NovelToon NovelToon
"Rahasia Laut Pasuruan"

"Rahasia Laut Pasuruan"

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Istana/Kuno / Penyelamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Kristinawati Wati

Berlatarkan masa kejayaan Kerajaan Panjalu (Singhasari) di wilayah Pasuruan, sebuah prasasti kuno yang ditemukan oleh Gadis nelayan, Mira, mengungkap rahasia pelabuhan perdagangan rempah-rempah yang hilang selama berabad-abad. Bersama dengan Jaka, seorang budak kerajaan yang ahli membaca naskah kuno, keduanya harus mengurai misteri di balik prasasti tersebut sebelum kekayaan dan sejarah kerajaan jatuh ke tangan yang salah. Di tengah ombak laut dan rahasia yang terpendam, apakah mereka berhasil menyelamatkan warisan leluhur?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kristinawati Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: PERANG ANTAR DUNIA DAN PEMBUKAAN PINTU TERAKHIR

Setelah lebih dari sepuluh bab penuh dengan petualangan, rahasia yang terkuak satu per satu, dan hubungan yang semakin erat antara dunia nyata dan dunia pararel—Rara, Dika, dan Pak Joko kini menghadapi tantangan terbesar dalam hidup mereka. Pintu antar dunia yang sudah mulai terbuka secara tidak terkendali telah menyebabkan kerusuhan di kedua dunia: di dunia nyata Surabaya, cuaca menjadi tidak menentu dengan badai yang muncul tanpa sebab, gedung-gedung besar mulai goyah karena guncangan dari dunia lain, dan banyak orang yang mulai melihat bayangan makhluk ajaib yang tidak seharusnya ada di dunia ini. Di dunia pararel kerajaan Astralya, musuh yang dikenal sebagai "Kelompok Bayangan Hitam" telah berhasil merebut separuh wilayah kerajaan dan mulai mengancam untuk membuka semua pintu antar dunia sekaligus untuk menguasai semuanya.

Hari itu pagi sekali, Rara berkumpul dengan Pak Joko di ruang rahasia yang berada di bawah kafe "Kopi Kenangan"—tempat yang ternyata adalah salah satu titik kuat untuk menjaga keseimbangan antar dunia. Di atas meja besar yang terbuat dari kayu pohon beringin tua yang sama dengan yang ada di halaman belakang rumah neneknya, terpampang peta kuno yang sudah mereka perbaiki bersama. Setiap titik pada peta menunjukkan lokasi pintu antar dunia yang ada di seluruh dunia, dan saat ini sudah ada tujuh pintu yang terbuka lebar—hanya tinggal satu pintu terakhir yang belum terbuka, yaitu pintu utama yang terletak di tengah istana kerajaan Astralya.

"Kita tidak punya banyak waktu lagi, Rara," ujar Pak Joko sambil mengusap wajahnya yang penuh bekas luka. "Jika Kelompok Bayangan Hitam berhasil membuka pintu utama sebelum kita, maka kedua dunia akan menyatu secara paksa dan menyebabkan kehancuran total. Semua makhluk akan saling bertabrakan, hukum alam akan terbalik, dan tidak ada yang bisa hidup dengan damai lagi."

Rara melihat layar laptopnya yang sedang menampilkan bab terbaru dari cerita nya—dimana Dika sedang memimpin pasukan kerajaan untuk melawan serangan Kelompok Bayangan Hitam di perbatasan wilayah Hutan Awan Terbalik. Di layar juga muncul pesan langsung dari Dika yang bisa mereka baca berkat koneksi khusus yang terbentuk setelah Rara menyadari bahwa dirinya adalah penerus penjaga pintu antar dunia. "Kita sudah berhasil menghentikan serangan mereka di sini, tapi mereka semakin kuat setiap hari. Mereka punya seseorang yang bisa membaca gerakan kita sebelum kita melakukan nya—seolah mereka tahu apa yang akan kita tulis dan lakukan selanjutnya," tulis Dika dalam pesannya.

Tiba-tiba, seluruh ruangan mulai bergoyang hebat dan cahaya kebiruan menyala terang dari arah peta kuno. Pak Joko cepat-cepat mengambil tongkat ajaib yang selalu dia bawa dan menyentuh peta tersebut—segera setelah itu gemetar berhenti, tapi peta menunjukkan bahwa pintu utama di istana Astralya sudah mulai terbuka sedikit. "Mereka sudah mulai mencoba membukanya!" teriak Pak Joko dengan suara penuh kegelisahan. "Kita harus segera pergi ke dunia pararel—ini adalah satu-satunya cara untuk menghentikan mereka!"

