.
Tahun: 1853.
Hindia Belanda. Masa Tanam Paksa. Zaman di mana nyawa rakyat jelata hanya seharga segenggam rempah-rempah di mata kompeni.
"Tahun berapa sekarang, Pak?" tanya Jatmika dengan suara gemetar, mencoba memastikan teori gilanya.
Pria tua itu mengernyitkan dahi. "Tahun? Ini tahun Jawa 1782, atau orang-orang kota bilang tahun Welanda 1853. Kenapa? Apa kepalamu terbentur kayu perahu terlalu keras?"
Jatmika terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Ia benar-benar terlempar ke masa lalu. Ke era di mana ilmu pengetahuan yang ia miliki di kepalanya adalah sesuatu yang dianggap ajaib, atau mungkin berbahaya.
Perahu itu akhirnya merapat ke pantai berpasir hitam. Beberapa orang berpakaian serupa—telanjang dada atau berbaju lurik kasar—mendekat untuk membantu menarik perahu. Jatmika turun dengan kaki gemetar. Ia merasakan pasir hangat di sela-sela jarinya. Bau amis ikan busuk dan garam yang menyengat memenuhi indra penciumannya.
Ia melihat ke arah pemukiman di pinggir pantai. Hanya gubuk-gubuk bambu dengan atap rumbia. Di kejauhan, di atas bukit, ia bisa melihat sebuah bangunan batu putih yang megah dengan bendera Merah-Putih-Biru berkibar angkuh. Itu adalah kantor Assistent-Resident atau gudang penyimpanan milik pemerintah kolonial.
"Jatmika! Kenapa melamun? Cepat bantu Bapak angkut keranjang ini ke tempat pengeringan. Sebelum mandor pajak datang!" perintah ayahnya dengan nada cemas.
Jatmika mendekati keranjang bambu berisi kristal garam yang kotor dan kecokelatan. Ia melihat proses pengeringan yang dilakukan warga desa. Mereka hanya menghamparkan air laut di atas tanah liat yang dikeraskan, menunggu matahari menguapkannya secara alami. Prosesnya lambat, tidak efisien, dan hasilnya kualitas rendah sehingga dihargai sangat murah oleh pengepul Belanda.
Sebagai seorang insinyur, otak Jatmika secara otomatis bekerja.
Evaporasi alami. Efisiensi kurang dari 15%. Kontaminasi mineral tanah tinggi.
Ia melihat tumpukan kayu bakar yang sia-sia dan kincir angin bambu yang rusak tergeletak di pojok desa. Rakyat di sini bekerja keras sampai mati hanya untuk membayar pajak tanah kepada pemerintah kolonial, sementara mereka sendiri tidak punya cukup garam bersih untuk dimakan.
"Pak, kenapa kita tidak pakai meja kristalisasi yang dilapisi kayu atau alas yang lebih bersih?" tanya Jatmika spontan.
Ayahnya berhenti menarik jaring. Ia menatap Jatmika seolah anaknya baru saja bicara bahasa jin. "Apa itu meja kris... kris apa? Kita sudah ratusan tahun bikin garam begini, Le. Memang sudah nasibnya orang kecil itu kotor dan susah."
Jatmika mengepalkan tangannya yang kecil. Ia merasakan sisa-sisa kemarahan dari "Jatmika asli" yang tewas tenggelam karena kelelahan bekerja, berpadu dengan harga diri seorang ilmuwan dari masa depan.
Tidak,batinnya. Kalau aku diberi kesempatan hidup kedua di masa yang paling kelam dalam sejarah bangsaku, aku tidak akan membiarkan hukum fisika ini sia-sia.
Ia tahu cara membuat pengering konveksi. Ia tahu cara memurnikan natrium klorida. Ia tahu cara membangun mesin yang tidak membutuhkan uap, tapi hanya memanfaatkan energi kinetik air dan angin.
Namun, ia juga sadar satu hal. Di tahun 1853, ide baru adalah ancaman. Jika ia terlalu vokal, ia akan dianggap tukang sihir atau pemberontak. Ia harus bergerak seperti air—tenang di permukaan, namun mampu menghancurkan batu karang dari bawah.
Malam itu, di dalam gubuk bambunya yang bocor, Jatmika tidak tidur. Di atas tanah yang lembap, ia mulai menggambar sketsa menggunakan sepotong arang kayu. Ia menggambar desain kincir air sederhana dengan sistem katrol untuk menaikkan air laut ke tangki sedimentasi bertingkat.
Ini adalah langkah pertamanya. Ia tidak akan memulainya dengan bedil atau meriam. Ia akan memulainya dengan ekonomi. Ia akan memulainya dengan garam. Karena siapa yang menguasai logistik, dialah yang akan menguasai perang.
"Besok," bisik Jatmika pada kegelapan. "Besok, sejarah pesisir ini akan mulai berubah."