Di dunia di mana sihir adalah segalanya, kekuatan bukanlah anugerah—melainkan hasil dari latihan dan pengorbanan.
Ia hanyalah seorang siswi Akademi Sihir Arcanova. Tenang. Cerdas. Tak tersentuh. Hingga sebuah simbol tersembunyi muncul di tubuhnya—tanda kutukan dari iblis yang bahkan hanya hidup dalam legenda.
Tak hanya dirinya.
Dua siswa dari sekolah berbeda—termasuk seorang pewaris Akademi Crimson Crest—ternyata memikul kutukan yang sama… namun berasal dari iblis yang berbeda.
Kekuatan mereka luar biasa. Tak terbatas.
Namun setiap kali digunakan, ada harga yang harus dibayar.
Di tengah persaingan dua akademi, pelatihan mematikan di Hutan Abyss, dan rumor tentang iblis berwujud manusia yang belum pernah terlihat…
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling kuat.
Tapi siapa yang akan bertahan ketika kutukan itu mulai mengambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kilat di Tengah Perselisihan
Matahari kini telah bergeser sedikit ke arah barat, namun panas yang terpancar di Arena Satu terasa jauh lebih menyengat daripada arena-arena lainnya. Di sini, perhatian hampir seluruh instruktur dan siswa tertuju pada satu titik. Sebagai peringkat satu Crimson Crest yang baru saja merebut kembali takhtanya, Lucien Vlad memikul beban ekspektasi yang luar biasa besar. Namun, tantangan yang ia hadapi saat ini bukan hanya soal monster yang akan dipanggil oleh Master Alaric, melainkan dinamika timnya yang retak di dalam.
Lucien berdiri tegak, tangannya bertumpu pada hulu pedang peraknya. Di bahunya, lencana kepemimpinan berkilau. Di belakangnya, berdiri tiga siswi yang seharusnya menjadi pilar kekuatannya.
Anggota pertama adalah Clara, seorang siswi Crimson Crest yang menguasai Sihir Pedang Elemen Angin. Clara adalah sosok yang pendiam, disiplin, dan memiliki loyalitas tinggi pada Lucien sebagai sesama ksatria pedang. Ia memegang dua bilah pedang pendek yang siap menyayat udara dengan kecepatan tinggi.
Anggota kedua adalah Mina, seorang siswi dari Arcanova yang ahli dalam Elemen Tanpa Wujud (Telekinesis). Mina memiliki kemampuan untuk menggerakkan benda-benda atau menahan gerakan lawan hanya dengan kekuatan pikirannya. Ia adalah gadis yang ceria, namun saat ini wajahnya tampak sangat murung dan gelisah.
Penyebab kegelisahan Mina berdiri tepat di sebelahnya: Rhea, siswi Arcanova ketiga yang menguasai Elemen Es. Rhea memiliki paras yang dingin seputih salju, namun matanya memancarkan api kemarahan setiap kali ia melirik ke arah Mina.
"Aku tidak sudi bekerja sama dengan pengkhianat sepertinya," desis Rhea pelan, namun cukup keras untuk didengar oleh seluruh tim.
"Rhea, kumohon... ini latihan gabungan. Kita bisa membicarakan masalah pribadi kita nanti," Mina membalas dengan suara gemetar.
"Membicarakannya nanti? Setelah kau mencuri naskah penelitian sihirku dan memberikannya pada instruktur seolah itu milikmu? Jangan harap, Mina," Rhea memalingkan wajahnya, menyilangkan tangan di dada dengan angkuh.
Lucien memejamkan matanya sejenak. Ia merasakan denyut Petir Biru di punggungnya. Ia sendiri sedang berjuang mengendalikan kutukan iblisnya, dan sekarang ia harus menjadi penengah di antara dua penyihir yang sedang bermusuhan.
"Diam," ucap Lucien. Suaranya tidak keras, namun memiliki ketajaman yang sanggup memotong pembicaraan mereka.