Rara tidak ragu lagi. Dia mengambil buku tua yang menjadi kunci antar dunia, membukanya di halaman terakhir yang belum pernah dia sentuh sebelumnya, dan membaca mantra yang tertulis di sana dengan suara yang jelas dan tegas. "Di antara dunia yang terpisah, ada tali yang tidak terlihat. Aku sebagai penerusnya, meminta izin untuk melangkah dan menyelamatkan semua yang ada!" Sejak saat itu, cahaya keemasan menyelimuti tubuh mereka berdua, dan dalam sekejap mata mereka sudah berada di depan istana kerajaan Astralya yang megah namun penuh dengan bekas perang.

Di sana, Dika sudah menunggu bersama pasukan terbaik kerajaan. Dia mengenakan baju perang berwarna keperakan dengan simbol bintang delapan di dadanya, dan wajahnya yang biasanya ceria kini penuh dengan ketegasan. "Kamu akhirnya datang," ujar Dika sambil menyambut Rara dan Pak Joko. "Kita sudah mengetahui bahwa kepala Kelompok Bayangan Hitam adalah seseorang yang dulu juga merupakan penerus penjaga pintu antar dunia—namun dia memilih jalan yang salah karena ingin memiliki kekuasaan tak terbatas."

Mereka berempat—Rara, Dika, Pak Joko, dan juga karakter pendukung utama lainnya bernama Lila (penyihir muda yang bisa membaca masa lalu dan masa depan)—mulai merencanakan strategi untuk memasuki istana yang sudah dikuasai oleh Kelompok Bayangan Hitam. Mereka harus melewati tiga benteng pertahanan yang penuh dengan makhluk buas dan ujian yang menguji keberanian, kebijaksanaan, dan cinta mereka terhadap kedua dunia.

Pertama, mereka harus melewati "Jembatan Kesetiaan" yang hanya bisa dilalui oleh mereka yang memiliki hati yang tulus dan tidak ada rasa dendam di dalamnya. Saat mereka berjalan di atas jembatan yang terbuat dari awan dan api, muncul bayangan dari masa lalu masing-masing mereka—Rara melihat bayangan dirinya yang hampir menyerah menulis karena kritik yang menyakitkan, Dika melihat bayangan dirinya yang merasa kesepian karena berbeda dengan orang lain, Pak Joko melihat bayangan dirinya yang merasa bersalah karena tidak bisa melindungi penerus sebelumnya, dan Lila melihat bayangan dirinya yang pernah menggunakan kekuatannya untuk hal yang salah. Namun dengan saling mendukung dan mengingat tujuan mereka yang mulia, mereka berhasil melewati jembatan tersebut dengan selamat.

Kedua, mereka harus menghadapi "Ratu Bayangan" yang merupakan pembantu utama kepala Kelompok Bayangan Hitam. Ratu Bayangan bisa meniru bentuk dan suara siapapun, sehingga membuat mereka sulit untuk mengetahui siapa yang benar dan siapa yang palsu. Saat mereka memasuki ruangan yang penuh dengan cermin besar, tiba-tiba muncul sepuluh sosok yang sama persis dengan Rara. Masing-masing sosok tersebut berkata bahwa mereka adalah yang asli dan yang lain adalah palsu. Namun dengan keakraban yang sudah terbentuk selama ini, Dika langsung bisa mengenali Rara yang asli hanya dengan melihat mata nya—karena hanya Rara yang asli memiliki cahaya kebaikan yang tidak bisa ditiru oleh siapapun. Mereka bekerja sama menghadapi Ratu Bayangan dan berhasil mengalahkannya dengan menggabungkan kekuatan mereka masing-masing.

Ketiga, mereka harus mencapai ruang tengah di puncak istana dimana pintu utama berada. Saat mereka sampai di sana, mereka melihat seorang pria tua dengan wajah yang mirip dengan nenek Rara sedang berdiri di depan pintu yang sudah terbuka separuh. Cahaya hitam menyelimuti tubuhnya, dan di tangannya ada buku ajaib yang merupakan pasangan dari buku yang dimiliki Rara. "Aku adalah Rama—nenekmu yang kamu kira perempuan ternyata aku adalah laki-laki, dan aku adalah penerus sebelum kamu," ujar pria itu dengan suara yang dalam. "Aku hanya ingin menyatukan kedua dunia agar tidak ada lagi orang yang merasa berbeda dan kesepian seperti aku dulu! Kamu tidak mengerti betapa menyakitkannya hidup sendirian karena bisa melihat dunia lain yang tidak bisa dilihat oleh orang lain!"

Rara merasa hatinya terasa sakit mendengar kata-kata lelaki itu yang ternyata adalah pamannya sendiri. Dia menghampiri Rama dengan langkah yang perlahan dan berkata, "Aku mengerti rasamu, pamanku. Aku juga pernah merasa kesepian dan berbeda. Tapi menyatukan dunia dengan paksa bukanlah jawabannya! Kita bisa menemukan cara untuk membuat kedua dunia hidup berdampingan dengan damai, tanpa harus menyatukannya secara paksa. Kamu tidak perlu hidup sendirian lagi—kita semua ada di sini untukmu!"

Saat Rara berbicara, cahaya keemasan mulai menyebar dari tubuhnya ke seluruh ruangan. Dika, Pak Joko, dan Lila juga bergabung dengan dia, mengeluarkan kekuatan terbaik mereka untuk menunjukkan bahwa Rama tidak sendirian. Lambat laun, cahaya hitam yang menyelimuti tubuh Rama mulai menghilang, dan wajahnya yang dulu penuh dengan kemarahan kini mulai menunjukkan ekspresi sedih dan kebingungan. "Aku benar-benar salah?" tanya Rama dengan suara lemah.

"Kamu tidak salah merasa kesepian, tapi kamu salah dalam cara yang kamu pilih," jawab Pak Joko sambil mendekat dan menepuk bahu Rama. "Mari kita bekerja sama untuk memperbaiki semua yang telah rusak. Kita masih punya waktu untuk menyelamatkan kedua dunia!"

Bersama-sama, mereka lima mulai mengucapkan mantra penyegelan pintu antar dunia yang sudah lama terlupakan. Setiap kata yang mereka ucapkan membuat cahaya semakin terang, dan pintu utama yang sudah terbuka mulai perlahan tertutup. Setelah mantra selesai diucapkan, pintu tersebut tertutup rapat dengan suara gemuruh yang menggema ke seluruh kerajaan. Semua pintu antar dunia yang lain juga mulai tertutup satu per satu, dan di dunia nyata cuaca mulai kembali tenang, gedung-gedung yang goyah mulai stabil, dan bayangan makhluk ajaib mulai menghilang.

Namun mereka tahu bahwa pekerjaan mereka belum selesai sepenuhnya. Mereka harus membuat perjanjian baru antara kedua dunia—dimana mereka yang memiliki kemampuan untuk berpindah antar dunia bisa melakukannya dengan izin dan hanya untuk tujuan yang baik. Rara juga memutuskan untuk melanjutkan menulis cerita nya, tapi kali ini dia akan menuliskannya sebagai cerita tentang persahabatan, keberanian, dan pentingnya menghargai perbedaan.

Di akhir bab ini, Rara kembali ke dunia nyata dan duduk di mejanya di kafe "Kopi Kenangan". Dia melihat layar laptopnya yang sudah menampilkan akhir dari bab 17, dan di samping mejanya ada surat dari Dika yang bisa datang ke dunia nyata karena perjanjian baru yang mereka buat. "Terima kasih telah menyelamatkan dunia kita berdua," tulis Dika dalam suratnya. "Kita akan selalu ada untuk satu sama lain, tidak peduli seberapa jauh jarak kita." Rara tersenyum dan mulai mengetik bab berikutnya, dengan keyakinan bahwa cerita yang dia tulis akan terus menginspirasi banyak orang dan menjaga hubungan baik antara kedua dunia yang pernah hampir hancur.

1
falea sezi
ne cerita nyata kah Thor
Anna
Thor maaf sekali, tapi ini cerita kamu sebener ee mau novel apa cerpen kok tiap bab beda. bukan beda alur tapi beda isi cerita. padahal tema judul kamu bagus lho. 🙏🙏
Anna
kok agak bingung ya, kan di bab 2 mira sudah kabur sama jaka, kenapa di bab 3 baru ketemu? tapi di awal ada mereka ketemu, eh ketemu atau belum ketemu 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!