"Aku tidak peduli apa masalah kalian di Arcanova. Di sini, di bawah panji kepemimpinanku, kalian adalah prajurit. Jika kalian ingin mati karena keegoisan kalian, lakukan di luar arena ini. Tapi selama kalian berdiri di belakangku, kalian akan mematuhi perintahku atau aku sendiri yang akan mengeluarkan kalian dari tim ini."
Rhea tersentak, tatapan dingin Lucien membuatnya membeku sesaat. Clara hanya mengangguk setuju, matanya tetap waspada menatap pusat arena.
Gelombang Pertama: Sang Pemangsa Tulang
"Bersiap!" teriak Master Alaric dari panggung tinggi.
Tanah di Arena Satu terbelah dengan suara gemuruh yang dahsyat. Dari kegelapan bawah tanah, muncul lima ekor Abyssal Bone-Crushers. Monster ini berbentuk seperti kerangka raksasa mahluk purba yang disatukan oleh energi hitam, dengan kapak tulang besar di tangan mereka. Setiap langkah mereka membuat tanah bergetar.
"Formasi Delta!" perintah Lucien.
"Clara, ambil sisi kanan! Mina, gunakan telekinesismu untuk menahan kapak mereka! Rhea, bekukan kaki mereka agar tidak bisa mendekat!"
Clara melesat secepat angin, pedang kembarnya menciptakan pusaran udara yang mengalihkan perhatian monster pertama. Mina, meskipun ragu, segera mengangkat tangannya. Ia berhasil menahan kapak tulang monster kedua yang nyaris menghantam tanah.
"Rhea! Sekarang!" teriak Lucien.
Rhea diam membatu. Ia menatap Mina yang sedang kesulitan menahan beban kapak tersebut. Alih-alih membekukan monster, Rhea justru merapalkan mantra es kecil untuk dirinya sendiri, hanya melindungi area di sekitarnya.
"Lakukan saja sendiri, Mina. Bukankah kau sangat hebat dalam mencuri hasil kerja orang lain?"
"Rhea, tidak! Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi!" Mina menjerit saat kapak monster itu mulai menekan turun.
Lucien melihat celah pertahanan mereka hancur. Tanpa ragu, ia melesat ke arah Mina. Ia membiarkan Petir Biru merambat tipis di kakinya untuk meningkatkan kecepatannya hingga batas maksimal.
CLANG!
Pedang Lucien menahan kapak raksasa itu tepat beberapa inci di atas kepala Mina. Percikan listrik biru memercik saat logam bertemu dengan tulang terkutuk.
"Mina, mundur ke belakang Clara! Sekarang!"
Lucien menendang monster itu hingga mundur beberapa langkah. Ia kemudian berbalik menatap Rhea dengan tatapan yang bisa membunuh.
"Rhea, jika kau membiarkan rekanmu terancam lagi, aku tidak akan menganggap monster itu sebagai satu-satunya musuh di arena ini."
Rhea terkejut melihat kemarahan di mata Lucien. Ia bisa merasakan aura yang sangat gelap dan kuat memancar dari tubuh ketua timnya itu—sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada monster mana pun. Dengan gemetar, Rhea akhirnya mengangkat tongkatnya.
"Glacial Chains!"
Rantai es raksasa muncul dari tanah, melilit kaki kelima monster tersebut. Monster-monster itu menggeram, mencoba melepaskan diri namun es Rhea sangat kuat.
Kilat di Tengah Kekacauan
Meskipun monster-monster itu telah tertahan, mereka masih memiliki kekuatan untuk menyerang dengan kapak mereka. Tiga monster lainnya mulai melepaskan gelombang energi hitam dari tulang mereka.
"Mereka akan meledakkan energi! Clara, ciptakan pelindung angin!" perintah Lucien.
Clara berputar seperti gasing, menciptakan dinding angin yang membelokkan gelombang energi hitam. Namun, monster-monster itu terlalu kuat. Salah satu kapak tulang terlepas dari rantai es dan meluncur ke arah Rhea yang sedang fokus pada mantranya.
"Rhea, awas!" teriak Mina.
Tanpa pikir panjang, Mina menggunakan kekuatan telekinesisnya untuk menarik tubuh Rhea menjauh, meskipun itu berarti Mina harus melepaskan konsentrasi pelindungnya sendiri.
Kapak itu menghantam tanah tempat Rhea berdiri sebelumnya, menciptakan kawah besar. Rhea terjatuh, menatap Mina dengan tatapan tidak percaya. Mina baru saja menyelamatkan nyawanya, orang yang tadi ia biarkan terancam.
"Kalian berdua, cukup!"
Lucien melompat tinggi ke udara. Ia menyadari bahwa jika pertarungan ini berlanjut lebih lama, emosi timnya akan semakin tidak stabil dan itu akan memancing kutukannya keluar lebih besar. Ia harus mengakhirinya sekarang.
Lucien memusatkan seluruh fokusnya. Ia tidak menggunakan kekuatan iblis secara liar; ia melakukan apa yang ia pelajari dari buku delapan: Fokus Mutlak. Ia memadukan teknik pedang Crimson Crest dengan sedikit dorongan petir birunya yang terkendali.
"Vlad Secret Art: Flash of the Blue Demon!"
Lucien bergerak seperti kilat yang melompat di antara kelima monster tersebut. Dalam satu detik, ia tampak berada di lima tempat sekaligus. Setiap tebasannya bukan hanya memotong tulang, tapi menghancurkan inti energi hitam yang menyatukan monster-monster itu.
BOOM! BOOM! BOOM! BOOM! BOOM!
Kelima monster itu hancur secara simultan, menjadi serpihan tulang putih yang tidak lagi memiliki energi. Lucien mendarat dengan anggun di tengah arena, pedangnya mengeluarkan asap tipis karena panas gesekan udara.
Kedamaian yang Dipaksakan
Suasana di Arena Satu menjadi hening. Clara menyarungkan pedang kembarnya dengan rasa kagum yang tidak disembunyikan. Mina terduduk lemas di tanah, sementara Rhea berdiri perlahan, wajahnya menunduk karena malu.
Lucien berbalik menghadap mereka. Luka gores di pipinya mengeluarkan sedikit darah, namun ia tidak menghiraukannya.
"Latihan ini adalah tentang bertahan hidup bersama. Jika kalian tidak bisa mempercayai satu sama lain, setidaknya percayalah padaku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun di tim ini mati karena masalah remeh kalian."
Rhea berjalan mendekati Mina, lalu mengulurkan tangannya yang gemetar.
"Terima kasih... dan maaf. Aku hampir membunuh kita semua."
Mina menerima uluran tangan itu, matanya berkaca-kaca.
"Aku juga minta maaf, Rhea. Soal naskah itu... itu sebuah kesalahpahaman, aku akan menjelaskannya nanti setelah ini."
Lucien melihat mereka mulai berdamai, meskipun hanya sementara. Ia mengembuskan napas panjang. Ia berhasil menyelesaikan gelombang pertama tanpa membiarkan kutukannya meledak menjadi "Tahap Kedua", meskipun tekanan emosinya tadi sangat tinggi.
Di panggung pengawas, Master Alaric memberikan anggukan kecil yang penuh arti pada Lucien. Alaric tahu betapa sulitnya memimpin tim yang hancur di dalam sambil menjaga iblis di dalam diri agar tetap tenang.
"Kerja bagus, Tim Satu," suara Master Alaric menggema. "Istirahatlah tiga menit. Gelombang kedua akan menjadi lebih brutal."
Lucien menatap teman-temannya yang kini mulai mengatur formasi baru dengan lebih kompak. Ia tahu, pertempuran yang sesungguhnya baru saja dimulai. Bukan hanya melawan monster, tapi melawan waktu sebelum rahasia besarnya terungkap di bawah terik matahari Crimson Crest.